Hello world! I'm Gunawan Rudy.

Goen, Rudy, Koh — you name it. Ordinary Homo sapiens, indolent blogger, webdesigner-wannabe.
Broadcasting to [...] watcher live from Djogjakarta, Indonesia, 7°45'58"S and 110°23'4"E.

@gunawanrudy: lama juga tidak menulis esay non-kuliah. untungnya saya bukan penulis yang baik.

Penghujung Kursi Pesakitan

Gunawan Rudy // Blog // Saturday, December 20th, 2008 at 6:02 pm // 55 comments

Trunojoyo tak pernah menyangka nasibnya akan berakhir di ujung keris seseorang yang sebelumnya menjadi sekutunya, Tejoningrat alias Amangkurat II. Tanpa ampun keris Kyai Balabar kepunyaan Sultan Amangkurat II menembus dada Trunojoyo hingga punggung. Eksekusi atas pemberontakan Trunojoyo terhadap Kesultanan Mataram yang terjadi secara tak terduga di balairung Payak, Bantul, di awal tahun Masehi 1680 tersebut disaksikan langsung oleh para adipati dan punggawa Kesultanan Mataram.

Tak berakhir sampai di situ saja. Perut Trunojoyo dibelah, hati dan isi perutnya diambil. Hati yang masih segar itu lalu dicincang dan dilemparkan ke hadapan mereka yang menyaksikan eksekusi tersebut. Konon katanya hati yang dicincang tersebut diperintahkan untuk ditelan mentah-mentah. Dan semua masih belum selesai. Kepala Trunojoyo dipenggal lalu diletakkan di depan bilik peraduan Sultan. Dan semua yang keluar dan masuk melewati jalan itu diwajibkan untuk menginjak kepala tersebut. Barulah ketika menjelang fajar, kepala tersebut dimasukkan ke lesung untuk ditumbuk hingga hancur.

Paling tidak itulah gambaran salah satu eksekusi mati paling sadis dan terkenal di Nusantara yang diabadikan secara mendetail oleh Gubernur Jenderal Inggris di Hindia, Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya, The History of Java.

Tak ada yang bisa menyebutkan dengan pasti kapan hukuman mati pertama dilaksanakan. Salah satu catatan sejarah pertama hingga saat ini adalah hukum tertulis Hammurabi dari Babilonia pada abad ke-18 sebelum Masehi, ayin takhat ayin (an eye for an eye) yang juga tertulis pada Perjanjian Lama, Kitab Keluaran 21:23–27.

Cara eksekusi hukuman mati juga semakin bervariasi seiring dengan perkembangan zaman dan perbedaan tempat. Hukuman mati dalam masyarakat kumunal dilakukan dengan cara yang amat sadis dan umumnya menjadi tontotan publik. Di barat, Kekaisaran Romawi menerapkan penyaliban, dan Kekaisaran Tiongkok di timur turun-temurun mewariskan cara pemancungan. Semakin variatif lagi, Attila si Orang Hun memperkenalkan cara ekstrim dengan mengikat masing-masing tangan dan kaki pesakitan dengan tali lalu kemudian tali itu ditarik oleh empat ekor kuda secara bersamaan ke arah yang saling berlawanan. Di Sri Lanka dahulu penerapannya dengan diinjak gajah. Atau saat perburuan penyihir marak di daratan Eropa, mereka yang dituduh sebagai wanita penyihir diikat di tiang lalu dibakar hidup-hidup. Ditombak, diumpankan ke hewan buas, dirajam, direbus dalam minyak panas, hingga makin ‘melunak’ dengan cara ditembak mati, digantung, suntik mati, hingga kursi listrik.

Indonesia tak kalah kreatifnya dengan dunia luar menyoal koleksi cara hukuman mati, terlebih lagi ketika zaman kerajaan Hindu-Budha, Islam, hingga pendudukan kolonial di Nusantara. Hukuman-hukuman mati ini lahir dari hukum lokal, dan juga terkena imbas hukum Eropa yang dibawa oleh negara penjajah. Di Aceh misalnya, dengan pengaruh dari Hukum Islam dan akulturasinya dengan budaya lokal, mereka yang berzina tak hanya bisa dikenakan hukuman rajam, namun juga bisa ditumbuk dalam lesung hingga remuk. Suku Dayak di Kalimantan menghukum mati tawanan perang mereka sebagai persembahan dalam upacara penghormatan ruh nenek moyang dengan cara ditombak beramai-ramai dari segala arah. Di Bali ada hukuman mati dengan ditikam keris. Dan ’seni’ hukuman mati yang paling dikenal ada pada zaman Kesultanan Mataram. Tak hanya seperti cara eksekusi Trunojoyo di atas, masih banyak cara lain yang dipergunakan yang kesemuanya tercatat dalam Serat Sekar Setaman.

Salah satu hukuman mati yang paling populer di zaman Mataram adalah picis, atau menyayat-nyayat tubuh. Hukuman yang juga dikenal pada zaman Majapahit ini masih digunakan hingga awal abad ke-19 pada masa kekuasaan Paku Buwono IV. Dalam jenis hukuman ini, sang pesakitan dibawa ke alun-alun lalu diikat pada pohon atau tiang. Selanjutnya perlahan-lahan sekujur tubuhnya disayat-sayat dengan pisau atau belati, dan lukanya dioleskan cuka atau ditaburi garam. Terus-menerus hingga mati.

Selain itu masih tercatat juga hukuman keji lainnya seperti yang dicatat oleh seorang delegasi VOC, R. V. van Goens dalam bukunya tentang kehidupan di tanah Jawa. Antara lain hukuman dengan mengikat kaki terhukum dengan posisi tubuh terhukum terbalik, dengan ketel penuh minyak panas di bawahnya. Perlahan kepala terhukum dicelupkan hingga sebatas telinga. Ada juga dengan memakaikan topi baja yang panas ke kepala terhukum hingga kepalanya melepuh dan terbakar.

