Setelah pengunduran diri Fidel Castro dari posisi presiden Kuba, kini di Rusia giliran Vladimir Putin yang harus menyerahkan tahta kepemimpinan di Kremlin. Bukan karena faktor usia atau hal lainnya. Hanya karena konstitusi berbicara bahwa seorang presiden hanya boleh menjabat dalam dua masa jabatan berturut-turut. Seperti Castro yang menunjuk adiknya sebagai pengganti, Putin pun menyatakan dukungannya terhadap seorang calon presiden, Dmitri Medvedev, yang menang dalam pemilihan umum 2 Maret 2008 kemarin.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa itu Medvedev?
Tidak hanya di Indonesia, di Rusia pun nama Medvedev belum begitu dikenal rakyat sebelum Putin resmi mengumumkan dukungannya. Hillary Clinton sendiri baru-baru ini dalam acara debat keliru menyebutkan nama Medvedev. “Um, Medved—Medvedova, whatever,” ujarnya. Barulah setelah Putin resmi mengumumkan dukungan kepada Medvedev pada tanggal 10 Desember 2007, media langsung gencar menyorotnya. Tidak hanya itu, media pemerintah berusaha membuatnya menjadi tokoh populer. Berbeda dengan perlakuan kepada calon-calon lainnya.
Bukan rahasia umum lagi jika pria kelahiran Leningrad 42 tahun lalu ini sangat dekat dengan Putin. Dengan menjabat sebagai wakil perdana menteri sejak 2005, Medvedev terlibat aktif dalam pemerintahan Putin. Delapan tahun terakhir, ia yang menjabat sebagai petinggi di Gazprom, perusahaan migas pemerintah, telah berkali-kali menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintahan Putin.
Kuatnya pengaruh Putin yang akan menjadi perdana menteri dalam pemerintahan memang dipengaruhi kepemimpinan Putin selama delapan tahun menjabat sebagai Presiden. Pengganti Boris Yeltsin ini mampu membawa Rusia sebagai salah satu kekuatan besar dunia setelah sebelumnya sempat mengalami krisis multidimensi. Meski pemerintahan Putin mengorbankan demokrasi yang sebelumnya digembor-gemborkan oleh Yeltsin, dengan membatasi hak-hak konstitusional pihak-pihak oposisi yang pro-demokrasi, namun dukungan rakyat sangat besar terhadapnya. Pemerintahannya dianggap berhasil mengatasi krisis ekonomi, politik, dan militer. Gaji naik hingga tiga kali lipat dan angka pengangguran turun drastis, berbeda dengan pemerintahan demokrasi Yeltsin selalu berujung pada kemiskinan serta gangguan stabilitas politik dan keamanan. Karisma Putin sudah sedemikian besar di mata rakyat, karena itu dukungan penuhnya terhadap Medvedev juga berarti memastikan posisi Medvedev sebagai presiden penggantinya. Rakyat yang mendukung Putin jelas akan mendukung Medvedev untuk tetap menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintah sebelumnya tanpa terlalu banyak bereksperimen. Bisa jadi ini merupakan ketidaksiapan Rusia dalam menghadapi demokrasi setelah Sovyet runtuh.
Tapi mengenai demokrasi sendiri, Putin terlihat terbuka dengan kata-katanya, misalnya, “History proves that all dictatorships, all authoritarian forms of government are transient. Only democratic systems are not transient. Whatever the shortcomings, mankind has not devised anything superior.” Nampaknya Putin memang memiliki demokrasi versi dirinya sendiri, demokrasi terpimpin di mana ada seseorang yang tak tergantikan menjadi otak.
