Yi Fei termenung menatap bulatnya bulan purnama di langit yang cerah tak berawan. Tidak seperti malam-malam purnama lainnya di mana ia biasa menghabiskan malam dengan tawa canda bersama pejabat istana lainnya, diiringi tarian penari wanita dan tuak bermutu tinggi, kali ini ia bermuram durja. Raut mukanya kaku menahan udara dingin, dan dua bola mata yang sayu itu tak berkedip menatap ke langit yang berhias bintang.
Tak hanya itu, Yi Fei yang dulunya mengabdi di istana sebagai juru tulis kini harus meringkuk kedinginan di pinggir jalan. Pakaiannya hanya gombal kusam yang tak bisa ditebak apa warnanya dulu. Tubuh tegapnya kini berubah sedemikian kurus karena berhari-hari belum makan. Harga diri melarangnya untuk mengemis dan meminta-minta. Tak ada seorang pun yang memberinya pekerjaan karena statusnya sebagai terhukum. Lebih baik mati ketimbang harus merendahkan diri dengan mengemis, teriak kata hatinya. Penampilah Yi Fei sekarang tak ubahnya seperti gelandangan saja.
“Benar Tuan Hakim, saya menggunakan pedang untuk membunuh keluarga pejabat korup tersebut. Tapi Anda lebih hebat! Hanya dengan uang dan kekuasaan Anda bisa membunuh orang. Anda tidak perlu mengotori tangan Anda, karena mulut Anda sudah kotor dengan perintah-perintah yang bahkan bisa membuat manusia kehilangan nyawanya. Kalau begini, siapa yang lebih berdosa? Jawab, wahai Tuan Hakim!” teriak seorang kakek tua sebelum kepalanya menggelinding di lantai karena tebasan pengawal kerajaan.
Yi Fei teringat lagi kejadian itu. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu saat ia masih menjabat sebagai juru tulis di pengadilan kerajaan. Ia yang saat itu masih berusia delapan belas tahun langsung muntah, karena menyaksikan eksekusi spontan di ruang pengadilan saat tengah mengadili seorang pria tua yang dituduh membantai satu keluarga pejabat terpandang di ibukota kerajaan. Yi Fei muda kala itu belum mengetahui intrik-intrik politik. Ia yang berasal dari keluarga bangsawan kelas paling rendah baru saja mulai merintis karir di pemerintahan menggantikan mendiang ayahnya, seorang juru tulis senior di istana.
Betapa pun ia mengetahui ketidakwajaran kematian ayahnya yang meninggal secara misterius di sebuah malam, tetap saja ia bersikukuh menjadi seorang juru tulis. Yi Fei telah mengubur cita-citanya masa kecilnya, yaitu menjadi prajurit. Untuk mengapai cita-cita itulah, semenjak kanak-kanak hingga remaja ia berlatih beladiri dan ilmu perang dengan keras serta berdisiplin. Namun entah kenapa setelah ayahnya meninggal ia secara tiba-tiba memutuskan untuk mengabdi kepada kerajaan sebagai juru tulis, bukan prajurit.
Kata-kata yang dilontarkan kakek tua itu sekarang membayang di benaknya. Mungkin nasibnya sama dengan sang kakek, menjadi korban dai uang dan kekuasaan orang lain.
Diterpa angin malam yang makin dingin, Yi Fei merapatkan tubuhnya ke dinding sebuah toko yang tutup. Mengenang masa lalu hanya makin menyakiti diri, pikirnya. Pada saat seperti ini Yi Fei mencoba mengingat kata-kata K’ung Tzu mengenai nafsu dan keresahan.
Kau tak usah resah jika kau tak punya jabatan.
Tapi kau harus resah jika jabatanmu tak ada nilainya.
Kau tak usah resah jika kau tak punya kehormatan.
Tapi kau harus resah jika kehormatanmu tak ada nilainya.
Kau tak usah resah jika kau tak punya harta.
Tapi kau harus resah jika hartamu tak ada nilainya.