Terdapat juga hukuman mati secara masal, yaitu pada masa kekuasaan Amangkurat I. Sang Sultan yang terkenal bengis tersebut menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Alit, adiknya sendiri, dan para ulama beserta keluarganya atas tuduhan pemberontakan. Ribuan orang dieksekusi di alun-alun secara langsung dan dalam tempo yang sangat singkat.

Lambat laun seiring perkembangan zaman, hukuman mati di Indonesia pun makin menyesuaikan keadaan. Dimulai dengan ketidaksetujuan Raffles atas hukuman picis, hukuman dengan potong-memotong pun perlahan dihapuskan. Dan pada abad ke-20 mulai diterapkan hukuman tembak mati yang masih langgeng hingga kini.

Republik Indonesia masih memegang teguh warisan leluhur menyoal hukuman mati, dikolaborasikan dengan undang-undang peninggalan masa kolonial, Wetboek van Strafrecht, yang diadaptasi ke dalam KUHP. Tapi apa prosesnya masih seperti zaman feodal dahulu, ketika raja adalah hukum? Bisa jadi, karena uang dan kepentingan politik bisa menggantikan posisi raja di negeri yang sistem peradilannya secara de facto sedang merangkak ini.

 

~ foto ilustrasi eksekusi oleh Mark van Laere.

Labels: , , , , , ,


Facebook // Delicious // Digg // Technorati // Stumble // LintasBerita // Plurk // Twitter


55 Responses

  1. #1 Infinite Inficio Saturday, December 20th, 2008 at 18:11 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    Pertamakah...?

    Saya baru tahu ada juga hukuman-hukuman yang 'kreatif' (dan sepertinya super menyakitkan?) juga di Indonesia. Hekk, ternyata tidak kalah sadis dengan negara lain... :-s

    Seperti yang dibilang, lucu fotonya... (pokoknya curi start dulu deh, komentar belakangan)

  2. #2 Infinite Inficio Saturday, December 20th, 2008 at 18:21 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    Komentar sebenarnya...

    Jadi, apa maksudnya uang dan kepentingan politik bisa jadi membuat seseorang dihukum mati? @_@ *tetapi rasanya kebalikannya, untuk mencegah seseorang dihukum mati juga bisa ya* Eh, yang ribuan orang dieksekusi di alun-alun itu dengan cara apa ya? Masa sih semua disiksa satu-satu? *sadis amat kalau begitu*

    ***

    Agak OOT, tetapi sebenarnya sih hukuman mati yang paling mengerikan bagi saya itu scaphism yang diterapkan di Persia dulu. Jadi yang akan dieksekusi (yang telah ditelanjangi) diperangkap di 2 perahu kecil yang saling tumpang tindih. Ada 5 lubang pada perahu ini agar kepala, serta kedua lengan dan kaki orang tersebut bisa keluar. Pertama orang itu dipaksa mengkonsumsi susu serta madu yang berlebihan agar mengalami diarhhea yang parah. Pada bagian tubuh yang nampang di luar perahu juga diolesi madu. Setelah itu, perahunya didorong dan ditinggalkan ke tengah danau. Ekskresi dan madu yang dioleskan pada orang yang dieksekusi akan mengundang serangga yang akan melahap dan bertelur pada daging orang itu...

    Setelah beberapa hari, orang itu pun mati karena kombinasi dehidrasi, kelaparan, dan masalah hygiene. Kalau tidak, orangnya keburu gila duluan, huahaaaaa... Ugh, sudah lama, menyakitkan, memalukan pula...

  3. #3 mantan kyai Saturday, December 20th, 2008 at 19:45 From UNITED STATES via Opera Mini Opera Mini 9.50

    mungkin dgn cara disula seperti yg dlakukan vlad tepes bs menjadi alternatip. ah ternyata selalu ada sisi gelap. *jd gak napsu makan aq gun*

  4. #4 aRuL Saturday, December 20th, 2008 at 21:01 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows Windows XP

    emang ada yang lebih baik dari hukuman mati? untuk hukuman yg seberat2nya lho...

  5. #5 zen Saturday, December 20th, 2008 at 21:02 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    Gun, gak seru kalo cerita eksekusi di nusantara gak mencantumkan cara eksekusi Pieter Erberveld. Coba googling: "kampung pecah kulit".

  6. #6 Nenda Fadhilah Saturday, December 20th, 2008 at 21:29 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    Death penalty itu isu paling hot sekarang. Yang kontra bilang itu melanggar hak hidup seseorang sementara yang pro bilang death penalty itu bagus untuk mencegah kejahatan. Tapi, standar death penalty sekarang sudah jauh lebih strict daripada zaman dulu yaitu dilakukan pada kejahatan yang serius dan dengan metode yang diusahakan meminimalisir rasa sakit.

    Btw, dari dulu baca sejarah Jawa, Raja yang namanya Amangkurat itu kok pada sadis2 ya.

  7. #7 Hafiz Saturday, December 20th, 2008 at 23:16 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows XP

    "karena uang dan kepentingan politik bisa menggantikan posisi raja di negeri yang sistem peradilannya secara de facto sedang merangkak ini" ----> point ini aq paling suka dhab !@!

  8. #8 Juliach Sunday, December 21st, 2008 at 0:37 From FRANCE via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.20 on Windows Windows Vista

    Beruntung aku sudah hidup di negara di mana hukuman mati itu sudah dihapuskan.

    Sebetulnya yang mengerikan bukan hukuman mati. Karena menurutku hukuman mati itu seperti disuntik, sakit sedikit kemudian tidak terasa. Yang lebih mengerikan jika kita sakit namun tidak ada biaya dan semua orang memperlakukan kita sebagai pesakitan. Akan terasa betapa sakitnya orang sakit itu.

