Logical fallacy atau sesat-pikir logis adalah suatu komponen dalam argumen, muncul dalam statement klaim yang mengacaukan logika. Sesat-pikir logis menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.
Mudahkah menghindari sesat-pikir logika? Tidak. Justru itu sangat susah. Saya pun masih banyak melakukan kesalahan berlogika dan penyusunan argumen, baik disengaja (?) atau tidak.

Seringkali sesat-pikir logika dilakukan oleh orang-orang yang kurang memahami tentang penalaran logis, orang yang tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa ketika pendapat diserang maka egonya diserang. Golongan yang pertama ini disebut Paralogisme, yaitu pelaku sesat-pikir logis yang tidak menyadari sesat-pikir yang dilakukannya. Namun ada juga sesat-pikir logis yang disamarkan menjadi silat lidah, yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat memperdaya, yang disebut Sofisme.
Sesat-pikir, terutama dalam politik, akan sangat efektif digunakan dalam provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan undang-undang, pembunuhan karakter, hingga menghindari jerat hukum. Memang, dengan memanfaatkan sesat-pikir logis sebagai silat lidah kita dapat memenangkan suatu diskusi, namun itu menjauhkan kita dari esensi permasalahan.
Di sini saya menuliskan beberapa logical fallacy atau sesat-pikir logika yang sering ditemukan dalam kampanye, debat, maupun diskusi politik–seperti halnya di Politikana. Masih banyak sesat-pikir logika yang biasa ditemukan dalam politik yang ingin saya tuliskan, ini hanya sekelumit garis besarnya saja.
Contoh yang saya berikan, walaupun terdapat nama tokoh atau unsur politik yang nyata (tidak fiktif), namun sebagian besarnya hanya karangan saya sendiri saja.
***
Argumentum ad Hominem
Argumentum ad Hominem adalah bentuk argumen yang tidak ditujukan untuk menangkal argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menuju pada pribadi si pemberi argumen itu sendiri. Argumen itu akan menjadi sesat-pikir ketika ia ditujukan menyerang pribadi lawan demi merusak argumen lawan. Kalimat populernya adalah: shoot the messenger, not the message.
Ada banyak bentuk ad hominem, namun yang paling umum dan dijadikan contoh di sini adalah ad hominem cercaan. Ad hominem termasuk dalah satu sesat-pikir yang paling sering dijumpai dalam debat dan diskusi politik, yang biasanya akan membawa topik ke dalam debat kusir yang tak ada ujung pangkal.
Catatan Tambahan: Ad hominem tidak sama dengan penghinaan, celaan, atau cercaan. Sejatinya, ad hominem ada dalam premis dan pengambilan kesimpulan berupa logika yang langsung mengarahkan argumennya pada seseorang dibalik suatu argumen. Dan tendensinya bisa saja bukan merupakan penghinaan, namun hanya mengkaitkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. Sederhananya, bisa dikatakan ad hominem jika itu berupa premis dan kesimpulan, untuk menjatuhkan argumen lawan.
Contoh:
Kepada anggota dewan yang terhormat, harus saya ingatkan bahwa ketika Bung anggota Fraksi Merdeka yang menanyai saya ini memegang jabatan, tingkat pengangguran berlipat ganda, inflasi terus-menerus melonjak, dan harga sembako naik drastis. Dan Bung ini masih berani menanyai saya tentang masa depan proyek sekolah gratis ini.
(cara yang berbelit-belit untuk mengatakan “no comment”, namun juga sekaligus menyerang lawan)
Red Herring
Red Herring adalah argumen yang tak ada sangkut-pautnya dengan argumen lawan, yang digunakan untuk mendistraksi atau mengalihkan perhatian orang dari perkara yang sedang dibahas, serta menggiring menuju kesimpulan yang berbeda.
Sesat-pikir ini biasanya akan keluar jika seseorang tengah terdesak. Ia akan langsung melemparkan umpannya ke topik lain, di mana topik lain ini sukar dihindari untuk tidak dibahas. Itu karena biasanya pemilihan topik lain itu ‘baunya’ cukup kuat seperti perumpamaan ikan merah (red herring) atau terasi bagi orang Indonesia (meminjam istilah Herman Saksono), antara lain topik yang aktual atau isu yang cukup dengan lawan debat atau audiens.
Contoh:
Andi: Polisi harusnya menindak tegas para aktivis lingkungan yang berdemo hingga menyebabkan macet di beberapa ruas jalan.
