Sampai di mana tingkat subjektivitas manusia dalam menyampaikan kebenaran lewat pembenarannya? Terlepas dari skizofrenia yang diderita serta gaya cerita yang berbeda setiap kali menulis, Ryunosuke Akutagawa mempertanyakan kemampuan atau keinginan manusia untuk menanggapi dan menyampaikan kenyataan yang objektif tersebut lewat cerita pendek karyanya, Yabu no Naka, Di Dalam Belukar.

Cerita pendek Akutagawa ini berisi tujuh kesaksian yang berbeda mengenai kasus pembunuhan seorang samurai, Kanazawa no Takehiro, yang jasadnya ditemukan di hutan bambu pinggiran kota Kyoto. Tiap kesaksian mengklarifikasi namun juga mengaburkan apa yang diketahui pembaca tentang peristiwa pembunuhan tersebut, hingga pada akhirnya menciptakan sebuah gambaran yang rumit dan penuh kontradiksi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Kisah ini bermula dengan empat laporan dan kesaksian minor dari seorang penebang kayu, rahib Buddha, agen polisi, dan wanita tua. Lalu menyusul kesaksian seorang bandit, pengakuan istri dari samurai yang terbunuh, hingga arwah sang samurai yang berbicara melalui perantara seorang dukun.
Si penebang kayu yang menemukan mayat seorang lelaki di hutan menyatakan bahwa lelaki tersebut kelihatannya meninggal karena satu sabetan pedang di dada. Keadaan di tempat kejadian perkara antara lain dedaunan yang terinjak di sekitar mayat menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah perkelahian yang sengit. Yang ia temukan selain mayat hanya seuntai tali, suatu sisir, dan banyak darah.
Kesaksian selanjutnya diberikan oleh seorang rahib Buddha yang mengaku pernah bertemu dengan lelaki itu–yang sedang bersama seorang wanita yang menunggang kuda palomino–di jalan besar pada tengah hari sehari sebelum pembunuhan. Lelaki itu membawa sebilah pedang dan sebuah busur, serta tabung panah berwarna hitam. Semua ini tidak ada di lokasi ketika sang penebang kayu menemukan lelaki tersebut.
Seorang agen polisi yang menangkap seorang penjahat terkenal bernama Tajoumaru maju bersaksi. Ia menangkapnya ketika Tajoumaru terluka setelah terlempar dari punggung seekor kuda palomino, dan dia membawa sebuah busur dan tabung panah hitam. Senjata yang tidak biasanya dibawa oleh Tajoumaru. Ujarnya ini membuktikan bahwa Tajoumaru adalah pelakunya. Namun Tajoumaru tidak membawa pedang lelaki itu, yang juga hilang dari lokasi pembunuhan.
Sebuah laporan datang dari seorang wanita tua, yang menyatakan dirinya sebagai ibu dari wanita yang belum ditemukan itu. Putrinya adalah seorang wanita berusia sembilan belas tahun yang bernama Masago, dan menikah dengan Kanazawa no Takehiro, seorang samurai berusia dua puluh enam tahun dari Wakasa. Putrinya yang bertekad kuat itu, ujarnya, tidak pernah dekat atau bersama lelaki selain Takehiro. Dia memohon kepada polisi untuk menemukan Masago.
Setelah penyidikan keempat laporan minor tersebut, Tajoumaru akhirnya mengakui kesalahannya. Dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan dua orang itu di sebuah jalan di luar Kyoto. Ia tertarik pada Masago dan ingin memperkosanya. Untuk memperkosa Masago tanpa halangan, ia mencoba memisahkan pasangan itu dengan memancing Takehiro ke dalam hutan dengan iming-iming harta karun. Setelah melumpuhkan Takehiro, ia menyumpal mulut Takehiro dengan dedaunan, mengikatnya di sebuah pohon, dan langsung mencari Masago. Ketika Masago melihat suaminya terikat pada pohon, ia menarik sebuah belati dari pakaiannya dan mencoba menusuk Tajoumaru. Tajoumaru lebih gesit dan berhasil merebut belati dari tangan Masago, dan dia pun berhasil memperkosanya. Pada awalnya, ia tidak bertujuan membunuh lelaki itu, tegasnya, namun setelah pemerkosaan, Masago memohon padanya untuk membunuh suaminya atau dirinya sendiri, karena dia tidak akan tahan bila dua lelaki mengetahui aibnya itu. Dia akan pergi dengan lelaki terakhir yang hidup. Tajoumaru tidak ingin membunuh Takehiro dengan cara pengecut, jadi ia melepaskannya dan mereka berduel pedang. Pada duel itu, Masago melarikan diri. Tajoumaru berhasil membunuh Takehiro, dan mengambil pedang, busur, serta tabung panahnya, juga kuda Masago. Dia menyatakan bahwa dia telah menjual pedangnya sebelum dia tertangkap oleh sang agen polisi.