Saya memang tidak terlalu berniat menggembor-gemborkan siapa itu Medvedev, hanya memberikan refleksi bagaimana yang sebenarnya ketimpangan antara fakta dan harapan. Harapannya memang boleh pemerintahan demokratis dan rakyat aman, nyaman, bahagia, sentosa dan yang lainnya. Namun jika dihadapkan dengan fakta, jika pemerintahan otoriter mampu membawa rakyat bahagia, dan pemerintahan demokratis malah membuat kondisi carut-marut, manakah yang akan dipilih rakyat? Nyatanya sebagian besar rakyat Rusia tetap setia pada Putin dan mendukung Medvedev untuk tetap menjalankan kebijakan pemerintahan Putin yang telah mengebiri hak-hak oposisi pro-demokrasi. Seperti yang saya paparkan sebelumnya, bisa saja rakyat Rusia masih kagok akan demokrasi, seperti halnya penduduk Jogja yang berdemo meminta Sri Sultan tetap selamanya menjadi Gubernur, atau malah bergerak karena ‘rasa lapar’. Saya rasa memang penciptaan stabilitas nasional tidak harus berbanding lurus dengan pengebirian demokasi. Hanya saja ada beberapa faktor dari demokratisasi yang menyebabkan terganggunya stabilitas nasional. Misalnya tradisi dan ketidaksiapan itu. Dalam hal ini kita kembali merujuk pada kutipan Putin yang telah dituliskan di atas.
Saya jadi teringat lagi pada komentar CY di tulisan mengenai Fidel Castro tempo hari, “Masalahnya, sanggupkah rakyat masih tetap menyokong dan mencintai dalam keadaan embargo dari ‘paman jelek berbendera bintang’ itu dan kelaparan yanng merajalela? Seberapa lama dan seberapa sanggup? Bukankah selama ini rakyat akan langsung berubah haluan begitu perutnya terancam, walaupun jalan yg ditempuh sang pemimpin sudah benar.”
Akankah tali sang boneka akan putus? Medvedev yang perubahan-perubahan untuk memberikan warna baru dalam pemerintahan, bahkan kembali mengoptimalkan unsur demokrasi yang sempat didengungkan Yeltsin? Bukan tidak mungkin, mengingat Putin sendiri pernah ‘memberontak’ dari unsur-unsur Yeltsin yang memilihnya menjadi penerus. Atau justru seperti yang diprediksikan banyak pihak, bahwa Medvedev hanya akan menjadi ‘boneka’ Putin dan corak Putin tetap ada di Kremlin?
* gambar plushie Medvedev oleh Rachel, khusus untuk entri ini. Thanks.
Labels: democracy, election, government, international, politic, president, russia

















Klo saya lebih memilih rakyat bahagia. Toh tujuan dasar dari suatu negara pastilah menyejahterakan rakyatnya...
Kalau disuruh milih aku juga bingung e
Dalam jangka pendek, pemerintah yang otoriter pasti lebih efektif daripada pemerintah yang serba konsultatif. Dan jika pemerintah otoriter ini 'beres' maka rakyat pasti secara umum akan makmur.
Permasalahannya, pemerintah otoriter selalu ingin meneruskan kekuasaanya, seperti halnya pengangkatan Medvedev yang disokong Putin. Dan semakin lama berkuasa, biasanya kekuasaanya dan otoriternya memang menjadi terlalu besar. Jika sudah begini, bagaimana mereka bisa mengkoreksi?
Maka, dalam jangka panjang, pemerintah otoriter itu buntutnya juga menghasilkan rakyat yang sengsara juga
Gimana yah?
uuuh, gak ngerti politik, dan gak pernah suka. you know laahhh...
tak kira anda postinganya spesial multi religi je mas..
ah, ndak ngerti aku!
aaargh... bangsa kita yang jagoan menggabungkan dan memilih sisi positif dari dua aliran besar ideologi aja malah makin nggak karuan kayak gini...
tapi... kalo mereka ganteng, otoriterpun tetap ganteng...
eh, otoriter atau otolitel ya?
*ngumpet*
ndak salah le, kamu kuliah di HI
Apapun pemerintahannya,
minumnya teh botol Sosroyang penting negara damai...Tapi eits, tunggu dulu, bukannya zaman Soeharto dulu rakyat juga hidup nyaman?
kira-kira setali tiga uang ga dengan thaksin dan castro, bos?
Dengan tangan besinya, Putin pernah dijuluki Rasputin oleh beberapa orang yang membencinya.
