Jika boleh meminjam kata-kata mas Iman Brotoseno: lagi-lagi sepakbola! Ya, 26 Desember 2010 keriuhan terjadi di Twitter. Saat itu sedang berlangsung pertandingan final pertama AFF Suzuki Cup 2010 antara Malaysia kontra Indonesia di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Rupa-rupanya suporter Indonesia memperkarakan penggunaan sinar laser oleh suporter Malaysia untuk merusak konsentrasi para pemain tamu.
Entah dari mana awal mulanya, entah siapa pionirnya, kabar perihal laser itu begitu cepat mewabah. Bisa jadi lebih cepat daripada laju gosip di pedesaan. Mulai dari anak SMP hingga pengusaha batik berteriak lewat tulisan, “Malaysia cheat laser! Malaysia cheat laser!” tanpa tedeng aling-aling, suara bulat dan lugas. Apalagi setelah ditambahi dengan bumbu foto yang katanya memperlihatkan bukti penggunaan laser itu.

Mari sejenak menoleh ke 1957, saat di mana Henry Fonda beraksi sebagai ‘juri kedelapan’ dalam film drama klasik 12 Angry Men. Selama durasi satu setengah jam itu, awalnya Fonda (saya memilih seterusnya menggunakan nama asli ‘Fonda’ ketimbang nama lakon ‘Davis’ seperti yang terungkap di akhir film) hanya sendirian melawan pendapat sebelas juri lainnya tentang sebuah kasus pembunuhan. Dikisahkan seorang anak muda didakwa membunuh ayahnya sendiri, dan keduabelas juri yang tidak saling mengenal —yang saling menyapa dan menyebut satu sama lain dengan panggilan ‘gentleman’— diminta berembuk secara tertutup memutuskan bersalah atau tidaknya si anak muda. Dengan banyaknya barang bukti yang ada dan juga saksi kunci yang memberatkan, nampaknya keputusan ‘bersalah’ sudah pasti dikeluarkan.
Namun alih-alih berkata, “guilty!” Fonda malah memilih sebaliknya. Dijawabnya, “there were eleven votes for guilty. It’s not easy to raise my hand and send a boy die without talking about first.” Ia memilih untuk skeptis sebelum terburu-buru memvonis. Sebuah pilihan yang mulanya oleh kesebelas juri lain dianggap konyol dan hanya membuang-buang waktu.
Kembali maju 53 tahun. Apa yang diyakini oleh hampir seluruh suporter Indonesia di ranah maya bisa jadi merupakan refleksi pilihan kesebelas juri yang langsung menyatakan bersalah pada voting pertama. Memang alasan dan latar belakang pilihan kesebelas juri tersebut berbeda-beda, entah karena yakin dengan bukti dan saksi yang dihadirkan di pengadilan atau hanya karena ingin tugas jurinya selesai. Namun dengan suara bulat kata itu dinyatakan: guilty!
Fonda dengan argumennya yang berani, mencoba melakukan reka ulang, menitikberatkan pada detail-detail, membuat satu demi satu juri yang lain mulai goyah pendiriannya dan akhirnya mengubah pendapatnya. Begitu juga akhirnya timbul suara-suara lain memecah keriuhan yang awalnya seolah-olah satu suara akan kecurangan Malaysia.
Mungkin hanya berawal dari ajakan untuk tidak perlu membalas ‘perlakuan laser’ Malaysia di Gelora Bung Karno nantinya —ya, Fonda juga awalnya mengajak untuk berdiskusi terlebih dahulu. Beberapa lama lalu mencuat pendapat bahwa suporter Indonesia terlebih dahulu melakukan ‘perlakuan laser’ pada pertandingan di penyisihan grup. Terlepas dari tepat atau kelirunya kabar ini, sudah ada usaha untuk menghindari vonis prematur dengan mengkaji ulang secara holistik fenomena kecurangan suporter.
Di awal perundingan di ruang tertutup kesebelas juri mungkin hanya terfokus pada otoritas dan kemampuan dari para jaksa dan pengacara dalam persidangan, dan melupakan kenyataan misalnya faktor apa yang melatarbelakangi seorang saksi memberi kesaksian tertentu. Sebagian suporter Indonesia pun pada awalnya bisa dikatakan terkonsentrasi pada perkara ketidaksportifan suporter tim tuan rumah sebagai penyebab bobroknya permainan Indonesia. Fonda menawarkan skenario lain. Beberapa suporter pun begitu: kebobrokan manajemen kompetisi nasional, eksploitasi media dan pejabat politik, mental tandang yang belum membaik, dan lain sebagainya yang diyakini sebagai faktor di balik kekalahan tim nasional.
Dalam filsafat Schopenhauer, selain kehendak dan ide, tak ada sesuatu pun yang kita ketahui atau bisa kita pikirkan. Kita, sebagai warga negara Indonesia, berkehendak Indonesia mengalahkan Malaysia. Dari kehendak itu lahir secara otomatis sebuah keyakinan bahwa kecurangan ada di kubu Malaysia. Kemudian dinyatakan melalui kalimat-kalimat tuduhan tentang laser.