  9. #9 Gunawan Rudy Sunday, December 21st, 2008 at 5:16 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Infinite Inficio [1]: Hehehee... Nusantara ini sangat-sangat kreatif soal bunuh-membunuh. :P

    @ Infinite Inficio [2]:

    Jadi, apa maksudnya uang dan kepentingan politik bisa jadi membuat seseorang dihukum mati? @_@ *tetapi rasanya kebalikannya, untuk mencegah seseorang dihukum mati juga bisa ya*

    Kepentingan itu adalah hakim, juri, dan algojo... sayang... :))

    Sengaja ngata-ngatain sebuah negeri yang hukumnya secara de facto sangat nggak beres tapi nekat menjalankan sistem hukuman mati saja kok.

    Eh, yang ribuan orang dieksekusi di alun-alun itu dengan cara apa ya? Masa sih semua disiksa satu-satu? *sadis amat kalau begitu*

    Ngak sempat lah. Konon katanya cuma dalam waktu setengah jam, dengan tengara dentuman meriam dari istana.

    Agak OOT, tetapi sebenarnya sih hukuman mati yang paling mengerikan bagi saya itu scaphism yang diterapkan di Persia dulu. Jadi yang akan dieksekusi (yang telah ditelanjangi) diperangkap di 2 perahu kecil yang saling tumpang tindih. Ada 5 lubang pada perahu ini agar kepala, serta kedua lengan dan kaki orang tersebut bisa keluar. Pertama orang itu dipaksa mengkonsumsi susu serta madu yang berlebihan agar mengalami diarhhea yang parah. Pada bagian tubuh yang nampang di luar perahu juga diolesi madu. Setelah itu, perahunya didorong dan ditinggalkan ke tengah danau. Ekskresi dan madu yang dioleskan pada orang yang dieksekusi akan mengundang serangga yang akan melahap dan bertelur pada daging orang itu…

    Setelah beberapa hari, orang itu pun mati karena kombinasi dehidrasi, kelaparan, dan masalah hygiene. Kalau tidak, orangnya keburu gila duluan, huahaaaaa… Ugh, sudah lama, menyakitkan, memalukan pula…

    Bisa ditarik satu kesimpulan. Ini PEMBOROSAN kas negara! Shock therapy versus kondisi ekonomi? Hahahaaa...

    @ mantan kyai: Kenapa tho cak? Mau hunting sengsu bareng? :D

    @ aRuL: Saya sih cenderung sepakat dengan apa yang ditulis om fertob di entry-nya soal hukuman mati dulu itu. Beberapa poin yang saya setujui sudah ada di sana. Termasuk masalah nilai-nilai yang apakah masih sesuai itu. Kalau soal setuju atau tidak soal hukuman mati, saya bukan pro atau kontra loh.

    Seperti yang saya tulis, dari zaman ke zaman hukuman mati semakin berubah untuk menyesuaikan zaman. Dari yang siksa-menyiksa sampai mati hingga kematian cepat. Kematian cepat pun, zaman sekarang sudah banyak ditinggalkan oleh sebagian besar negera-negara di dunia.

    Hehe... Entry ini untung nggak begitu diartikan sebagai setuju atau tidak setuju dengan hukuman mati. Hanya sebuah penceriteraan sahaja. :D

    @ zen: Rasanya pernah dengar nama kampung itu... Ah, gugling dulu, masalah mengingat nanti saja. Nuwun, kang.

    ...

    *setelah gugling*

    Akh, benar! Ternyata hukuman yang mirip eksekusi mati ala Mongolia dan Hun itu! Bodohnya saya bisa ceroboh nggak mempelajari lebih lanjut tentang itu pas baca sekilas dulu. :((

    @ Nenda Fadhilah: Dari hasil-hasil penelitian yang saya coba cari dan baca. Shock threpy dari death penalty itu nggak seperti zaman feodal dulu. Dihukum mati sebanyak apapun, kejahatan tertentu tetap saja susah diminimalisir. Entah apa karena matinya kurang sadis ya? ;)) *lirik RRC yang gila-gilaan soal hukuman mati*

    Tapi, standar death penalty sekarang sudah jauh lebih strict daripada zaman dulu yaitu dilakukan pada kejahatan yang serius dan dengan metode yang diusahakan meminimalisir rasa sakit.

    Beberapa negara memang masih menerapkan hukuman mati sebagai sanksi pidananya, termasuk Indonesia. Tapi ada juga negara yang cuma memberlakukan hukuman mati hanya untuk kejahatan luar biasa, seperti Brazil. Kayaknya patokan "kejahatan serius" itu belum merata dan masih ngambang deh.

    Btw, dari dulu baca sejarah Jawa, Raja yang namanya Amangkurat itu kok pada sadis2 ya.

    Amangkurat I yang paling megalomaniak! >:)

    @ Hafiz: Hehehee, itu cuma celoteh ngawur, om...

    @ Juliach: Hehee, mayoritas negara Eropa sudah menghapuskan hukuman mati untuk segala jenis kejahatan sih.

  10. #10 Kurt Sunday, December 21st, 2008 at 7:26 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0 on Windows Windows XP

    Di zaman baheula dimana orang sdikit hukum mati berlaku dengan sangat sporadis di tiap2 peperangan. Zaman sekarang dimana penduduk membludak hukum mati ditentang habis. Karenanya penduduk dunia makin banyak, dan bencana demi bencana menelan korban sedemikian banyak. Merupakan pengurangan populasi cara Tuhan .... kali

    Hahah gak nyambung... ;))

  11. #11 Rindu Sunday, December 21st, 2008 at 7:57 From INDONESIA via Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows Vista

    Bacaan pagi yang indah ... panjang yak ceritanya :)

  12. #12 gedeblog Sunday, December 21st, 2008 at 9:01 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.18 on Windows Windows XP

    saya salut dengan artikelnya ...., sangat menarik makasih mas d^b

  13. #13 wedhouz Sunday, December 21st, 2008 at 9:35 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Mac OS Mac OS X

    selalu ada sisi tragis atas apa yang sering disebut sebagai budaya yang adi luhung

  14. #14 sawali tuhusetya Sunday, December 21st, 2008 at 11:22 From INDONESIA via Flock Flock 1.2.7 on Windows Windows XP

    duh tragis banget nasib trunojoyo. model eksekusinya bener2 membuat bulu kudukku merinding. saya tak tahu pasti, apakah model eksekusi mati bisa menggambarkan peradaban masyarakat yang bersangkutan?

