Made namanya. Berkulit cerah, kuning langsat, dengan rambut hitam panjang berombak seperti seorang rocker. Teman sepermainan saya ketika masih kanak-kanak ini, ketika ditanya, “asli Bali ya?” dengan pasti–seperti sudah terbiasa ia akan menjawab, “bukan, saya dan keluarga enggak ada hubungannya sama sekali dengan Bali.” Lalu setelah satu-dua penjelasan, barulah si penanya paham bahwa pelafalan nama Made yang satu ini berbeda dengan Made yang dikenal khalayak sebagai salah satu nama khas orang Bali.

“Apalah artinya nama?” ujar Made mencoba mengutip Shakespeare.
Ucapan Made mungkin terdengar begitu indah, namun pada kenyataannya nama lahir dari tujuan, harapan, doa (klise, eh?), keadaan, cita-cita, dan dapat melahirkan perbedaan, perselisihan, keagungan, penderitaan, kemahsyuran. Dan sejarah mencatat ungkapan terkenal dari lakon Romeo and Juliet buah pena pujangga terbesar Inggris, William Shakespeare, tentang sebuah nama.
‘Tis but thy name that is my enemy;
Thou art thyself, though not a Montague.
What’s Montague? it is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!
What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
What’s in a name? Apalah arti sebuah nama? Orang-orang yang mengatakan betapa tidak pentingnya atau mengabaikan unsur penting nama, akan suka mengutip Shakespeare, what’s in a name? (apalah arti sebuah nama?). Mengutip Shakespeare seakan-akan pujangga Inggris tersebut menyetujui arti tidak pentingnya nama lewat lakon Romeo and Juliet. Padahal, kutipan paling terkenal mengenai nama tersebut diucapkan Juliet karena ia tidak bisa bersatu dengan Romeo karena nama keluarga keduanya adalah dua keluarga–Montague dan Capulet–yang saling bermusuhan selama bertahun-tahun.
Mengenai keagungan nama, Nyai Ontosoroh dalam roman Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, “jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya.”
Apa yang Pram singgung lewat tokoh Nyai Ontosoroh tersebut adalah budaya mengagungkan nama dan gelar, bukannya potensi yang dimiliki–dan apa saja yang dapat dan telah diperbuat. Dan nama-nama tersebut memang akan cuma tinggal nama jika usaha dari si empunya sendiri hampir tidak ada. Budaya yang–seperti yang disinggung pada kutipan di atas–tak hanya dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh dunia. Tak hanya Sunan-Sunan Surakarta yang menyandang serentetan nama dan gelar yang jelas artinya bagus-bagus semua, namun di balik itu tetap tak berdaya di tangan kolonial Belanda. Dalam masa-masa menjelang keruntuhan Dinasti Manchu di Tiongkok pun, Kaisar Tung Chih (Tongzhi) tanpa bantuan Ibu Suri Tzu Hsi (Cixi) hanya akan menjadi kaisar boneka sepenuhnya di hadapan delapan negara besar yang mencecar Tiongkok saat itu. Ironisnya, rumor yang paling populer mengatakan bahwa kematian kaisar muda yang menyandang nama agung tersebut adalah akibat sifilis karena sering mengunjungi lokalisasi kelas bawah, bukan cacar seperti yang berita resmi dari istana. Sekelumit contoh mereka yang bernama besar namun tak–mampu atau–memiliki daya upaya untuk merealisasikan namanya dalam tindakan nyata.
Walau begitu, orang masih mengangungkan dan berbangga-bangga dengan nama. Beberapa dekade silam, misalnya ketika seseorang diangkat menjadi jurutulis, maka ia akan mengganti namanya menjadi Sastrotomo. Dan apabila ia mendadak jatuh miskin dan kehilangan pekerjaannya, ia akan malu dan memilih menganti nama yang menurutnya sesuai dengan keadaannya. Boleh jadi itu masih terjadi hingga saat ini, ketika seseorang menjadi public figure dan merasa malu dengan nama–yang oleh stereotipe umum dan ia anggap–ketinggalan zaman, ndeso, atau kolot akan berganti nama sesuai yang ia inginkan. Mungkin hampir tak akan ada lagi Saritem yang bergoyang meliuk-liuk di panggung dangdut, yang ada hanyalah Shary. Mungkin hampir tak akan ada lagi Sumariono yang sumringah berbicara lantang di podium, yang ada hanyalah Mario. Nama terlihat begitu dinamis, mencerminkan karakter si empunya. Sudah seperti nama tokoh fiksi karangan kita sendiri, di mana nama tersebut benar-benar mencerminkan karakter si tokoh, menjadikan pesan dari nama menjadi sekuat judul.
