Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.
Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.
Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.
Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup–yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan Belum.
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.
Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.
Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.
Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual–yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah–dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau–memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.
Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya–entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain–tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.
Dan semoga Natal tahun ini saya bisa pulang ke Kalimantan. ![]()
* artikel asli ini dirilis ulang pada untuk Betang.COM
© foto Burung Enggang oleh Fendy Zaidan
Labels: anthropology, belief, borneo, culture, dayak, indonesia, leader, myth, struggle

















ini lanjutan dari mimpi ketemu panglima burung itu ya?
@ itikkecil: BUkan, justru gara-gara mimpi maka saya dapat pencerahan buat menulis soal Dayak.
KETIGAX *dihajar*
Menarik. Guru, emang ciamik lah. Secara pribadi banyak artikel2 guru yang membuka pandangan saya terhadap budaya Indonesia. Guru kenapa ga jadi antropolog aja?
Panglima Burung sosok yang menarik ya. Malah saya pribadi merasa Panglima Burung pantas menjadi sosok manusia sewajarnya (hiperbola). Saya kurang tahu banyak soal Dayak, bahkan soal pembantaian-pembantaian waktu itu (korban orba).
Segitu dulu komentarnya, kapan-kapan kalau sempat saya tambahin.
kl ditempatku tmbh satu sifat lagi...kalo kita berbuat baik maka akan dibalas dengan kebaikan yg berlipat, tapi apa berbuat yg buruk maka akan dibalas dengan keburukan yg berlipat...
btw dayak dikalimantan itu dr satu rumpun ya?trus tersebar ke berbagai penjuru?kl gt suku banjar trus dr rumpun apa?nda malas nyari,makanya cariakan lah
Menarik sekali... d^b
Saya ingat dia sering disebut2 kala terjadi konflik etnis yang legendaris itu, tapi waktu itu juga kupikir Panglima Burung adalah individu yang jadi komandan perang atau mungkin kepala suku bgitu.
Terlepas dari yang dibantai siapa, pembantaian2 sungguh buat saya lumayan respek sama orang Dayak. !@!
@ Lemon S. Sile: Emoh ah, mempelajari budaya masalah naluri dan hobi saja.

Menarik memang, ada yang percaya ia adalah sosok manusia, ada juga yang percaya ia sosok gaib. Tapi saya pribadi lebih memandangnya sebagai perlambang orang Dayak itu, karena sifat-sifatnya merupakan sifat umum dari orang Dayak. Masalah benar atau tidak, manusia atau bukan, saya nggak gitu peduli. Lha, tragedi di Sampit baru-baru aja kok, baru 7 tahun yang lalu.
@ ekowanz: Betul itu... Tapi kadang kalau diperlakukan buruk juga kebanyakan ada yang bersabar. Nah pas kesabaran sudah nggak ada lagi itu maka pembalasannya berkali-kali lipat. Tapi kalau kamu ke pedalaman sana, dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat Dayak, enak banget tuh, bakal dianggap kayak saudara sendiri. Umumnya orang Dayak pedalaman itu masih lugu-lugu.
Nggak sempat aku tulisankan di sini, karena sifat-sifatnya banyak banget. Mau aku tambahin pow? Masih ada beberapa nih.
@ jensen99: Lah, bisa jadi ia memang panglima perang yang turun ke medang pertempuran, siapa yang tahu... Tapi daripada itu memang lebih menarik bagi saya untuk membahasnya dengan perbandingan sifat orang Dayak ini. Respek? Sini respek sama saya, hohohoo... :=!
mereka dari rumpun apa sih?...diliat dari asalnya aj...ditelusuri mundur. Gimana2...?
@ ekowanz: Kalau ditelusuri ke belakang, penduduk asli pulau Kalimantan sejak ribuan tahun yang lalu itu bukan suku Dayak seperti sekarang ini. Nenek moyang suku Dayak berasal dari daerah China selatan, dan masuk ke Kalimantan pada awal-awal tahun masehi. Kenapa Kow?
Kalau dilihat-lihat juga seni keramik macam guci, mangkok, dan piring di Kalimantan cukup kental nuansa orientalnya.
Hmm... Panglima Burung tidak di bahas di MTV Wild Boys waktu ke Indonesia... YA IYALAH!
"This is the 'Dayak's Tribe'." said the MTV Wild Boys host...
Apa sih!?
ga kok cuman penasaran aj
Yang aku tahu, penyebab kerusuhan sampit itu sangat kompleks, akibat dari kelalaian banyak pihak. Semoga itu adalah yang terakhir, dan semoga postingan Gun tidak menjadi pembenaran untuk kerusuhan-kerusuhan lain.
@ Denss...: Nggg... Ndak nonton.
@ ekowanz: Penasaran browser-mu?
@ Herman Saksono: Yang aku tahu, Mon. Penyebab kerusuhan itu simpang siur. Dan aku tidak peduli semua alasannya. Karena aku cuma membahas budayanya saja, dari yang aku rasakan dan tahu, dan dari analisis. Karena toh terlepas dari semua mitos dan legenda itu, yang namnya perang tetap saja sifatnya lebih banyak merugikan.
waduuh.. belum pernah ke dayak atau pun ketemu orang dayak asli *atau pada ga mau ngaku aja ya kalo dari dayak*
belum punya bayangan seperti apa dayak dan orang-orangnya itu. hanya saja, memang penggambaran orang dayak sebagai suku yang beringas begitu santer terdengar, belum ditambah bumbu suka mengguna-guna nya itu.
0:]
Gun, aku penasaran dengan bentuk mandau dengan senjata tradisional khas suku Ainu, Jepang. Hampir sama dalam bentuk, luar biasa. Pasti ada hubungan erat jaman dulu.
burung yang cantik
panglima burung bagian dari budaya orang dayak yang musti dijaga....
Ah, seperti suku - suku pedalaman lainnya, menurut pendapatku. Kebanyakan dari mereka ditakuti karena mereka tidak diketahui sifatnya, apalagi perangainya yang positif.
hampir setiap daerah memiliki tokoh anutan dan spiritual semacam itu, mas gun. mitos semacam ini memang berlangsung dalam tempo yang cukup lama dan turun-temurun. kharismanya pun hampir tak pernah surut meski zaman terus berganti. asalkan ndak sampai dikultuskan, kehadiran tokoh "imajiner" seperti itu malah bisa menjadi sumber inspirasi kehidupan.
Jadi ingat gadis Dayak Ngaju yang mematahkan hatiku 12 tahun (30 September 1996) yang lalu dengan menolak cintaku.
