Selama itu tidak menganggu, tidak merugikan…
Acuh tak acuh.
…
…
…
Tidak…
Tidak!
Bukan itu yang kita perlukan, wahai saudara-saudari sekalian!
Yang kita perlukan adalah ketika ideologi kita menang!
Jadi persetan dengan yang namanya pendapat orang lain.
Jika pendapat orang lain itu menyinggung kita, lebih-lebih harga diri kita, apa salahnya kita melakukan perlawanan.
Bukankah ini wajar!?
Apapun yang diperjuangkan orang lain, meskipun itu tidak merugikan kita, jika sudah menyinggung kita, harga diri kita, atau pekerjaan kita, hobi kita, kesenangan, kita atau apapun lah itu namanya, tetap harus dilawan!
Hanya satu kata, LAWAN!
Kita tidak sedang melawan penguasa yang mengekang kita, kita sedang melawan ideologi lain yang menyingung harga diri kita!
Sadarkah kita kalau pendapat orang lain itu salah dan kita yang benar?
Jika sadar, tunggu apa lagi kawan?
Berjuanglah dan lawan!
…
…
…
Tapi, bukankah selama pihak-pihak yang terlibat dialog tetap memandang dari sudut pandang yang berbeda dan kukuh pada sudut pandang masing-masing, itu tidak akan ada habis-habisnya?
…
…
…
Maka dari itu, saudara-saudari sekalian!
Bumi hanguskan saja ideologi lawan kita!
Percuma menyamakan sudut pandang!
Sudut pandang mereka itu terlalu picik dan mereka tetap saja ngotot mempertahankan sudut pandang kolot mereka.
Yang kita perlukan itu adalah sudut pandang kita yang memang benar adanya, tidak kolot seperti mereka!
Untuk apa kita repot-repot menyamakan sudut pandang, karena memang sudut pandang kita yang paling sesuai, bukan?
…
…
…
Ya, yaaa… Saya sadar kita semua memang mendambakan sebuah utopia.
Itu saja.

ingin rasanya bermeditasi lagi seperti waktu dulu
Labels: belief, culture, cyberworld, dialogue, economy, history, indonesia, monologue, philosophy, politic, social, struggle, war

















Maaf, PERTAMAX habis.
Keduax juga gpp. Menyinggung kebiasaan keras dalam mendukung pendapat sendiri? :?
YEAH LAWAN ! *bawa bambu runcing*
eh ? :?
Maka dari itu, sentimen yang melihat objek lain dari kacamata sebelah kiri saja yang seringnya menimbulkan generalisasi yang negatif, IMO.
wow...
apakabar dengan demokrasi kalo begini ?
atau kita lari ke
Nietzehutan, lalu kemachivelipantai ..mikir2,..sambil jalan pulang...
@ Xaliber von Reginhild [1]: Entah ya... :lol:
@ Zazi: *tusuk zazi pake bambu runcing*
@ Xaliber von Reginhild [2]: Yah, lama kelamaan memang bukan pendapatnya yang dilihat, tapi orangnya... :mrgreen:
@ kapucino: Demokrasi apa itu? Haram kan itu? :lol:
Wakakakakaakkaak. Itu Gun-gun yang lagi bertapa yach...Jadi kurus, kaciiian deh.
Provokasi kecil nih dari Gun-gun,hehhehe
Gun yang perlu kita lawan itu diri kita sendiri, lho, gimana? Setuju ga? Ketika kita mau marah, kesal, kita lawan diri kita untuk tidak marah, tidak kesal, hehehhehe. Ketika lihat wanita cantikk dan seksi, mata kita tidak jelalatan bisa ga ya? hihihihi...
Jadi persetan dengan yang namanya pendapat orang lain.
Waduh, yang ini saya tidak setuju. Pendapat orang lain meskipun membuat kita kehilangan harga diri, masih perlu kita kaji ulang dan renungi kembali. Siapa tahu mereka benar dan kita yang salah. Wek!!!!
kejam *nangis bombay*
Ini mau demo yah?
Amithabaa!!!!
Damailah semua makhluk di bumi...