Badu: Anda merasa makin panas dan gerah saat macet kan? Kita harus peduli dengan isu global warming itu, bagaimana opini Anda?
(ketika Andi mengemukakan opininya tentang global warming, maka jatuhlah ia ke dalam topik baru)
Straw Man
Straw Man yaitu argumen yang membuat sebuah skenario yang dengan suatu imej yang menyesatkan, kemudian menyerangnya. Untuk membuat ‘manusia jerami’ (straw man) adalah dengan membuat ilusi telah menyangkal suatu proposisi dengan mensubstitusinya dengan sesuatu yang mirip namun dangkal dan mudah diserang, tanpa pernah benar-benar menyangkal argumen lawan yang sebenarnya.
Seperti namanya, manusia jerami adalah sasaran yang empuk dan mudah untuk diserang. Menyerang manusia jerami yang diciptakan dari manipulasi argumen lawan akan membuat argumen diri sendiri terlihat kuat dan bagus. Pada umumnya, selain terdapat dalam kampanye, manusia jerami ini akan dikeluarkan setelah lawan selesai bicara mengenai perkara yang dibahas.
Contoh:
Tono: Kita harus mengendurkan lagi status hukum ganja.
Rudi: Tidak. Obat-obatan terlarang itu akan merusak generasi muda kita.
(kalimat ‘obat-obatan terlarang yang merusak’ adalah manusia jerami untuk menggantikan menyerang ‘ganja’)
Guilt by Association
Guilt by Association berciri-ciri tipe generalisasi umum–yang terlalu cepat mengambil kesimpulan–yang meyakini bahwa sifat-sifat suatu hal berasal dari sifat-sifat suatu hal lain. Sesat-pikir ini bisa berupa ad hominem, biasanya dengan menghubungkan argumen dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen.
Ini adalah bentuk ekstrim dari majas Totum pro parte yang mana berupa seolah-olah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Intinya adalah mencari kesalahan seseorang dari apa saja yang berkaitan dengannya, lalu jadikan hal tersebut argumen untuk menjatuhkannya.
Contoh:
Gusdur banyak bergaul dengan golongan sekuler. Golongan sekuler itu kebanyakan berasal dari Amerika. Pasti Gusdur adalah seorang liberal dan antek-antek Amerika.
(lihat bagaimana dengan mudah menggeneralisasikan seseorang berdasarkan hubungannya dengan hal lain)
Perfect Solution Fallacy
Perfect Solution Fallacy adalah sesat-pikir yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan.
Asumsinya, jika tidak ada solusi sempurna, tidak akan ada solusi yang bertahan lama secara politik setelah diimplementasi. Tetap saja, banyak orang tergiur oleh ide solusi sempurna, mungkin karena itu sangat mudah untuk dibayangkan.
Contoh:
Penerapan UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap terjadi.
(argumen yang tidak memperhatikan penurunan tingkat kriminalitas asusila)
Argumentum ad Verecundiam
Argumentum ad Verecundiam terjadi ketika mengacu pada seseorang yang dianggap positif sebagai pakar atau ahli sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran.
Otoritas kepakaran seseorang yang mengucapkan suatu hal tersebut kemudian otomatis diakui sebagai sesuatu yang pasti benar, meskipun otoritas itu tidak relevan
Contoh:
Banyak ahli mengakui kapitalisme itu telah runtuh dan banyak boroknya. Jadi mana yang sebaiknya saya percaya, para ahli terkemuka itu atau Anda yang kuliah saja belum lulus?
(tembakan plus ad hominem, dan ya, bisa juga menambahkan sederet nama orang terkenal dalam argumennya)
Poisoning the Well
Poisoning the Well adalah sesat-pikir yang mencegah argumen atau balasan dari lawan dengan cara membuat lawan dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara.
Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan karena akan membuatnya menghina diri sendiri karena menyambut argumen yang telah diracuni tersebut.
Contoh:
Kami menduga Sintong akan melakukan negative campaign untuk menjatuhkan Gerindra.
(dan apa yang Sintong tulis tentang Prabowo dalam bukunya akan dianggap sebagai upaya menjatuhkan Gerindra)
Argumentum ad Temperantiam
Argumentum ad Temperantiam adalah kesesatan yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi.
Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.
Contoh:
Daripada mendukung komunisme atau mendukung kapitalisme, lebih baik ideologi Pancasila yang merupakan jalan tengah keduanya.