~mellowmode
n
Waktu aku mo ke kalimantan Desember tahun lalu, ibuku sempat khawatir krn image orang dayak yang sering muncul ke permukaan adalah orang yang kejam dan sadis.
Tapi ketika aku di sana dan ketemu dengan keluarga cewekku yang orang Dayak Ahe, ternyata mereka benar2 ramah. Aku merasan benar2 diterima baik oleh keluarga cewekku maupun teman2 bapaknya. Lagian, orang2 dari daerahku banyak yang merantau di sana dan ternyata diterima dengan baik.
sekian curhat kali ini
@ Chic: Tante, itu bisa dibilang salah satu sifat pemalu dan tidak suka show-off dari orang Dayak sendiri. Mereka punya kebanggaan sebagai Dayak, namun itu tidak menjadikan mereka serta merta besar kepala, dan merasa yang terhebat dan orang lain harus sungkan dengan mereka.
Masalah guna-guna sih, saya males membahasnya. Duh, wong saya nggak bisa guna-guna kok, tante!
@ Yeni Setiawan: Bisa kasih contoh gambarnya, kang? Ake googling ndak ketemu e.
Tapi aneh juga ya, secara suku Ainu itu suku asli kepulauan Jepang yang telah menghuninya berabad-abad sebelum masehi. Padahal nenek orang Dayak dipercaya merupakan perpindahan dari China bagian selatan, sekitar Indochina (Vietnam, Myanmar).
@ Mbilung: Kok nggak ganteng aja pakdhe? Burung itu betina yah?
@ abeeayang™: Lha tiap budaya memang ada baiknya tercatat dalam sejarah.
@ Mihael Ellinsworth: Sayangnya orang-orang kota yang dulunya suku pedalaman sekarang pada sombong dan menganggap yang dari pedalaman itu dengan segala konotasi negatif.
@ sawali tuhusetya: Soal imajiner atau tidak saya nggak berani memberi kepastian, pak. Karena saat tragedi beberapa tahun lalu namanya santer terdengar sudah turun gunung. Nah, tapi belum ada bukti otentiknya. Jadi cukuplah saya bahas sebagai perlambang saja.
@ dosengila: Bukan salah satu dari tane-tanteku yang cantik kan?
@ PeTeeR: Hahahaaa... Tentu saja, Ter. Kau beri kebaikan, maka kau akan dibalas kebaikan berkali-kali lipat. Walaupun kau belum memberi kebaikan saat berkunjung, kau pun tetap diberi kebaikan dan disambut ramah.
kadang kita memang suka takut sama suku pedalaman apalagi yang masih primitif, karena susah komunikasi dengan mereka.. dan sangar2
itu bukannya burung rangkong ya?
Tokoh Pangkalima Burung memang sangat mencuat beberapa tahun lalu. Sampai-sampai ada orang disebutkan sebagai dirinya dan ditampilkan ke hadapan publik oleh pihak tertentu serta melakukan pertunjukan namun tetap diragukan keabsahannya mengingat sejumlah faktor. Mungkin soal kebenaran dan keberadaannya hanya para damang, balian, dll yang mengetahuinya.
Sedari kecil, saya memang berteman dengan keluarga dari Suku Dayak Manyan, yang memiliki mendiang Kakek seorang Damang. Sedangkan Kakek saya sendiri pernah menjadi petugas kesehatan di pedalaman Kalimantan dan behubungan langsung dengan orang Dayak. Semuanya menjadi hal dan kenangan yang indah.
Kalau Yeni tertarik dengan mandau, yang katanya hampir sama dengan senjata tradisional khas suku Ainu, Jepang. Saya sangat tertarik dengan sejumlah mantra dalam khazanah Dayak yang justru menyebutkan Ali, Hasan dan Husein. Bagi yang muslim tentu mengenal ketiga nama tersebut, dan sampai saat ini saya tak menemukan jawabnya. ^^;
Kejam dan begis merupakan imej yang melekat dari suku dayak dulunya namun tidak masa2 sekarang.
Stereotipe itu secara tidak sadar karena kebiasaan mengayau kepala jaman dulu ? tetapi secara sikap perilaku dan gaya unggah ungguh, batak atau madura lebih klotokan dan kasar..
Satu kali saya pernah singgah di Palangkaraya. Bertemu dengan seorang pemuda yang mengaku berasal dari Dayak sub-suku Ngaju. Dia bercerita bahwa Panglima Burung ini bukan menjelma seperti burung, tapi melayang-layang di udara dalam bentuk Mandau. Saat kerusuhan etnis itu, Mapolda Kalteng dikitari oleh Mandau di atasnya selama sehari semalam karena di sana ada seorang bintara kelahiran Madura.
Panglima Burung ini pula, katanya, yang menghubungi semua kamitua sub-suku Dayak di pedalaman dan gunung-gunung untuk turun ke kota. Jalan-jalan memang sudah diblokir sehingga orang-orang Dayak kadang tak bisa masuk kota. Tapi Panglima Burung itulah yang menuntun mereka dari pedalaman untuk masuk ke Palangkaraya melalui sungai-sungai, termasuk Sungai Kahayan yang membelah Palangkaraya.
@ jimmy: Hahahaaa... Stereotipe biasanya memang cukup manjur, tapi memang harus kita rasakan sendiri. Jadi ingat kata Jean Marais kepada Minke dalam roman Bumi Manusia; "Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran."
@ yusdi: Enggang, ndab. Keduanya sama-sama Buceros, tapi kalau Rangkong itu Buceros bicornis, dan Enggang Buceros rhinoceras.
@ Pakacil: Muncul di hadapan publik memang dikisahkan berkali-kali, mang (sorry, ulun pakai pakai panggilan "amang" :P
, misalnya di Tarakan, dan di Sampit juga pernah. Sayangnya keabsahannya masih diragukan. Kelihatannya ada kepentingan tertentu untuk memunculkan sosol itu ke publik ya.
Kalau Manyan berarti di sekitar daerah Kapuas dan Barito ya. Tapi di Kalimantan Selatan memang Dayak Manyan lebih banyak ketimbang Dayak lainnya. Ulun sendiri sih seringnya ke Katingan (terutama daerah Kotawaringin) di mana mayoritas Dayak Ngaju.
Menarik ika membandingkan dua sub-Dayak besar di Kalimantan Tengah; Ngaju dan Manyan. Dayak Ngaju lebih variatif dalam hal agama, ada yang Islam, Protestan, Katolik, dan Kaharingan. Sementara kepercayan Kaharingan sendiri sangat kental dalam Dayak Manyan.