Tak pelak lagi, nama adalah sebuah anak kebudayaan. Waktu bisa memengaruhi makna dalam sebuah nama. Mungkin sebelum Yudas mengkhianati Kristus, atau Brutus mengkhianati Julius Caesar, orang-orang tentu tak masalah memberi nama anaknya Yudas atau Brutus. Namun sekarang? Tak semua orang akan berani menamai anaknya seperti itu, karena peristiwa besar dalam sejarah telah memberi warna lain pada nama Yudas, Brutus, dan nama-nama lainnya.
Apapun nama yang Anda miliki, nama lahir, nama pena, nama samaran, nama panggung, nama malam dan nama apa saja–entah diberikan oleh orang lain atau dibuat sendiri–ada baiknya nikmatilah itu, seperti menikmati segelas kopi panas saat lembur di depan komputer hingga tengah malam. Cara menikmatinya? Terserah Anda. Mencari kesimpulannya? Bakal tersesat sendiri.
“Adezig! Lospokus, cuk! Kapan dewe ngopi bareng-bareng meneh, su?”
Labels: brand, culture, history, human, myth, name

















nama adalah do'a
Saya masih penasaran, kabarnya pemilik blog ini lebih suka menggunakan nama yang berbeda dari nama yang tertera di akte lahirnya.
Benarkah? Bila ya, kenapa?
Jadi gun, aku pikir kamu mau membocorkan siapa nama malem mu ke kita ini...
Tapi kata beberapa orang yng aku sempet kupingin, nama adalah doa dan harapan dari orang tua.
@ auk: Saya harap begitu--untuk nama yang diberikan. Kalau untuk nama yang dibuat sendiri?
@ nonadita: Lebih suka mungkin bisa diganti lebih memilih menggunakan di internet. Hehee... Akta lahir ada 2, mau yang mana dulu, nona?
Oke, serius. Kalau di internet nama "Gunawan Rudy" ini karena mencoba berada di tengah-tengah anonim dan non-anonim. Seperti diapit catshade dan hermansaksono gitu.
@ iphan: Sayangnya phan, namaku kayak Circle K, 24 jam. Nah kalau kamu?
cuk, dah postingannya njelimet trkhrnya disuruh mikir dewe!!
@ didut: Ra sah riwil, nyuk! :=!
Nama adalah doa...katanya. Cuma saya ngerasa itu malah jadi doa yang terlalu muluk. Nama saya kebagusan dan ga pantes rasanya...
Ada dilema punya nama yang begini. Makanya saya bertanya, nama yang netral dan tak mengandung bau2 bangsa, budaya, ras. suku. atau agama tertentu apa ya?
saya merindukan memanggil dirimu dengan sebutan shan-in...
:=! Jadi nama harus mencerminkan perilaku , atau perilaku mencerminkan nama ? yang mana yang bener gun?
kalo gitu, Gunawan Rudy sendiri artinya apa?
numpang komen, kedetect nya konqueror gak yah
Mau ganti nick jadi Panglima Burung kawan?
setuju ama chika, panggilan shan-in lebih bagus buat kamu. soale kalo manggil GUN udah bikin males duluan, soale nama GUN itu identik dengan banyak alasan.
Gunawan artine
GUna : bunga
wan : Hidung...
KEMBANG HIDUNG..???
UPIL DONG AHH..???
Iya yah, gak mungkin ada yg pengen namain anaknya yudas.
Tapi kenapa yah gak ada orang Indonesia juga yang berani namain anaknya Yesus/Jesus. Gak seperti orang latin yg bisa punya nama Jesus/Jesu?
*lirik bawah* Oh My God!
Luar biasa gun. Menikmati tulisan2mu.
argh..., jadi laper baca tulisanmu gun...
hmm... nama... nama itu diberikan ortu sbg doa bwt anaknya....kalo mau tau arti namamu ketik REG(spasi)NAMA kirim ke 0856xxxxxxx.....
!@!
Hummm?
Cuma mau komen tentang salju nyaaa. Kereeeen
Bagus sekali tulisan anda kali ini
Jadi inget, di sekolah saya banyak banget nama2 yang berasal dari bahasa arab yang kalo diterjemahin artinya bagus banget
Tapi... Ya begitulah, sifat mereka justru lebih buruk daripada yang namanya biasa aja
trus bagian "menikmati"nya yang mana ya?