(sedikitpun tidak menjabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem)
Ipse-dixitism
Ipse-dixitism adalah argumen dengan dasar keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian.
Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir.
Contoh:
Ideologi liberalis dan kapitalis telah terbukti gagal dan hanya menyengsarakan rakyat, karena itu harus diganti dengan sistem spiritual.
(ideologi yang gagal itu belum disepakati lawan bicaranya, jadi bagaimana langsung dapat menggulirkan solusi?)
Proof by Assertion
Proof by Assertion adalah kesesatan dimana suatu argumen terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Kadang ini diulang hingga diskusi pun jenuh, dan pada titik ini akan dianggap sebagai fakta karena belum dikontradiksi.
Sesat-pikir ini sering digunakan sebagai retorika oleh politikus, atau dalam debat sebagai usaha menggagalkan penetapan suatu undang-undang dengan pidato yang amat panjang dan tak habis-habis. Dalam bentuk yang lebih ekstrim lagi, juga bisa menjadi salah satu bentuk pencucian otak. Penggunaannya dapat diamati dari penggunaan slogan politik yang terus-menerus diulang.
Contoh:
Tapi Bapak Menteri, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini, tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan jabatan di dalamnya amat penting bagi efesiensi kerja dan prestasi departemen. Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa… [dan seterusnya, berbelit-belit]
(selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan terus mengulang perkara yang sama)
Two Wrongs Make a Right
Two Wrongs Make a Right adalah kesesatan yang terjadi ketika diasumsi bahwa jika dilakukan suatu hal yang salah, tindakan salah yang lain akan menyeimbanginya.
Sesat-pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan tuduhan dengan menyerang tuduhan lain yang juga dianggap salah.
Contoh:
Dedi: Soeharto merebut kekuasaan dari Bung Karno dan akhirnya ia berkuasa dengan tangan besi.
Amir: Tapi Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup!
(ya, tapi itu bukan berarti apa yang dilakukan Soeharto itu benar)
Argumentum ad Novitam
Argumentum ad Novitam muncul ketika sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik.
Sesat-pikir ini selalu menjual kata ‘baru’, dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.
Contoh:
Mengganti golongan tua dengan golongan muda serta wajah baru di parlemen akan membuat negara ini lebih baik.
(tapi masalah seperti korupsi bukan perkara tua atau muda)
Argumentum ad Antiquitam
Kebalikan dari Argumentum ad Novitatem, ketika sesuatu benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Patriotisme, kejayaan negara, dan harga diri sejak puluhan tahun silam.
Sederhananya, sesat-pikir ini adalah kebiasaan malas berpikir. Dengan selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.
Contoh:
PDI-Perjuangan telah memperjuangkan nasib wong cilik sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, maka pilihlah moncong putih.
(berpuluh-puluh tahun berjuang, lalu apa hasilnya?)
False Dichotomy
False Dichotomy atau False Dilemma terjadi apabila argumen hanya melibatkan dua opsi, yang seringkali berupa dua titik ekstrim dari beberapa kemungkinan, di mana masih ada cara lain namun tidak disertakan ke dalam argumen.
Biasanya sesat-pikir ini menyempitkan opsi menjadi dua saja, walaupun masih ada opsi lain. Bahkan kadang-kadang menyempitkan opsi menjadi satu, sehingga seolah-olah mau tidak mau harus menyetujuinya.
Contoh:
Sistem pendidikan yang fraksi kami ajukan harus segera disahkan dan dilaksanakan, jika tidak, kemerosotan moral pasti akan menghinggapi generasi muda kita.
(opsi lainnya tidak disertakan sehingga membuat argumennya mau tidak mau harus disetujui)
***
CATATAN:
Artikel yang hanya memuat sesat-pikir logika yang sering dijumpai dalam politik (kampanye, debat dan diskusi politik, dan sebagainya) ini khusus saya tulis untuk Politikana dengan judul Sesat-Pikir Logika Dalam Politik. Dan dirilis ulang di blog ini hanya sebagai dokumentasi saja. Segala perubahan dan pengembangan hanya dilakukan pada artikel yang sama di Politikana, tidak di blog ini. Namun walaupun begitu, komentar dan tanggapan di blog ini akan tetap dibuka dan berjalan seperti biasanya. Terima kasih atas perhatiannya. Salam!
~ foto debat oleh Denis Grzetic.
