Posts Tagged ‘javanese’
Bahasa Nasional[is] dan Kebudayaan
Momen yang disebut sebagai "Sumpah Pemuda" memang telah lewat. Ada hal yang menarik terkait dengan momen tersebut, sebagaimana adanya dengan fenomena-fenomena mutakhir: tak lain ialah bahasa.
Momen "Sumpah Pemuda" menyinggung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, selain menyoal bangsa dan tanahair yang satu. Momen tersebut tahun ini sedikit-banyak mengangkat persoalan bahasa terkait dengan "sengketa kebudayaan" antara Indonesia dan Malaysia, fenomena "bahasa alay" di kalangan generasi internet, serta "bahasa gado-gado" yang memakai berbagai macam bahasa dalam satu kalimat (seringkali menyisipkan bahasa Inggris dalam dialog berbahasa Indonesia), juga masalah-masalah klasik seperti berkurangnya pemakaian bahasa daerah dan punahnya beberapa bahasa daerah karena tidak ada lagi ... read more »
Satria Jawa Paripurna
Orang-orang tua bilang ada ada lima unsur simbolik yang menandakan seorang lelaki bisa menjadi satria Jawa yang paripurna. Masing-masing punya kekhasan tersendiri, dan lelaki Jawa akan dianggap komplit jika mempunyai kesemuanya. Kelima syarat itu antara lain: Wisma, Wanita, Turangga, Kukila, dan Curiga. Kini, tidak seperti evaluasi diri Mas Yeni Setiawan, saya tidak berdarah Jawa tapi ingin mengevaluasi lima perkara ini.
Kelima syarat ini, selain memiliki arti harafiah, juga memiliki makna simbolik yang dalam. Saya memang masih rendah ilmunya, lagipula tak memiliki darah Jawa, sehingga hanya mampu menguraikan sedikit di antaranya. Tapi toh tak ada salahnya untuk sedikit menikmati uraian singkat berikut ... read more »
Sepucuk Surat Karna
"Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku."
Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi--yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja pecahan kepala?
Meskipun secara tersurat Karna dalam wiracarita Mahabharata digambarkan sebagai tokoh antagonis, saya tetap mengagumi dan memiliki respek mendalam terhadapnya. ... read more »
Romantika Lodaya
Jam sembilan malam, Stasiun Tugu Yogyakarta. Memang tak ada yang spesial dengan itu, hanya saja sekali tiap bulannya saya pasti berada di ruang tunggu stasiun, dengan buku di tangan sembari menanti datangnya Kereta Api Lodaya dari arah timur. Perasaan saya saat itu seperti awal perjalanan-perjalanan sebelumnya, bagai berdiri di depan kimsin Dewi Kwan Im, mengangkat dan menjatuhkan shio-pwe, hingga berharap diperkenankan mengocok lidi-lidi djiam-si. Walau diperkenankan pun, toh saya tetap tidak tahu apakah tulisan di djiam-si yang saya cabut akan berisikan ramalan nasib baik, atau buruk.
Kengerian itu dikarenakan oleh lakon Sam Pek Eng Tay yang terus berputar-putar di benak saya. ... read more »
Hidup
Orang bilang, ruming wicara kang mranani, meski amat sederhana namun kata-katanya bagai wewangian yang harum, dapat menarik hati. Paling tidak itulah yang saya harapkan dari sebuah blog tempat saya mengeluarkan semua kotoran pikiran ini.
"Kotoran, ya walau kotoran mengapa tidak juga mengeluarkan kotoran baru secara rutin? Sembelit kah?"
Sebenarnya tidak perlu uraian yang panjang jika saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengapa sedari lama blog ini tidak kunjung update. Apa yang tertulis pada peristiwa pembajakan blog tetangga ini, misalnya, bisa menjadi cara saya berkelit. Tidak perlu susah payah, pinjam saja kutipan orang terkenal, maka lawan bicara bisa panik dalam mengeluarkan argumentasinya. Bukan begitu, tuan? ... read more »
