@ Lemon: Makanya itu, salah sendiri dijadikan beban. Ndak usah muluk-muluk. Jalani saja, nikmati dengan caramu sendiri.
Sudah, ganti namamu jadi SEX aja. Repot amat.
@ cK: Nah, cobalah sekarang Iya, sekarang!
@ suprie [1]: E kok harus sih? Ya terserah kowe lah maunya gimana. Kalau mau nama yang mencerminkan perilaku, itu susah. Berarti ortu ngasih nama yang pas. Kalo nggak ya, kudu ganti nama aja sana. Kalau perilaku mencerminkan nama? Kok perilaku sendiri kudu diatur berdasarkan nama sih? Hwakakaaa... Yang penting itu bertinbdak wajar aja sesuai kemampuan dan harapan (??) kayaknya yah?
Btw, sejak kapan kowe merokok, Prie?
@ Chic: Itu cuma nama aseli yang dibolak-balik dan diutak-atik. Harapannya saya ini jadi orang yang berguna, cuma ya itu ndak kesampaian. Berguna ya berguna, buat diledek, dilecehkan, dan dihina-dina oleh sesama. Amin ya robbal alamin. Halleluya!
@ suprie [2]: Ya sudah. Terussss?
@ Manusiasuper: Ogah ah, tanpa nama itupun saya sudah pede sama burung sendiri.
@ antobilang: Kalau anama ANTO identik dengan apa pow? Kritis? Banner? Belum lulus? *nyungsep*
@ escoret: KALAU FIRMANSYAH APA COBA? FIRMANSYAH HILANG IJASAH THO, PENG? ESORRY CAPSLOCK RUSAK MENDADAK!
@ Ocha: Anu... Setauku nama baptis temanku ada yang "Jesuit" tuh.
@ mantan kyai: Amin ya robbal alami. Halleluya!
@ ngodod: Ngopo e kang? Kowe pikir blogku ini angkringan pow?
@ yogie: Lah kalau nama bikinan sendiri?
@ mimi: Khusus Natal doang kok, ntar abis natal ganti badai pasir aja ya?
@ Adriano Minami: Ya suka-suka mereka sih, kalo seandainya nama itu doa ortunya, ya itu mempemalukan ortu taraf dobel namanya.
@ tukangkopi: Keasyikan liat effendi.com sampai ndak baca "Cara menikmatinya? Terserah Anda. Mencari kesimpulannya? Bakal tersesat sendiri." pow?
dengan menyematkan nama pada diri kita, itu adalah (tentunya) harapan -harapan baik yang mudah-mudahan menjadi kenyataan. Makanya, tentu orang tak asal memberi nama dirinya ataupun diberi nama oleh orang tuanya. Saya kira itu tidak klise, Lee. Tapi, saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan nama seseorang, karena itu tidak mencerminkan nilai diri seseorang. Yang menentukan tetap saja sikapnya.
Btw, saya sih lebih suka memanggil kamu Lee. Ga tau juga kenapa, pokoknya itu nama yang keren. Tak ada hubungannya dengan alasan bentuk fisik atau ras, tapi rasanya keren aja karena lain dari yagn lain. Jadi, bagaimana kabarmu Lee ?
Dulu, nama seseorang mencerminkan darimana dia berasal...sekarang orangtua bebas memberikan nama anak-anaknya, sehingga tak jelas lagi darimana asal usulnya.
Tai dibalik pemberian sebuah nama, selalu ada doa dari orangtua, agar anak tsb sejahtera hidupnya di kemudian hari, dan jadi anak yang baik.
Sure, apalah artinya sebuah nama, ada pepatah mengatakan Mawar walaupun diberi nama paling buruk sekalipun tetap berbau harum mawar kan?
tulisannya dewasa. udah bapak2 ya?
betul seperti apa yang mas goen katakan, nama sudah menjadi bagian dari anak kebudayaan. makanya, nama seringkali memberikan citraan tertentu tentang hal2 yang berbau ethnis dan latar belakang sosial seseorang. memang benar, orang bisa berpandangan sama spt shakespeare, tapi kalau ada nama yang lebih bagus, kenapa pilih nama yang kurang baik konotasinya? hehehe ... seperti halnya nama made, semua orang pasti akan segera mencitrakan nama made pada ethnik bali, seperti halnya nama paijo, paimin, darto, atau saritem yang mencitrakan nama2 ethnik jawa.