Wah, perang nih... *siapkan handgun P230SL*
saya sadar kalo saya salah...
*tertunduk lesu*
Errrr, bukankah ini yang namanya memaksakan kehendak??
Bener tak??
@goop:
Saya rasa begitu... *baca ulang*
Ndak Isa !!!
Ndak isa begetoo....!!!
Paling pas adalah:
JALANKAN SUDUT PANDANG KITA MASING_MASING !!!
@ Hanna [1]: Lha mahasiswa kan emang kurus... :lol:
@ Hanna [2]: Ahahaaaa... Nah itu dia~ Ini cuma sedikit doalog (atau monolog ya?) satir. Xixixiii...
@ Hanna [3]: Tapi bagi yang ngotot merasa udah benar ya, susah nih...
@ Zazi: :mrgreen:
@ Praditya: Dialog warung kopi, mas. :mrgreen:
@ Hanna [4]: Amitabha... Sadhu... Sadhu... Sadhu...
@ Cynanthia [1]: Saya melakukan otokritik kok. :mrgreen:
@ caplang™: Saya juga salah...
@ goop: Hihihiii.. Kayaknya sih. :lol:
@ Cynanthia [2]: Silahkan baca ulang.
@ mbelgedez: Yeah, asal sudut pandang itu nggak sengaja dibenturkan. :mrgreen:
*hidup sudut pandang*
benar salah itu relatif, berisi adalah kosong... kosong adalah berisi... dunia itu illusi...
@ qzink666: Mari kita ke Ujung Pandang (??) :mrgreen:
@ CY: Ah, filsafat... Mau cari kebenaran mutlak? Di manakah itu? :roll:
@rozenesia:
Mari kita tanyakan kepada
rumput yang bergoyangahlinya.Rozenesia lagi keraksukan "Petinggi Agama"...
Dirinya sedang membayangkan bahwa di hadapannya tengah duduk para murid, simpatisan dan pengikut setia ajarannya. Doktrin harga mati sedang ia cekokkan ke dalam kepala manusia-manusia di hadapannya. Ia ajarkan Kepada mereka bagaimana cara mendapatkan kebenaran dan kemenangan:
"DENGARKAN AKU DAN MEREKA YANG MENGIKUTI AKU, JANGAN SEKALI-KALI ENGKAU BUKA TELINGAMU UNTUK MENDENGAR SESUATU YANG TIDAK SEJALAN DENGANKU WALAUPUN HANYA SATU HURUF! INGAT, KEBENARAN ITU HANYA SATU, TIDAK BERBAGI DAN TERPECAH. DAN KEBENARAN ITU HANYA BERSEMAYAM DALAM SETIAP AJARANKU! JIKA ADA YANG BERSINGGUNGAN DENGAN AJARANKU, MAKA BERIKANLAH NASIHAT DENGAN KERAS KEPADA MEREKA, JIKA MEREKA TETAP TIDAK MAU; BUNUH SAJA, NISTAKAN SAJA, JANGAN MENGANGGAP LAGI MEREKA SEBAGAI MANUSIA, KARENA MEREKA TIDAK LEBIH DARI HEWAN YANG TIDAK MEMPUNYAI AKAL".
*ngeloyor ke dapur cari air es*
@ Cynanthia: Sayangnya di dunia ini ada buanyaaakk sekali ahlinya dan yang mengaku ahlinya. :mrgreen:
@ Ram-Ram Muhammad: Kerasukan? Ah, tidak juga. :mrgreen:
Di sini saya secara ga sadar melancarkan kritik dan otokritik sekaligus.
Ah, jadi entah pihak mana yang saya gambarkan ke dalam dialog (atau monolog?) ini... semuanya bias... relatif...
*stress, minum air es*
katanya tewas
*Pokoknya saya ndak mau dialog... saya mau monolog saja...
(*nonton monolog sarimin dimana ya??
)
Ada benarnya juga..
Tapi bayangkanlah ini..