Kalau boleh tahu mantra semacam apa itu, mang? Hehehee... Ulun Dayak murtad kali ya, masih ada banyak Dayaknya tapi banyak tidak tahu kebudayaan Dayak.
@ tanahsirah: Beratus-ratus tahun yang lalu, jauh sebelum kedatangan para misionaris Eropa, bebarapa kali memang terjadi perang kecil-kecilan antar suku, namun lambat laun itu mulai ditinggalkan. Tapi stereotipe kejam itu masih sering melekat entah kenapa.
@ iman brotoseno: Iya mas, bahkan isu Mayau pun masih sering digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak bermain terlalu jauh dari rumah. Padahal itu tak ada lagi, hahahaa...
Kalau soal perilaku sih pada umumnya orang Dayak memang lebuh dan ramah, lain hal kalau murka.
@ zen: Dari penuturan beberapa sanak saudara di hulu sungai Katingan, cerita tentang jelmaan Enggang cukup banyak dibicarakan. Nah, kalau soal melayang di udara dalam bentuk Mandau itu adalah salah satu cerita yang paling populer saat kerusuhan kemarin, "Mandau terbang" istilahnya. Di sini ada beberapa versi, misalnya seperti yang kang Zen sebutkan, Panglima Burung menjelma menjadi Mandau dan terbang, tapi ada juga versi cerita yang menyebutkan Panglima Burung memiliki ilmu untuk menghilangkan diri dan hanya Mandaunya yang kelihatan.
Prajurit Dayak yang masuk ke Palangkaraya tidak sebanyak yang masuk ke Sampit. Jalur masuk ke Sampit antara lain lewat jalan darat via desa Kereng Pangi yang menjadi salah satu titik awal konflik, namun karena jalan ditutup maka para prajurit Dayak dengan dituntun para temenggung dan damang memasuki kota Sampit lewat anak-anak sungai Katingan.
Menyoal prajurit Dayak, tidak semuanya yang dari pedalaman. Beberapa juga ada yang dari kota. Salah satu mahasiswa ayah saya bahkan sempat membawakan "oleh-oleh" berupa jari manusia.
dah lama ga pelihara burung, jadi pengen
saat ini cuman pelihara ikan
wah... aku yang orang dayak aja baru tau nih... d^b
Dapat pengetahuan baru tentang Panglima Burung... Yang menyedihkan, di Indonesia banyak Panglima Tikusnya...
>
Goen .. Goen, tantenya dong tantenya ....
~pulang, cuci kaki, cuci tangan, sikat gigi, bobok ....
Kerusuhan beberapa taon lalu menurut sayah karena masalah kecemburuwan sosiyal.
Mutlak ituh.
Damana-mana nyang namanya pendatang tentu mesti kerja keras untuk bisa makan.
Setelah kesuksesannya melebihi warga asli, selalu ada perasaan "dicuri" oleh pendatang.
Liyat ajah da Aceh jugak begetoo....
kalo di surabaya ada panglima bajul kali ya
@ nothing: Lalu?
@ Naru: Ikaw te Agnes? Ih, bahali ampi ji uluh itah dia kasena...
@ marsudiyanto: Hahahaaa, paling itu prajurit tikus, pak.
@ dosengila: Barusan nikah. Telat.
@ Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ ": Saya rasa semuanya malah sangat kompleks, om. Benar jika dibilan ada kecemburuan sosial, juga benar ada faktor lainnya. Semuanya tercampur aduk menjadi satu. Karena yang namanya konflik itu nggak sederhana kan?
@ Mardun: Apa itu...?
Tak ada screenshot?
Hmm ...
Aku taharu. Tahi di sundau.
~Sok bisa Bahasa Dayak Ngaju. Nyungsep.
Eh ada sedikit kesalahan ... "dia sundau" bukan "di sundau"
Mas Goen, dikoreksi dong.
Wadow2...

Kalo di Papua Panglima apa ya..??
Mungkin yg jadi Panglima Cenderawasih kalii ye, hehehehe...
Yg bisa berubah2 jg....
Saya juga mau skrinsyot.
Panglima Burung disini kayak stereotipe "King in the mountain" ya?
Bajul = buaya... secara buaya = maskot kota gitu.....
tapi kadang-kadang bajul juga bisa berarti Playboy hehehe
memang ga benar klau orang dayak itu kejam, sadis da sebagainya. noki aja waktu kejadian sampit ada disana. dan setiap hari memang ada mayat tanpa kepala. mereka melakukannya karena ada salah satu suku pendatang yang sombong
Saya setuju dengan tulisan Mas Gun, kerusuhan di Sampit dan Sambas terjadi karena kesabaran orang Dayak selama bertahun-tahun sudah habis. Karena di tanah Kalimantan, orang Madura berlaku semena-mena dan cenderung kasar, tidak menghargai orang Dayak sebagai tuan rumah hal tersebut bertentangan dengan falsafah hidup orang dayak,yaitu "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung" , yang artinya kurang lebih adalah agar semua pendatang menghormati orang Dayak sebagai penduduk asli disitu. Begitu juga sebaliknya, jika orang Dayak merantau ke pulau lain (termasuk saya..he..he..) mereka akan menghormati penduduk dan adat setempat. d^b
Mencerahkan... femimfin selayaknya belajar dari nilai-nilai Fanglima Burung. !@!
Nice posting....d^b

Membuka pikiran baru gw terhadap suku dayak......
Orang2 dayak ternyata orang2 yang sangat bersahabat ternyata......
Bukannya semua orang juga panglima berburung Gun?
*los pokus*
*dikejar pisau sunat*
kamu mbahas burung..???
merebut lahan pakde kamuh..???
*pancal si gun*
wah kalo burung intu di sini jadi burung mistik jga yah.. semacam kendaraan ato binatang yang jejadian gitu
panglima burung..
waktu zaman konflik dsampit,terkenal banget nih panglima burung..
ada yg bilang mitos, tapi ada juga yg bilang itu eksis..
hmm menarik.
saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang dayak dan segala kemisteriusan yang melingkupinya.
termasuk apakah mereka juga enggan menukar barangbarangnya dengan sebuah pensil seperti masyarakat mambunibuni, distrik kokas, kabupaten fakfak
salam
gun gun . . . . . kamu jelmaan panglima burung nih jangan-jangan
emang banyak banget yang mengaku sebagai panglima burung pada kerusuhan waktu itu
tapi dari semua yang diceritakan, panglima burung emang digambarkan sebagai sosok yang karismatik dan hebat. seandainya bisa ditelusuri .... siapa dia sebenarnya ...... wahhh
Saya juga pernah dengar nama Panglima Burung. Tapi di Kalimantan banyak yang mengatasnamakan dirinya Panglima.
