Lagi, menyoal kematian…
Aku tidak begitu tertarik menyoal wafatnya mantan presiden Soeharto, hari-hari belakangan ini aku tertarik pada sebuah kasus yang terjadi di Malaysia, yaitu perebutan pemakaman dan klaim agama atas seorang warga keturunan Tionghoa. Sekali lagi kasus serupa terjadi, setelah dua tahun lalu menimpa keluarga dari (alm) Moorthy Maniam, menyoal status agama dan cara pemakamannya. Jika tertarik membaca, mohon dibaca sampai habis serta usahakan melihat dokumen serta referensi yang disediakan agar tidak terjadi kesalahpahaman. ![]()

mendiang Gan Eng Gor bersama keluarga
An elderly ethnic Chinese man has been buried as a Muslim after his Buddhist family lost a battle with the Islamic authorities who said he had converted, his son said today.
Gan Eng Gor, meninggal dunia pada 20 Januari 2008 dalam usia 74 tahun. Pemakaman secara Buddha pun dilakukan di Rumah Pemakaman Buddha di Jalan Dr Ismai. Namun pada upacara pemakaman tersebut, polisi menahan jenazah Gan Eng Gor dan memindahkannya ke Rumah Sakit Tuanku Ja’afar Seremban menyusul sebuah laporan yang menyatakan bahwa Gan Eng Gor telah memeluk Islam dan harus dimakankan sesuai ajaran Islam. Ternyata sang pelapor adalah Gan Hock Seng atau dikenal sebagai Abdul Rahman Gan, 47 tahun, seorang muallaf, putra sulung dari (alm) Gan Eng Gor.

tangisan sang istri, Chua Chun
Abdul Rahman Gan mengklaim bahwa ayahnya telah memeluk Islam, secara resmi sejak 3 Juli 2007. Ia juga menyertakan surat dan dokumen sebagai buktinya. Namun sanak keluarga (alm) Gan Eng Gor yang lain menolak pernyatan Abdul Rahman Gan dan pemakaman secara Islam itu hingga kasus itu sampai ke Pengadilan Tinggi Syariah. Namun Pengadilan Tinggi Syariah Islam di Negeri Sembilan akhirnya menetapkan bahwa (alm) Gan Eng Gor adalah seorang Muslim, memiliki nama Islam Amir Gan Abdullah, sesuai pernyataan dari Abdul Rahman Gan. Hakim pengadilan, Mohamad Nadzri Abdul Rahman, menerangkan bahwa kemenangan pihak Abdul Rahman Gan adalah karena pihak istri serta tujuh anak (alm) Gan Eng Gor yang lainnya tidak hadir di pengadilan. Akhirnya jenazah dimakamkan di tanah perkuburan Makam Tuan Haji Said tanggal 27 Januari 2008. Pada hari pemakaman, Abdul Rahman Gan mengucapkan rasa syukur, ‘Saya bersyukur dengan keputusan ini dan saya akan menyegerakan urusan pengebumian jenazah ayah saya hari ini selepas sudah lima hari berada di hospital.”

jenazah Gan Eng Gor yang dimakamkan secara Islam
(China Press, Seremban, 24 Jan 2008) Negeri Sembilan Syariah Court declared Gan Eng Gor was a Muslim, he must be buried with Islamic ritual and in the Muslim cemetery in a legal tussle amongst the siblings of Gan. The Syariah Court set aside all court orders to prevent Gan’s remains from burial according to Islamic law and also ordered police to assist the state Islamic Religious Council to claim the remains of Gan from a funeral parlour.
The Judge, Muhamad Nadzri Abdul Rahman made the ex-parte judgment at 10.42 AM after hearing the testimonies from officers of Islamic Religious Council in certifying that Gan Eng Gor was converted to islam under his will. All siblings and wife of late Gan except his eldest son, Abdul Rahman Gan Abdullah were absent in the proceeding.
Gan Hock Sin, salah satu putra (alm) Gan Eng Gor mengatakan, “Sepanjang menjaganya selepas dia lumpuh akibat diserang angin ahmar lima tahun lalu, saya mendapati bapa masih mengamalkan cara hidup dan ajaran Buddha. Tidak pernah sekali saya melihatnya menjalani kehidupan beragama Islam.”. Sangat berlawanan dengan pernyataan Abdul Rahman Gan yang mengklaim mendiang ayahnya sudah menjadi muallaf sejak tahun lalu. (alm) Gan Eng Gor juga tidak pernah sekalipun menyinggung dan memberitahukan bahwa ia telah memeluk Islam pada keluarga dan sanak saudara yang merawatnya. Bahkan hingga ajalnya ia masih mengamalkan ajaran Buddha.
Berikut ini hasil scan dokumen yang digunakan di pengadilan oleh Abdul Rahman Gan untuk menyatakan bahwa ayahnya telah memeluk Islam, silahkan diklik untuk melihat ukuran yang lebih besar.
Disinyalir terdapat beberapa kejanggalan dalam dokumen ini… Antara lain sebagai berikut.
- Terdapat cap stempel Pegawai Ukhuwah pada dokumen, namun tidak terdapat tanda tangan. Lebih jauh lagi, tidak ada tanda tangan pada kolom pengesahan.
- Terdapat kejanggalan berupa perubahan tanggal pada tanggal yang tertera, yaitu 3 Juli 2007.
- Jika benar saat 3 Juli 2007 (alm) Gan Eng Gor secara resmi menyatakan diri masuk Islam, mengapa pada dokumen ditulis bahwa pengakuan dibuat di alamat No. 451, Taman Megaway, 70400 Sikamat, Seremban? Padahal sejak menderita stroke (alm) Gan Eng Gor tetap berada di Klang.
- Alamat yang tertera adalah No: 1272, Jalan TBK 6/2, Taman Bkt Kepayang, 70200 Seremban. Alamat tersebut adalah alamat rumah Abdul Rahman Gan, bukan tempat tinggal dari (alm) Gan Eng Gor.