Sementara di Kuil Shimizu, seorang wanita melakukan pengakuan dosa. Pengakuan yang sama juga dituturkannya ke polisi. Menurutnya, setelah pemerkosaan, Tajoumaru pergi, dan suaminya yang masih terikat di pohon menatapnya hina. Dia merasa malu karena telah diperkosa, dan tidak ingin lagi hidup, namun ia ingin suaminya mati bersamanya. Akhirnya ia menancapkan belati ke dada suaminya. Kemudian ia memotong tali yang mengikat suaminya yang telah tewas, dan lalu berlari ke hutan, dimana ia mencoba membunuh dirinya sendiri beberapa kali. Tetapi terus-menerus gagal, ada suatu hal yang membuatnya tak bisa mati saat itu: ia harus melakukan pengakuan tentang kejadian tersebut lebih dulu. Pada akhir pengakuannya, ia menangis.
Kesaksian terakhir berasal dari arwah Takehiro, yang melalui perantara seorang dukun. Dengan penuh emosi–sedih bercampur marah–arwah Takehiro mengatakan bahwa setelah pemerkosaan, Tajoumaru meyakinkan Masago untuk meninggalkan suaminya dan menjadi istri Tajoumaru sendiri, yang akhirnya disetujui Masago dengan satu kondisi: Tajoumaru harus membunuh Takehiro. Entah kenapa Tajoumaru marah mendengar usulan ini, menendangnya ke tanah, dan menanyakan Takehiro apakah dia harus membunuh wanita tanpa harga diri itu. Mendengar ini, Masago berlari ke hutan. Kemudian, Tajoumaru memotong tali yang mengikat Takehiro dan turut melarikan diri. Takehiro mengambil belati Masago yang terjatuh, dan menancapkannya ke dadanya sendiri. Sesaat sebelum kematiannya, dia merasa bahwa seseorang berjalan pelan mendekatinya dan mencabut belati dari dadanya.
Pasti ada kebenaran dari tujuh laporan dan kesaksian dalam cerita pendek tersebut, atau bisa juga kesemuanya berdusta. Dalam naskah cerita pendek aslinya, laporan yang banyak terdapat ketidaksesuaian dengan laporan lainnya adalah dari sang penebang kayu. Namun yang paling menarik dari cerita ini tentu bukanlah itu.
Akutagawa nampaknya sengaja menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pembunuhan dan investigasi, yaitu ambiguitas manusia. Manusia, menurut Akutagawa, akan melihat pembenaran sebagai kebenaran melalui kaca mata perspektifnya masing-masing. Misalnya, mengambil satu perspektif dan percaya dengan itu. Akutagawa memang tidak berniat menyampaikan perkara siapa membunuh, dibunuh, atau bunuh diri, maupun menemukan kebenaran dalam kasus terbunuhnya sang samurai seperti layaknya cerita misteri dan detektif lainnya. Lebih dari itu, Akutagawa ingin menunjukkan bahwa manusia sangat sulit untuk mengutarakan kebenaran absolut. Yang ada hanya pembenaran.
Selain itu, jika ketiga pengakuan utama–Tajoumaru, Masago, dan Takehiro–terhadap kebohongan, apa faktor yang membuat mereka berbohong. Jika berpatokan pada budaya Jepang, terutama latar waktu peristiwa, yaitu berabad-abad yang lalu, sebuah jawaban bisa disodorkan: kehormatan.