@ Syech Mbelgedez, “Imam Madzab Bocor Alus™ :
penyebab kerusuhan itu memang kompleks dan akumulasi berbagai faktor. Tapi faktor kesenjangan bukanlah faktor utama. Di kalbar, di bidang ekonomi, etnis Cina yg menguasai, dan juga etnis lain, misalnya Minang / Padang.
menurutku, mungkin ada suatu faktor dari orang2 madura sendiri (mungkin: karakter, sifat, kebiasaan atau lainnya) yang salah diterapkan di tanah perantauan. Di kalbar, dayak vs madura, melayu vs madura, di kalteng dayak vs madura. Kalau faktor kesenjangan harusnya dayak vs china, melayu vs china.
betul kata marvy: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung (jangan langit dipijak pula).
Hmm.. Baru denger juga nih.
gun, apakah sampai sekarang mereka memeluk kaharingan?
thx
Pemaparan yg asik.. lam kenal mas...|(
Panglima burung...
Tenang tapi menghanyutkan.
Makanya gun, kalo ada masalah, itu cerita-cerita. ntar kamu jadi psiko yang siap meledak kapan aja.
wakay... ulah nganggo basa balanda atuh, da abi mah teu ngarti euy....
yuppie, nie daku. hilap wan sodara sendiri 0*0
Ayo apdet!
Salam kenal dari kampoeng...
Menarik sekali membaca artikel ini yang menimbulkan pro - kontra. Bahkan ada komentar yg menyalahkan etnis tertentu sebagai penyebab kerusuhan yg terjadi---sebuah pandangan dangkal, mengeneralisir dan sangat menyesatkan..seolah2 menyalahkan Tuhan yg telah menciptakan manusia dari berbagai suku, agama dan ras. LIHATLAH AKAR PERSOALANNYA !
Akar persoalan kejadian di Sampit dan daerah2 lain di negeri ini adalah FAKTOR EKONOMI dan PENDIDIKAN. Ekonomi timpang menimbulkan iri dan kebencian penduduk setempat terhadap pendatang--kekayaan alam melimpah didaerahnya bukan membuat mereka makmur tetapi sebaliknya melarat. Kekejian pembunuhan yg tak lagi menghargai nilai-nilai kemanusiaan seperti di sampit adalah sebab dari tingkat pendidikan yg sangat rendah.
Jadi sangat salah mengaitkannya dgn unsur SARA meskipun yg bertikai adalah antar etnis. Lihat akar permasalahannya. Tugas kita dan negara khususnya memperbaiki taraf ekonomi dan pendidikan rakyat kita, bukan hanya di Sampit, tetapi di seluruh wilayah negeri ini.
Negara yg sangat kaya raya akan sumber daya alam kok sebagian besar rakyatnya miskin dan melarat, apalagi untuk memperoleh pendidikan yang baik. Sungguh memilukan.....
Jelas ada yg salah dengan cara kelola negeri ini.
Baru beli bukunya, Guru!
!@!
Lagi ngerti ono Panglima Burung
Suwun Bro, tulisanmu apik, menambah wacana tentang stereotype etnis2 yang ada !@!
Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu.
emmm tipe pemimpin sejati.........
Panglima Burung. Kenapa kedamaian, keagungan/kepemimpinan dan ikon 'pembebas' sering direpresentasikan dengan sosok burung, ya? Apa karena burung bisa terbang?
x)p
ada beberapa teman yang merantau di kalimantan, dan semua bilang, orang dayak itu ramah2.
Keren

Umm... Ini bener ada kan?

Tulisan yang tidak hanya sekedar cerdas, namun juga enak untuk dibaca. Dan yang membuat saya jadi agak kagum, ternyata umur yang muda tidak menghalangi sebuah sebuah pemikiran dan nalar. Dan mudahan juga Anda berbeda seperti "kawal tabela" (kawan muda) lain yang sebagian hanya bisa berhura-hura. Terima kasih atas tulisan yang bagus ini.
Salam kenal.. Saya juga orang Kalimantan, Pontianak tepatnya. Saya pun selalu terkesima ketika mendengar kisah ttg Dayak, Panglima Burung, Mayau, Mandau, Mangkok merah berjalan, dll..
email saya d_cavanna@yahoo.com
thanks
salam pehe kahang, blognya rapih euy..enak dipandang
btw sumber ceritanya dikasi tahu dong ..ato ini kesimpulan anda sendiri?
thx
Pangkalima Burung begitu terkenal di Kalimantan karena banyak hal diantaranya seperti yang dituturkan diatas...
hahahaha.......Terimakasih buat semuanya yg mau membahas sesuatu hal tentang etnis Dayak! Sebagai putra Dayak Menyuke (Banyadu) kalbar...setelah membaca berbagai ragam coment di atas, sempat juga saya harus cekikikan....membaca coment yg rada lucu-lucu. Yeaaaah.....harus Saya katakan disini bahwa memang Panglima Burung itu sampai hari ini tetap eksis ( ada)....ini bukan bohong-bohongan....Untuk mengetahui individunya memang tidak mudah...karena dalam kebiasaan masyarakat Dayak...sesuatuhal yg sifatnya mem-Pamer-kan diri itu sangat jauh. orang dapat mengetahui bahwa seseorang itu adalah "bukan Manusia biasa" memang disaat situasi yg panas( Huru-hara)....yg mengancam masyarakat khususnya Warga Dayak. bisa saja individu itu adalah orang dewasa namun tidak sedikit individu-individu sakti tersebut adalah seorang anak kecil usia SD sampai Smp. dalam kesehariannya individu sakti tersebut biasanya sama seperti orang kebanyakan...yg di kuasai oleh ke-sahaja-an...alias gak neko-neko/ gak banyak ulah, apalagi yang namanya sok pamer.
Saya sangat setuju terhadap satu coment yg menyatakan bahwa huru-hara Kalimantan bukanlah di sebabkan oleh faktor Ekonomi, karena jika itu penyebabnya, maka kerusuhan itu seharusnya terjadi seperti kerusuhan-kerusuhan yg banyak terjadi di pulau Jawa yg mana korbannya adalah sebagian besar warga Tionghoa.