*siapa itu Rasputin ?*
Bedanya Medvedev dan Raul Castro sangat jelas. Medvedev melalui proses pemilu sementara Raul langsung diangkat.
Itu pertanyaan yang paling banyak diajukan oleh orang-orang yang anti terhadap demokrasi. Kalau akhirnya otoritarianisme dan pemerintahan agama justru bisa menghasilkan output yang lebih baik, kenapa harus demokrasi ?
Masalahnya, demokrasi bukan sekedar rakyat memilih pemimpinnya secara bebas. Butuh organ yang lain dari negara agar siapa melaksanakannya. Pers, kesiapan aparat hukum, dan banyak organ negara yang perlu disiapkan. Otoritarianisme dalam jangka pendek bisa saja berujung pada kesejahteraan, tetapi demokrasi dengan perubahan sesuai negara masing-masing saya rasa dalam jangka panjang lebih menjanjikan. Bukan demokrasi impor ala AS.
hah namanya emang susah dibaca dan diomonginnya
>
Menjuraaa dengan artikel yang sangat mengupas ini ...
ampuuunnnnn ..
*MEMANG OTAK MU DAH COCOK JADI ANAK HI,..
sayang ga sejalan dengan kemampuan merekrut wanita2 HI
Hadooh.. pemerintahan lagiii.., politik.. yaa...
ribet euy....
Abdullah Badawi itu kan dulu ditunjuk juga oleh Dr. M, buktinya sekarang malah sering berseberangan dengan dr. M
mengapa rakyat memilih dan mengajukan Sultan utk jadi gubernur seumur hidup?
bagi saya kok malah marai gak kepenak
gk bisa ngritik2 kang :mrgreen:
gw demen ni kalo posting gini...
daripada posting tentang agamakalo gw sih yang penting perut kenyang. apapun model pemerintahannya :-]
wew....keren deh membahas soal ini
mmmm...bingung juga ya. di satu sisi, pemerintahnya memang udah bertindak bener dan mengajak rakyatnya untuk melawan. tapi sisi lain, perut rakyat jg harus diperhatiin. pilihan...? ga, dia ga harus memilih alternatif yang harus mengorbankan keduanya, baik prinsipnya maupun perut rakyatnya. harusnya ada jalan tengah, prinsip tetap dipertahankan, tapi rakyat juga harus sejahtera. tapi, dominasi pasar emang sedemikian besarnya ya?
ah, omongan gw ga jelas
*nunggu edisi thaksin dan badawi
Aku hanya menunggu sumbangan tomat darimu brother Gun..
*genjreng2 gitar*
"Someday we'll know"
Btw, Raul Castro bawa beberapa perubahan tuh di Kuba; Kuba sekarang lagi proses ratifikasi ICCPR dan ICESC.
@ sandalian : gun cocok di HI sebagai pegamat politik, bukan sebagai tomat generator!
aku pikir tidak semudah itu untuk ber-pindah dan ber-transisi dari cengkraman pemerintahan sebelum-nya apalagi partai-nya Putin memegang hampir sebagian besar posisi.
tapi bukan tidak mungkin juga Medvedev membawa perubahan baru, apalagi dengan track record-nya sebagai lulusan dan ahli hukum. mudah-mudah-an saja iya, karena jujur aku paling anti dengan ke-arogan-an Putin dan partai-nya selama dia ber-kuasa
mudah2 politik tidak semakin menyengsarakan rakyat.
analisa seorang mhs HI. cocok!
sebenarnya, apa pun nama dan bentuk pemerintahannya.. yang penting rakyat kenyang dan bebas dari kelaparan dan kebodohan serta bermartabat dan tak lupa bebas nge-blog
.. peduli setan monarchy, democrazy, otoriter atau apa aja... hehehehehehe... *komen sampah*
nah yang jadi pertanyaan akankah tali boneka itu putus dan med-watheva itu menjadi seperti contoh diatas.... atau tali boneka itu malah jadi kuat sampai nantinya putin bisa bergerak didepan layar lagi...??? atau justru selama ini putin ditunggangi oleh med-whateva ...???
balik lagi ke komennya nendha...