Ketiga pengakuan itu sama sekali tidak bertujuan menghindari hukuman, namun untuk menempatkan diri di tempat yang terhormat. Membunuh lawan dengan berduel bagi Tajoumaru adalah sebuah kehormatan. Bunuh diri bersama suami–namun kemudian ia berpendapat bahwa ia harus memberikan kesaksian dulu sebelum mati–bagi Masago adalah sebuah kehormatan. Dan bunuh diri bagi Takehiro adalah sebuah kehormatan juga. Manusia memang memiliki banyak kelemahan, namun karena ego dan harga diri, kehormatan terkadang dipertahankan dengan pembenaran, atau bisa jadi kebohongan. Inilah salah satu ambiguitas yang dipertanyakannya.
“Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas…” ujar Akutagawa dalam surat kematian sebelum ia bunuh diri.
~ foto diambil dari film Rashomon (1950) karya Akira Kurosawa.
Labels: history, japanese, philosophy, psychology, struggle

















berbohong karena kehormatan?
ndak setubuh!!
berbohong ya bohong..titik..apalagi klo sampe merugikan..cih.. *kabur*
Dan baru sekarang, kusadari bahwa dari terjemahanku, masih banyak penggunaan kata yang kurang tepat. Maaf ya... ^^; Sepertinya di Jepang, memang yang diutamakan bagi semuanya adalah honour. Seperti banyak samurai yang lebih memilih untuk seppuku daripada hidup dengan hina.
Sepertinya tidak pernah terlintas di pikiran untuk menebus dosa dengan berbuat baik sepanjang hidup ya.Ya... kalau dilihat dari sinopsis cerita yang kau sodorkan juga, sepertinya di kesaksian tiap karakter utama (Tajoumaru, Takehiro, Masago), semuanya diposisikan untuk memperlihatkan dirinya sendiri sebagai orang yang terhormat. Sepertinya, terutama bila menyangkut harga diri milik sendiri, sulit untuk menuturkan kenyataan tanpa sedikit memperbagus diri; minimal, agar terlihat masih punya honour itu.
Tapi masih tidak mengerti, apa tujuan adanya kesaksian yang sangat melenceng dari kesaksian lainnya dari si penebang kayu? Dan mengapa harus ada yang mencabut belati dari tubuh Takehiro (kalau di film memang dijelaskan, tetapi di ceritanya...). Dan mengapa ibunya Masago mengatakan Takehiro tidak dari Kyoto walau memakai topi khas Kyoto? Apa ini tambahan untuk semakin memperlihatkan sulitnya mengutarakan kebenaran absolut, atau cuma Akutagawanya saja yang iseng ingin mbingungin pembaca/idenya nggak nyambung kemana-mana...
~
Maaf kalau komentar suka panjang tapi nggak ada isinya...
sebel.
0*0
ga bisa pertamina deh....
*ditendang*
huuuugh....
eh, keycode nya akhirnya ilang...
live well, die with honour... only the brave shall live forever! *lah malah kayak viking* !@!
tapi berbohong itu kan bukan suatu kehormatan...
Apapun alasannya.... bunuh diri itu dosa, jadi jangan pernah dilakukan
@ Fickry: Waduh, di sini aku masih nggak memposisikan diri menjadi penanya "setuju" atau "nggak setuju" e... Cuma memberikan gambaran aja.
@ Infinite Inficio: Argghhh, panjang. Mana lagi males balas komen pula. Tapi okelah.
Akutagawa ini memang agak aneh. Sulit ditebak apa maunya. Coba baca karya-karyanya yang lain macam Shiro, Hana, atau Rashomon deh. Pasti beda, sulit menemukan titik temu di antara kesemua karyanya. Kayak ditulis oleh orang yang berbeda, tapi ya semuanya tetap Akutagawa yang bikin... IMO, soal kesaksian itu kayaknya memang agar lebih kompleks doang, atau ada sesuatu yang lain yang ingin disampaikan Akutagawa.
@ emina: Silakan dicoba komen lagi.