Selain kejanggalan tersebut, alasan lainnya yang menolak pernyataan bahwa (alm) Gan Eng Gor telah memeluk Islam adalah bahwa Majlis Agama mengaku bahwa (alm) Gan Eng Gor mengucapkan kalimat syahadat ketika menjadi muallaf, padahal menurut keterangan dokter yang merawat almarhum, almarhum tidak bisa berbicara karena stroke yang dideritanya. Jelas, tahun-tahun terakhir ini almarhum menderita stroke dan ia lumpuh sehingga tidak bisa berbicara dan untuk melakukan aktifitas lainnya pun hampir tidak mungkin. Berikut dokumen yang menyatakan almarhum menderita stroke.
Chua Chun, 65 tahun, istri (alm) Gan Eng Gor, tujuh anaknya yang lain, serta sanak keluarga menuliskan sebuah surat yang menginginkan keadilan untuk (alm) Gan Eng Gor. Berikut ini kutipan suratnya. Silahkan dibaca sampai habis, karena ini juga memiliki runut kasus.
Justice and Fair play for the family of Gan Eng Gor (deceased)
1. Our father was seventy-four (74) years old. He suffered a severe stroke in 2006. He was immobilized, bedridden, mentally unsound, cannot speak, partially deaf and has very poor vision.
2. We transferred him to stay with one of our brothers in Klang. Our aged mother looked after, bathed and fed him. She also helped to look after our nephews and nieces.
3. Our father died on 20th Jan 2008. As Gan Hock Seng (the eldest son) is a member of the family, we informed him of our father’s death. He was then told us that our father is a muslim, we were shocked and did not believed him. So we continue to perform the wake service as our father have never led a muslim life. The Majlis Agama officers came and attempted to snatch the dead body, all our family members more shocked and angry, we resisted and strongly protested against the removal of our father’s body.
4. We obtained his alleged conversion papers from Majlis Agama the second day.
5. We were advised by our solicitors that there are serious irregularities in the said conversion papers especially the Declaration of Conversion into Islam.
a). The declaration was before a Pegawai Ukhuwah. His rubber stamp was on the paper but that officer did not sign.
b). Further there was no signatory at the certification column.
c). There was an illegal alteration on the date to 3rd July 2007.
d). The thumb-print was questionable as we are certain that our deceased father was in Klang and not at the address No. 451, Taman Megaway, 70400 Sikamat, Seremban as stated in the application form.
e). His address stated in the Borang Perakuan Memeluk Islam is No: 1272, Jalan TBK 6/2, Taman Bkt Kepayang, 70200 Seremban, the residence of the eldest son. We wish to state that our father has never resided at this address.
f). The Majlis Agama Authorities claimed that our deceased father made an oral declaration in Arabic accepting the Muslim faith. Our family has medical confirmations from three doctors that our father was unable to speak.
g). We were asked to appear before the Syariah Court Seremban, we believe the Syariah Court is for Muslims only.
h). We refused to attend at the Syariah Court on a matter of principle as non-Muslims. We refused to submit to the jurisdiction of the Syariah Court.
i). The Syariah Court made a unilateral declaration that our father is a Muslim and is to be buried in accordance to Muslim rites.
j). We filed an application at the High Court Seremban to adjudicate on the validity, authenticity,veracity and legality of the conversion paper especially the declaration of acceptance into Islam.
k). The High Court Seremban dismissed our application on the ground that he has no jurisdiction to hear this matter as the subject matter falls within the purview of the Syariah Court. We beg to differ.
l). We were indeed shocked and aggrieved at the simplistic way the High Court disposed off this matter. We only seek justice, fair play and to find out the truth on his alleged conversion.
10. The eldest son Gan Hock Seng converted to Islam years ago. Our father and mother had strenuously opposed his conversion.
11. This eldest son had allegedly converted our father without the knowledge of our mother and all other seven siblings.
12. Further, the eldest son had NEVER taken care of him physically and financially. He hardly visited him too.
13. Even if the eldest son had converted our father, we like to ask :
i). Why is it that he did not take care of him and brought him to stay in his house to lead a Muslim life?
ii). Why did he allow our father to continue living in a non-muslim home in Klang ? Our father had never prayed and continued eating pork and other non-halal food. He never revealed to anyone that he has converted to Islam.
iii). Why he as a Muslim, did not ensure that our father (if he had been indeed converted) led a Muslim life ?
iv). Why is it that the Agama Islam authorities did not visit and follow up with our father – the alleged new convert, after his conversion?
14. We believe we have been unfairly treated by our eldest brother and the Agama Islam authorities in this alleged conversion of our father. If there had been a conversion, we firmly believe that the Agama Islam authorities should have informed all members of the family. There should not be a fight over the body of dead person. There should be dignity and respect on the dead person.
15. We hope the PM and the higher ups in the Islamic Authorities review this case and to ensure that the truth is unraveled. We hope that all conversions to Islam is fair and transparent and made known to all the next of kin of the convert.
We Seek Justice, Fair play and Truth in this matter.
From,
Gan Hok Ming for and on behalf of the family members of Gan Eng Gor (deceased)
Date: 25th January 2008
Jelas, pihak keluarga lainnya menolak pernyataan bahwa (alm) Gan Eng Gor telah masuk Islam. Dan menilik surat tersebut dan disertai oleh bukti berupa dokumen, diketahui bahwa almarhum telah lama menderita stroke hingga lumpuh sehinga secara medis tidak mungkin melakukan kegiatan pengakuan telah pindah agama serta mengucapkan kalimat syahadat. Jika almarhum tidak bisa memberitahukan status perpindahan agamanya kepada keluarga, mengapa Abdul Rahman Gan juga idak memberitahu dan malah menyatakan hal tersebut setelah ayahnya meningal dunia? Bahkan selama ayahnya sakit, Abdul Rahman Gan juga tidak pernah merawat ayahnya tersebut. Sungguh sebuah kontradiksi.
Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, kasus ini mengundang banyak pertanyaan dan masalah. Contohnya adalah seperti yang dituliskan oleh sean the man berikut ini.
The most contentious thing about this whole affair is the conversion of the deceased.
Namely, how does a paralysed man who couldn’t talk nor write convert to Islam?