  15. #15 Gunawan Rudy Sunday, December 21st, 2008 at 12:17 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Kurt: Hihihiii... Perkembangan zaman, maka nilai dan norma-norma pun berubah, kang. Urusan kematian... Ya mbuh. :P

    @ Rindu: OMG! Cerita kematian gini kok indah... :-o

    @ gedeblog: Menarik ya...? Hmnn..

    @ wedhouz: Ya, tentu saja, kang. Segala sesuatunya tentu tidak benar-benar mulia 100%. Para nabi dan orang suci sekalipun, saya yakin itu.

    @ sawali tuhusetya: Mungkin, pak. Nah gimana dengan negara yang tidak menerapkan eksekusi mati, apakah bisa disebut negara yang berperiemanusiaan?

  16. #16 yud1 Sunday, December 21st, 2008 at 12:51 From INDONESIA via Google Chrome Google Chrome 1.0.154.36 on Windows Windows XP

    masalahnya...

    (1) bagaimana kalau misalnya salah tangkap? (lihat laporan belakangan ini, not that unlikely)
    (2) bagaimana kita meyakinkan bahwa 'efek jera' ini tepat sasaran? (l'etat cest moi... eh, yang penting menguntungkan, kan? >:) )

    saya juga bukannya anti hukuman mati, tapi IMHO hukuman mati itu punya konsekuensi yang bisa berat sekali kalau sampai salah sasaran. AFAIK pelaksanaan hukum seperti rajam (contoh kasus: zina) juga pelaksanaan dan pertimbangannya juga lumayan ribet terkait jumlah saksi dan kualitas kesaksiannya.

    tapi bicara keuntungan penguasa sih, bukannya cara begini termasuk salah satu yang paling efektif, ya? >:)

  17. #17 Gunawan Rudy Sunday, December 21st, 2008 at 13:07 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ yud1: Nah itu... >:)

    Di zaman feodal dulu, (1) salah tangkap? Raja adalah hukum. Berani melawan keputusan raja? :> (2) efek jera akan tepat saran kalau pakai hukuman paling menyakitkan, siksa sepedih-pedihnya! >:)

    Tapi...

    ...zaman sudah berkembang. Nilai-nilai yang ada di zaman dulu itu bisa jadi nggak begitu sesuai untuk zaman sekarang.;))
    Misalnya itu, cara eksekusi mati yang lebih manusiawi (suntuk mati, tembak mati, dll?) mungkin nggak begitu berefek untuk shock therapy-nya. Yak, perlahan-lahan kelihatannya manusia sudah mulai mencoba menyesuaikan. Ada banyak negara yang sudah menghapuskan total hukuman mati, ada yang menghapuskannya untuk beberapa tindak pidana dan hanya memberlakukannya untuk kejahatan luar biasa. Etapi.........masih ada beberapa yang mempertahankan hukuman mati, dan bahkan ada yang menjadi lebih gencar melakukannya. *lirik-lirik*

  18. #18 serdadu95 Sunday, December 21st, 2008 at 13:14 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Windows Windows XP

    ...lalu menurut sampeyan hukuman apahh nyang pantas buwat orang nyang telah ngebunuh puluhan orang dgn jln dicincang atau orang nyang ngebom orang2 nyang ndak berdosa atau orang nyang mo ngracuni negaranya dgn narkoba nyang ber-kilo-kilo-gram atau meng-korup milyaran rupiah nyang bukan menjadi hak-nya atau orang nyang berlaku biadab dgn memusnahkan sebuah generasi/ras...??

    Apakah hukuman mati ituhh ndak manusiawi buwat mereka..?? Lalu, cukup manusiawikah apa nyang telah dilakukan oleh mereka lakukan, sehingga "perlu" hukuman nyang lebih manusiawi..?? Ehhh.... apakah hukuman mati itu ndak manusiawi..?? ^^;

  19. #19 Gunawan Rudy Sunday, December 21st, 2008 at 13:41 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ serdadu95:

    …lalu menurut sampeyan hukuman apahh nyang pantas buwat orang nyang telah ngebunuh puluhan orang dgn jln dicincang atau orang nyang ngebom orang2 nyang ndak berdosa atau orang nyang mo ngracuni negaranya dgn narkoba nyang ber-kilo-kilo-gram atau meng-korup milyaran rupiah nyang bukan menjadi hak-nya atau orang nyang berlaku biadab dgn memusnahkan sebuah generasi/ras…??

    Mungkin ini hanya beretorika saja, kalau saya bilang yang pantas itu adalah hukuman kurungan terlama, atau saya bilang hukuman mati... semuanya tetap merupakan hukuman yang "berat". Posisi saya bukan pada yang pro ataupun kontra, justru bagi saya hukuman mati adalah hukuman yang saat ini (entah di masa depan ya) cukup sesuai untuk kategori kejahatan luar biasa. Dengan catatan, ada landasan hukum yang kuat dan tidak berbenturan di sana-sini (misalnya tidak berbenturan dengan UUD) dan patokan kejahatan luar biasa itu harus sangat jelas, misalnya penjahat perang, penjahat genosida, dll. ^^;

    Satu hal yang paling membuat saya miris tentu: peradilan di Indonesia yang belum begitu sehat. Jadi bagi saya, apakah negeri ini siap melengkapi dirinya dengan palu pengetuk keputusan hukuman mati dengan kondisi hukum dan peradilannya yang masih agak carut-marut? Karena itu, saya sebut duit, kekuasaan, dan kepentingan itu kayak raja-raja zaman dulu aja. :))

    Apakah hukuman mati ituhh ndak manusiawi buwat mereka..?? Lalu, cukup manusiawikah apa nyang telah dilakukan oleh mereka lakukan, sehingga “perlu” hukuman nyang lebih manusiawi..?? Ehhh…. apakah hukuman mati itu ndak manusiawi..??