Labels: cyberworld, dialogue, discussion, fallacy, philosophy, politic, social

















semoga sayah ga makin sesat setelah baca artikel ini 0*0
ini keren gun,..
nanti ada yang nyomot untuk pelatihan pelatihan latihan dasar kepemimpinan organisasi di kampus kampus...
* eh komen ini jenis Red Herrig nggak ?
biyuh.. teorimu mantab gun...
berarti aku selama ini telah melakukan begitu banyak logical fallacy ya ...
tp gpp lah. wong emang nggremeng kan gak ono teorine ya gun .. kekeke
Cih, siapa sih Anda itu? Sok-sok nulis kayak begini...
Memangnya Anda sendiri sudah sesuai dengan apa yang Anda tulis??
*contoh langsung peggunaan


nice post, salam kenallll..
artikelnya keren. tapi susah mengimplementasikannya/mencari relasinya pada kehidupan sehari-hari. apalagi di warung kopi.
yang paling sering dipake itu yang mana ya? Gw mungkin yang ad hominem.
wow.... postingan yang mantab, mas gun. bukan politisi namanya kalau ndak menggunakan logika yang sesat pikir, mas, lha wong yang sudah bener dan lurus saja dibikin salah dan dibengkokkan, kok, hehehe ... repotnya lagi, mereka sering menggunakan premis yang salah dalam merumuskan konklusi, hingga akhirnya banyak pernyataan yang membingungkan dan bener2 sukses menyesatkan logika publik, haks.
wah saya sepertinya harus katam ini dulu !@!
jadi, dari komentar saya yang pendek ini, saya masuk logical fallacy yang mana?
0*0x)p
gun...kamu nulis apa tho..???
kuliah yg rajin..jgn tidur mulu..hehhe
Plain Amazing d^b (lol this emoticon matches what I'm doin rite now in my head)
Considering establishing a Party Mr. Gun?
dapat PR tuk mempelajari postingan ini malam ini..
mantab kang d^b
wah postingannya mantap mas....kelar juga casual cutie bacanya...
Sehebat apapun logical fallacy yang digunakan tetap berpijak pada silogisme...
[...] pada sora.kun soal wilayah Indonesia berdasarkan alasan historis: Berarti sama fallacy-nya (argumentum ad antiquitatem) juga dengan menyatakan Republik Indonesia itu harga mati dari Sabang sampai Merauke karena selebar [...]
Wah bentar lagi jadi filosof nih..
repost -1 !@!
Huks... Filsafat banget... Berat dah..
Kunjungan balik..
Mantap le... update lah... ela dia bingat, kuman kare pundang dengan kalakai
ah, harusnya para pendebat di facebook yang tersesat baca artikel ini.
blog ini keren
terutama postingan yg ini
red herring ya gun
d^b tulisan ini bermanfaat, cocok dg ilmu diplomasi yg dipelajari
patut dicermati, baik untuk dipraktekkan sendiri, maupun utk mewaspadai pihak lain yg menggunakannya !@!
salam
metalogika masuk mana ya...
lho...aku belom komen tho???mosok sih???*scroll atas bawah*
"Saya pun masih banyak melakukan kesalahan berlogika dan penyusunan argumen, baik disengaja (?) atau tidak."
Kalo disengaja bukan fallacy lagi dong... ini pasti black campaign untuk mendiskreditkan politikana [poisoning the well mode: on
]
Thanks, good article.
Kalo Junker masuk kategori apa ya
buka blognya gun...panjang....jadi obat ngantuk deh...hahahha
artikel yang menarik...
informasi yang berharga banget nih...
teruskan berkarya...
kamu kok kalo gini jadi seksi?
*keluarin pecut & borgol dengan bulu2 merah*
and what do you call this?

post yang ok dan menarik moga manfaat dan setelah baca terbukalah kesadaran kita dan pikiran kita ok thanks
banyak yang ikutan nih kontesnya. walau pun penuh kontroversi tetap semangat semoga beruntung ya
Yeah... org lebih cenderung ber-sesat-logika krn berpikir sistematis menurut hukum logika agak melelahkan jika belum terbiasa
ilmu yang bermanfaat ini, gun..
saya akan pakai untuk meraih kejayaan...
ha ha ha ha
mantep gan postingannyad ^b
anda sangat pro
Terima kasih udah sharing. Salam kenal ya...