The courts routinely rule against death bed changes to wills, inheritances, the granting of powers of attorney etc. when it involves people who might be mentally or physically incapable of making rational decisions. Why? Because their physical or mental state might preclude their ability to express their legal intentions conclusively or cast doubts on the soundness of their minds and faculties in having such intentions.
The deceased was paralysed. He couldn’t talk. He was very sick, having suffered multiple strokes. How did the Syariah court come to the conclusion that he had willingly and of sound mind, converted? How did he sign the documents for the conversion? Was a thumbprint used? Is a thumbprint of a paralysed man convincing evidence of his intentions? Is this the standard of evidence of a Syariah court or a Kangaroo court?
There are other issues brought upon by this alleged ‘conversion’.
What is the status of his marriage to his non-Muslim wife?
How will his assets be distributed to his wife and children? Tell me, does the eldest son inherit more from a deceased Muslim father or non-Muslim father, especially if some of his 8 children are daughters?
Why is the civil court, yet again, relinquishing it’s jurisdiction to the Syariah court? Isn’t Gan a Non-Muslim under the jurisdiction of a Civil court, until he is proven to be a Muslim? And doesn’t a Malaysian come under the jurisdiction of a Syariah court, only AFTER he is proven to be a Muslim? How can a Syariah court make a judgement that a Non-Muslim has converted when it has no jurisdiction over Non-Muslims, and therefore it CANNOT presume judgement of any sort, over them?
Again, why must Non-Muslims be compelled to appear in a Syariah court, which has NO jurisdiction over their rights? In this case, their rights to give their father (who is still of disputed religious status) a proper Non-Muslim burial?
– sean the man @ Hell NO, I’m not a Muslim! – Non-Muslims should carry a card
Pendapat pribadiku, aku tidak habis pikir mengenai apa yang terjadi kali ini. Betapa aku merasakan bahwa tindakan Abdul Rahman Gan bukannya justru ‘menyelamatkan’ almarhum ayahnya, justru malah menambah kericuhan dalam keluarga. Apakah mendiang Gan Eng Gor akan tenang di alam sana (jika alam itu memang ada) melihat tindakan sang anak yang menimbulkan persengketaan dalam keluarga? Sebagai seorang anak, aku pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang ayah… Aku kasihan dengan almarhum… ![]()
Hei, apa ini satu lagi kasus ketika agama itu dipaksakan? ![]()
…nah benar kan, meskipun agama bicara tentang damai, tapi itu tetap faktor pemisah? ![]()
*dibakar massa*
Akhir kata, semoga kasus ini dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua. Semoga almarhum bisa beristerahat dengan tenang. Amin. ![]()
Blog dari keluarga dan sanak saudara Gan:
Tulisan terkait lainnya:
- Shame to the family…….
- Shame to the family…. Part 2
- Shame to the family…. Part 4
- Justice and Fair play for the family of Gan Eng Gor
- Inhuman Action by a Muslim Convert
- In need of prayer
- Plea from Gan’s Family
- How you treat your mother
- Died a Buddisht, Buried as a Muslim. Stop this Cropse Snatching Activities NOW!
- Gan Eng Gor… Another corpse-snatching by Police & Islamic authorities
- Police degenerate into religious body snatchers
- Hell NO, I’m not a Muslim! – Non-Muslims should carry a card
- Live as a Chinese, buried as a Muslim
- The case of Gan Eng Gor and what we need to know about conversion to Islam
- Justice And Fair Play
- This Case
- End “body-snatching” – Cabinet cannot continue to shirk its responsibility
- Another burial controversy
- A letter from the Gan family
- A mechanism or a law is needed to prevent conversion controversy
- Documents of the alleged conversion
Tulisan ini akan terus diperbaharui.
I hope fellow bloggers will highlight the points raised by the Gan’s family. This will help to bring awareness and build understanding on what takes place when one is converted to Islam. Bloggers, do your part.
I do. Bloggers, do your part, too. ![]()
Labels: belief, buddha, culture, death, family, father, funeral, government, international, islam, law, religion, rules, social, struggle

























waduh...saya buta beginian. mungkin perlu diselidiki lebih lanjut...
cK's last blog post: Bendera Setengah Tiang
Sebenarnya motif si anak apa, ya? *tertarik dengan isu ini*
Kopral Geddoe's last blog post: Saya Hebat
kebingungan saya sama seperti kopral, motif!! apa motifnya ya?
apa keuntungan si anak kalau bapaknya ini dikubur secara islam.
memang banyak yang fatal sih, terutama membaca syahadat. Untuk orang yang sudah terkena stroke, jangankan syahadat berbahasa arab.. ngomong 'wo aini' aja pasti udah blepetan.
ah saya bingung gun.. saya doain aja lah mudah2an si ayah ini ngga bingung di alam kuburnya..
brainstorm's last blog post: menggugat Mu
hmmm aneh...kok bisa-bisa-nya ada yang seperti ini yaks?
*men-cari tahu latar-nya*
extremusmilitis's last blog post: Aku Juga Nggak Bodoh
Mudah-mudahan jika aku wafat, anak-anakku tidak berebutan menguburku...yang satu ingin menguburku didarat...yang satu ingin menguburku dilaut....yang satu ingin kremasi....yang satu ingin aku dimutilasi dan dimasukin koper ***toloooooong***
_________
Kalau secara bukti-bukti yang dilampirkan, anak yang menguburkan ayahnya salah. Namun herannya kok pengadilan memenangkannya ? apa pengadilan tidak memeriksa bukti-bukti tersebut sebelum menjatuhkan putusan ?
daeng limpo's last blog post: Flu Burung Membunuh Lima orang di Bulan Januari 2008
@ cK: AKu juga terus ngikutin kasusnya.
@ Kopral Geddoe: 'Menyelamatkan' kan?
@ brainstorm: Makanya aku heran. AH, moga almarhum ga bingung dan tenang.
@ extremusmilitis : Ini bukan yang pertama kali lho. 2 tahun yang lalu seorang Hindu juga dimakamkan secara Islam.