    Mencari kata "manusiawi" di entry ini dulu... Dan dapat 5 kata. 1 kata ada di komen balasan saya yang no. 17 [...] cara eksekusi mati yang lebih manusiawi [...] ,dan sisa kata ada di komen om.

    Dan saya masih agak bingung batasan manusiawi secara umum, soalnya saya bilang ini manusiawi, orang lain bisa bilang itu sangat ndak manusiawi. Karena itu saya ndak berani memakai kata "manusiasi dan tidak manusiawi", dan hanya menggunakan "cara hukuman mati yang lebih manusiawi"--karena bagi saya jelas, dan mungkin bagi orang lain juga bahwa hukuman mati tanpa rasa sakit lebih manusiawi ketimbang hukuman mati dengan acara penyiksaan yang lama dan kreatif itu.

  20. #20 Kgeddoe Sunday, December 21st, 2008 at 13:57 From MALAYSIA via Opera Opera 9.61 on Windows Windows XP

    Brazen bull dan Oubliette FTW! !@!

  21. #21 Kgeddoe Sunday, December 21st, 2008 at 14:02 From MALAYSIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0 on Windows Windows XP

    BTW kok tak ada membahas metode hukuman mati yang drawn and quartered? Sadis itu, apalagi kalau terdakwanya wanita. :-w

  22. #22 serdadu95 Sunday, December 21st, 2008 at 15:17 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Windows Windows XP

    :d :d :d !@!
    Jahh... ituhh emang cuman retorika ajahh Boss. Nyang jelas, di KUHP-nya negara inih ada hukuman matinya dan soal caranya.... saya kira dah diatur pula. Mari kita hormati bersama aturan ituhh. Soal sapa nyang pantas untuk di hukum mati.... biyarlah para hakim nyang mutuskan.

    Nahh... kalo soal "Situhh miris dgn peradilan di Indonesia yang belum begitu sehat".... saya kira emang buwanyak nyang mengatakan demikian. Tapihh bukannya mencari keadilan nyang seadil-adilnya itu suwangat sulit Boss..??! Belum lagee kalo ditambahi dgn pertanyaan.... "ituuh adil menurut siapahh..." yaa ndak..??! Saya kira "malaikat juwega tahu" dgn kondisi peradilan di Indonesia, masalahnya dia ndak isahh apahh2. :)) Nahh.... agaknya nyang isahh mbuwat apahh2....yaa para pelakon nyang "bermain" di meja peradilan ituhh sendiri. |(

    Lalu.... "apakah negeri ini siap melengkapi dirinya dengan palu pengetuk keputusan hukuman mati dengan kondisi hukum dan peradilannya yang masih agak carut-marut?"

    Wahhh... inihh ndak ada urusannya dengan siyap atou ndak siyap Boss. Inihh urusannya dgn "aturan" (KUHP). Selama ituhh (hukuman mati) masihh disebutkan sbg salah satu bentuk hukuman (maksimal) atas tindakan kejahatan (pidana) di negeri inihh, "meski masih carut-marut" maka mau ndak mau ituhh (hukuman mati) harus diterima apa adanya. Nyang namanya aturan ituhh ndak isah ditawar-tawar. Suwesyahnya... di negeri inihh (emang) masih buwanyak nyang suka "nawar-nawar" aturan dan cilakanya.... buwanyak nyang ndak risih melakukannya. >:p

    Situhhh kalo naik mongtor selalu pake helm ndak...?? :d

  23. #23 Gunawan Rudy Sunday, December 21st, 2008 at 15:38 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Kgeddoe [1]: !@! !@!

    @ Kgeddoe [2]: Kalau ane bahas semuanya, ini tulisan gak ada habisnya, pakbos! :P

    @ serdadu95:

    Jahh… ituhh emang cuman retorika ajahh Boss.

    Makanya saya ogah main di setuju atau ndak setuju sama manusiwi atau ndak manusiawi, soal ndak ada habisnya. Saya lebih cenderung kepada penerapan yang sekiranya sesuai dan pas dengan porsi, kondisi, dan situasi. Kalau ditanya hukuman apa yang paling berat ya saya bisa jawab banyak: seumur hidup itu berat, mati itu juga berat. Cuma di masalah porsi yang pas aja, kayak masakan.

    apihh bukannya mencari keadilan nyang seadil-adilnya itu suwangat sulit Boss..??! Belum lagee kalo ditambahi dgn pertanyaan…. “ituuh adil menurut siapahh…” yaa ndak..??! Saya kira “malaikat juwega tahu” dgn kondisi peradilan di Indonesia, masalahnya dia ndak isahh apahh2. Nahh…. agaknya nyang isahh mbuwat apahh2….yaa para pelakon nyang “bermain” di meja peradilan ituhh sendiri.

    Bukannya sangat susah lagi, bos. Malah persentasinya kecil banget. Tapi yang penting juga, kita-kita yang di bawah ini juga bisa bertindak sebagai 'pengawas sosial' mereka yang main di meja peradilan itu sendiri. Kalau kita diam ya mereka ndak tau apa kemauan kita. Tapi kita ngomongnya juga pake cara yang bener, kalau asal demo sih cuma buang-buang duit, tenaga, suara, waktu, dll... Nah, mending dengan ngeblog, bisa lebih banyak belajar. (ya itupun kalo dibaca, wakakaa)
    Etapi mau gimana lagi, apatis disalahin, kritis juga disalahin sama yang di atas-atas sana?

    Wahhh… inihh ndak ada urusannya dengan siyap atou ndak siyap Boss. Inihh urusannya dgn “aturan” (KUHP). Selama ituhh (hukuman mati) masihh disebutkan sbg salah satu bentuk hukuman (maksimal) atas tindakan kejahatan (pidana) di negeri inihh, “meski masih carut-marut” maka mau ndak mau ituhh (hukuman mati) harus diterima apa adanya. Nyang namanya aturan ituhh ndak isah ditawar-tawar. Suwesyahnya… di negeri inihh (emang) masih buwanyak nyang suka “nawar-nawar” aturan dan cilakanya…. buwanyak nyang ndak risih melakukannya.

