Hello world! I'm Gunawan Rudy.

Goen, Rudy, Koh — you name it. Ordinary Homo sapiens, indolent blogger, webdesigner-wannabe.
Broadcasting to [...] watcher live from Djogjakarta, Indonesia, 7°45'58"S and 110°23'4"E.

@gunawanrudy: jari telunjuk kiri teriris. lutut kanan berdarah parah. kalau kalap harap jauhkan diri dari pisau... untung saya masih hidup.

Natal Indonesia: Sebuah Ritus Angan-Angan

Gunawan Rudy // Blog // Friday, December 25th, 2009 at 2:25 am // 14 comments

Sembilan tahun yang lalu teror menghantui malam Natal di Indonesia. Sejumlah bom di beberapa gereja meledak hampir berbarengan, belasan orang terbunuh pada malam kudus tersebut. Perayaan Natal yang seharusnya disambut dengan suka cita dan penuh khidmat menjadi ketakukan dan masih menyisakan rasa trauma di tahun-tahun setelahnya.

Itu hanya sekelumit mimpi buruk mengenai tragedi Natal di negeri ini. Kini perasaan was-was orang sudah berangsur tenang setelah beberapa tahun terakhir tidak ada kejadian serupa yang terjadi. Natal kembali disambut dengan suka cita. Di rumah bersama keluarga, pertemuan besar famili dan sanak saudara, misa dan kebaktian di gereja, hingga perayaan Natal pelajar dan mahasiswa.

Oh malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlapan di atas padang Efrata.
Angkatlah kepalamu. Trimalah Sabda Tuhanmu. Malam inilah sudah lahir, Kristus juru s’lamatmu.
Malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlap. T’lah terdengar suara bawa kabar senang.
Yesus Juru S’lamat datang di Bethlehem. Yesus Juru S’lamat datang di Bethehem.

Natal yang penuh sukacita tersebut selalu terkait dengan sejumlah tradisi, seperti rutinitas lagu-lagu Natal, cerita Natal yang menyentuh hati, hadiah dan kue Natal, kegiatan-kegiatan di gereja, pohon cemara, asosiasi salju, hingga Sinterklaas. Dan itu tak terkecuali di Indonesia.

Tradisi tersebut tak hanya sekadar tradisi, namun ada ritus tertentu yang saya lihat dari tradisi Natal di Indonesia. Sebuah ritus yang terutama sekali mempengaruhi pola pikir anak-anak dalam melihat dunia dan kehidupan.

Pada tahun 1960-an James L. Peacock pernah mengatakan bahwa ludruk adalah sebuah ritus modernisasi pada masyarakat Jawa. Tanpa disadari ludruk mulai membawa pesan-pesan seperti urbanisasi. Lakon ludruk tak lagi mementaskan latar pedesaan yang homogen, namun sudah menjadi latar perkotaan dengan banyak orang dari kebudayaan yang berbeda-beda. Tanpa disadari oleh pemainnya, mereka telah membawa pengaruh modernisasi terhadap masyarakat Jawa yang gemar menonton ludruk. Tanpa disadari oleh para penonton, mereka mulai mengenal hal-hal yang berbau modern dari ludruk. Itulah yang ditafsirkan secara hermeneutik oleh Peacock terhadap sebuah pertunjukan bernama ludruk di Jawa Timur.

Maka Natal bisa jadi merupakan sebuah ritus jua. Bukan ritus modernisasi, tapi –menggunakan bahasa saya– merupakan ritus angan-angan, sebuah ritus yang menawarkan mimpi terutama pada anak-anak. Tradisi tentang salju dan pohon cemara, serta Sinterklaas dan kereta rusa kutubnya secara tidak langsung menawarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang konkritnya tidak ada di Indonesia pada anak-anak. Imajinasi dan fantasi anak-anak mengenai White Christmas dengan salju yang turun dan menutupi pohon cemara sembari menghangatkan diri di depan perapian, menggantungkan kaus kaki menanti hadiah dari Sinterklaas, akan menghiasi masa kecilnya. Lebih lanjut, angan-angannya tentang Eropa dan negara-negara di belahan utara menjadi lebih berkembang, serta makin memperkaya imajinasinya.

Tak hanya sampai di situ, imajinasi yang tertanam semenjak kecil itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk menapakkan kaki di tempat yang memiliki musim dingin dan hujan salju akan lahir. Tentu saja karena hal tersebut tidak ditemukan di Indonesia. Pada saat seperti ini Natal menjadi sebuah ritus angan-angan yang mempengaruhi imajinasi dan cita-cita anak di Indonesia.

I’d miilad said oua sana saida! Selamat Natal bagi yang merayakan!

* foto oleh D’Arcy Norman – www.flickr.com/photos/dnorman

Labels: , , , , , , , ,


Facebook // Delicious // Digg // Technorati // Stumble // LintasBerita // Plurk // Twitter


14 Responses

  1. #1 gunawanrudy Friday, December 25th, 2009 at 2:30 From NETHERLANDS via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    Nulis sambil ngantuk... Ala kadarnya karena diselesaikan dalam beberapa menit. Zzzz...

    Eh, kok jadinya malah "lembut", nggak "nyindir" kayak tulisan di blog yang satu lagi.

