UPDATE: English Version (click the title for Indonesian version)
The lord chamberlain said, “There have been arguments of late whether virtue is inborn or acquired. What is you lordship’s view?”
Lord Takanori said, “Pointless.”
The chamberlain said, “If virtue is inborn, then training will avail us naught. If it is acquired, then an outcast can become the equal of a samurai.”
Lord Takanori said, “The virtuous shit. The unvirtuous shit.”
The chamberlain bowed respectfully and withdrew.
Lord Takenori returned his full attention to the scene before him and continued painting A View of Trees Obscuring Lady Shinku’s Bath.
Suzume no Kumo (1817)
Versi Bahasa Indonesia (bukan terjemahanku, comot dari novel)
Lord Chamberlain berkata, “Ada perbedaan pendapat apakah sifat baik itu sudah ada sejak lahir atau didapat dari pendidikan. Bagaimana menurut pandangan Anda, Tuanku?”
Lord Takanori menjawab, “Tidak ada artinya.”
Lord Chamberlain berkata lagi, “Jika sifat baik ada sejak lahir, maka semua latihan menjadi tidak berguna. Jika sifat baik didapatkan dari latihan, mereka dari kasta terendah dapat menyamai seorang samurai.”
Lord Takanori menjawab, “Sifat baik omong kosong. Bukan bersifat baik juga omong kosong.”
Lord Chamberlain membungkuk hormat dan mundur.
Lord Takanori kembali berkonsentrasi pada pemandangan di depannya dan melanjutkan melukis Pemandangan Pohon yang Menghalangi Nona Shinku yang Sedang Mandi.
Suzume no Kumo (1817)
Labels: buddha, culture, history, international, japan, novel, philosophy, samurai, social, zen

















Sifat baik saya rasa memang tak datang dari lahir.
Wew... Emg Chamberlain beneran blg giu?
I hate Chamberlain...
Duh, kok saya ulang2 yg ini tetep aja gak ngerti yah...
Btw, bagi saya mungkin sifat baik ntu ada yg sejak lahir dan ada yg melalui pendidikan
Akhirnya! Komentar saya dapat pertamax di blog ini. ~(-_-~) (~-_-)~
...
Dari Suzume no Kumo rupanya. Pantas rasanya familiar. *seseorang pernah mengusung nama buku ini tiap hari dulu -_-*
Kalau konteks "baik" secara general, kayaknya lebih datang dari pembelajaran. Setidaknya dia tahu hitam-putih.
Setuju sama Xaliber.
(jadi teringat saudara jauh yang tidak ditanamkan sifat baik oleh orang tuanya sejak kecil, makanya sifatnya jadi kasar)
lantas, yang tidak omong kosong apakah itu, tuanku? bersifat tulus?
betewe, kikodnya ganti doooonk...
ngak ngerti....
haduh.. gimana ya? saya malu mengakuinya, tapi bagaimana lagi? saya sudah terkenal baik hati sejak lahir
saya baik dari lahir kok.
*dirajam
Mungkin, kalau sifat baik sejak lahir, dilati untuk lebih sering melakukan itu. Siapa tahu sifat itu akan hilang begitu saja.
Cih, sifat baik saya, ya... apa dilatih? ato emang sejak lahir??
Jah.. pokoknya sementara ini saya fercaya bahwa sifat itu tak ada yang datang dari lahir. Sifat dihasilkan dari proses interaksi sosial!
sifat baik mungkin dari lahir, tapi kalo tak di pelihara yo ilang tho?
"Sebab pergaulan yang buruk dapat mencemari kebiasaan yang baik"
kira2 ada lah ayat yang kayak gitu.. hahahaa..
Kalo menurut saya sifat baik itu tergantung lingkungan... dan itu juga tergantung orangnya...
Yang tidak omong kosong adalah kekosongan itu sendiri...
btw, apa itu sifat baik ?
sifat baik itu sudah ditanamkan di dalam diri dari lahir. pilihan kita lah bakal memunculkannya ato enggak.
@ Xaliber von Reginhild [1]: *ngeluarin seabrek referensi kitab suci*
@ Me-u: Lha apa dosanya? Lihat tahunnya, nona. Itu zaman apa?
@ Adit-nya-Niez: Jadi kolaborasi gitu?
@ Xaliber von Reginhild [2]: Selamat™! Makan-makan™!

Wohooo... Rasanya aku tahu siapa seseorang itu.
@ Cynanthia: Jadi ditanamkan sifat tidak baik?
@ Bundamu: Dijawab sama oom fertob, nihil hampa kosong kurasa.
Sudah diganti jadi enggres tuh keykode.
@ Agel - Agel: Lha terus?
@ d': Juga rajin menabung dan suka menyiram tanaman?
@ Ina: Tangan bayi yang lahir, berada di atas...
@ Ataner: Dilatih ya? Hohoooo...
@ Xaliber von Reginhild [3]: Percaya dan yakin itu sama kah? Percaya dan tahu itu juga?
@ nathania: *buka Alkitab*
@ ozank: Tergantung orangnya? Berarti dari lahir?
@ fertob: Itu lihat judul entrynya, aku nanya juga kan?
@ niez: Wah, aku milih diam aja. Jadi itu gimana?
ih Lord Takanorinya pasti lagi bete deh, ketus amat
, btw. mnurut saya sih sifat baik itu malah ada sebelum lahir, tapi ya ala konsep tabula rasa.. di tengah jalan tergantung dicoretin apaan 
sifat baik maupun buruk saya rasa sudah ada sejak lahir dan dengan porsi yg sama.
Dan pada perkembangannya, karena satu dan lain hal, ada yg mengecil dan ada yang membesar..
Lebih tepatnya dibiarkan berbuat seenaknya sendiri
sifat baik itu, muncul begitu saja?