Di daerah Saya kab. Bengkayang dulu sewaktu sebelum kerusuhan itu, orang madura sama seperti Dayak di pedesaan yaitu warga yg berpenghasilkan dari pertanian...mereka sama-sama punya sawah, kebun, dan sama-sama menyadap karet pula untuk memperolehi Duit, tapi memang.......... kebanyakan orang madura adalah buruh kasar' pemecah batu" yang di Bengkayang sendiri adalah sebuah pekerjaan rendahan dengan pengasilan rendahan pula.yg sulit dilrik oleh orang Dayak, karena jika ada orang Dayak yg bepekerjaan seperti itu tentu Dia adalah seseorang yg sangat miskin yg tidak punya modal atau tidak punya bidang tanah sama sekali. yang membedakan antara Dayak sama madura adalah Bahasa, agama, warna kulit dan karakter...dalam hal karakter ini ada satu persamaan yaitu sifat keras....pada orang Dayak karakter "keras" tersebut dapat di 'kuasai' sementara pada orang madura karakter keras tersebut umumnya tidak dapat di kuasai ( orang Dayak umumnya masih mampu menahan diri sementara madura seringnya tidak mampu menahan diri). ibaratkan dua buah batu keras yg jika saling berbenturan dapat memercikan kilatan api, maka terjadilah kebakaran/ kerusuhan tersebut.
TEST
gw penduduk bengkayang ,senang bget ktemu kalian yad^b
saya dari solo 15 tahun kerja di tambang batu bara di kalteng, orang dayak sangat ramah dan bersahabat ini yg saya alami di Kalteng selama ini, mengenai pasukan panglima burung ini adalah pengalaman yg saya alami ketika perang suku disampit, waktu saya mengendarai mobil mengangkut batu bara dan sedang istirahat, tiba2 muncul lima orang suku dayak dengan pakaian dari kulit kayu serta warna kaki agak kemerah merahan tanpa alas kaki, mereka meminta sebatang rokok dengan saya dan membuka tembakaunya dan memakannya, dan dengan tiba-tiba mereka dengan begitu cepat meloncat sambil lari kedalam hutan, sekarang saya baru sadar apakah ini yang dinamakan pasukan panglima burung?
Mas, saya jadi merinding sekali tiap kal mendengar Dayak berkaki merah...
Dayak berkaki merah di Kalteng adalah sub-suku Ot Siau. Mereka memang hanya memakai pakaian kulit kayu dan tinggal di gua-gua. Mereka termasuk sub-suku Dayak pedalaman yang paling tertinggal. Toh bertemu dengan sub-suku Dayak lainnya saja mereka jarang.
Mas Gunawan, kalau mas merinding saya juga waktu ketemu mereka hampir pingsan lho karena takut, ternyata mereka baik sekali sama saya, jadi apa yg dikatakan teman2 benar mereka suku yg ramah, sayang sekali kalau ada dari salah satu suku sahabat kita juga sampai membuat mereka marah dan murka, Damai Indonesia.
Nice to share, mas Agung.
Yup, Ot Siau itu memang cenderung pendiam, namun ramah. Cuma mereka sangat misterius, rada beda dengan sub-suku Dayak lainnya. Mas beruntung bisa ketemu mereka.
Btw, kalau soal Kalimantan Tengah, kita ada proyek di http://betang.com (coba mas kunjungi ya).
Makasih.
oi gun, ap kbr km? teman2 kampus nanya kbrmu loh, oia add fb ku, "smouldering faiz"
keep contact!
[...] PILIHAN: • KALTENG EXPO 2009 • Panglima Burung • cin(T)a the [...]
[...] PILIHAN: • Panglima Burung • KALTENG EXPO 2009 • cin(T)a the [...]
[...] PILIHAN: + cin(T)a the movie + Panglima Burung + KALTENG EXPO [...]
[...] PILIHAN: • cin(T)a the movie • Panglima Burung • KALTENG EXPO [...]
[...] ARTICLES: ~ cin(T)a the movie ~ Panglima Burung ~ KALTENG EXPO [...]
[...] PILIHAN ADMIN: • cin(T)a the movie • Panglima Burung • KALTENG EXPO [...]
[...] ARTICLES: • cin(T)a the movie • Panglima Burung • KALTENG EXPO [...]
menurut pendapat ayung kuh,,,panglima burung,puna tege,,tapi bahali manyupa,,,mun itah menggau,ah|(
[...] Catatan: artikel ini dirilis ulang dari blog pribadi saya, GunawanRudy.Com - Panglima Burung [...]
telat kali ya komen d sini

dah lama topiknya
klo soal rusuh sampit dulu aku stuju bahwa orang dayak dah bersabar sekian lama.
org madura dimana mana emang bikin rusuh. sombong dan mo menang sendiri
disini juga ada kejadian yg hampir sama dengan d sampit, tapi karna disini gk ada panglima burung, yg keluar panglima api. dibakar pemukiman maduranya.
terjadinya perang suku antara madura n kalimantan merupakan peristiwa yg seharusnya kt pelajari n kt kaji agar tdk terjadi lg, bg kt pemuda indonesia harus bs menyikapinya dng positif n kt ambil hikmahnya, tdk semua suku madura yg suka dng kekerasan...mereka jg cinta akan kedamaian.
beberapa peristiwa kerusuhan yg terjadi lndonesia "pasti" tdk lepas dr etnis madura,..
apakah mutlak etnis madura yg sll di salahkan??...kt jg harus "ingat" tidak semua warga dr etnis madura yg suka dng kekerasan,...bbrp kejadian di jakarta yg menyangkut suku madura harus di pertanyakan??..apakah murni n mutlak di dlmnya adalah kesalahan dr suku madura?? ataukah ada provokasi dr pihak lain?..bbrp kali dr kejadian ini aq n bbrp teman2 mencoba telusuri..n ternyata memang ada provokasi dr pihak lain yg ternyata bertujuan utk mencari keuntungan pribadi n organisasi semata...
ini 1 indikasi dr bbrp indikasi lainnya....
dng adanya share ini, harapan aq kedepan buat teman2 sekalian agar kt semakin "cerdas" n "positif" dlm menyikapi sgl hal yg bernuansa "kebencian antar etnis" yg bertujuan memporak porandakan persatuan n kesatun kt "bhineka tunggal ika"....
buat teman2, saudara2, n sahabat2 dr suku kalimantan n suku2 yg lainnya...mhn maaf apabila ada kesalahan kata n tdk berkenan di hati kalian...pribadi semata hanyalah orang bodoh yg harus banyak belajar dr saudara2q sekalian, thx 4 all...
aq LAODE (kelahiran madura) berasal dr etnis madura yg berdomisili di jakarta krn memang besar di jakarta, aq adalh individu yg cinta damai, slm knl buat semuanya...
"slm ramadhan bg saudara yg muslim n slm sejahtera bg saudara yg beragama lain"
"SALAM PERSATU UTK SAUDARA2Q SEKALIAN'...