  2. #2 jensen99 Friday, December 25th, 2009 at 3:08 From INDONESIA via Google Chrome Google Chrome 3.0.195.38 on Windows Windows XP

    Tradisi Natal disini bisa jadi malah traumatis tuk sebagian anak2, karena konvoi Sinterklaas yang mengunjungi pemukiman, selalu ditemani oleh serombongan Zwarte Piet menyeramkan yang mengejar-ngejar dan menangkapi anak2. :|

  3. #3 christin Friday, December 25th, 2009 at 3:10 From NETHERLANDS via Google Chrome Google Chrome 3.0.195.38 on Windows Windows XP

    White christmas sudah luntur dari imajinasiku sejak pertama kali ber-white christmas disini. Salju biarlah tetap jadi salju di luar rumah, pohon cemara biarlah berkelap-kelip sendiri di sudut ruang tamu, dan aku melanjutkan tradisi natalku yang baru : cognac, kaos kaki hangat, dan setumpuk DVD.

    Selamat natal, gun!

  4. #4 Amd Friday, December 25th, 2009 at 10:54 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.6 on Windows Windows XP

    Jadi teringat sebuah tulisan yang saya baca dulu saat awal-awal ngeblog, "How Google Earth killed Santa"

  5. #5 Ina Friday, December 25th, 2009 at 15:13 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5 on Windows Windows XP

    angan-angan pengen ketemu sinterklaas hrs pupus sejak beranjak remaja.

    Met Natal, gun. :)

  6. #6 gunawanrudy Friday, December 25th, 2009 at 18:09 From NETHERLANDS via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    @ jensen99:
    Mengerikan. Kenapa bisa sampai begitu? :|

    @ christin:
    Hahahaa... Ya, imajinasi itu akan slelau luntur ketika dewasa, atau ketika kita mendapatinya. Tradisi Natal aku di sini cuma satu: melapar di kamar kost. :D

    @ Amd:
    Anak-anak sekarang jadi cepat dewasa. :))

    @ Ina:
    Woot!? Jadi dulu pas kecil percaya kalau Sinterklaas itu nyata!? :o

  7. #7 gitablu Friday, December 25th, 2009 at 19:17 From AUSTRALIA via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    sampai skrng, saya msh mau merasakan apa itu 'white christmas' Natal dengan salju putih, dan merasakan hangatnya api dari tungku perapian, sambil makan kue2 natal. Ah, itu imajinasi saya.

    tp melihat pada kenyataan, natal saya jauhhh sekali dari itu. Tapi, jika saya mengingat 'imajinasi' saya itu, saya jd terlena dan lupa dengan makna natal yg sebetulnya. Jujur, kotbah pastor pas malam natal kemarin menyentil saya juga. Natal bukan cuma soal pohon natal, hiasan natal, salju, santa clause, hadiah, kue2 natal, tp lebih dari pada itu.

    eniwei, selamat natal.

  8. #8 didut Friday, December 25th, 2009 at 20:33 From INDONESIA via Google Chrome Google Chrome 3.0.195.38 on Windows Windows XP

    sejak kecil hari natal berjalan apa adanya..hingga sekarang ... hanya misa bersama yg membuat hari natal itu spesial :)

  9. #9 Alfaro Lamablawa Sunday, December 27th, 2009 at 21:57 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.6 on Windows Windows XP

    harus punya tema natal sendiri...wah wah wah..kalo bertahun-tahun hanya melihat natal sebagai perayaan saja sungguh mengecewakan bukan?

  10. #10 gunawanrudy Monday, December 28th, 2009 at 1:17 From NETHERLANDS via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    @ gitablu:
    Hayo berjuang mengais receh demi merasakan white xmas itu. Hahahaaa... :D

    @ didut:
    Dari kecil, kang? Wah indahnya...

    @ Alfaro Lamablawa:
    Saya rasa, ketika kanak-kanak melihat Natal hanya sebagai perayaan itu lumrah dan mengasyikkan. Seperti sebuah permainan. Tapi ketika beranjak dewasa --atau saat remaja, ABG, sudut pandang "perayaan" itu tentu akan membosankan.

  11. #11 venus Monday, December 28th, 2009 at 20:59 From INDONESIA via Safari Safari 525.27.1 on Mac OS Mac OS X

    kamu natalan gak sih? hehehe...

    merry christmas n happy new year, gun! :D

  12. #12 ??????? Friday, January 1st, 2010 at 10:49 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Mac OS Mac OS X

    Hehehe, diawali oleh bom. Classic.

  13. #13 lingkungan kita Sunday, January 3rd, 2010 at 11:54 From SINGAPORE via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.6 on Windows Windows XP

    selamat natal dan tahun baru buat sahabat2 yang merayakan...

  14. #14 gunawanrudy Sunday, January 3rd, 2010 at 21:17 From NETHERLANDS via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    @ venus:
    Natalan nggak Natalan, yang penting diucapken sahaja. Thanks, mbok! :D

    @ ???????:
    Klasik itu kadang indah... tapi, ahsudahlah.

    @ lingkungan kita:
    Selamat Natal dan Tahun Baru juga jika njenengan merayakan. :)

Leave Your Response

Your email is never published nor shared. Make sure you enter the * required information where indicated.
Comments are not moderated, but note that "pertamax" word and its variants will be held in moderation queue.
This is a Gravatar-enabled weblog. And you can add Yahoo! Messenger emoticons to your comment.