Walau Yi Fei terus-menerus mengucapkan kata-kata itu, tetap saja ia merasa belum menemukan makna dari nilai yang dimaksud oleh K’ung Tzu. Apakah nilai itu, ujarnya dalam hati. Sampai dua bulan yang lalu ia masih punya jabatan sebagai juru tulis istana, punya kehormatan seorang bangsawan, dan tentu saja punya harta hasil jerih payahnya bekerja membanting tulang.
Dalam bekerja ia selalu berdisiplin dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik, ia tidak pernah korupsi, semua harta yang dimilikinya murni dari gaji. Selain itu Yi Fei juga tak pernah lupa untuk berdoa dan bersyukur. Melakukan kegiatan amal dan tindakan sosial pun merupakan sesuatu yang tak pernah ia lewatkan tiap tahunnya. Tapi permainan politik telah menjungkalnya. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba ia dipecat dan semua hartanya disita, lalu statusnya menjadi terhukum hingga orang-orang kota menjauhinya. Satu-satunya yang ia ketahui adalah ia dituduh memanipulasi catatan distribusi barang ke seluruh provinsi yang menurutnya tak pernah ia lakukan. Semuanya percuma, bukti-bukti yang ada entah dari mana asalnyan membuat pengadilan memutuskannya bersalah. Ia kehilangan segalanya: jabatan, kehormatan, dan harta.
Lalu bagaimana dengan keluarganya? Dalam usianya yang hampir menginjak empat puluh tahun, karena kesibukannya Yi Fei belum juga menikah, jadi ia tidak punya anak istri. Ibunya pun sudah lama meninggal dunia. Sementara itu ia adalah anak tunggal sehingga tidak mempunyai saudara. Sungguh sebuah kesendirian yang kini terasa menyakitkan, batinnya.
Kalau begini, apakah nilai-nilai itu? Apakah Yi Fei sudah memilikinya dulu? Dan bagaimana dengan sekarang? Tetap eksiskah nilai itu walau Yi Fei kehilangan jabatan, kehormatan, dan harta? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di benak Yi Fei.
Dari kejauhan terdengar suara berisik dari arah kota. Dari langkah kuda dan bunyi roda yang melewati jalan berbatu, Yi Fei memprediksikan itu adalah rombongan kereta yang dikawal oleh pasukan berkuda. Paling tidak rombongan seorang bangsawan atau saudagar.
Tepat dugaan Yi Fei. Sebuah rombongan dengan tiga kereta pengangkut barang yang dikawal sejumlah pasukan berkuda sedang menuju ke arah luar kota. Sekitar enam orang berkuda dan sisanya kurang lebih dua puluh prajurit pejalan kaki yang siap dengan tombaknya mengawal rombongan itu. Nampaknya bangsawan dari kota lain, karena panji-panji yang dibawa salah seorang pengawal berkuda bukanlah panji-panji lambang ibukota.
Saat rombongan itu melintas, ia menatap tajam ke arah kereta utama, kereta paling megah dalam rombongan itu. Dari dalam kereta itu, seorang lelaki gemuk separuh baya menatap keluar, ia membalas tatapan tajam Yi Fei dengan ekspresi mengejek. Tanpa menatap pun ia memang terkesan mengejek dengan wajahnya yang bulat, pipinya yang gemuk dan mata sipit ditambah senyum liciknya. Untung saja Yi Fei segera menundukkan kepalanya, seakan memberi hormat walau sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal tersebut. Tapi apa yang bisa ia lakukan lagi. Status bangsawan itu jauh lebih tinggi darinya walau ia masih menjabat sebagai juru tulis sekalipun. Tercermin dari penampilan para pengawal yang hampir mirip pengawal istana. Dan budaya serta protokol istana mewajibkan siapa saja dengan status sosial yang lebih rendah wajib menghormati mereka yang berstatus lebih tinggi. Yi Fei menjunjung tinggi moralitas, juga sangat terikat dengan budaya hierarki. Jika ia bersikukuh membalas tatapan sang bangsawan, bisa saja bangsawan itu memerintahkan para pengawal untuk membunuh Yi Fei.