*mencermati komen balesan si gun*
skrg jd gimanaaaa gt. lbh sinis.
pantesan kowe pinter golek alesan.
*les kamasutra gaya ke 363*
@ emina: Nah karena nitu saya nggak sreg dengan yang beragung-agung dengan nama, apalagi sok unik dengan bilang namnya tidak pasaran dan langka di dunia.
@ edratna: Dan saya juga berdoa, bu. Agar si anak tidak terlalu menjadikan namanya sebagai beban. Kadang ada yang merasa namanya itu beban dari orangtuanya.
@ Donats: Nggg... Anuuu... Rasanya tulisan saya kali ini bukannya mendukung kutipan yang sering salah kaprah itu deh.
@ arya: Bukan bapak-bapak beristri dan beranak satu, wartawan media basbang yang belum lulus kuliah, sehingga harus mengais rezeki di ibukota dan sialnya kalau mudik si istri sering palang merah.
@ sawali tuhusetya: Iya, pak. Seperti nama tokoh fiksi. Ia harus mencitrakan etnis, suku, status sosial, dll. Karena pesan dari si tokoh ini akan sekuat pesan dari judul.
@ meong: Mbak, ikut les MS Word-ku aja!
Mungkin Sarkem di Pasar Kembang juga harus harus ganti nama mas, biar lebih menjual
yang penting jangan gengsi punya nama....nama bagus tidak menjamin ahlak seseorang bagus...nama bukan sebagai jaminan dalam menilai seseorang tapi ke ahlak itu sendiri....
Nama adalah perasaan, Yah, bebas ajah sih mau milih nama itu kek ini kek.

Yang penting enak dilafalkan.
Nama saya terlalu bagus untuk diri saya.
Soalnya... well... you know it, lah.
huwasyuw!
dulu pertama2 kali aku tau blogmu, aku masih memanggilmu Roze...
Hi Gun !! *sisiran* |(
nama ituh penting, lha cobak kalok semua orang di dunia gak punyak nama? joh...gimanah yaks?
*mikir*
*lirik komeng chika & antok*
jadi...ganti nama dari Gun jadi Shan-in?
*nyublek*
kadang suka malu ndiri karna nama yang ga bagus..
tapi..
ya apalah arti sebuah nama..
nama hanyalah simbol yang sebagian dari doa..
nama made mungkin perlu dipatenkan

nama oka, agus, eka, gusti ternyata universal lintas budaya
kl situ punya anak nanti, pake nama apa?
pesen buat (calon) org tua: "tolong bikinin nama yg ngga pasaran, krn makin lama makin sulit bikin nama di akun email"
sptnya ujan salju itu bikin cpu-usage naik..cmiiw
ketinggalan gun,
pilih pake nama tradisional atau modern?
[penasaran]
coba lg enable image..[sambil liat2 dimana pohon natalnya..]
maklum tumben enable gambar
Aku juga mau menikmati nama saya mas.
nama adalah tanda agar sesuatu bermakna. !@!
panjang pisan!!!!! *pentung*
langsung komen aja ah....
PANJANG! hihihihihihii
Smua nama saya -yang akte, yang nick, yang di i-net- gak ada yang unik, langka atau jadi beban. Tapi semua ada artinya! Halleluya!
Eh, pelafalan nama Made temenmu itu gimana?
Kalo saya nama mencerminkan gw banget. Hehehehehe.
Tapi nama itu sendiri rasanya punya arti banget buat saya. pasti ada maksud nama saya begini. =)
Lho Komentar saya kok dari Australia ya? Swt banget nih Google Chrome :=!
@ sigid: Wah mas ini tau saja...
Hwahahaa...
@ omiyan: Jika kita dihadapkan pada nama, misalkan artinya jelek sekali tapi akhlaknya bagus? *sekadar beretorika*
@ Taruma: Saya rasa kombinasi perasaan dan pemikiran juga, hmn?
@ p4ndu_454kura®: Mengapa berpikir seperti itu? Santai sahaja kawan.
@ arya: Opo meneh, Ar?
@ chrsibiastika: GN'R sahaja, Gun N' Roze.
@ abee: CIIATTTTT! *mau nendang*
@ Rossa: Apalah arti...? Hmn, tentu saja ada banyak, tak hanya doa dan simbol belaka pastinya.
@ dani [1]: Wakakakaaa... Belum kepikiran mas, wong masih 18 gini. Ehmn iya ya, nyari domain juga syusyah!