@ SJ: Nah aku malah nanya lagi ke diri sendiri... Penentu kehormatan itu diri sendiri atau orang lain kah? Atau bahkan tuhan (jika ada) hmn? *disepak*
@ Chic: Selama kebohongan itu nggak ketahuan, bisa jadi orang akan mempertahankannya demi kehormatannya (di depan orang lain). Kehormatannya (di depan orang lain) tetap terjaga, ya selama belum ketahuan itu...
@ serdadu95: Kayaknya tergantung kepercayaan dan budaya juga deh, kang.
Dalam bushido itu justru sebuah kehormatan. Whew... Nggak mungkin memang menyatukan semua manusia (atau makhluk hidup?) dalam satu atap agama, satu atap budaya, dll yah?
kehormatan, bentuk lain dari "Pride" yang klo gak salah dalam bible disebut sebagai "seven deadly sins". Ternyata, berbohong hanya untuk sebuah kehormatan masih termasuk dalam kategori deadly sins yah, hahahaha....
4 orang bersaksi menurut pengelihatan masing2, dan 3 orang bersaksi untuk mempertahankan kehormatannya.
@Goen: Menyatukan dalam satu agama, mungkin masih bisa, hanya saja dalam satu budaya rasanya agak sulit dan benar2 sulit.
@ AroE: Rasanya nggak bakal bisa, kang. Karena agama juga dipengaruhi oleh budaya. Aliran-aliran dan sekte juga banyak dalam satu payung agama. Di sinilah kebenaran absolut dari manusia kembali dipertanyakan.
Kata "pride" sendiri lebih condong kepada membanggakan diri, yang tentu saja menjurus pada lupa daratan. Masuk atau nggak ke 7 dosa itu, aku rasa di tiap agama bohong sudah termasuk dosa. Tapi tentu saja kita nggak membahas soal agama di sini.
*lagi hiperaktif balas komen dan berkomen*
Ah berbohong demi kebaikan ya
emm x)p

berbohong wlopun demi kbaikan apa itu kehormatan?
kyknya bukan deh
saya mulai suka membaca cerpen dg setting lauar negeri, mas goen, termasuk yang dari jepang. apalagi setelah sebata saya, herlino soleman berhasil mengabadikan kesaksian2 hidupnya saat tinggal di jepang sekitar 10 tahunan ke dalam "koinoburi". dg membaca teks sastra semacam itu, kita jadi tahu bagaimana budaya masyarakat setempat dalam menyelesaikan persoalan2 hidup dan kehidupan.
pembenaran?hmmmmmmm kata yang menurut saya terdapat unsur egoisme........x)p

ngomong2 soal bohong....ada tiga kebohongan yang tidak dianggap bohong
bohong untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang tidak bersalah, dalam peperangan
bohong untuk menyenangkan hati pasangan kita, suami pada istri atau sebaliknya
bohong untuk mendamaikan dua orang yang berselisih
*malah ceramah*
*mlaku*
sayang ga ada si conan yaks
berbohong demi menyelamatkan kehormatan.. hahaha.. benar atau tidak, saya setuju dengantindakan itu ..
hahahaha, jadi kembali ke nilai ini, kejahatan untuk kebaikan itu dihalalkan, hahahahaha.......
robin hood, ah tapi tetap saja, tindakan salah ya salah, walau itu tindakan penyelamatan, namun memang ada kalanya bisa di pertimbangkan.....
@Goen: Masih bisa dilakukan walaupun kultur budaya berbeda, ya seperti yang bisa kita lihat sekarang, antara negara arab sono sama orang di indonesia sini, yang budaya berbeda masih bisa berjalan sama, atau di eropa, amrik sono dengan indonesia, sama saja bukan??