Sesaat setelah rombongan itu menjauh, Yi Fei mendengar suara ribut-ribut dari arah yang dituju oleh rombongan tadi. Dengan segera ia berlari menuju sumber suara. Dan dari balik pepohonan ia melihat sepasukan prajurit berpakaian serba hitam menyerang rombongan kereta sang bangsawan. Dengan takjub Yi Fei menyaksikan satu demi satu pengawal rombongan itu jatuh tersungkur ke tanah. Kemampuan beladiri para penyerang misterius itu sangat tinggi, dan dalam waktu singkat semua anggota rombongan sang bangsawan tewas berlumuran darah, tak ada yang tersisa kecuali sang bangsawan.
“Toloooonnng…aakkhh!” teriak sang bangsawan yang mencoba kabur, namun akhirnya roboh terkena anak panah tepat di lehernya.
Pemanah tadi yang nampaknya adalah pemimpin mereka berkata, “Akhirnya dendam terbalaskan juga. Mati juga kau sekarang. Gara-gara pengkhianatanmu ayah bunuh diri.”
“Tuan, kita apakan harta yang dibawa bangsawan ini?” ujar salah seorang anak buahnya.
“Biarkan saja, aku tak sudi mengambil uang haram lelaki busuk itu. Ayo kita pergi, sebelum tentara kerajaan datang.”
Para penyerang misterius itu segera pergi meninggalkan sisa-sisa pertempuran. Kelihatannya mereka menuju ke arah kota. Yi Fei yang dari tadi menyaksikan semuanya dari balik pohon menduga bahwa pemimpin penyerang tersebut adalah seorang bangsawan yang menaruh dendam kepada bangsawan gemuk dari rombongan itu. Dendam menyebabkan manusia saling bunuh, dan Yi Fei menerunungkan apakah ia juga memiliki dendam kepada orang-orang yang berkonspirasi untuk menjatuhkannya. Sungguh ia belum menemukan jawaban.
Yi Fei terkejut mendengar suara gemerisik dari semak-semak di dekatnya. Seorang lelaki muda dengan pakaian compang-camping keluar dari semak-semak tersebut dan melangkah pelan menuju lokasi pertempuran tadi. Bau anyir darah merebak ke udara, Yi Fei menutup hidungnya namun rasa penasarannya terhadap lelaki tadi malah membuatnya semakin mendekat diam-diam.
Tanpa suara Yi Fei mengamati apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut. Alangkah terkejutnya Yi Fei melihat lelaki itu melucuti pakaian mewah dari mayat sang bangsawan, mengumpulkan senjata-senjata dan pakaian perang para pasukan pengawal, serta mengambil uang emas dari kereta-kereta. Lelaki itu adalah orang yang biasa mencuri dari mayat korban perang. Kala itu orang-orang yang mencuri dari mayat dianggap sangat rendah derajatnya. Yi Fei yang sangat menjunjung tinggi moralitas merasa sangak muak melihat apa yang dilakukan lelaki tersebut.
Saat itu amarah Yi Fei memuncak. Baginya sungguh rendah perbuatan pencuri tersebut. Lebih baik mati kelaparan daripada mencuri dari mayat, harga dirinya berteriak. Jiwa bangsawannya bangkit dan rasanya ingin sekali ia membunuh pencuri tersebut karena kejahatan besar yang telah ia lakukan.
Perlahan Yi Fei keluar dari persembunyiannya dan memungut belati dari salah seorang mayat pengawal.
“Hei kau, berhenti! Apa yang kau lakukan?” teriak Yi Fei tepat di belakang si pencuri yang sedang memasukkan uang emas ke dalam sebuah karung yang dibawanya.
Pencuri itu kaget setengah mati saat menengok ke belakang. Ia kalap dan mencoba untuk kabur. Sayangnya Yi Fei menangkap dan memelintir lengannya kemudian membantingnya ke tanah. Kemampuan beladiri Yi Fei tidak bisa dianggap remeh walau sudah lama sekali ia tidak berlatih. Dalam sekejap pencuri itu sudah dalam posisi terkunci tak bisa bergerak.