PEACE & LOVE 4 ALL...
Salam jua, Bung Laode! d^b
Bersatulah Indonesiaku!!
kisah yg menarik.... sy tinggal di kalimantan br 7bln, sedikit byk dengar tentang panglima burung dengan kisahnya tragedi sampit, klo melihat video dan berbagai foto tragedi itu memang sangatlah ngeri, yg sy dengar sosok panglima burung adalah sosok manusia dayak yg di karuniai byk kelebihan, salah stunya adalah sosok tanpa mata tp pengelihatannya setajam ELANG 'itu pun kata tante sy yg asli org kutai'

apapun sosok nya dia adalah ciptaan TUHAN yg di beri kelebihan untuk membela kaum nya.
trim's.
Burung adalah makhluk yang paling dekat dengan langit dan matahari.Dalam Hindu burung Garuda adalah tunggangan Dewa Wisnu.Dewa Pemelihara dan termulya.Berbahagialah Masyarakat Dayak dengan Panglima Burungnya.Tarian dayak yang lemah gemulai seperti gerakan burung yang memukau.Hanya orang Vegetarian asli yang bisa disetarakan dengan Dewanya burung.Seperti para Yogi di India.Satu yang membuat saya sedih,mengapa masyarakat Borneo/Kalimantan tidak mampu menjaga orang Utan.Orang utan banyak yang diselundupkan dan diperdagangkan.Justru orang Eropah banyak tergerak hatinya melindungi binatang ini.Sedih sekali hati kita melihat orang Utan yang terlantar dari habitatnya.Jadi pemuas kenikmatanan lidah yang sesaat.Kecewa berat.Jadilah kita semua penyayang Hewan.
wah mantap nih !!!!
gw orang kalimantan, tapi bukan orang dayak
semoga tulisan ini bisa membuka mata orang2 indonesia yg berpikir bahwa orang dayak itu mengerikan.
dan semoga gw bisa cepat pulang ke kalimantan lagi juga !
Lestarikan budaya dayak dn jaga perdamaian antara suku d kalimantan barat...
ya, saia setuju sama yang dibicarakan. panglima burung to hanya simbol. saia orang dayak asli ja belom pernah liat toh. hehe,,,,,,,,,
salut dengan ceritanya....
saya saat ini berada dipontianak
saya ingin kenal dengan pangeran burung kalau memang dy berkenan.
Orang dayak itu ga seperti yg di bayangkan org2...
sangat jauh dari yg namanya kejam,sadis,beringas,dan semacamnya lah...
klo ga percaya datang aja ke Palangkaraya,Kalteng...
Kami orng2 dayak sangat ramah,sabar,dan mudah bergaul...
kekejaman dan keberingasan org dayak muncul karena ada oknum yg mengusik kesabaran mereka dan ingin mengusai kampung dayak...
saya sendiri orang dayak asli...
Thanks...
KARAKTER PANGLIMA BURUNG
SELALU SOPAN KALAU BERTEMU ORANG TUA
SELALU TERJAGA KALAU ADA YANG NANTANG
DAN JUGA TIDAK AKAN BERHENTI BERGOYANG KALAU BELUM KELAAR
waduh udah telat jauh......hehehe
salam kenal semuanya,saya putra dayak taman, kapuas hulu, kalbar.....
sebelumnya saya mw ucapkan terima kasih buat bang gunawan atas tulisannya yang menceritakan gambaran tentang orang dayak yang sebenarnya. tulisan ini cukup membantu kami para kaum muda dayak untuk menghilangkan semua citra buruk yg dituduhkan kepada orang dayak karena bagaimanapun tugas kami sebagai orang muda dayak adalah mengangkat kembali martabat dayak yang telah jatuh dan mengenalkan budaya dayak di mata dunia bahwa seperti inilah orang dayak yang sebenarnya (cerdas,ramah,bersahabat,putih,bersih,menjunjung tinggi adat istiadat dan norma2 yang berlaku) . memang benar budaya ngayau (berburu kepala) pernah ada di kehidupan orang dayak jaman dahulu,tetapi pada tahun 1894 sekitar bulan mei-juni,sekitar 800-1000 kepala suku dan pemuka adat dayak yang berasal dari perwakilan sub2 suku yang ada di seluruh kalimantan berkumpul di sebuah desa yang bernama Tumbang anoi (kalteng). pada saat itu para pemuka adat dan kepala2 suku menyepakati untuk tidak lagi mengayau dan membunuh,mereka menyelesaikan semua permusuhan mereka di tempat itu. kesepakatan ini pun dikenal dengan PERJANJIAN DAMAI TUMBANG ANOI. Dan sejak saat itulah budaya ngayau dihilangkan dari kehidupan orang dayak. tapi bagaimanapun sejarah tetap lah sejarah tidak bisa di lupakan. imets buruk pun dituduhkan kepada orang dayak bahwa dayak adalah keberingansan,kejahatan,pembunuhan dll.....
Makna dari Ngayau mempunyai arti turun berperang dalam rangka mempertahankan status kekuasaan misalnya mempertahankan atau memperluas daerah kekuasaan yang dibuktikan banyaknya kepala musuh. Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh semakin kuat/perkaya orang yang bersangkutan.
untuk panglima burung sebenarnya sosok yang ramah,baik,tidak suka pamer kekuatan. dia adalah leluhur orang dayak,yang menjaga orang dayak dari bahaya. tidak banyak orang yang bisa bertemu dengan beliu kecuali orang2 tertentu yang sudah berhubungan dengan beliau. konon katanya beliau sedang berrtapa di gunung,hidup abadi,bisa menghilang,dan bisa datang dalam waktu sekejap mata. mungkin hanya itu saja yang saya ketahui tentang panglima burung. hehehee....
ooo....iyaa lupa 1 lg nehh...untuk kasus kerusuhan di sanggau ledo (sambas)dan sampit beberapa tahun yang lalu,penyebab terjadinya kerusuhan bukan karena faktor ekonomi dan kecemburuan sosial tetapi karena "bumi di pijak tetapi langit tidak dijunjung". dari situlah kesabaran orang dayak berubah mnjadi keberingasan.
perlu diketahui teman2juga juga bahwa pada saat terjadi pertikaian di sambas dan sampit, orang dayak tidak pernah merusak rumah ibadah bahkan membunuh musuhnya di tempat ibadah,musuh ditunggu sampai keluar baru di bunuh. orang dayak juga tidak pernah salah sasaran karena pada saat perang orang dayak telah dirasuki roh2 para leluhurnya dan bisa mencium bau khas musuh dengan jarak 200 meter (ini memang tidak masuk di akal tp inilah kenyataanya),pada saat perang itu juga orang dayak dilarang menjarah harta milik musuh karena itu lah sumpah adatnya pada saat ritual sebelum berangkat perang. jika pun ada yang menjarah,orang dayak itu akan segera mati di bunuh musuhnya karena telah melanggar sumpah adat.