...seorang tokoh yang cukup berpengaruh dalam suatu komunitas masyarakat menyampaikan atau mempublikasikan sesuatu hal dan dalam isi pembicaraannya terdapat hal-hal yang sangat tidak sesuai dengan ideologi yang kita miliki. Meskipun tidak sesuai dengan kita, pendapatnya tersebut disetujui oleh mayoritas atau sebagian besar orang.
Dan kita tidak memiliki kesempatan atau lebih tepatnya tidak memiliki dukungan yang cukup untuk melawan ideologi tokoh tersebut..
Kira-kira bagaimana?
wah.. sepeerti nya anda cocok menjadi seorang diktator
. ..
jualan diktat buat beli motor
@ dobelden: Bangkit nih.
@ StreetPunk: Intinya kita memang mendambakan sebuah utopia.
Yang jadi bahan untuk dipikirkan sampai stress adalah bagaimana ideologi kita dipakai, tapi bagaimana ideologi nggak hanya dipakai "menang" saja namun juga bagaimana ideologi itu berarti dan bermjanfaat. Kalau hanya dipakai tapi tidak bermanfaat, buat apa...? Manusia bisa menilainya.
Lagipula yang saya pendapat/gerakan di sini adalah ideologi yang ga mengganggu kepentingan umum, tapi dilawan dan ditanggapi secara berlebihan, makanya jadi misuh... Padahal kalau diuekin kan habis perkara, karena pendapat/gerakan itu ga ngefek apa-apa sama kondisi dan situasi di masyarakat.
@ Funkshit: Saya yang mana? Saya yang kesurupan diktator atau yang kesurupan pluralis?
Lha udah punya motor gini... :lol:
NIce pict!
Siapa lawannya?
*Stand by dalam GN 002 Gundam Dynames*
@ Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji: malah pictnya... ^^;
Lawannya? Entah, relatif..mas
isi entry kali ini mengajak kita untuk melawan ideologi yang menyinggung harga diri, hobi, atau apapun.
Untuk itu memang kita membutuhkan utopia, benar.
Pertanyaan awal saya pun sudah ditanggapi
Nah, ada lagi sebuah analogi praktis: misalnya pemerintah membuat suatu peraturan. Bagi kalangan tertentu, hal tersebut oke-oke saja, tapi bagi rakyat bawah, peraturan itu membuat hidup mereka sengsara. Dengan kata lain, ideologinya tidak bersifat menyeluruh, dan kurang mengutamakan kepentingan umum.
Solusinya?
@ StreetPunk:
Lha? Ini satir.
Sengaja melepas entry di kala stress akibat konlik blogsphere.
(buka kartu, ini menyoal Doraemon dan pihak yang bertikai di sana, lho)
Hahahaaaa... Ini yang ngefek sama orang banyak, baru ini bisa ditanggapi. Tapi menanggapi itu ada banyak cara, dan nggak semua cara itu 'benar' mutlak.
Lagipula, saya nggak bisa memberikan solusi terbaik karena ini relatif, mas. Ada yang bilang solusinya demo, ada yang bilang solusinya belajar lalu ntar masuk pemerintahan, ada yang bilang solusinya gini... Intinya ya solusi-solusi yang ada itu akan mungkin bisa berkolaborasi, atau malah bertabrakan.
Oo..Doraemon toh..
Kapan-kapanlah kita diskusikan..
Menyoal pemerintah dan aturan main tadi, gini.
Tulisan satir kali ini bertujuan untuk membangkitkan semangat, untuk melawan, untuk menentang ideologi yang sangat tidak sesuai sebagaimana yang telah dibahas di atas.
Dampaknya, sebagian pembaca justru menuduh anda sebagai tokoh provokator.
Lain hal kalau tulisan yang telah dibuat tadi disertai dengan solusi.
Jadi, ada masalah, ada penyelesaian.
Yang saya maksudkan sebagai solusi adalah ide-ide revolusioner atau gagasan-gagasan yang mungkin saja tak terpikirkan oleh siapapun. Sehingga tercipta suatu perubahan ke arah yang lebih baik, bukan hanya semakin memperuncing masalah.
* meneguk teh yang dari tadi tak terminum *
## Doraemon on Desember 23, 2007, said:
Hei! Hei!
Kenapa kalian tidak bosan-bosannya mengatakan bahwa aku sesat..