“Apa yang kau lakukan? Jawab!” ujar Yi Fei dengan wajah murka sambil mengacungan belati ke wajah pencuri tersebut.
Si pencuri gemetar karena ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan nafasnya terengah-engah. Ia terlalu takut untuk berbicara. Bahkan celananya basah terkencing-kencing saking takutnya. Melihat itu Yi Fei menarik belatinya sambil memandang dengan ekspresi dingin dan mengejek.
“Aku bukan prajurit kerajaan. Aku juga gelandangan sepertimu. Jadi jangan takut, aku hanya penasaran dengan apa yang kau lakukan. Sekarang bicaralah.”
Dengan tergagap karena masih takut dengan kilatan belati di tangan Yi Fei, pencuri itu mulai bicara, “A-aku mengumpulkan benda-benda ini dari sisa-sisa pertempuran…” ujarnya sambil menunjuk ke arah senjata dan pakaian perang yang ia kumpulkan dari mayat.
Jawaban yang tidak memuaskan bagi Yi Fei.
“Lalu mengapa kau lucuti pakaian dari mayat bangsawan itu, dan apa itu di tanganmu?” ujar Yi Fei sambil menunjuk karung berisi uang emas yang diambil si pencuri dari kereta.
Pencuri itu gemetar ketakutan lagi. Tatapan mata dan suara Yi Fei begitu menakutkan dan berwibawa seperti bangsawan dan prajurit, tidak seperti gelandangan atau rakyat biasa.
“Jawab!” teriak Yi Fei.
Si pencuri kaget dan mencoba menenangkan diri, lalu berkata “Benar, aku mengambil semua ini dari mereka. Aku tahu ini kejahatan besar, tapi mereka pantas mendapatkannya.”
Yi Fei memicingkan mata, masih dengan ekspresi mengejek, “Pantas? Mengapa begitu? Jadi itu alasanmu melakukan perbuatan ini?”
“Semasa hidupnya bangsawan itu menindas beberapa desa dengan membebani warga desa pajak yang sangat tinggi. Banyak desa menjadi sangat miskin dan warganya kelaparan. Para prajurit itu pun mau saja mengikuti perintah si bangsawan. Mungkin mereka terpaksa melakukannya karena itu adalah perintah atasan dan jika mereka menolak mereka akan dihukum mati. Aku pun begitu, aku terpaksa melakukannya kalau tidak aku akan mati kelaparan. Kurasa ini bukan perbuatan tercela karena aku terpaksa, seperti para prajurit itu. Lagipula aku mengambil apa yang bengsawan itu curi dari rakyat.”
Yi Fei terdiam mendengar pembelaan diri si pencuri. Jika pencuri itu melakukan hal yang tidak salah, maka seharusnya ia pun bisa melakukan hal yang tidak salah pula untuk bertahan hidup, pikirnya. Tidak ada gunanya mati kelaparan di saat seperti ini. Yi Fei tidak lagi memikirkan mati kelaparan demi harga dirinya. Yang jelas ia tidak melakukan perbuatan yang salah. Ya, ia melakukan perbuatan yang benar. Begitu yang ia pikir sekarang.
“Kalau begitu jangan salahkan aku. Tidak ada yang salah, bukan? Kau sudah lancang berani mencuri dari orang mati, dan jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Jika tidak melakukan ini, mungkin aku akan mati kelaparan. Kau bisa memahaminya kan? Tidak ada yang salah…”
Yi Fei menyarungkan belati di pinggangnya lalu meninju wajah pencuri tersebut hingga pingsan. Setelah mengambil uang emas secukupnya dan pakaian milik sang bangsawan yang dilucuti oleh si pencuri, Yi Fei menarik tali kekang salah satu kuda penarik kereta yang tersisa. Dan dengan menunggang kuda tersebut ia menghilang dalam kegelapan malam.
Tak ada yang tahu tanda-tanda keberadaan Yi Fei. Mungkin saja ia melarikan diri ke negeri tetangga. Kalau begitu, bukan tidak mungkin mayat lelaki tanpa kepala yang keesokan harinya ditemukan di perbatasan adalah Yi Fei. Mungkin ya, mungkin tidak.