@ dani [2]: Udah coba diminimalisir dengan nggak ngumpulin saljunya di bagian bawah layar. Tapi biar gitu demi menyambut Natal doang kok. Hiihii...
@ dani [3]: Nganu, saya masih bingung definisi dan perbedaan nama tradisional dan modern ituh.
Kalaun bisa ya kombinasinya. Why not?
@ Edi Psw: Jadi gimana rasanya pak?
@ fisidea: Apakah tanpa nama akan menjadi tidak bermakna? *lagi-lagi beretorika*
@ Fenny: Ini pendek, ketimbang entry-entry lain di blog ini.
@ jensen99: Nah itu dibawa santai sahaja, dinikmati. Kayaknya dah tau cara menikmatinya nih.
Pelafalannya agak mirip logat Betawi gitu.
@ Rian Xavier [1]: Masa? Namanya apa/siapa?
Dan sudah menikmatinya kah? Rasa-rasanya sedang.
@ Rian Xavier [2]: Pakai T-Sel Flash atau Indosat M2?
kenapa kita harus terpatok pada nama? mmm.. orang makin ndak kreatif kalo hanya melandaskan kegiatan dan harapan hanya pada nama....
toh nama hanya sebagai pembeda antara satu orang dengan yang lain.
*wuih panjang juga ada beberapa salah kata "mengangungkan, memengaruhi" ,tapi emang disengaja kali yakz?*
Terus, temenmu si Made itu, berasal dari mana Gun ?
|(
@ aRuL: Iya, karena itu nama itu luas sekali. Harapan dan doa cuma sebagian kecil unsur saja.
Btw, salah kata berdasarkan KBBI? Kalau di KBBI memang "meng·a·gung·kan" dan "me·me·nga·ruhi" kok.
@ Syech Mbelgedez, "Imam Madzab Bocor Alus™ ": Dayak, om.
Aah, Shakespeare. Saya melewati bangku kuliah tanpa sekalipun pernah membaca karya beliau.
Pathetic. ~
dan aku bahagia menikmati nama yang ku punya
OOT:
bagus salju di blognya, saya tahunya dari plurk pitra hahahhaa...
salam kenal ya
Nama adalah doa dari orangtua bagi anaknya.....
SHAN IIIIIIINNNNN!!!!!
*lha, disuruh manggil khan?* !@!
*ngekek baca komen balesan buat alyak*
@ Fritzter: Jurusan apa?
Ilmu Sejarah? Sastra Inggris? Sastra Indonesia? Seni Teater? Ilmu Komunikasi? Atau apa?
@ reallylife: Amen!
@ antown: Lah kemaren di Muktamar Blogger ketemu! (ekalau gak salah ya)
@ edratna: Ngg... Saya mendoakan apa ya bagi calon anak saya nanti..
@ cK: Opo budhe? :=!
well, arti dari nama ini,
secara harfiah sih ada,
dapatnya dari anagram nickname lain
di internet bisa punya nama sebanyak yang kita suka ^_^
@Gun
Saya juga punya asumsi "kurang asyik" terhadap Shakespeare.
(FKIP) Pendidikan Bahasa Inggris.
Payah ya? Yah 50%-nya sih karena pas kuliah saya emang gak doyan sastro kuno.
50% lagi karena belum pernah "terpaksa" disuguhi karya mbah Shakespeare sama dosen2 sastra. Mungkin karena memang kreativitas dosen2 sastra itu "terbatasi" oleh fokus terhadap materi pendidikan.
Padahal biasanya, bagi orang2 malas macam saya, ketertarikan itu malah kerap datang dari keterpaksaan. Di"dukung" lagi oleh keterpurukan sumber daya, walhasil sulit nemu barang bagus kalo gak karena dicekoki
@ Ace Demon: Ngomongin soal nickname, ya tulisan ngawur ini ada karena ide setelah survey soal nickname tempo hari.
@ Fritzter: AGH! Kelupaan menyebutkan soal FKIP! *tonjok diri sendiri*
Haiyah, iya juga sih. Kalau ngomongin soal Keguruan dan Ilmu Pendidikan, pasti selalu lebih ke teknisnya--pendidikan itu sendiri. Jadi nggak seluas jurusan Bahasa & Sastra.
ngomongin Shakespeare jadi inget waktu di IALF dulu
disuruh nonton Shakespeare in Love wtf, total boredom
Yes! Saya masih dan akan selalu menikmati nama lengkap saya meski menyulitkan petugas pembuat SIM, KTP, sertifikat dan ijazah karena terlalu panjang.