@ daeng limpo: Seperti yang kutulis, menurut pengadilan sih karena pihak keluarga yang lain ga datang. Tapi masa semudah itu sudah mengeluarkan putusan. Tapi ini sudah dari dulu jadi polemik di Malaysia. 2 tahun yang lalu kasus serupa juga terjadi. Ckckk...
Goenawan Lee's last blog post: We Seek Justice, Fair play and Truth in this matter.
aiiii.....
kasihan benar sudah meninggal pun masih diributin. aduh, moga arwahnya bisa tenang di alam sana.
Hanna Fransisca's last blog post: Menggugat Cinta
Sudah mati saja masih diributkan. Kasihan.
*berdoa supaya kasus ini cepat selesai*
Cynanthia's last blog post: Nokia N81 Untuk Adek
gwa rasa, ini ada hubungannya ama warisan bokapnya itu.
klo kg slh dlm hukum Islam, anak laki2 dapat bagian lebih gede.
perasaan gwa? anak durhaka!
@ Hanna Fransisca: Itu dia, aku prihatin. Masa pas upacara pemakana, jenazah diambil paksa...
@ Cynanthia: Mirip sama (alm} Soeharto ndak?
@ Kerfirou: Mbuh aku ga tau soal Hukum Islam.

Tau tuh, ayah udah meninggal, diributin. Ayah pas sakit, ndak diurus.
entah kenapa, saya justru tertarik di poin 11,12,13 dari kutipan surat diatas. keluarga yang ngga harmonis ? :?
Goen, have u found another point of view ?
@ pengki: Aku melihat entah kenapa sang anak sulung dan pihak keluarga lainnya seakan 'memisahkan' diri. Ya, agama itu faktor pemisahhh!!
*dibakar*
Kekekeee... Ah, silahkan klik saja URL-RUL yang disediakan di atas, ga cuma URL blog, tapi URL arsip berita juga.
@Goen
udah baca semua (kayaknya..hihi). Tapi tetep ngga nemu tuw. Menjaga privacy mereka mungkin.
Padahal masalah seperti ini sepertinya lebih nyaman diselesaikan secara kekeluargaan, daripada bawa2 pengadilan. IMHO.
Pindah kes ini rupanya. Selamat deh
Mardies's last blog post: Kata Siapa Ngeblog Bisa Bikin Kecanduan?
@ pengki: Ntar ta update lagi deh, soalnya ini lebih menarik bagiku ketimbang berita wafatnya simbah.
Nah itu dia!! Kekeluargaan. Aku ga habis pikir kenapa Abdul Rahman Gan bawa-bawa ke pengadilan segala. Pengadilan Syariah pula.
...yang bikin aku langsung ga respek itu ya pas penahanan jenazah saat upacara pemakaman.
@ Mardies: Lha baru tau to.
Ternyata agama memang merepotkan saja. Lah, orang mati aja bisa di repotkan oleh agama, apalagi orang hidup ya?
Btw, kembali terjadi kasus ajaib di malaysia. ck..ck...ck...
danalingga's last blog post: Doa
ah, males banget kalo agama bikin kita musuhan yak?
venus's last blog post: luigi!
emang agama terkadang bisa menjadi sumber masalah, tapi juga tergantung ama person nya.. seperti yg aku tulis beberapa hari yg lalu disini
hohoo..
agama koq dijadikan ajang pengkotak2an yah
kasian almarhumnya
anak2 yg gilaaaaaaaaa
Jendral Bayut's last blog post: .:Sobat:.
mo ikut jadi detektif Gun?
tukangkopi's last blog post: COFFEE : Black as the devil, hot as hell, pure as an angel, sweet as love
@ danalingga: Ckckckckk... Moga ga terjadi kasus serupa di Indonesia tentang masalah pindah-pindah agama ga jelas ini.
@ venus: Jiddu Krishnamurti bilang, selain punya sisi damai, agama juga punya sisi yang bisa berperan sebagai pemisah.
@ vcrack: *klik*
Aku baca dulu...
@ Jendral Bayut:
Apapaun agamanya, minumnya teh botol GunawanItu dia, gimana almarhum bisa tenang liat anak-anak bersengketa.@ tukangkopi: Lebih baik daripada jadi detektif yang ngurus kematian simbah.
ah itu sih anaknya aja yg brengsek
caplang[dot]net's last blog post: Klub Kentang Lima Dollar
@ caplang[dot]net: Anaknya yang mana nih om?
TOMI?
Black_Claw's last blog post: Lagu-lagu Sulih Suara Jadul, Janperson, Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya, Candy-Candy, dan lain-lain…
wohooooohooo
di malaysia ya?
*siyul siyul dan kaboooor
detnot's last blog post: Nyampah
Semua "merasa" memiliki motif, semua "merasa" benar, dan semua juga "merasa" punya udell
hggg... akhirnya setuju dengan kau tuan :
Goop's last blog post: Mabuk
tapi emang kalo diliat sepintas agak janggal
moso pengadilan ga ngerti kalo orang yg lumpuh itu gimana?
anaknya yg sulung yg brengsek
moso enak bgt langsung maen klaim almarhum bapaknya udah jadi muslim, blablabla
lagian kok ya ga mikir, orangnya udah ga ada kenapa ga dibiarin istirahat tenang sih?
jadi, emang anaknya yg brengsek
terlepas dari agama apapun yg dianutnya
caplang[dot]net's last blog post: Klub Kentang Lima Dollar
@ Black_Claw: Wat is det?
@ detnot: Hei, kenapa Maleysia hah?
@ Goop: Kasus kayak gini sudah banyak terulang, semoga dijadikan pelajaran, paling nggak bisa diminimalisir.
@ caplang[dot]net: Masalahnya pengadilan memutuskan memenangkan tuntutan Abdul Rahman Gan karena pihak keluarga yang lain ga menghadiri pengadilan Syariah itu, jadi nggak mengeluarkan argumentasi.
Masalahnya adalah kenapa ga hadir...