Labels: buddha, chinese, culture, history, philosophy, social, story

















Aku ga bermaksud nyinggung siapapun.
Setahun terakhir ini saya juga mengucapkan kata-kata semacam
"Kau tak usah resah jika kau tak punya jabatan."
Weh, ternyata efeknya tidak instant, he he
Hingga akhirnya yang terucap adalah "it's okay, that's life".
Btw, kemarin websitenya lagi down yah?
sigid's last blog post: Dante’s Inferno Test
kebenaran itu subyektiv yak?
edy's last blog post: Update WordPress 2.3.3
Ane bacanya 2 kali, bolak-balik ampe selesai. Bang Gun, ini cerpennya sendiri ya? Bagos bener. Kirim ke koran, pasti dimuat tuh!
Ah ya... pesan moral yang ane tangkep, di antaranya adalah; Dorongan perut seringkali mengalahkan idealisme diri. Mungkin kayak di kita, mencuri dan korupsi bukan cuma monopoli para pejabat negara, tapi rakyat jelatapun melakukannya ketika punya kesempatan (tolong catet, kagak semuanya sih).
tokoh Yi Fei seperti mewakili para manusia idealis yang muak dengan segala kebejatan moral pejabat, namun ia sendiri pada akhirnya melakukan hal yang sama dengan orang yang dibencinya. karena tuntutan perut... Lenyaplah semua nilai, prinsip dan idealisme yang selama ini digenggamnya erat.
Paling enggak, ini yang ane tangkep dari cerita ini. :mrgreen:
Cabe Rawit's last blog post: Tetangga Ane Sukses Karena…
Ane kok jadi inget Akbar tanjung??? :mrgreen:
Cabe Rawit's last blog post: Tetangga Ane Sukses Karena…
postingan yang panjang sekali....
semuanya kan tergantung dari sudut mana kita melihat itu.
itikkecil's last blog post: Pelangi
ini bikin sendiri kah?
abis dijawab baru gw baca..sensasinya bisa beda soale :mrgreen:
*serius*
tukangkopi's last blog post: Anu..itu…
@ sigid [1]: Iya, down.

Nah, aku juga ingin bisa ucapin kayak gitu, tapi bisa laksanainnya. Sulit.
@ edy: Bisa ya bisa ga. Tapi tauk ah gelap.
@ Cabe Rawit [1]: Mulai beberapa waktu ini, aku lagi males cantumin nama. Seperti yang kutuliskan di footer: No © 2008 GunawanRudy[dot]Com tapi walau begitu: Other materials © their respective owners

Ya, hasil keisengan mati suri di kost 2 hari akibat kelelahan... Hampir ga keluar kamar. Sejak 6 Feb aku jadi agak gila. Kalo mau kutip ya silahkan. Males aja ngaku-ngaku.
Mulai sekarang mau konsen ke tulisan yang aneh-aneh.
Ya, idealisme bisa kalah dengan realita. Mahasiswa idealis kalau udah berkeluarga kadang bisa goyah idealismenya, dan cenderung realistis...
@ Cabe Rawit [1]: Lha kok?
@ itikkecil: Cerpen, bukan cerpan lho....
@ tukangkopi: Dijawab ke reply untuk Cabe Rawit.
Weleh, ini sinopsis film apa toh?

Nazieb's last blog post: Mereka saat Balita Pertama
Saya maunya jadi pejabat tapi tidak resah. Artinya, harus menjabat dengan segenap kekuatan dan memberi nilai maksimal dengan jabatan itu.
oh ya, homepage yang menarik sekali...
selamat yaa
Kurt's last blog post: “Bacalah!” dimana Semangatmu?
otak sayah gk mampu mencerna tulisan sampeyan bro
*maapkan hamba tuan-ku
detnot's last blog post: Di Prospek
Ah hahaha.. hahaha... bagus bagus.. sangat menginspirasi.