    Menurut saya bos, aturan itu ndak kekal. Bisa berubah-ubah sesuai apa aja, mau zaman, mau kondiri, mau apapun. Nah, ada baiknya kita terus pantau kejadian-kejadian hukuman mati itu, kalau lama-lama nyeleneh ya tentu bisa diprotes. Kayak di Inggris, dulunya kan pake kursi lontar, akhirnya lama-lama diganti pake tali gantungan. Dan lama-lama akhirnya dihapuskan. Ya itu, menyesuaikan saja.

    Situhhh kalo naik mongtor selalu pake helm ndak…??

    Opasti kalau di jalan raya, karena peraturannya memang begitu (dan saya juga mau selamat dari tabrakan atau tilangan). Kalau ke warung pun kadang pake kok, soale udah pernah kecelakaan dan syukurnya selamat. :P
    *masih ngedumel akibat helm tebel, kuat, dan mahal yang digondol maling*

  24. #24 abee Sunday, December 21st, 2008 at 17:35 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

    hukuman mutilasi ada gak Goen? biar kayak serial misteri gunung merapinya mak lampir:d

  25. #25 iman brotoseno Sunday, December 21st, 2008 at 18:59 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Mac OS Mac OS X

    Hukuman mati warok warok sewaktu peristiwa Madiun pakai acara nggak mempan waktu ditembak..Waroknya ketawa tawa, saja. Lalu mereka menghampiri serdadu yang akan mengeksekusinya. Lalu sang warok membisikan sesuatu. Rupanya penangkal. Yakni pelurunya harus diusapkanke tanah dulu, setelah itu baru dorrrr..matilah.

  26. #26 sitijenang Sunday, December 21st, 2008 at 20:39 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows XP

    pandangan militeristik barangkali. hukuman atas pengkhianatan hanya ada satu: hukuman mati. adakah efek jeranya? gak ada yg tau pasti... kayaknya tiap jaman berhak membikin hukum sesuai peradaban saat itu. !@!

  27. #27 lambrtz Sunday, December 21st, 2008 at 23:01 From SINGAPORE via Google Chrome Google Chrome 1.0.154.36 on Windows Windows Vista

    Wah nulis hukuman mati di Indonesia jaman dulu. Saya kira yang kejam cuma Eropa abad pertengahan dan Persia :P

    Dulu saya sama temen-temen pernah ke Imogiri, kata guidenya di situ ada pengkhianat kerajaan yang badannya dipotong jadi 3 (atau berapa, saya lupa) terus dikubur di sana, dengan bagian kepala dikubur di salah satu anak tangga. Orang yang berkunjung ke sana diminta menginjak anak tangga tersebut. Hehehe...

    Salam kenal ya :)

  28. #28 Dony Alfan Monday, December 22nd, 2008 at 2:20 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows XP

    Haduh, serem amat! Saya dulu pernah baca di FHM, tentang berbagai macam metode hukuman mati di seluruh dunia. Ada yang dengan cara direbus lho! x)p

  29. #29 Adhie Monday, December 22nd, 2008 at 8:19 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows Vista

    wow!!! ternyata hukuman di Indonesia ngeri2 ya..... ^^;

  30. #30 dani Monday, December 22nd, 2008 at 9:01 From INDONESIA via Opera Opera 10.00 on Linux Linux

    wadow horor jg ternyata ya..
    jaman kerajaan dulu ada pembela/penasehat tersangka gitu ngga sih
    ada pilihan mati ketawa jg ngga?

  31. #31 Rian Xavier Monday, December 22nd, 2008 at 14:03 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows Vista

    Hmm.. Sadis dan kreatif juga ya. Ga bisa ngomong saya x)p

    Serem juga.

  32. #32 gelargelar Monday, December 22nd, 2008 at 15:30 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows Vista

    bah. sadis banget. jadi mual gw ngebayanginnya ;o
    ternyata indonesia punya sejarah menarik tentang variasi bunuh diri yah. :-?
    bagus, mas artikelnya. informatif d^b

  33. #33 Gunawan Rudy Monday, December 22nd, 2008 at 18:07 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ abee: Ada dong. Zaman feodal dulu, biasanya yang kena ini sih pengkhianat kerajaan. :P

    @ iman brotoseno: Wah menarik, mas. Kenapa ya para warok itu memberitahu eksekutornya akan kelemahan mereka?

    @ sitijenang: Buat efek jera, tapi lebih ke shock therapy kali ya. Soalnya nggak mungkin jera wong udah mati. Yang lain aja yang jadi takut ngelakuin perbuatan yang bisa berakibat hukuman mati. :D

    Heheheee... Peradaban, iya juga. Bagaimana dengan peradaban sekarang ini, ki?

    @ lambrtz: Salam kenal dahulu... :|>

    Heheheee, masalah kejam mah, kayaknya tiap peradaban juga punya. Manusia punya sisi yang haus darah, eh?

    Wuah, ini zaman Mataram atau sudah Surakarta-Yogyakarta ya.. Kayaknya awal-awal Mataram deh, ntar ta cari info ah. Btw, dulu di Surakarta ada hukuman mati model Romawi lho, diadu sama macan. :))

    @ Dony Alfan: Zaman kapan itu, mas? Lha di Indonesia ada juga yang direbus kok, cuma sampai batas telinga ke atas doang. :P

    @ Adhie: Hehehee... Sekarang sih udah tembak mati aja.

    @ dani: Kalau di Romawi ada, mas. Ada hakim, pengacara, juri, dll gitu.

    Kalau di Nusantara, masih bisa menyangkal asal ada bukti kuat. Tapi tetap saja raja adalah hukum, nah loh.

    @ Rian Xavier: Hohohooo... Bangsa yang kreatif. :D

    @ gelargelar: Kayaknya salah ketik deh, jadi bunuh diri. Maksudnya hukuman mati kan?