Nah, klaimnya juga pas sudah meninggal. Kalau mau klaim ya pas ia menyatakan diri masuk Islam lha, paling nggak ga bakal ribut.
speechless... kasihan sama yang meninggal. masak jadi bahan rebutan kayak gitu.
itikkecil's last blog post: Both side Now
Ah, saya ragu kalo si anak sulung itu Islam-nya Islam beneran..
jangan-jangan, dia ikut Al Qaeda..
Nazieb's last blog post: Endonesa Kita Yang Kompleksit
@danalingga
yang merepotkan sebenarnya orang yang memakai agama sebagai tameng atau kedok. Orang-orang inilah yang merusak citra agama yang dianutnya, karena kitab tidak bisa berbicara sendiri maka mereka mengartikannya sesuai dengan keinginan dan hawa nafsunya. Padahal kitab suci sendiri tidak akan mampu memuat secara detil kata-kata Tuhan yang begitu luas dan dalam maknanya.
daeng limpo's last blog post: Flu Burung Membunuh Lima orang di Bulan Januari 2008
Jadi tampak aneh ya, atau saya yang aneh

Bahkan kalau dilihat dari sudut pandang agama yang dipaksakan, yang dipaksa itu bahkan sudah meninggal.
Keyakinan kan sesuatu yang pribadi, hubungan manusia dengan Tuhan dan administrasi/catatan sipil mungkin ndak penting dalam hal ini.
Hal seperti ini mungkin tidak seharusnya terjadi, apalagi dengan adanya campur tangan negara
Hmm... Klo misalnya kasusnya diteruskan, apa mungkin kuburannya digali lagi...??
adit-nya niez's last blog post: Sedikit Asa…
Di kampung saya pernah kejadian. Ada tetangga yang selama hidupnya beragama Islam tetapi ketika meninggal dikebumikan secara Katolik. Sebagian dari keluarga almarhum memang beragama Katolik. Nah, menurut pengakuan keluarga yang beragama Katolik, almarhun pindah agama ketika sakit.
Berbeda dengan yang terjadi di Malaysia itu, kejadian di kampung saya tidak sampai dibawa ke pengadilan. Bahkan sengketa keluarga pun dihindari. Peristiwa ini hanya menjadi gunjingan orang-orang sekampung saya yang mengantar jenazah yang dimakamkan di tempat asalnya.
Memang pada saat sakit almarhum dirawat oleh keluarganya yang beragama Katolik sehingga bisa jadi dalam keadaan sudah tidak sadar almarhum dipindahkan imannya ke Katolik. Kalau dalam Islam, mumpung nyawa belum sampai leher seseorang diajak untuk bertobat.
Itulah dunia. Semua agama mengajarkan kasih sayang tetapi pada kenyataannya agama justru sering menjadi biang konflik.
Arif's last blog post: Why Blog For Free If You Can Blog For Money?
Ah, mencerahkan!™
Kopral Geddoe's last blog post: Saya Hebat
somehow Malaysia memang suka ' kelebihan ' dalam masalah seperti ini. Ingat beberapa waktu yang lalu ketika, ada wanita muslim yang convert ke Kristen, malah dia dibawa ke pengadilan.
Susaaah, kadang-kadang pengadilan terlalu melihat "bukti-bukti" surat, padahal kesaksian anaknya yang lain tidak diperhatikan. Itulah administrasi HUKUM.
Tapi apa ya pentingnya pengadilan mengurusi pemakaman seperti itu, mungkin kurang kerjaan ya...
Togar Silaban's last blog post: Antara Pilkada Indonesia dan film Robin William “Man of the Year”
wah panjang banget
Sama aku juga. Makanya aku gak posting tentang itu
Abis terlalu banyak kontroversi.
Kalo masalah hukum semacam itu sering terjadi, masalah keturunan, agama, dll. Bikin pusing aja. Kenapa hidup dibuat susah dengan melanggar hukum.
Rosyidi's last blog post: Laser printers pose lung damage risk
@ itikkecil: Harusnya udah dimakamkan, malah urusan sampai ke polisi dan pengadilan segala...
@ Nazieb: Konon menurut beberapa media, Abdul Rahman Gan itu pegawan di sejenis dinas agama... *lupa istilahnya*
@ daeng limpo: Nah itu makanya si dana bilang, merepotkan.
@ sigid: Makanya aneh banget. Lagipula negera Teokrasi kan emang kebanyakan ngurus agama rekyatnya...
@ adit-nya niez: Ndak ah. Pihak keluarga Gan cuma ingin status pindah agama itu clear, baca aja suratnya. Jadi harus transparan, apa benar pindah agama atau cuma manipulasi.
@ Arif: Wah kisah yang tragis, kang.

Aku jadi miris sendiri melihat bagaimana agama seakan jadi menifestasi saja di dunia ini...
@ Kopral Geddoe: Mwahahaaaa... Itu katanya mbah Jiddu Krishnamurti.
@ iman brotoseno: Oiya, mas. Aku udah baca-baca juga arsipnya minggu lalu. Apa karena penerapan Syariah yang terlalu berlebihan kah?
Malaysia saja yang dari dulu Syariah sering kebablasan, bagaimana dengan Indonesia? Mau nyoba hah?
@ Togar Silaban: Wah, Pak. Pengadilan inio juga agak aneh, karena Abdul Rahman Gan bawanya ke pengadilan Syariah..

Terus lagi, di Malaysia pengadilan juga ngurus kayak gini... Ckckckk...
@ starboard: Usaha dong!
@ Rosyidi: Melanggar hukum... Wah, ini kayaknya ke hukum perdata sih, pak.
Apa tujuan mereka ngeganti agama orang seenaknya?
Agama...kadang menjadi masalah yg sangat krusial.
cuma heran aja ama yg masih hidup, bukannya ngasih jalan yg tenang utk almarhum eh..malah di ping pong sana sini.
Ina's last blog post: Berbagi itu penting.
Hm... udah sering baca berita gini dr Malaysia sana.
Hukum sana emang ketat sih mengatur hal2 seperti ituw.
jadiii pelajaran yg dpt diambil dari ini, sebelum check in dalam penerbangan menghadap Sang Pencipta, buatlah wasiat.
Selesai deh.