...
sayah ndak mudeng maksudnyah..
*ditimpuk*
...
*baca berulang-ulang*
ndak faham
@ Diki: Lha kan sedang melukis itu.
Jadi kayak kanvas gitu?
@ qzink666: Jadi kombinasi lahir dan lingkungan yah?
@ Cynanthia: Lha kalau dibiarkan, sifat baik juga bisa tumbuh to?
@ saRe': Malah nanya balik.
@ dhez: Baca aja deh.
@ Zazi: ...
define what virtue first...
its too general and wide, u kno..
@ grace: Makanya aku pakai tanda tanya... Soalnya aku bingung.
ah, ini pertanyaan yang sama aja kaya nanya
"what is love"?
jawabannya terlalu general...
terlalu objektif...
yahh...kayanya saya juga pernah posting yang ginian deh..
*mikir*
anw, kikod ko masih, adorable..?
hihi
@ grace: Makanya aku kembalikan ke persepsi masing-masing orang.
Sifat baik itu diajarin mamah
@ phiy: Maca cih?
Does virtue even exists?
::hmmm...engga ada artinya...
@ Kopral Geddoe: Don't know, dude.
@ zal: Daripada aku bingung.
*garuk2 kepala* ndak ngerti saya...
@ Adis: Heheeee...
Saat Lord Chamberlain dan Lord Takanori berdebat, datang seorang Lord lain, bernama Lord Voldemort. Dia hanya berkata
"Avada Kedavra!!!"
Dan berakhirlah perdebatan itu.
*lari!!!! kyaaaa!!!
@ Nazieb: Apa itu artinya?
*bukan pembaca HP*
Eh, kalau saya percaya sifat baik itu ada sejak lahir.
Bawaan dari sono-nya.
Karena itu pula kalau di sinetron ada adegan anak kecil yang ikut merencanakan pengambil alihan harta warisan jadi pengin misuh-misuh
@ sigid: Dan nanti dipengaruhi lingkungan kan?

Kekekeee... Warisan lagi, warisan lagi.
Eh, “baik” dipandang dari sisi mana?
Secara universal, menurut saya sih, setiap manusia itu cenderung memiliki potensi kebaikan dalam dirinya. Apalagi saat baru dilahirkan dan masih bayi atau anak kecil. Namun, manusia itu selalu berubah. Dan, dia bisa menjadi baik ataupun buruk tergantung dari apa yang dipilihnya.
keykod nya asik, bisa belajar bahasa inggris
Mina's last blog post..Cici Anik
Klo soal perbuatan baik sih, mnurut saya segala sesuatu bisa datang dari mana saja, mo dari lahir keq, mo dari belajar keq, mo dari samurai maupun gembel pun tetap akan dianggap perbuatan baik selama perbuatan tsb merupakan perbuatan terpuji.
Jangan lupa, Orang paling terkenal di dunia pun lahirnya di kandang sapi...
[no offense]
btw,
Semoga Anda diberkati yang maha kuasa...
PEACE!!
kekekekkkk....
@ Mina: Virtue.
Jadi ada kolaborasi yah?
@ Jabizri: Siapa yang lahir di kandang sapi?
*ngecek orang terkenal*
Mbuh, dapetnya cuma JC yang lahir di kandang domba.
Klo sifat baik hanya boleh dimiliki oleh orang2 berkasta tinggi kan ya bisa gawat ya :roll:
Tapi klo di Indonesia ada semacam keyakinan semacam ini, "Tingkat kekayaan seseorang berbanding terbalik dg tingkat keimanan dan akhlaknya". Bener2 keyakinan yg mbikin kemunduran.
Gawatnya memang, kekayaan dan kekuasaan bisa mbikin kebaikan menjadi sebuah skedar pilihan dan keburukan sebagai sebuah kebolehan.
@ Akhmad Guntar: Karena itu, teori sosial biasanya berubah, menyesuaikan zaman. Kalau zaman feodal dulu, mungkin itu hal yang wajar, karena doktrinnya memang udah melekat di hampir segenap rakyat.
Wakaakakaaa... Benar, tapi kadang keyakinan itu masih ada dalam diri beberapa orang.
duh... yang kejar setoran... sampe mbuat aku ngapus draft degh...
in fact... percakapan diatas hanya bisa berlaku di masyarakat yang memiliki sistem kasta tertutup...
@ Andrew Anandhika Wijaya: Btw, kuliah ente stratifikasi sosial ye?
Tapi benar bro, ane pake basa linggis tuh.
nggak... stratifikasi sosial masuknya interaksi wich is sosiologi... tolong dibedakan....
hubungannya komenku ama bahasa linggis apa yak...??? *mikir beneran*
Andrew Anandhika Wijaya's last blog post: I Love Him
@ Andrew Anandhika Wijaya: Artinya aku capek-capek tranlasi.