Tapi kembali ke manusia itu masing2, karena yang merusak maupun yang meninggikan nilai agama itu ya manusia itu sendiri, hehehehehehe......
rumit amat ^^;
terus akhirnya gimana, tuh? ah ini yang bikin penasaran, lepas dari kebohongan, siapa yang benar, pembenaran dan kehormatan. apa memang dibikin menggantung juga sama penulis bukunya atau penulis blog ini yang bikin penasaran, hmmm 0*0
lagi gak pengen baca atau nulis yg panjang2,. udah panjang sih
emmm,.. anu,.. mau komen fotomu itu aja ahhh,.. itu foto yg pake hotpants err,.. atau kolor di wediombo ya !@!
aku lebih suka dibilang bermain kata-kata. bukannya berbohong, tapi lebih menonjolkan sisi tertentu, sehingga sisi yang lain dapat dialihkan atau dilupakan... *prinsip pemberitaan media*
@ Rian Xavier: Berbohong memang buat kebaikan kok. Kebaikan diri sendiri.
Dan sayangnya aku nggak pernah menyinggung kebaikan di entry ini, kok nyambung ke sana ya?
@ agung agriza: Lah... Makin lama komen makin susah dicerna karena itu nggak sefrekuensi dengan yang kusampaikan.
@ sawali tuhusetya: Iya, pak. Perbedaan budaya itu yang membuat kita makin mengerti keragaman manusia.
@ jenderal abee: Aku pakai "pembenaran" karena kita manusia ya berbicara dengan "kebenaran" yang kita miliki, jadi aku menyebut "kebenaran" yang nggak absolut itu sebagai "pembenaran".
Sayangnya kurasa tiga bohong tadi tetap bisa merugikan orang lain.
@ dobelden: COnan juga gak bakal sanggup, kang. Ini cerpen sudah 80 tahun lebih, karena Akutagawa memang menawarkan lebih dari sekadar kisah detektif belaka.
@ funkshit: Pendapat pribadi yang jujur, Pras! Kakakaaa...
@ AroE: Ketika masuk ke kalimat "kembali pada pribadi masing-masing", maka di situlah diskusi akan berakhir dengan wagu.
@ goop: Mau naskah aslinya, kang?
@ -alle-: RIWIL KAMUH!!
@ iphan: Sepakat, Van. Hahaaa...
^^; kalau ketahuan bohong apa nga makin rumit.
wah, saya baca cerpen ini dah beberapa tahun yg lalu, rada2 lupa

tapi bohong tetep dosa gimanapun. jadi kalo terpaksa bohong ya dalam kondisi yg sangat memaksa aja
menurut saya setiap kebohongan itu akan berdampak pada kemudian hari!
dan mudah2an saja kebohongan yang sudah terlanjur terucap tidak akan pernah terkuak!
ela lalau panjang2 ndai le pehe mambasa!
Serunya karena saya baru beberapa hari yang lalu membaca pandangan berbagai aliran pemikiran tentang moralitas kebohongan. Sayang belum ada kesimpulan kokoh apa itu moral atau tidak. Menurut Saudara sendiri?
apapun berbohong itu adalah kesalahan ...
@ Ina: Makin rumit bagaimana?
@ Arm: Ya, terpaksa bohong dalam kondisi diri sendiri terdesak juga?
@ sariyatno: Ela lalau are protes, Le...
@ Kgeddoe: Menarik. Moral itu kata yang sangat berat, Saudara. Tapi anehnya bisa keluar dengan mudah lewat mulut atau tuts keyboard orang. Saya nggak yakin semua orang punya pemahaman yang seragam tentang kata itu, karena itu di tulisan ini saya mencoba nggak menyinggung salah benarnya kebohongan. IMHO, bagi saya kebohongan itu sama dengan politik, dan tentu saja moralitas dalam politik nggak bisa dinilai hitam-putih.
Apa ini tentang kajian universal, hmn?
@ joe: Amen.
Apakah orang Jepun sekarang masih suka berbohong demi kehormatan?
In th e nd, Takehiro 'merasa' mati terhormat; Sesudah mengaku, Masago juga mungkin akan bunuh diri dan mati terhormat; Tajoumaru? Hidup terhormat karena menang duel? Atau bakal dipancung karena memerkosa? Hmm...
Yah, kehormatan ini masalah seperti apa orang akan membicarakan kita sesudah kita tiada nanti, walaupun kita sendiri tak mendengar pembicaraan itu... :=!
tidak ada yang bilang berbohong itu benar.
tapi menjadi suatu kewajaran, ketika seseorang melakukan kebohongan untuk menyelamatkan kehormatannya.
cerpen ini bagus, saya jadi tertarik membacanya
Artikel yang menarik.