* kembali ke mesin waktu *
Argumen demi argumen mengalir dengan deras-nya, tapi satu yang harus kita sesali tidak ada satu-pun tindakan nyata
yahh bacanya bingung! be gentel please for those who can read your mind!
*mode blogwalking*
karena itu saudara-saudara sekalian....!!
:twisted:
*ditimpuk hape*
Jadi ingat Wiji Thukul yang sekarang entah gimana nasibnya.
*Hanya satu kata: "Lawan!""
Dunia blogosphere kok kayaknya akan terus membara, yak!
*Siap2 tiarap ajah!*
ehm..ada yang harus dilurusin d filsafat.
1. Siapa pencipta kita?
2. Suatu penciptaan pasti ada tujuan, tujuan kita apa diciptakan?
3. Kehidupan setelah mati, apa yang harus disiapkan?
SAYA RASA INI BARU SEBUAH PROLOG SAJA
Perbedaan pendapat itu fitrah, cuma cara menyikapinya yang beda-beda...,
The wise one is the one who can solve difference without creating conflict.
:mrgreen:
@ sibermedik :
filsafat sebagai ilmu nggak perlu dilurusin, dia berjalan dengan dinamikanya sendiri. secara umum, filsafat mengajarkan kita untuk berpikir logis, sistematis, dan radikal. Berpikir demikian adalah berpikir yang fundamental.
filsafat tidak menihilkan sang pencipta, tapi filsafat mengajarkan kita untuk "berpikir" mengenai sang pencipta.
Wah, gambarnya mantap tuh, jadi pengen...
kata stalin: ide itu lebih hebat dari senjata. maka jika kami tidak memperbolehkan lawan2 kami memiliki senjata, mengapa kami harus memperbolehkan lawan2 kami dengan ide-idenya?
*mohon maaf kalo redaksionalnya agak nggak sama*
@ StreetPunk: Eh, tujuannya bukan untuk membangkitkan semangat. :?
Tujuannya ada di akhir... Yaitu saya bermeditasi dengan tenang di tengah hiruk-pikuk. Sebenarnya ini cuma curhat yang nggak bermaksud menggurui kok. Memang multi-tafsir dan membingungkan, tapi ini bukan sebuah artikel. Lihat lagi tag-nya, "sastra", kan?
@ extremusmilitis: Karena itu saya kembali bertapa untuk berpikir...
@ uwiuw: Eheheee... Sekadar curhat dan puisi, mas.
@ saRe': Kenapa, sayang? :lol:
@ Sawali Tuhusetya: Uh-oh, dan saya sedang mencari pencerahan...pak.. Dapatkah saya?
@ sibermedik: Cis... Keduluan dijawab oom fertob...
Yaudahlah, yang pasti entah apa saya sedang berfilsafat atau tidak. :mrgreen:
@ daniar: Ah, saya justru berharap epilog yang baik~
@ Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji: Maka dari itu saya mau ambil studi konsentrasi "Perdamaian dan Resolusi Konflik", mas... :lol:
Tapi ga bakal lulus-lulus kayaknya... :roll:
@ Pyrrho:
@ danalingga: Samaa... Saya juga mau...
@ Dekisugi: Sayangnya mbah Stalin udah lenyap eksistensi fisiknya... :roll:
Tapi tentu, manusia itu berbeda... Walau nggak mesti disamakan dengan paksa.
orang2 terlalu sibuk ngurusin sudut pandang sampai ngelupain sudut hati, jadi pingin menyoal hal yg sama
@ Niwatori: Eheheeee... Karena itu saya sangat ingin bermeditasi lagi kalau ada waktu. Oke, mas...menyoallah hal yang sama. :mrgreen:
Baiklah..
Setidaknya Anda telah memotivasi atau membukakan pikiran banyak pihak agar tidak selalu menerima mentah-mentah setiap ideologi yang dipaparkan, meskipun itu berasal dari tokoh yang berpengaruh atau siapapun.
Memang,
beberapa memang mesti diperlakukan sedemikian rupa agar tergerak untuk melakukan tindakan, apa pun itu asal positif, karena negara kita adalah negara demokratis.