@ Ace Demon: Lha kok yang gituan? Ya jelas lah.
@ bewe: Sepanjang apa nama njenengan?
nama punya artinya tersendiri.
Yang jelas, nama, setahu saya adalah harapan dan doa dari orangtua kepada anaknya....
nama adalah doa kata ibukuhh
Ganti nama jadi A, aja... kayaknya keren.
Hai Abu Kuda al Lesehan halalan thoyyibani...
bener gitu gak sih? itu artinya apa Nak?
shan in, master li, gunawanrudy, goen,
oalah nduk...kamu tuh koleksi ya?
*kaya sendirinya ga gontaganti aja*
ehe
btw btw,
stuju ma chika, shan ini lebih enak...
@ farid yuniar: Nah, sekarang saya jadi berpikir bagaimana nama bisa cantik luar dan dalam. Hahaaa...
@ zoel: Lho kata kamu apa?
@ Lemon S. Sile: "A" tetap terkait sama agama, budaya, suku tertentu ndul. Kan pakai HURUF LATIN. Hwakakakaa...
@ Bunda: Saya ndak tau apa-apa soal Kuda, taunya soal Onta.
@ grace: Kok "nduk" sih? Saya cowok!
kunjungana perdana, lam kenal
Kira kira ada blogger yang mau mempunyai anak, dan berani memberi nama ANANG nggak ?
namau bukan namamu
*baca -baca komen sendiri*
bagian mana yng memperlihatkan keanehan ya?
--mas fritzer--
sastra kuno..pantassss d^b
btw, janjinya harus dipegang utk ga bicara apapun, ok!
Duh lagi males balas komen, tapi ahyasudahlah™....
@ Affan: Ada baiknya kalau kunjungan pertama ya mengenal rumah yang punya. Sip! Okay?
@ iman brotoseno: Ada mas. Kayaknya Anangku mau deh ngasih nama anaknya sama dengan bapaknya.
@ dondanang: Namau?
@ emina: Ndak tau. Ini kok kayaknya main-main begini?
cuma mo numpang begincu bentar..
Gw klo hari libur paling males made......
Hmm.. Ini pake indosat M2. Keliatannya plug-innya ga bersahabat sama M2 nih.
Bahasa tingkat tinggi, hhe
Bahasa tingkat tinggi, hhe
Bahasa tingkat tinggi, hhe
Ada yang tau arti nama Doni, Donny, atau Dony gak?
Kesannya seperti manusia kosmopolit, padahal saya wong ndeso
trus maksudnya 'Andri' (namaku) tu do'a yang bagaimana ya..????

tapi masih bersyukur dan berbanggalah aku masih memiliki nama dan bisa hidup di dunia ini...
Bagi sebagian orang (Khususnya yang beragama Islam), nama adalah anugrah dan "aturan", Masbro...Bahwa pemberian nama bisa begitu mudahnya mempengaruhi kebaikan / keburukan seseorang.....berpengaruh ganda bukan?
Kalo mendengar nama "Gun" saya selalu teringat dgn Gundamn hehehe...
@ easy: Sila.
@ lian: Ngggg... Maksud?
@ Rian Xavier: Indosat ngambil IP dari Aussie kah? TFlash juga kedetek Aussie kok.
@ Fikar [1]: 1!
@ Fikar [2]: 2!
@ Fikar [3]: 3!
@ Dony Alfan: Kayak cowok metroseksual?
@ anderwedz: Amin, coba cari tau sendiri, tuan~~
@ Mihael Ellinsworth: Kok bisa ya mempengaruhi kepribadian? Bukan nama yang mempengaruhi, tapi orang itu sendiri bagaimana melihat namanya. Misalnya ia melihat namanya berarti "orang yang kukuh" ya ia akan berusaha kukuh. Kalau ia cuek, ya toeri mempengaruhi itu nggak berlaku.
@ CY: Haiyah.. gunDAMN? Itu bacanya Gan loh.
Begitu pun nama "Hitler" dan "Adolf", yang sekarang sudah jadi metafora keburukan... padahal nama "Adolf" itu aslinya keren. :=!
Nice post, Om Gun.
Post saya juga pernah ada yang berbunyi serupa, tapi postnya Om lebih jelas.
hahaha... stuju! meski nama saia diganti, saia ia tetep saia.
You can replace my name but not my identity.
|( halahhhh Sau sok inggris