  34. #34 Fikar Monday, December 22nd, 2008 at 18:11 From QATAR via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

    Menurut saya, hukuman mati itu yang paling berat....

  35. #35 devari Monday, December 22nd, 2008 at 19:33 From UNITED STATES via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Mac OS Mac OS X

    loh kok ilang ya koment saya. cuman mo bilang. hukuman mati layak diberikan buat para koruptor tuh

  36. #36 jensen99 Monday, December 22nd, 2008 at 23:43 From INDONESIA via Opera Opera 9.61 on Windows Windows XP

    Lho, obrolan Y!M waktu itu ternyata naik cetak juga toh? ;))

    Tapi hukuman mati yang heboh kemarin malah melahirkan efek mati-syahid-jadi-martir, dan bukan shock therapy, walaupun tujuan membunuh para terpidana tetap tercapai. Kalo bgini, lebih baik keluarga para terpidana mati juga ikut dieksekusi saja. Mungkin "pesan"-nya lebih sampai. >:)
    Diikat bom lalu diledakkan? Itu juga quick dan painless, serta menghemat biaya pemakaman & menghindari heroisasi jenazah. x(

  37. #37 sitijenang Tuesday, December 23rd, 2008 at 0:59 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    eh iya, terapi kejut ding !@!
    kalo peradaban sekarang kata pak Sawali kan sedang sakit... lha mo gimana wong sakit x)p

  38. #38 Donny Verdian Tuesday, December 23rd, 2008 at 4:04 From AUSTRALIA via Safari Safari 525.22 on Mac OS Mac OS X

    Apapun makanannya, minumnya teh botol S*SR*...
    Bagaimanapun caranya, mati adalah tujuannya hehehehe :)

    Tulisan yang menarik karena saya baru tahu tentang hukuman mati yang begitu bermacam-macam dan kejinya... Sekali-kali mengulas tentang Hitler dan konco2nya dong yang konon juga memiliki tradisi seram tentang cara menghukum mati lawan-lawannya...

  39. #39 Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ " Tuesday, December 23rd, 2008 at 7:16 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    Lhah...???
    Kalo benul kejadiannya begitu, berarti buku yang sayah baca udah disunat jalan ceritanya, ya Goen ???

    b|

  40. #40 samukudotcom Tuesday, December 23rd, 2008 at 7:48 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows XP

    untuk koruptor penghisap darah rakyat hal kreatif apa yg harus kita lakukan agar mereka mati meninggalkan evek jera untuk lainnya ?

    best
    samuku.com

  41. #41 Reina Lunarrune Tuesday, December 23rd, 2008 at 8:24 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows Vista

    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH
    Sadis...
    O_O

    *ngebayangin*

  42. #42 Gunawan Rudy Tuesday, December 23rd, 2008 at 9:58 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Fikar: Kalau masalah berat atau tidak jelas berat. Nah, bagaimana caranya dan penyesuaiannya itu.

    @ devari: Nggak tau bos, saya cek di spam sama moderasi nggak ada tuh. Kayaknya komen sebelumnya nggak kesubmit atau salah masukin kikod. :-?

    Berarti korupsi adalah kejahatan luar biasa, hmnn...

    @ jensen99: Kalau martir mah di mana-mana juga banyak. Huahahaa... Orang malah terpicu, jadinya.

    Well... Soal hukum mati satu keluarga kan memang ada. Kayak di Jepun dulu, satu keluarga (sama para pelayan dan pembantu) dipenggal terus kepalanya dipajang di depan istana. Di Tiongkok juga gitu. DI Indonesia ada, waktu menghukum ribuan ulama yang dituduh memberontak ke Amangkurat I.

    @ sitijenang: Huahahaa... Jadi kalaun sakit berarti hukuman mati itu efek karena ketidaksehatannya kah?

    @ Donny Verdian: Meski mati tujuannya, caranya bisa sangat berbeda efekna. ADa yang disiksa-siksa beberapa hari dulu, ada yang mati cepat.

    Wah, saya coba deh belajar lagi soal budaya luar. Sekarang masih kepincut belajar budaya Nusantara, mas.

    @ Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ ": Buku apa tentang apa om? Lah saya kalau baca buku sejarah SD-SMA ya ndak ada ginian, om. x)p

    @ samukudotcom: Nggg... Saya ndak kreatif masalah ginian... eerr...

    @ Reina Lunarrune: Sudah terbayang? Bagaimana rasanya? :D

  43. #43 Adhie Tuesday, December 23rd, 2008 at 11:07 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows Vista

    Adhi... ada Award sekaligus PR buat Blog-mu... selamat menikmati :d

  44. #44 Kgeddoe Tuesday, December 23rd, 2008 at 17:12 From MALAYSIA via Opera Opera 9.61 on Windows Windows XP

    BTW di sini kok belum ada yang menyebut eksekusi dengan nitrogen? Konon cara inilah yang paling manusiawi, melebihi pancung instan sekalipun.

    Pancung instan itu katanya memang langsung mampus dan tak bergerak lagi, namun menurut banyak biologis, sebenarnya otak masih bekerja selama beberapa menit; kelihatannya memang sudah mati tanpa derita, tapi kenyataannya ia masih mampu berpikir. Tetap sangat menyakitkan.

    Nah kalau disuruh menghirup nitrogen murni ini berbeda. Jadi dia bakal jadi lemas, tertidur, dan tak bangun-bangun lagi. ;))

  45. #45 tukyman Wednesday, December 24th, 2008 at 10:18 From JAPAN via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.18 on Windows Windows XP

    saatnya berbagi rejeki
    Bagi yang lupa Password saya datang cuman membawa berkas :)
    dan selanjutnya pergi lagi :)

  46. #46 Dream Maker Wednesday, December 24th, 2008 at 15:14 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    [skipping semua komen] [males baca]

    ... Gila, semuanya terbayang dengan jelas TT___TT Tapi di sini rata2 1 step semua ya? Ada negara mana tuh yang eksekusinya bertahap-tahap... - -;; yang kayaknya menghabiskan banyak biaya :p

    @Kgeddoe

    se-- serius? O_O;; Kok bisa? Kayak kecoa ajah... 8Q;;

    Wah, yang nitrogen baik sekali... Matinya menenangkan [bukan 'menyenangkan']

  47. #47 Gunawan Rudy Thursday, December 25th, 2008 at 3:02 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Adhie: Bukan hukuman mati bagi saya kan?