*someday we'll know*
*genjreng2gitar*
rakyat selalu tau mana yang paling baik untuk mereka. masalahnya, kadang2 kalo dinegara indonesia ini semua hal2 politis ini masih dikendalikan oleh uang.. <--sori gak nyambung..
@ adit-nya niez: Tujuan negara itu sangat-sangat ideal lh. Dan itu ngak harus 100% dicapai. Lha? Tanya kenapa?
@ Herman Saksono: Di sini wejangannya mbah Acton bekerja.
"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely."
Bukankah begitu?
Jadi gimana? Menyederhanakan masalah, ya power management.

Di sini perannya pihak oposisi.
*susaaaah*
@ venus: Membahas bukan berarti suka kan mbok?
@ vcrack: Haiyah, saya tobat bahas multireligi!
@ Bundamu: Ndak semuanya sisi positif yang diambil, lho. ADa yang diutak-atik, misalnya cuma 6 agama yang diakui itu.
@ antobilang: Lha terus?
@ Nazieb: Ya, itu kayak narkoba. Nikmat sesaat, selanjutnya? Utang numpuk. Horeeeee....
@ hariadhi: Banget. :-]
@ Emperor Shao: Rasputin...

Jenggotnya keren...
*ditabok*
Raul ndak langsung diankat juga, tapi melalui persetujuan parlemen. Tapi you-know-what lah pemainannya.
Nah itu dia yang saya tekankan. Kesiapan. Banyak negara mengusung demokrasi tapi belum siap benar. ENtah itu emerintahnya, rakyatnya, dll. Dan banyak yang mencontoh demokrasi ala AS, paahal tiap negara punya demokrasi ala sendiri. AS sendiri lama berjuang sampai bisa mencapat demokrasi sekarang. Ini orang pada mau instan sih...
@ jimmy: Saya ndak pernah kepeleset tuh nomongnya.
@ leksa: Opo ki
@ sarah: Lha, kamu kan FISIP juga to?
@ itikkecil: Walau tetep se-Barisan Nasional.
@ detnot: Haiyah, kalo masalah Jogja ke blognya Momon tuh.
@ tukangkopi: Ya...ya...ya... Perutmu kenyang 100, perut pemerintah kenyang 100.000?
@ yati: Yah, saya mulai kembali ke HI, udah ga lagi bahas agama.
Nah loh, jalan tengah itu yang mencapainya susah bener, banyak rintangan. Kayak lubang jarum?
@ The Sandalian: Opo ki
@ Nenda Fadhilah: Semoga perubahannya ndak dipengaruhi oleh orang paling berpengaruh di Partai Komunis Kuba.
@ JAV Ambasador: Yeeee... Pengamat Tomat dong!
OL di lobby kan liat tomat seger-seger terus!
@ extremusmilitis: Medvedev emang punya latar belakang yang berbeda dengan Putin, tapi selama ini kebijakannya selalu mirip dengan Putin. Hoalaaahh...
@ Ina: Amiiin...
@ nico: Ckckckkk... Nilai saya jelek lho.
@ gempur: Rakyat bebas dari kebohohan dan mampu melihat kebobrokan dalam pemerintahan.

Kalau sekadar kenyang tapi buta akan kebobrokan pemerintahan, kayak ternak saja ya.
@ Andrew Anandhika Wijaya: Heheheee... Putin sendiri kan 'memberontak' dari demokrasinya si Yeltsin.

Tapi selama 17 tahun, Medvedev ini selalu mengekor di belakang Putin.
@ Ika: In Money We Trust! :-]
Kok kelihatannya seperti Rusia masih jadi Uni Soviet ya?
@ Me-u: Bedanya, ndak Komunis.
noki mah rakyat kecil yg lag suka ngeblog, jd klau pemerintah mau apa ya ngikut, asal positif, klau negatif ya demo
@ noki: Definisi positif itu bagaimana dulu?

Idealis atau realis?
walah gossipium romantikum...............
tapi ada benarnya juga sih ya ahahahhaha
@ sinobigatakutmati: ??