Bagi saya sendiri, dianggap tinggi oleh org lain bagus, dianggap rendah oleh org lain juga peduli amat. Im a freeman, kulakukan apa yg kuinginkan sepanjang tdk mencelakai orang lain. :lol:
eh.., kenapa pake nama Yi Fei?? emang ga ada nama lain ya?? Yi Fei itu kan nama cewe grrr...
CY's last blog post: Happy Chinese New Year 2559/2008
ah Yi Fei ternyata masih tidak tahan godaan dan cobaan..sama seperti kita semua.
Menurut saya ini adalah potret kehidupan kita masing2
manda's last blog post: jangan Latah Valentin-Valentinan
....Nampaknya nyaris nggak ada kebenaran yang absolut di dunia ini, ya?
Cynanthia's last blog post: Sudah Tua, Sakit Pula
hmmm...gw melihat orang-orang yang memegang prinsip disini. terlepas dari apakah prinsip itu benar atau salah dan apakah prinsip itu dipegang sampai mati ataupun bisa berubah di tengah perjalanan.
great job, man!
*fiuhh..akhirnya bisa komen juga*
tukangkopi's last blog post: Definisikan cinta!
wah, ini kayak cerita berbingkai, mas gun, hehehehe :lol: dalam kondisi darurat, orang seringkali gampang sekali melakukan pembenaran terhadap tindakan yang dilakukan, bahkan jika perlu harus menyingkirkan orang yang pernah menyingkirkan kehidupan seseorang. kayak permainan politik para elite di negeri ini, hiks.
sawali tuhusetya's last blog post: Surat Terbuka buat Triyanto Triwikromo
Saya merasa tersinggung! *tendang gun*
Btw, ituh pembenaran si pembunuh, si pencuri, dan yu fei kok serasa familiar yak? :roll:
danalingga's last blog post: Buang Saja Agama Itu !!!
ciaat.... oe bilang ini Shio Tikus Tanah, Oe kagak bilang ini Shio Tikus Api. Capa yang Bilang ini Shio Tikus Air?
Haiya... Semoga Hari Baik
oe very handsome ya :lol:
ahahah... bingung Gun, gue baru turun gunung trus baca ini. jadi binun.... ya udah lah...
shinobi's last blog post: Asyiiik~~ Gue Iduuup
@ Nazieb: Mau saya buatin felemnya?
@ Kurt: Caranya gimana nih jadi pejabat biar ga resan dan rakyat ga resah juga....
@ detnot: Lha ini cerpen...
@ CY: ..dan asal bisa berguna bagi orang? Jadi bahan olok-olokan berguna toh?
Pake nama Liu Yi Fei buat serangan balik ente pake nama "M"...
@ manda: Idealisme runtuh seketika. Kekekeee... Duh, aku tahan ndak ya.
@ Cynanthia: Lha pembenaran yang ini gimana menurutmu?
@ tukangkopi: Prinsip ya. Kalau sesuatu yang mencemarkan prinsip itu walau itu bertujuan agar prinsip itu ga mati, rasanya malah menghancurkan prinsip itu sendiri.
@ sawali tuhusetya: Iya pak, karena dirasa ga melakukan hal yang salah, ya membenarkan tindakan sendiri atas dasar orang lain juga gitu.
@ danalingga: Lha kenapa tersinggung?
Pembunuh? Yang balas dendam tapi ndak mau ambil uang haram... Siap ya..
Pencuri... Siapa ya. Yi Fei juga siapa...
Ah, tokoh macam gini sering banget muncul di novel-novel silat.
@ shinobi: Lhaaaaaaaaa...
itu ga menjawab!
OOT, belom pulih karena kemarin ada maintenance yak? barusan database error
seperti di sini kalo ga salah
http://oktaendy.iwuvya.com/blog/2008/02/11/error-too-many-connection/
edy's last blog post: Polling: Merek Motor Anda?
yah...yah....
keadilan memang sulit dinegeri ini...
loh sok tau padahal karakternya orang cina...
hehehe...
miang sui, miang sui....
Moerz's last blog post: Six String Story (Eps.1)
ceritanya bagus juga
Salam kenal ya.
steelheart's last blog post: Kecanduan Internet, Bentuk Stres Pekerjaan
Harusnya rampasannya dibagi dua tuh... Baru halal...