mungkin cukup ini saja cerita2 saya,saya orang yang tidak suka perang karena perang hanya menimbulkan kerugian besar. buat saudara2 saya etnis madura,sebenarnya mereka tidak semuanya jahat karena pada saat kerusuhan dulu banyak juga madura yang orang tua saya selamatkan bahkan mengungsi dan dijaga oleh orang dayak. kerusuhan itu terjadi karena ulah2 orang2 madura tertentu yang tidak bertanggung jawab,dan seenaknya. tapi tidak semua orang madura begitu.
sebagai penutup saya tuliskan pepatah dayak untuk mengakhiri cerita saya.
"KETIKA DI TEPI SUNGAI KAMI DIGANGGU,KAMI LARI KE DARAT. KETIKA DI DARAT KAMI DIGANGGU,KAMI LARI KE BUKIT. KETIKA DI BUKIT KAMI DIGANGGU,KAMI LARI KE GUNUNG. KETIKA DI GUNUNG KAMI DIGANGGU,KAMI LARI KE TEPI JURANG. DAN KETIKA DI TEPI JURANG KAMI MASIH JUGA DI GANGGU,MAKA KAMI AKAN MELAWAN....!!!"
ADIL KA' TALINO, BASENGAT KA' JUBATA, BA'CURAMIN DIRI' KA' SARUGA.....
JUBATA BLESS YOU......
Pastinya, insyaallah ga ada yg perfect ant 2 pihak itu baik dayak/madura. Jadi timbulah konflix. Yg perfect cm Tuhan (allah/for me). Jadi ke tdk perfect an memang pasti ada sbg ujian utk jadi perfect. Bgm Mas Goen?
jempol kuadrat for this..
hahaha3x
slam nak indonesia, mslah smpit tu mula ny prklhian d club mlam(stau q) antara dayak knyah sma orang madura. mlam itu smua rang dayak brkumpul tpat ny d rumah sakit dirgahayu... orang knyah tu rang knyah dri smpid. d stu lah awal mula ny perang smpid... mslah pnglima brung tu q krang twu.. tpi msalah ad parang yg trbang tu memang ada, sbnarny itu msih mnusia yg buat tpi mrka , yg buat itu memang sdah b ilmu( atau d sbut ngaji/ btmpa") skian dlu....
wah ini penulis nih ga bener,,,,
yang seharusnya di benci itu bukan manusianya tetapi perbuatannya..,
coz..kalau membenci manusianya maka sama aja kita membenci yang menciptakan,apabila kita menghina ciptaannya maka sama aja kita menhina Allah,,,
coz q pikir u orang terpelajar @gunawan
tahu donk apa itu manajemen isu,manajemen konflik,manajemen solving,but q harap u bisa mengerti,,,
ingat gun orang merasa dekat dengan tuhan maka sesungguhnya dia sangat jauh dari tuhannya,,,
but di dunia ga ada kekuasaan mutlak,,,but sebelum orang dayak ada di kalimantan tuan rumahnya cp gun..?apa orang dayak menerapkan falasafah dimana bumi di pijak di situ langit di junjung gun?u salah gun kalau menerapkan dalil ini untuk menghakimi orang lain..
coz dalil ini khusus untuk pendatang gun..?untuk tuan rumah tu ada dalil tersendiri,,,coz di dalam kitab injil dan alqur'an,hindu ada gun,,,
coz tak kasih contoh :
kata sahabat nabi sayyidina ali:"barang siapa yang mengajar aku satu huruf aku rela kalau akau di jual danjadikan budak"..but ini gun bukan dalilnya guru tp murid supaya mereka mengagungkan guru..
untuk guru gun ada tersendiri"menghormati orang yang datang untuk belajar kebaikan adalah sama dengan menghormati tuhan"..but ini bukan dalil untuk murid...kalau ni di pakai untuk murid gun kacau jadinya malah tidak menhormati guru jadinya.///
tau akh gelap......peace!
ada panglima darat gak wkwkwkwkwkwk
btw,mas orang banjar kalsel,apa bukan?
Peace........
madura di Kalimantan Tengah,
bugis di Kalimantan Timur,
apakah ni pendatang selalu bikin masalah
atau apa ya.,..
klo di kota lain gimana dengan 2 pendatang tersebut
Setahu saya yg namanya suku pedalaman sangat kental dengan kearifan tradisionalnya, sangat bersahabat dg alam dan lingkungan sekitar yg menghidupi mereka, bijak dalam bersikap dan bertindak. Kepada alam sekitar yg menghidupinya saja bijak dan bersahabat apalagi kepada sesama manusia. Perkara kemudian menjadi demikian nggregirisi tentu ada spleteran yg telah melewati batas demarkasi kesabaran mereka, semua orang tentu akan demikian. Btw thx bung untuk artikel ini, pencerahan baru bagi saya pribadi tentang kabar sang panglima burung...
goenawan end ikau nah uluh dayak????
Hehehe..
PANGLIMAKU PANGLIMA NYA ORANG-ORANG KALIMANTAN, PETUO-PETUO SUKU DAYAK DAN PASER. BELIAU ORANG SUCI YANG MENDIAMI SEBUAH GUA DIUTARA KALIMANTAN.
PANGLIMA BURUNG ADALAH ORANG SUCI. BELIAU MENDIAMI SEBUAH GUA DIUTARA, BELIAU ADALAH PETUO-PETUO SUKU2 ASLI KALIMANTAN..!! RAJA DARI RAJA NYA ORANG PESER DAN DAYAK..!! BELIAU TIDAK BISA DIKATA-KATAKAN,,!!!! SAYA BICARA SEPERTI INI KARENA SAYA MEMPUNYAI PENGALAMAN SPIRITUAL DENGAN BELIAU MELALUI AYAHANDA SAYA..!! SAYA KETURUNAN PANGLIMANYA ORANG PASER.!!