    @ Kgeddoe: Di mana itu, pakbos? Sayang sekali ane cobanya konsen ke eksekusi dalam negeri.

    Btw, suntik mati apakah juga tertidur, lalu modyar?

    @ tukyman: Makasih. Komen dengan bahasa tingkat tinggi, sayapun tidak mengerti.

    @ Dream Maker: Eh tumben muncul lagi. :D
    Bertahap-tahap gimana? Pakai siksa-siksaan segala?
    Apa picis-nya Mataram nggak bisa disebut bertahap ya...

  48. #48 Mihael Ellinsworth Friday, December 26th, 2008 at 20:12 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0 on Windows Windows XP

    Kalau soal hukuman mati yang sadis sih, rasanya sudah pernah dibahas; Hukuman Mati di Perancis tahun 1757, metode hanged, drawn, and quartered...(Lihat Wiki). Si tervonis disiksa dulu dengan metode "Hajar sampai setengah sakaratul maut a.k.a tidak sampai mati", atau kalau mau disebut seperti tarik ulur. Lalu ususnya dicincang sama rata, isi perut dikeluarkan dan dibiarkan terburai, kemaluan dicabut secara paksa sedangkan tervonis saat itu masih hidup.

    Baru setelah itu kepalanya dipancung. Sejauh ini itu menurutku yang paling memuaskan hati para "psycho". Atau kalau mau lihat versi Hollywood-nya, tilik "Turistas". :P

    "Bermuram durja, gundah gulana kerana dera nestapa kuasa sang durjana. Tanya Kenapa?"

  49. #49 lambrtz Saturday, December 27th, 2008 at 0:19 From SINGAPORE via Google Chrome Google Chrome 1.0.154.36 on Windows Windows Vista

    Btw, suntik mati apakah juga tertidur, lalu modyar?

    Ada 3 suntikan:
    1. Bikin pingsan
    2. Bikin otot lemas
    3. Bikin jantung berhenti

    Biasanya butuh waktu 15 menit.
    Info lebih jauh di sini: [link]
    (dari wiki sih, gakpapa kan? :d )

    Pesan sponsor:
    Hanged, drawn, and quartered dan segala variannya FTW!

  50. #50 Gunawan Rudy Saturday, December 27th, 2008 at 2:03 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Mihael Ellinsworth: Iya, nggak ada hal yang benar-benar baru kok. Apapun sudah pernah dibahas. Apapun itu.
    Tapi... yang dibahas di sini ada hukuman-hukuman mati di Indonesia kok. Jadi kalau dikembangkan ke yang di luar negeri ya apa mau dikata, nggak bisa dilanjutkan karena sudah terlalu melebar.

    @ lambrtz: Eh tau aja saya jarang baca wiki... *mengandalkan gugel daripada ke wiki*

    *bacabacabaca*

  51. #51 p4ndu_454kura® Saturday, December 27th, 2008 at 14:08 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Windows Windows XP

    Sebenarnya saya saat ini mempertanyakan keefektifan sebuah hukuman mati. Beberapa pakar bilang bahwa hukuman mati bisa mengurangi tingkat kejahatan dan lainnya. Dengan metode yang menyeramkan diharapkan para calon pelaku tidak melakukan tindakannya.

    Tapi kemudian, di Indonesia, saat ada seorang terpidana mati dieksekusi, malah banyak yang menantang akan melanjutkan kegiatan orang yang dieksekusi itu.

  52. #52 frozen Saturday, December 27th, 2008 at 23:31 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0 on Windows Windows XP

    :-? btw, Amangkurat itu artinya "yang memangku dunia", kan? pantes megalomaniak. Dan perbuatannya bukan penghukuman, melainkan sudah taraf pembantaian.
    .
    btw lagi, itu di History of Java, lengkapkah eksposisinya berkaitan cara eksekusi mati di tanah Jawa tempo dulu?
    *bukunya super-tebal banget sih* :-?
    .
    ah, salam kenal mas gun...

  53. #53 Gunawan Rudy Sunday, December 28th, 2008 at 7:52 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ p4ndu_454kura®: Heheheee... Andai vox populi-nya sepakat kalau tindakan A adalah tindakan kejahatan, maka bisa dibilang ya cukup efektif. Entah kalau ada banyak pihak yang menganggap indakan A bukan kejahatan, justru A menjadi martir.

    @ frozen: Super tebal.... dan mahal! Sampai-sampai saya harus memilih antara History of Java dan Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Ya akhirnya pilihan jatuh ke History of Java dan uang saya ludesss...

    Lengkap atau tidak, dari yang saya baca (belum khatam), nggak begitu juga kok. Tulisan ini saja dari beberapa referensi, History of Java cuma yang peristiwa Trunojoyo itu saja.

    Iya, arti Amangkurat itu memangku bumi, masalah nama kayak beginian juga sudah saya singgung di entry sebelumnya.

  54. #54 kyai slamet Tuesday, January 6th, 2009 at 2:31 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows XP

    jadi diganti model apa ya hukuman mati itu?
    apa kita hapuskan saja hukuman mati dari muka bumi ini?
    lha yang suka teriak syariah dan khilafah gimana?

  55. #55 Jauhari Monday, January 12th, 2009 at 15:18 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Mac OS Mac OS X

    Takon ahline sik :)

Leave Your Response

Your email is never published nor shared. Make sure you enter the * required information where indicated.
Comments are not moderated, but note that "pertamax" word and its variants will be held in moderation queue.
This is a Gravatar-enabled weblog. And you can add Yahoo! Messenger emoticons to your comment.