*dongkol server masih down*
haiyaa.... oe cudah filang'a loe olang jangan cuka nyuli, itu tidaks baiks'a ... haiyaa...
tak kungfu koen !
.::he509x™::.
MaNongAn's last blog post: Jeng Semawis I
@ edy: Kekekeee...

Iya nih, lagi kesel.
@ Moerz: Lah? Maksud?
@ steelheart: Wah, makasih juga ya.
@ Junarto: Kalo dibagi pembenarannya ndak jalan kayaknya.
@ MaNongAn: Cisss... Ane kagak nyuri, Ki!
wah ini ceritanya lengkap banget. dapat dari orang aslinya yah?
aRuL's last blog post: Buble Information Marketing PTS Konglomerat, Bentuk Penipuan Baru
Dibuat film aja ceritanya...
bagus banget,cukup detil ceritanya...
Kalo dibuat film klo boleh kasi saran yang jadi Yi Fei aktornya Fery Salim aja,,
Cocok kan?
Ah hahaha... kan udah gw bilang, mau diolok atau disanjung peduli amat.
Ente memang pinter pake nama Yi Fei utk mbales eh hehehe..., tapi gw tetep mau pake nama Michelle krn melewati 8 kelahiran sekalipun tak akan ku lupa nama itu. dui bu chi nin
CY's last blog post: Happy Chinese New Year 2559/2008
@Wienda
Ha? kok Fery Salim?? Bukannya Gunawan Rudy lebih cocok... ah hahaha...
*kabuurrrrr*
kalau tidak ada ket sumber dan penulis asli, berarti ini adalah buatanmu Lee?
wah, keren !!! XD
keren..keren..
muatan dalemnya juga sangat filosofis.
Hm, terkadang dalam keadaan terjepit orang bisa melanggar prinsipnya sendiri ya?
hidup memang tak mudah ya...
eMina's last blog post: Surat Untuk Para Tukang Sampah dan Cleaning Service di Seluruh Dunia
Sejalan dengan cerita kahlil gibran tentang asal mula penjahat.. saya lupa jalan ceritanya..
"karena aku lapar dan aku memohon kerja sementara kau tidak memberinya...
karena aku sangat lapar dan aku meminta dengan belas sangat, tapi kau mengataiku bahwa aku pemalas..
Maka, ijinkan aku meminta hakku dengan kasar dan paksa..
kali ini aku datang padamu tanpa belas dan kasih tapi dengan kekerasan dan paksaan"
ah, dunia..
gempur's last blog post: Menggugat Istilah Pemerintah
Segampang itu Yi Fei kehilangan kehormatannya?
Arif's last blog post: Numpang WP.com lagi
iya juga, di kopingho sepertinya bertebaran tuh tokohnya. Tapi maksud saya familiar bukan di cersil , tapi di kehidupan nyata. Soalnya pola pembenarannya agak mirip-mirip gitu.
*makanya saya tersinggung*
danalingga's last blog post: Buang Saja Agama Itu !!!
lah pembenaran ituuu. .. ..
klo orang lain bisa.. kenapa saya tidak *begitu pikir yu fei
mungkin malaikat bakal mencatat nya sebagai dosa berjamaah ato multilevel . .
@ aRuL: Mencoba jadi tokoh.
@ wienda: Sorry, I don't need to.


Aku aja malas nulis author (aku)...
Iseng doang.
@ CY [1]:
@ CY [2]: GRAAAAAAAAAA!!
@ eMina: Baca reply-ku kepada caberawit. Aku sudah mulai malas mencantumkan namaku.
Kalau terjepit sih ndak apa, yang jadi masalah itu karena pembenarannya ada.
@ gempur: Ah, aku mau baca itu...
@ Arif: Ndak gampang kang, soalnya tersesat pas muncul 'pembenaran'.
@ danalingga: Wakakaaa...
@ funkshit: Wuih, dosa berjamaah itu dibagi atau ga?
berat, berat,...