@ StreetPunk: Saya orang yang bersikap skeptis dalam hampir semua tindakan, selalu dipertanyakan terlebih dahulu tanpa menerima mentah-mentah. Itu sikap yang baik kadang, tapi kadang juga nggak, tergantung situasi dan kondisi... - -a
Ya, demokratis. Negara ini seperti anak kecil yang kegirangan diberi mainan baru, yaitu demokrasi. Banyak pihak lantang berbicara atas nama demokrasi, tapi demokrasi bukan bebas-sebebas-bebasnya, karena ada etika yang harus ditaati... Jadi ingat dunia politik kacau akibat kebanyakan partai, semuanya berlomba-lomba buat partai...pada akhirnya...ah... demokrasi masih belim fix benar ya/.
Paling tidak doraemon sudah menghiasi BOTD wordpress indonesia. Hihihihi.
@ antobilang: Apa Doraemon ini bukannya pengalih perhatian seputar ucapan "Selamat Natal" yang tiap tahunnya jadi polemik? :mrgreen:
sangat disayangkan kalau hal tersebut benar adanya
@ iNyoNk: Hal tersebut yang mana yang dimaksud? :?
Bersikap skeptis tergantung sikon itu sangat bagus, terlebih lagi kalau kita dapat menentukan kapan mesti skeptis dan kapan mesti mengambil tindakan cepat.
Menyangkut masalah demokrasi, pihak yang lantang berbicara atas nama demokrasi biasanya disebabkan oleh ulah orang-orang yang 'mengompori' mereka.
Lebih jauh lagi, dunia politik yang kacau akibat kebanyakan partai itu hanyalah wujud nyata dari suatu keinginan ke arah yang lebih baik demi kemajuan bangsa, walau belum tentu semua partai bertujuan demikian.
Jadi, demokrasi adalah pilihan tepat, hanya saja masih memerlukan landasan-landasan peraturan yang lebih jelas agar tidak menimbulkan multi-tafsir tentang bagaimana seharusnya demokrasi itu.
@ StreetFunk:
Ibarat anak kecil yang baru diberi mainan kan?
Ada yang nawarin mainan baru...ya..ikuti... begitulah. :mrgreen:
Politik itu dinamis dan nggak stagnan. Mungkin demokrasi sekarang adalah pilihan yang paling tepat, tapi entah nantinya. Karena semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Kayak anak kecil..Kurang lebih begitu..
Berarti bisa dikatakan bahwa pihak yang mengompori tersebut adalah titik awal penyebab penyalahgunaan kebebasan bertindak sehingga lantang berbicara dan akhirnya kayak anak kecil.
Jika disesuaikan dengan kondisi negara kita saat ini, maka demokrasi sungguh sangat tepat, itu adalah kebijakan pemerintah, hampir tidak ada yang menentangnya karena jelas itu bersifat menyeluruh dan mementingkan semua pihak. Kalaupun ada yang kurang setuju, itu dalam skala yang kecil sekali.
gun , gun . . . .
sabar . . . . jangan sewot2
Monolog atau Dialog...?
---------------
saya pesen Multilog donk....
Demokrasi jadi bahan mimpi aja yak... wahahahah
Di album PADI yang baru juga ceritanya tentang menjadi diri sendiri, monolog ... tapi bukan memuaskan diri sendiri loh mas (kaya yang difilm "itu").
-Ade-
dialog tanpa emosi kan....
bawa arit-arit nalar ulah emosi
I'm so tired with this kind of topics ...
pokoknya™ saya yang paling benar™!
*ditabok*
Inikah namanya kesabaran sudah habis...? manusiawi...
*Gun mikir2 mengeluarkan "gun"...
gyaa...udah buanyak yang komen!! :? ya udah ah, gw mo berkutat sama well log ini aja dolo..
*kembali kerja*
soliloquy...lagi.
*duduk tenang, berhara episode "dialog" segera mulai*
soliloquy...lagi.