*berlalu sambil merenungkn nasibquw n hubby yg berbeda jg*
och4's last blog post: Resquescat in pace Jenderal
Kasus spt ini jg pernah terjadi di keluarga jauh gw. Istri kedua dr Opungnya Bokap gw org Chn & agamanya Budha. Ketika menikah dia berstatus janda & beranak 2. Lalu stlh nikah masuk Islam ikut suami. Lalu suaminya meninggal, & selama masa tuanya dia hanya diurus oleh anak dr suami pertama yg org Chn(anak dr Opungnya Bokap gw ini tinggal di luar kota & jarang mengunjungi ibunya). Justru kami yg 1 kota dgn mereka di Medan wkt itu yg rajin bertandang.
Ketika Nenek meninggal, nenek berpesan agar dimakamkan secara agama Budha, alasannya krn dia selama ini jg tdk pernah tahu atau diajarin ttg agama Islam. Ini tentu jd masalah krn anaknya yg di Pontianak ga terima ibunya dikubur tdk secara Islam. Ia marah & tdk mau memaafkan ibunya, sampe g mau datang ke makamnya.
Klo melihat keadaan spt ini, memang tdk ada yg tahu mana yg benar kec ybs.
Tp saya yg melihat itu sedih, krn menurut sy shrsnya agama tdk membuat keluarga jd pecah & bermusuhan.
Zee's last blog post: Talk121 - Free Chat
Benar-benar gak habis pikir aku, lagi-lagi karena persoalan agama menjadi sebuah pertentangan. Semoga didalam keluargaku yang kini terdiri lengkap dari semua agama yang ada, kecuali Hindu, tidak sampe ada kejadian seperti ini.
bisaku's last blog post: Kunjungan Program KOV
Ah, masalah agama. Membuat penganutnya saling melihatnya dari sebelah mata masing-masing. Membuat penontonnya saling melihatnya dari kacamata sebelah kiri masing-masing.
Ini memang saran-saran yang menyebalkan, tapi mendingan dalam 1 keluarga itu agamanya homogen deh.
Citra sebuah agama bisa rusak kalau penganutnya masih melupakan yang namanya bertoleransi.
Xaliber von Reginhild's last blog post: Komunikasi yang Efektif?
@ Dream Maker: Mereka? Merujuk ke pengadilan juga?
@ Ina: Nah, mengapa masalah ga diselesain pas masih hidup aja, secara kekeluargaan gitu.
@ och4: Kasus masalah agama udah 2 tahun ini, 2 tahun lalu sampai masuk TIME katanya.
Wasiat... Wah, repotnya masalahnya keluar pas udah meniggal.
@ Zee: Haiyah, sekali lagi kisah tragis keluarga hanya karena agama.
Aku jadi tambah sedikit pesimis...
@ bisaku: Amin. Aku juga hampir mirip-mirip kok.
@ Xaliber von Reginhild: Agama Homogen? Nyinggung aku nih?
Lha jadi yang bener yang mana ?
Zazi's last blog post: Am I Normal ?
Gak ada keterangan kenapa mereka mau mengubah agama ayahnya sendiri...
Gue bacax sih sampe hbs, tp masalahx bnr2 merumitkan ya? -__-
Me-u's last blog post: Soeharto… died.
::gun, mungkin ada baiknya, diajarkan jika dikuburkan itu artinya sama dengan menanam ditanah, maka itu sama aja...
kalo mereka engga percaya, korek dua lubang yang sama, tanyakan bedanya dimana...
yang mereka lihat beda hanya kebiasaan membangun nisannya aja...
zal's last blog post: Innalillahi wa inailaihi roji’uun
@ Zazi: Ndak tau.
@ Dream Maker: Faktornya? Masih misteri.
@ Me-u: Memang.
@ zal: Kekekeee... Ritual masuk bagian dari agama, kan? *siul-siul*
kedepannya bakalan tambah rumit nih apalagi mengenai hak warisnya. Apakah akan mengikuti syariat Islam atau tidak...
Terus updet perkembangannya ya Mas.
purmana's last blog post: Banner Anti Sinetron “Murahan”
Masalah tionghoa(+agama) emang suka complicated kah? (' . ')
*binun-garuk2*
phiy's last blog post: Raker FISIPERS 2008
wah..
kalo saya maksa situ masuk agama lain gimana..?
hehehe...
thats private kan...
@ purmana: Nggak hanya hak waris, mas. Coba liat apa yang kukutip. Masalah status pernikahannya juga.
@ phiy: Kekekeee... Udah baca entryku mengenai masalah itu di Indonesia. Dari beberapa arsip yang kubaca, masalah etnis dan ras cukup krusial juga di Malaysia.
@ moerz: Maksa? Lha caranya?
@Goenawan Lee:
Eh? Saya malah tak tahu kecuali keluarga besar situ yang heterogen. Kalau keluarga besar sih saya juga iya (sodara nenek). Maksud saya dua nuclear family yang saling berhubungan aja, konflik lebih gampang dihindari ketimbang dalam 1 nuclear family aja sudah heterogen.
Xaliber von Reginhild's last blog post: Komunikasi yang Efektif?
@ Xaliber von Reginhild: Masalahnya bukan di keluarga, tapi di akunya.
*jumawa*
? Bagaimana bisa 1 individu menganut agama yang berbeda-beda?
Kalau memahami banyak agama sekaligus atau jadi agnostik masih iya. Tapi agama heterogen dalam 1 individu?
Xaliber von Reginhild's last blog post: Komunikasi yang Efektif?
@ Xaliber von Reginhild: Sinkretisme... *siul-siul lirik mbah Dana*
Tapi aku bukan itu ah.
*nggak jelas banget*
Oh ya, benar juga, paling mungkin ya sinkretisme aja.
Xaliber von Reginhild's last blog post: Komunikasi yang Efektif?
...
bener-bener rumit yah
*garuk-garuk
kepalabadan*alergi kambuh nih
Zazi's last blog post: Am I Normal ?
@ Xaliber von Reginhild: Hiayah!
@ Zazi: Kamu sih pakai makan ga ngajak aku, nah kan... Ingat janjinya lho, giliran kamu traktir.