saya berdarah campuran Banjar dan padang,saya lahir di Banjarmasin tetapi saya lebih banyak besar dan berdomisili di Jawa,sekarang saya berdomisili di Makassar,saya sangat mencintai Kalimantan dari semua etnis asli kalimantan,entah itu Dayak,Banjar,Melayu,Kutai dan lain-lain.Saya tetap merasa putra Kalimantan,mengenai beberapa kerusuhan etnis yg terjadi di Kalimantan seperti di Sambas,sampit dan terakhir Tarakan merupakan pelajaran yg berharga bagi suku2 pendatang. Saya pelajari dimana kebiasaan suku-suku pendatang tertentu yg jumlahnya mayoritas mendiami suatu wilayah akan berlaku sewenang-wenang terhadap suku asli yg minoeritas di wilayah tersebut.Suku Dayak dan kebanyakan suku-suku asli kalimantan lainnya adalah suatu bangsa yg mengalah dalam arti tdk mau mencari ribut/masalah,mereka cenderung utk menyingkir dari permasalahan tersebut itulah yg mengakibatkan akhirnya suku-suku asli tersebut diremehkan oleh suku-suku pendatang,sebagai contoh sebelum peristiwa sampit meletus th.2001,Sampit akan diganti menjadi sampang kedua (salah satu kabupaten di Madura) dan tentu tdk sesederhana itu permasalahan yg mengakibatkan kerusuhan etnis akan tetapi sdh ada akar permasalah sebelumnya yg banyak menumpuk,kebiasaan lainnya adalah membunuh,menganiaya,merampok bahkan menjarah atau merusak hak-hak adat suku asli,selain itu tdk tanggapkan aparat keamanan setempat akibat adanya budaya "suap" sehinggabbrp kasus tdk ditindaklanjuti yg mengakibatkan kerugian pada pihak suku asli.Kasus Tarakan tidak jauh berbeda dgn kasus Sambas dan Sampit namun dilakukan oleh suku Bugis,kebetulan suku mayoritas yg mendiami wilayah Tarakan,KalTim,akhirnya murka telah datang,puluhan ribu sukupendatang mengunsi,terjadi eksodus besar2an persis dgn kejadian Sambas dan Sampit.Seharusnya mereka itu banyak belajar dari kejadian2 sebelumnya seperti Sambas dan Sampit tetapi masyarakat Bugis dgn tabiat "sombong" (rewa dalam bahasa bugis artinya sok pemberani/jagoan) datang ke rumah orang lain dgn menantang dan meremehkan suku asli,hingga akibatnya meletuslah peristiwa Tarakan berdarah dgn korban 4 dari Bugis dan 1 dari Dayak itupun tewas krn dikeroyok oleh suku Bugis krn sebetulnya Almarhum hanya ingin menyelesaikan secara damai tapi justru dibalas dgn tusukan badik (senjata khas bugis-makassar).Panlah kalau akhirnya semua suku Dayak turun tangan dan terjadi penghukuman yg tdk semestinya tapi bagaimananpun juga saya tdk bisa menyalahkan tindakan yg dilakukan oleh suku asli kalimantan krn bagaimanapun juga harga diri mereka sudah diinjak-injak oleh kaum pendatang khususnya Bugis.Saya kira cukuplah kejadian Tarakan yg hampir menjadi Sampit ke II,semoga pelajaran kemarin sangat berharga bagi kaum pendatang,jgnlah kamu menjadi jagoan di daerah lain krn sesungguhnya tiada lain lebih hebat darimu kecuali TUHAN..ingat DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT" tdk ada yg paling hebat di dunia ini tetapi bagi kaum pendatang agar menyadari bhw mereka hanyalah tamu yg menumpang hidup di tanah perantauan utk sekedar mencari atau memperbaiki kehidupan...TAHU DIRILAH kepada suku asli Kalimantan....
actually,the tribe of dayak is not aggresive.their become such violent because too pressured by those reckless race.no wonder it happen.i know because i'm also a chinese mixed with lun bawang and lun bawang is a tribe in lawas,sarawak which a part of dayak kalimantan too.
lun dayak ba tagap.nah kira rot kalimantan,indonesia ataupun sarawak,malaysia.mung-mung tagap.aleg tau metaut duah abai luk ba sidoh.tau ba tagap.
Orang "KALIMANTAN" adalah orang suka "DAMAI". Intinnya"DIMANA BUMI DI PIJAK DISITU LANGIT DI JUNJUNG". Saya sendiri orang dari Suku Banjar. Siapa pun orangnya, kalau kita jadi tamu d rumah sendiri dan d hina pasti akan marah.Kami orang kalimantan sangat terbuka dengan pendatang. Malah orang2 pendatang lah yang merusak "BUMI KALIMANTAN" dengan ketamakan mereka.Kekayaan alam kami d ekplorasi habis2an. Sebagai contoh, kami kaya dengan sumber alam Batu Bara. Tapi kenapa d daerah kami tidak (hampir tidak ada)ada Pembangkit Listrik berbahan batu bara.Listrik sering padam/ pemadaman bergilir, tapi kami tidak mengeluh. Yang menikmati kekayaan alam kami adalah orang2 d pulai "JAWA". Setiap ada pemadaman bergilir/mati lampu d pulau jawa, mereka ribut kesana kemari dengan dalih bisnis mereka merugi. Tapi, "Bumi Kalimantan" kami rusak pun "mereka" berdiam saja, tutup telinga seolah tidak terjadi apa2.
Apa yang kami dapat dengan adanya para Perusahaan2 Pertambangan( KPC, Bumi Resources, Adaro dsb)yang mengekplorasi kekayaan kami?????
Pemerintah pun seakan tutup mata dan telinga,....
Seharusnya kami kami orang kalimantan hidup sejahtera dengan kekayaan alam yang berlimpah. Kita sebagai generasi muda orang kalimantan harus bisa membawa kalimantan lebih maju dan sejahtera, jangan berharap dengan pemerintah apa lagi mengemis.
Saya harap Bumi Kalimantan akan lebih baik, damai, tentram, sejahtera dsb. Kita harus jaga Bumi Kalimantan dari orang2 dan tangan yang tidak bertanggung jawab. Apa pun latar belakang kita, baik yang dari Kalimantan Barat, Tengan, Selatan, Kalimantan Timur, maupun Sabah, Serawak dan Brunai, Kita adalah satu yaitu orang Kalimantan dan kita wajib menjaga Bumi Kalimantan....
Kalau bukan "Kita" sendiri yang menjaga Bumi Kalimantan, siapa lagi?????
terima kasih postingannya ya..
salam kenal...
kunjungi juga blog saya fakultas teknik unand
Dear Gunawan Rudy,
saya sangat terkesan membaca tulisan Anda tentang orang Dayak di blog ini. Terima kasih sudah berbagi. Saya menyukai tulisan-tulisan Anda. :-) Salam hangat dari Aceh.-Linda Christanty
artikelnya menarik..