*duduk tenang, berharap episode "dialog" segera mulai*
*mayan berat*
Duh Nak... Bunda cuma bisa berharap, monologmu kali ini ndak dicekal seperti yang pernah menimpa Om Butet dkk do Surabaya...
http://pesantrend.wordpress.com/2007/12/22/%e2%80%9c-para-pendukung-dan-para-pengikutnya-banya-berkeliaran-di-wordpresscom-dan-kepada-para-pengikutnya-saya-undang-anda-untuk-berkomentar-%e2%80%9c/
anda diundang disana !
@ StreetPunk: Heheheee.. Istilah "Greater Good", eh?
@ bacteria: Ini juga lagi bertapa...
@ antarpulau: Sabar ya, baru digoreng... :lol:
@ Raffaell: Namanya juga utopia, mas.
@ Sayap KU: Maksudnya memuaskan diri sendiri itu apa ya?:mrgreen:
@ aRuL: Sip!
@ yusep somantri: Hmnn? Tidak juga saya rasa.
@ Fadli:Ini curhat kok, mas. :lol:
@ cK: Iyaaa... Iyaaaaaaaa...
@ kurtubi: Pada akhirnya saya milih meditasi aja, pak.
@ tukangkopi: Silahken.:lol:
@ n0vri [1]: Sabar... :mrgreen:
@ n0vri [2]: Dobel.:lol:
@ Mrs.Neo Fortynine: Lha ini kan blogsphere.
@ Anak Pilot: Terima kasih.
"Greater Good" istilahnya..
Ya, mungkin saja kira-kira seperti itu..
@ StreetPunk: Semoga bukan greater good semacam di felem Hot Fuzz yang aseli gilaabisss...
Semoga saja tidak.
Jangan sampe deh..
@ StreetPunk: Amen.
Pertama... kok saya jadi ingat ocehan saya di fs dulu yah? Dialog dalam Monolog...
Hanya karena perbedaan sudut pandangkah semuanya? Maka dari itu lebih baik ambil sudut pandang ketiga.
[...] sudah menjurus yang ke agak berat. Meskipun diskusinya — secara operasional — dilaksanakan dengan ringan, semisal obrolan yang dilakukan sambil minum secangkir kopi di sebuah kafe entah dimana, tapi kalau [...]
ahaha. anda mau bermonolog? anda harus menjadi diri anda. diri anda, yah! bukan diri siapapun. diri anda sekarang siapa? nah itulah anda. maka anda akan bermonolog, tanpa menjadi siapapun.
maknanya terlalu kelam. ada ketidakpautan di antara bait. anda bisa cek. tapi tidak mengapa. itulah karya seni. bila anda menulis. tulisan anda itulah anak anda. jangan dirubah kembali
saya nggak ngerasa dah dijawab tuh?
ngambang...
@ Lemon S. Sile: Ahhh... Sudut pandang boleh beda, tapi jika ngotot dengan suatu pendapat tanpa memperhatikan pendapat lain, itu masalahnya. Saya capek..
@ fadespot: Tidak, saya tidak mau bermonolog atau dialog. Judulnya saja mempertanyakan apakah ini monolog atau dialog, makanya saya kacau. Ini juga bukan karya seni bagi saya, ini cuma sekadar pelampiasan saja, melepas segala rasa menuju meditasi saya di malam kudus.
@ sibermedik: Saya juga. Saya kan cuma melepas stress sebentar sebelum meditasi di malam kudus.
:
iam mendengarkan petuah rozenesia... :lol: siapa tahu setelah dialog seperti ini terjadi penyerangan... kami bisa ngbrol berdua... hah sukses nih monolog...eh apa dialog ya... :lol:
@ zal: Lha? Saya sendiri juga ga tau apa ini dialog atau monolog. :lol:
sorry ya roze, saya dulu sering ngejek kamu karena setan ke-8 itu, wah nyesel banget deh juga kepada yang lain-lain. Aduh betul-tul jadi terharu mendengar petuah-petuah kamu ni :sad:
@ rudyhilkya: Ah ga apa kok, pak.
Ini cuma ocehan stress aja ah, bukan petuah. ^^;
Ouuuugh!!!!! *ikut2an bersorak*
@ Me-U: ?? :?
[...] I bent down, can do naught but let my eyes closing themselves [...]