Masih ndak habis pikir, kenapa agama masih sering menjadi pemicu konflik, yah?
*masih lumpuh gara2 fakir bandwith, argh....*
sawali tuhusetya's last blog post: Marto Klawung
Ya ampyuuuun... kemarin malam kutinggal cuma 4 komentar (cK, Geddoe, brainstorm, dan ex-mus), sekarang sudah 60-an. Benar-benar seleb nih anak....
*tertawa iblis*
Saya nggak bisa berkomentar soal ini, karena saya sendiri cukup skeptis dan sinis soal agama.
Tapi kalau dilihat dari kasusnya (banyak banget link-nya), memang ada kejanggalan pada motif si anak sulung dan keputusan pengadilan syariah yang memenangkan tuntutan si anak sulung itu.
Saya cuma nunggu apdetan kasusnya saja. Oke, detektif Conan eh... detektif Gunawan..
*eh, keycode-ku beautiful*
*siyul-siyul*
fertob's last blog post: Repost [6] : Hasrat, Diri, dan Moralitas
Saya sering baca tulisan tentang agama yang dibuat oleh kamu di blogmu.
Agama apa sih yang kamu maksud?
Saya kok melihatnya, Gunawan Rudy Lee engga adil….kurang adil.
Ah, maap tak nyambung dengan tulisan.
eMina's last blog post: Tips Menghilangkan Stress
Kenapa seeeh mau munculin avatar mawar saya di sinih harus sign up dulu di gravatar !!!

Grrrr….!!!!
Males bangeeeeet
eMina's last blog post: Tips Menghilangkan Stress
kasus yang mungkin hampir mirip pernah terjadi di daeragh saya
*saya cuman diceritain lho
Anak Pertama muslim yang Sangat "ISLAM". namun yang lain muslim biasa saja. nah pas wafatnya sang ayah, ribut juga tuh. perlu diadain ritual jawa, misal 7 hari, 40 hari ato 1000 hari ngga ?
akhirnya ikut pendapat anak paling tua, . . ngga pake ritual jawa. mungkin menurutnya itu nda sesuai dengan syariah islam
Trus "katanya", beberapa anaknya di "primpeni"* sama arwah nya bapak. . .
*primpeni == muncul di dalam mimpi
ah ternyata saya OOT
Lhoh,...
Kan pengadilan Malingsia udah mutusin.
Ngapain kita nnyang fuyenk ???
Mbelgedez's last blog post: PILKADA BEKASI…
*gelar tiker dulu*
@ sawali tuhusetya: Ya karena ndak bisa menghargai perbedaan itu, pak. Ngerasa diri sendiri paling bener sehingga berhak macem-macem sama orang laen yang dianggap salah.
@ fertob: Cuma kebetulan itu. Entry-ku yang exsistence cuma 30-an toh?
Kasusnya belum berkembang banyak nih om. Secara pengadilan syariah udah ga mau ngurus lagi, jadi tinggal harapannya ke pemerintah Malaysia aja.
@ eMina [1]: Lha? Secara terang-terangan aku nulis agama cuma 2 kali kok. Yang kristenisasi sama ini, dan yang kutulis itu fakta dan bukan opini. Kalau yang opini sih wajar subjektif karena ya curhat.
Ini yang kutulis ya mengenai fakta yang terjadi. Terima ga terima ya ini yang terjadi to?
@ eMina [2]: Lha wajar to? Gravatar kan Global.
@ funkshit: Hoooo... *asli ga ngerti*
@ Mbelgedez: Kita ndak pusing om. Masa kita cuek aja ngeliat ada kejadian kayak gini? Bukannya apa, tapi kejadian kayak gini bisa dijadikan patokan dan pelajaran buat kita semua. Dan aku terus pantau ya karena aku tertarik.

Btw, bukannya pengadilan Malaysia, tapi pengadilan syariah. Aneh kasus kayak gini dibawa ke pengadilan syariah..
@ vcrack: Asyem ente.
biar tambah sumuk.. ntar, klo ada celah mulai lempar sekam.. hehehe.. peace.. peace..
Oh iya sekedar share nih. Nenek saya pas meninggal di doakan secara kristen dan islam. Dan nggak pake berantem-berantem tuh. Soale pada sadar kalo Tuhan kedua agama ternyata sama. :mrgreen:
Ah, indahnya keberagamaan di tempat asal sayah.
danalingga's last blog post: Berdansa
Heh?!!! *baru sadar* Mang sinkretisme kenapa nih?
danalingga's last blog post: Berdansa
Sekarang, agama si hakim apa? Ada kemungkinan bahwa dia sengaja memenangkan agamanya.
Agama sebagai pemisah? Khusus untuk kasus ini sepertinya memang iya. Tapi pada dasarnya agama ngga seperti itu. Penyalahgunaan agama yang dilakukan orang-orang tertentulah yang membuatnya seperti itu.
StreetPunk (logged out)'s last blog post: Perang! Perang! Perang!
s p e c t a c u l a r
Ternyata agama bukan saja dipaksakan pada yang masih hidup, pada yang sudah mati juga bisa! Tentu dengan tetap menimbulkan perpecahan.
guhpraset's last blog post: Mencari Layanan GPRS / 3G untuk Internetan yang Mobile di Indonesia
wah, mati aja koq dibikin bingung, biarin aja ngapah istirahat.... terlepas dari agamanya apa
could this happen???
i wouldnt bet against it…
Wednesday, January 30, 2008
Tan Sri Lim Goh Tong Declared a Muslim, Children ‘Disinherited’
http://juslo.blogspot.com/2008/01/tan-sri-lim-goh-tong-declared-muslim.html
yah, lagi lagi agama disalahgunakan. tapi wajarlah, lha wong punggawa agama juga sering salah tafsir. halah. ada hubungannya ndak sih...
sandemoning's last blog post: juara memeras tingkat dunia
@ vcrack: *tendang*
@ danalingga [1]: Wah bagoes itoe. Tapi kalo didoakan ya biasa, sulitnya ya ritual pemakaman itu.
@ danalingga [2]: Wah, kesummon.