Jalan ceritanya rumit tapi tetap terjaga dengan baik. Kita tidak usah mempersoalkan tentang bunuh diri atau berbohong itu dosa atau tidak, karena itu suatu hal yang sudah jelas, tapi mengapa mereka melakukan itu adalah sesuatu hal yang jadi menarik.
Ditunggu tulisan lain di politikana mas.
Salam
Haha.. interesting story..
Bisa jadi itu bukan karena kehormatan Gun, tapi karena rasa ingin melindungi seseorang yang dikasihi. Misalnya saja kejadian yang sebenarnya adalah bahwa Tajoumaru dan Masago memang saling mencintai, tapi mereka berdua tak bisa bersatu lantaran Masago telah menikah dengan Takehiro. Mereka berdua pun merencanakan pembunuhan terhadap Takehiro di tengah hutan itu.
Mungkin saja Tajoumaru berbohong karena ia tidak ingin Masago ikut diseret dalam kasus itu. Begitu juga dengan Masago. Takehiro sendiri berbohong karena saking cintanya ia kepada Masago, ia ingin Masago dan Tajoumaru dapat hidup berbahagia.
[...] pertanyaan yang intimidatif, kecuali bagi yang congkak. Hari Jumat kemarin, Bung Gun menyempatkan menulis tentang Yabu no Naka (??? “Di Dalam Belukar“
, sebuah cerita pendek klasik milik [...]
salam kenal dari pojok tanjung barat, rud
Sepertinya pernah dengar yang mirip:
Disiplin adalah nafasku, Kesetiaan adalah kebanggaanku, Kehormatan di atas segala-galanya.
salam kenal pak gunawan
blognya bagus banget
bisa tuker link?
kalo berkenan kabarin aku ya
tx
Tulisan yang (sangat) bagus.
Hannah Arendt, salah satu penulis favorit saya, mencatat bahwa politisi memiliki kebiasaan untuk mengubah hipotesis menyenangkan menjadi fakta. Demikian adanya dari Hitler (yang seenaknya mengatakan bahwa Jerman itu Arya tanpa dukungan paleoantropologi) hingga George W. Bush (yang menerima laporan intelijen palsu demi menggulingkan Saddam).
Mereka yakin bahwa mereka melakukan yang benar, atau dalam absolutisme moral: 'BAIK'. Tapi tetap tidak mengubah kenyataan bahwa mereka menipu orang yang memercayai mereka. Dan, dalam perjalanannya, menghancurkan mereka yang percaya.
Cheers!
Di antara ketiganya, tidak jelas siapa yang berbohong dan bagaimana runutan kasusnya ya.
Masing-masing cuma melindungi kepentingannya sendiri? Dalam hal ini, mungkin demi honour-nya itu? Kalau begitu apa yang dilakukan mereka jadi subyektif... dan tak ada perkara obyektivitas disini.
*ngungkit topik plurk*
.
Woooogh,...
Sayah sangat beruntung diceritain ulang sama situh,,,,, d^b
menarik dan bikin penasaran!
tapi cara mereka yang extrem dalam membenarkan sebuah pendapat saia emank kurang sependapat
apa gak ada jalan lain selain bunuh diri? :=!
yah, apapun itu mereka merasa benar dan itu yang terpenting... ^_^
salam kenal, blognya bagus banget euy |(
itu gambar apa yah
kok aneh
byme
artikel yang menarik dari anda.
btw, rashomon jadi film wajib tonton di kampus saya.
salam
kamu ngomong apa tho gun..???
berbelit2 bgt..hahhahahaha
d^b
bagus...tapi gua capek bacanya......panjaaannnggggg
Mencoba utk memahami gaya pikir ksatria Jepang...walau bagaimanapun, tetap saja suicide yg dianggap 'kehormatan' itu sebagai sebuah 'kenistaan' moral diri yg masih 'kosong' dengan tautan agama...But mereka animis kah...??? Masih percaya matahari sebagai "Tuhan" mereka....ketololan yg absurd....