Schopenhauer lebih lanjut lagi mengemukakan bahwa sesuatu yang paling nyata bagi setiap orang ialah ketika memberikan realitas yang dimiliki masing-masing terhadap suatu ide dari fenomena. Suporter Indonesia memberikan realitas bahwa suporter Malaysia menggunakan laser sehingga merusak permainan Indonesia. Namun selanjutnya, jika realitas yang dimiliki masing-masing itu dikaji, ternyata lahir dari kehendak. Dan dalam fenomena ini, ia adalah sebuah kehendak akan kemenangan.
Mungkin tak ada salahnya kembali menoleh apa yang Sindhunata kutip dari Jerman, der Sieg is alles, darum sind alle Mittel recht, die helfen, sein Spiel zu gewinnen. Kemenangan adalah segala-galanya, maka adalah halal segala cara yang membantu untuk meraih kemenangan itu.
Sementara Fonda, dan segelintir suporter Indonesia yang mencoba fair dalam menyajikan, mengajarkan bahwa ada kehendak untuk mengetahui yang benar. Meski kehendak itu pada akhirnya mungkin bisa berujung pada sebuah kemenangan pandangan jua.
…..ketika semua bisa menjadi komentator sepakbola dadakan. Termasuk saya.
* foto dari the internet movie database – www.imdb.com/title/tt0050083
Labels: discussion, fallacy, football, indonesia, movie, philosophy, review, social, struggle

















AKHIRNYA SETELAH SETAHUN LEBIH DUA HARI TERLANTAR, BLOG INI DI-UPDATE JUGA!
...ya, walaupun dengan tulisan ngawur seadanya. Mohon maaf jika melewatkan banyak detail. Ditulis sebisanya disela-sela tugas kuliah dan kerjaan kantor.
Ini indonesia kalah karena kebanyakan seremoni, bukannya malah latihan. Acaranya istigosahnya kemarin sebenarnya, membuat jadwal gym dan perenggangan yg sudah disepakati jadi tidak jadi. Lebih penting dibawa ke KH Iskandar SQ, untuk didoakan !!
* orang Arab sudah ke piala Dunia, gag pakai doa doa segala. Pakai akal, taktik dan patuh sama pelatih bulenya.
Lasernya Malay hebat. Efeknya terasa justru setelah laser dimatikan, permainan Indonesia jadi amburadul.
Masih ada 90 menit di GBK, saya percaya Garuda masih bisa. Apalagi kalo Bakrie mau ngasih bonus 5M untuk tiap pemain kalo menang. Hahaha...
[...] lahirlah sebuah tulisan asal seadanya mengenai pertandingan final AFF Suzuki Cup 2010 antara Malaysia melawan Indonesia di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Ditulis sebisanya disela-sela tugas kuliah dan kerjaan [...]
semoga nanti lebih baik di GBK
ya kejadian semalam paling tidak membangunkan semua orang dari euforia mimpi indah tak pernah kalah
tapi, beneran laser itu bikin esmosi euy
:mrgreen:
ulasan sisi lain... keren :D
*sudah turun gunung gun?*
•
yaoloh :-o
•
Kalau tidak salah, di Psikologi Massa yang model beginian ini masuknya ke solidaristic-crowd. Susah sih, mau dicegah juga. Alih-alih yang berniat mencegah juga, malah ikut-ikutan tenggelam dalam de-individuasi.
•
Potonya nggak banget :|
namanya juga permainan ada menang kalah, tapi faktor2 luar itu adalah tantangan tersendiri bagi pemain Indonesia untuk lebih baik, termasuk tantangan psywar dan psikologi dari external, supaya suatu saat ujian seperti itu bisa menjadikan mereka tim internasional.
Tapi bagaimanapun juga, siapapun itu baik dari supporter lawan maupun supporter kita, penggunaan laser sangat tidak bijak ;)
jadi, ngerti sedikit jalan cerita pelem klasiknya apa tadi judulnya hihihi :mrgreen:
Salam kenal, ya...subscriber bertambah 1, saya orangnya :)
komentator dadakan itu muncul lantaran saking cintanya kepada tim garuda, mas rudy. dicederai dan dinistakan di bukit jalil hingga kalah pun masih dielu-elukan. apa ndak hebat bangsa kita? hiks.
Ya oloh, setahun lebih :shock:
Betul, laser dijadikan kambing hitam dan semua kayak membenarkan. Padahal Riedla aja nggak mempemasalahkan soal laser.
Kita juga punya dosa karena maenin laser waktu lawan Malaysia di GBK dan di Bukit Jalil dibales mereka. Masih untung nggak ngebales dengan melecehkan lagu kebangsaan mereka.
Live report tanggal 29 nanti Om Goen? :mrgreen:
saya ga sempat nonton bola. akhir -akhir ini jadi ga terlalu suka bola. Tapi, ya ampun, berita bola indonesia -malaysia ini benar2 mengalahkan apapun, dimana -mana...tsk...
oke... hasil akhir, ternyata memang kita kalah... gpp, yg penting pemain udah usaha, penonton bisa "sportif", dan yang penting... SELAMAT NGEBLOG LAGI! hihi
salut banget tp sama timnas yang uda mbois bgt maennya...salut jg buat mas gun yang uda ngeblog lg :P
Ternyata masi idup... :P
gun bangkit dari kubur. buset dah.
balik-balik langsung bikin relasi antara 12 angry men dan 'perlakuan laser'. ngeri dah! :D