Tanya Xaliber dah..
@ StreetPunk (logged out): APa ada hakin Katholik di Pengadilan Syariah?

AKu sih masih berpegang pada wejangan Jiddu Krishnamurti, agama selain punya sisi dama, juga punya faktor pemisah. Selain ada baiknya, pasti ada juga buruknya.
@ guhpraset: Wohohohooo... Itu keycode?
Meh, makanya agama kan sangat complicated.
@ suprie: Ndak tau ah, motifnya apa..
@ juslo: Ohohohooo... Another case.
@ sandemoning: Beda disalahgunakan sama dibenargunakan apa sih?
wew.. parah banget yah.. walopun sudah mati, masalah agama itu sangat penting.. sampe2 jadi perpecahan kan gara2 masalah salah paham diantara keluarga itu
ridu's last blog post: Social Engineering
@Gun: tuh kan, liat aj postnya Juslo.
ujung2nya duit...........
Kayaknya banyak kasus seperti itu di Indonesia. Hanya saja jarang muncul "ke permukaan".
Terlalu banyak memaksakan agama, sampai - sampai negara juga mendukung.
Gila, saya baru tahu korbannya punya blog.
Mihael Ellinsworth's last blog post: Surat Kematian Sementara
@ ridu: Agama? Penting?
@ Kerfirou: Itu sih karena kasusnya berkaitan sama orang kaya.
@ Mihael Ellinsworth: Wah, kalau secara dasar sih bisa mirip. Tapi ujung dan prosesnya beda. Karena di Indonesia nggak ada semacam pengadilan Syariah kayak di Malaysia. Jadi paling ga diselesaikan secara kekeluargaan. Lagipula apa di Indonesia ada surat bukti telah memeluk Islam?
ah, biarin aja deh. kan yang jawab malaikat maut di kubur tuh si bapaknya, bukan anaknya...
*kabuuuurr
niez-nya adit's last blog post: Teru Teru Bozu
OUCH.
NO KOMEN.
MSLHNYA KOMPLIKATED
ksian si almarhum..
tp syah rasa mungkin ni trjadi krn motif.
motif yg dimiliki sang anak pertama..
But who knows??
Let's see what happen next..
dhez-si-ranger-KUNING's last blog post: Dukun. Paranormal. Ahli Spiritual.. Meta-FISIKA?
jadi sebenernya, agama ituh apa sih?
**pertanyaan yang ndak pernah dijawab..**
-tikabanget-'s last blog post: Blog Pemuas Dahaga ituh..
@ -tikabanget-: Wah, komen ini kalo dijawab bakal ada kunjungan komen kitab suci nih.
@goen
ini salah pemerintah malaysia, bukan agamanya. pemerintah malaysia tidak demokratis, atau lebih jauh, tidak islami. i put the blame on the state, instead of the religion.
eh gun, sori, aku mengutip kitab suci di postingan khrisna. tapi tenang, gue orang yang percaya kalo kitab suci yang dikanonisasikan, termasuk al-Qur'an, bisa salah.
@ gentole: Nah, kini kita hadapkan kepada Indonesia, merujuk pada kelakuan Malaysia...apa Pemerintahan Syariah sanggup ditegakkan di Indonesia?

*tujuan terselubung keluar*
...tapi ya jenis pemerintahan apa aja pasti ada kelemahannya...
Aku juga ngutip tokh.
Goenawan Lee's last blog post: Gara-Gara WIKI!
well, we have no sharia-based government, but we DO have a LOT of sharia-inspired bylaws in the regions. masalahnya sih menurutku Malaysia tidak mengenal konsep "kebebasan beragama."
@ gentole: Kebebasan beragama. Padahal persentasi umat Islam di Malaysia ketimbang persentase di Indonesia, lebih sedikit di Malaysia.
Yah, setiap bagian dunia ada keunikan masing-masing. Keunikannya itu biasanya berkaitan erat dengan naluri dasar manusia, untuk mempertahankan diri dari kekuatan luar.Di Malaysia, memang begitulah cara bumiputera mempertahankan diri mereka dari serangan luar. Tidak ada orang yang bisa pindah ke agama lain setelah beragama Islam. Kalau kita-kita ini, yang orang asing mempertanyakan kenapa koq hukum seperti itu berlaku di Malaysia? Atau kenapa koq tidak ada kebebasan beragama di Malaysia? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya, itu sama saja bertanya kepada pemerintah Perancis, kenapa ngga boleh pakai pakaian keagamaan di sekolah umum? Ya, itu kan terserah kebijakan masing-masing pemerintah. Ngapain warga negara asing ikut campur, begitu mungkin tanggapannya.
Cerita di atas akan berbeda jalannya, tapi tetap sama isinya jika terjadi di negara selain Malaysia misalnya di Cina atau di Itali. Apakah agama jadi paksakan? Yah, mungkin memang begitu adanya. Pelajaran yang bisa diambil apa? Memang lebih enak hidup di Indonesia, hehehe. Pengen cepat balik nih jadinya.
@ Iwan Awaludin: Heheheee... Kalau soal pindah agama selain ke agama Islam emang urusan negara itu pak. Tapi kalau udah mindah agama orang seenaknya itu, tanpa ada kejelasan.
Si anak pingin warisan karena menurut hukum Islam adalah haram untuk mewariskan kepada orang kafir, warisan dalam Islam harus turun kepada anaknya yang Islam.
Tapi secara kemanusiaan saya turut prihatin... karena anak tidak mengurus ayahnya disaat sakit.... dan juga saya tidak setuju dengan pemerintah malaysia yang berat sebelah dalam menangani masalah tersebut sehingga terkesan kalau Islam mau menang sendiri... Mungkin dampak dari hukum syariah yang diterapkan di malaysia... makanya saya bersyukur juga di Indonesia MASIH lebih toleran kita dibandingkan malaysia yang katanya bermotto "TRULY ASIA"... tapi kenyataannya KOSONG... Masih lebih baik Indonesia dengan PANCASILA dan BHINNEKA TUNGGAL IKA.
Semoga menjadi pelajaran bagi kita.
Wassalam