Aduh gawat ada Pitoooo....!!! ^^;
*panik*
wah seru
Rusli zainal sang visioner
[...] Uncategorized Leave a Comment Special request dari blogger “seleb” dan calon ahli kebudayaan Kalimantan, Rozenesia, untuk pasangannya tercinta. Silakan tinggalkan request ambigram anda di bawah (sebagai [...]
blog nya jarang apdet tapi yang komen kek pasar xixixixi
salam kenal ya mas *salaman*
eros
peserta kontes Rusli zainal sang visioner
kok ndak diapdet lagi, bung?
artikelnya bagus mas..!@!
waduh
salut
analisa yg mantap bangett
keren
Wah, selamat yach akhirnya blog Anda termasuk sebagai salah satu diantara 20 blog terpilih diantara 200 blog yang mendaftar. Sukses bro, semoga blog Anda bisa terpilih menjadi yang terbaik ya. Terima kasih…
[...] suatu waktu ada sebuah komentar masuk di GunawanRudy.com (blog utama saya), yang menyatakan selamat bahwa blog saya tersebut [...]
Hahahaha.... saya jadi sedikit bangga. Ternyata anak didik saya sudah berhasil mengembangkan sayapnya. d^b
Analisa yang bagus....
Jiahhhh....
Anak didik? Sekarang saya sedang sibuk menata masa depan, kuliah yang bener.
*sibuk jagain fosil Homo erectus*
sangat menginspirasi, mas
duh panjang amat pak
Mas Rudy yang terhormat,
Saya tertarik dengan artikel yang Anda buat. Kalau boleh tahu dari mana Anda dapat referensi? Saya coba googling buku tersebut. Saya mendapatkan informasi ini
Fallacy: the counterfeit of argument?
oleh W. Ward Fearnside, William Benjamin Holther - 1959 - 218 halaman
RECON:1985-02-04 Main entry: Fearnside.
Benarkah itu referensinya? Jika benar, bolehkah saya pinjam dan kemudian saya copy (maaf setahu saya buku ini sudah tidak ada di pasar). Saya sangat membutuhkan informasi dari Anda.
Atas informasi Anda, saya ucapkan terima kasih.
Salam
Agung DH
mantap karyanya.
Kalau saja para politisi dan "punggawa negara" mencoba membaca dan memahaminya......
numpang promosi blog baru... main2 ya..
wew sangat menarik artikelnya memang panjang sih tapi sebanding dengan isinya thanks
Saya minta izin copy buat mata kuliah logika ya.. hehehehe...
Benar2 artikel bagus!
Artikel seperti ini harus dibaca oleh rakyat dan politikus kita untuk memperbaiki pola pikir bangsa ini yang kebanyakan udah sesat...
Ketika seseorang salah estimasi menghitung sesuatu hal yg tidak pernah ada dasar teorinya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai strowman argument?
misal :menghitung berapa ton jumlah rumput yang dibutuhkan oleh 1000 kambing dalam setahun
Salam sejahtera,
Aku ingin bertanya perihal definisi dari Argumentum ad Verecundiam, di situ dituliskan akan adanya unsur "otoritas" sebagai justifikasi pembenaran.
Lalu apa bedanya dengan Argumentum ad Auctoritatis?
Aku melakukan sebuah referensi silang dengan Wikipedia, di situ disebutkan definisi Arg.ad Verecundiam; http://id.wikipedia.org/wiki/Kesesatan
"Argumentum ad verecundiam adalah argumentasi yang diberikan dengan sengaja tidak terarah kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan perasaan malu si lawan bicara. Argumentum ad verecundiam juga digunakan sebagai pembenaran, dan sering dipakai dalam iklan"
Contoh;
"Bila anda benar-benar seorang pembela kebenaran maka anda pasti akan membenarkan apa yang saya katakan karena yang saya katakan ini adalah benar"
Bagaimana menjelaskan ini?
Terima kasih
Julius Paulo
nampaknya wikipedia berbahasa indonesia tidak bersepakat mengenai definisi argumentum ad verecundiam dengan definisi saya maupun beberapa definisi lain.
sependek yang saya tahu, argumentum ad verecundiam adalah nama lain dari appeal to authority (silakan cek di http://en.wikipedia.org/wiki/Argumentum_ad_verecundiam atau sumber lain).
salam.
Mas, sampeyan masih punya waktu lebih ga? kalo masih kapan2 tak undang jadi dosen tamu utk mata kuliah dasar-dasar logika di univ multimedia nusantara bisa ga? minta no hp njenengan ya lwt email saya ini ya aryakresna@yahoo.com. Nuwun...