Orang bilang, ruming wicara kang mranani, meski amat sederhana namun kata-katanya bagai wewangian yang harum, dapat menarik hati. Paling tidak itulah yang saya harapkan dari sebuah blog tempat saya mengeluarkan semua kotoran pikiran ini.
“Kotoran, ya walau kotoran mengapa tidak juga mengeluarkan kotoran baru secara rutin? Sembelit kah?”
Sebenarnya tidak perlu uraian yang panjang jika saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengapa sedari lama blog ini tidak kunjung update. Apa yang tertulis pada peristiwa pembajakan blog tetangga ini, misalnya, bisa menjadi cara saya berkelit. Tidak perlu susah payah, pinjam saja kutipan orang terkenal, maka lawan bicara bisa panik dalam mengeluarkan argumentasinya. Bukan begitu, tuan? Tidak perlu mengurusi fallacy dan segala macam sesat-pikirnya, toh ada kalanya logika tidak harus digunakan. Paling tidak itu kata beberapa orang, entah saya setuju atau tidak.
Hidup, dalam wacana ini, tidaklah serumit kepingan puzzle sebesar bola dunia. Tidak pula setragis lakon cinta Sam Pek Eng Tay yang tersohor itu, atau puncak perseteruan saudara di padang Kurusetra yang kutukannya terus melorot hingga kini, jamane jaman edan. Bagi saya, hidup dalam bentuk sebuah blog ini memang sesuai dengan pada pernyataan pembajak tadi itu, buat apalah terlalu serius sampai-sampai melahap bagian hidup saya yang lain? Sesuaikah apa yang saya rasa dengan syair T’ao Ch’ien berikut ini?
Marilah kita menikmati kebahagiaan kita.
Inilah sebuyung anggur, panggillah tetangga-tetangga.
Tak sering datang pada kita waktu baik untuk bersuka.
Dalam sehari fajar hanya sekali tiba.
Musim-musim mendesak kita,
sementara waktu tiada menantikan seorang jua.
Saya sangat menikmati kebahagiaan dalam bagian hidup saya yang lain, yang bukan terletak di sini. Bukan cuma bahagia karena menjelajah beberapa bagian Pulau Kalimantan, atau sekadar mbojo dalam dinginnya Kota Bandung. Ada yang lain, ada banyak hal. Tapi bukan berarti dengan tidak terlalu serius dengan hidup blog ini saya bisa disamakan dengan sebutan baru saya, cah lali omah. Dibawa kalem saja, begitu ujar engkong saya. Toh kalau terlalu dipikirkan bisa-bisa saya misalnya mutung hanya karena komunitas. Tidak lucu kan jika saya sendiri merasa paling benar, lantas ngambek dari komunitas? Ah, sudahlah… Saya mau bilang blak-blakan ke orang-orangnya kok rasanya tidak tega. Eling-eling tan ana lali, sarana lali tan nastiti, sapa eling diayomi, sapa lali mergane pati. Mungkin begitu nasihat orang-orang tua dulu.
Apa yang ditulis penyair T’ao Ch’ien yang tertulis sebelumnya memang berupa kutipan. Ya, terpatri di otak saya sendiri buat apa percaya pada kutipan jika tidak ada perbuatan? Bukan seperti slogan berbau kampanye dari Soetrisno Bachir, “Hidup adalah perbuatan” itu. Tapi dengan tulisan ini saya rasa saya sudah berbuat, tidak sekadar menelurkan kutipan-kutipan kosong. Memang sih, hidup saya–baik di sana atau di sini–belumlah luhur. Dadi luhur iku ora gampang, sebab wong luhur iku wong sing asor. Lha mau bagaimana? Masih saja saya mengelola kenarsisan lewat blog ini. Tapi, mengalir sudah semuanya dengan santai walau tak harus segitu teraturnya. Panggillah tetangga-tetangga, katanya. Ini cuma sebuah entry baru, lalu mungkin nanti lahirlah komentar-komentar. Apa saya salah?
Ujung-ujungnya hanya berupa ucapan selamat bertambahnya satu lagi kesibukan, sinuwun.
Kredit foto oleh Ekowanz.
Labels: blogger, chinese, javanese, life, philosophy, satire, social

















welkombek guuunnn
gimana kabar si bandung? udah resmi blom??
@ cK: Woi, kabar burung apa lagi ini, tante?
Sapa tuch????? *asah celurit*
kabar burung menyatakan kamu sedang pendekatan dengan death berry alias jaka wakakakakak...
apapun itu, nikmatilah...
@ Ina: Nggak ada kok, makanya saya mau narsis aja terus.
@ cK: Sayangnya tante keliru besar. Harharhar...
@ goop: Selamat~
Ah, Goen jatuh cinta? |
|
Selamat bro, kalau sempat jalan-jalan ke Banjarmasin, saya tunggu, kita nikmati
cewek-cewekbanjarmasin yang panas itu...Selamat datang kembali! Mari bersulang untuk kehidupan yang lebih baik! :toss:
hidup itu dinamis, mas rudy. ada banyak varian yang memengaruhinya. ngeblog hanyalah satu dari sekian varian itu. yang penting semuanya bisa mengalir seiring dengan dinamika hidup yang sedang berjalan. semangat mas rudy.
gayamu saiki nggo bahasa jowo.
eh ketrima gak SNMPTN nya? *mlayu*
sy suka dengan postingnya. Terdengar seperti yg nyampah yah, maaf kalau gitu
tapi emang benar kutipan syair itu bagus juga, krn mengiatkan masa depan dan masa lalu. 
pake jawa ya skrng, hhe
pindah kesini blognya..... *updet bloglines*
Nice post as always....
WHAT???? YOU GOT AN AFFAIR WITH DB???
hi, Gun!
welkombek brader (sok kenal sok dekat) :-]
@ manusiasuper: Jatuh cinta apaa, Dhil?
Eh ya, aku kan selalu ke Banjarmasin kalau pulang ke Kalimantan.
@ -=«GoenRock®»=-: Peluk oom Goen~ Hiyaaaaaa~
@ sawali tuhusetya: Nah itu dia, Pak. Jangan sampai yang satu memberatkan dan condong terus, sehingga keseimbangan dan kedinamisannya jadi terganggu.
@ antobilang: Ra mutu tenan komenmu, Ntok... Shuuu... Shuuu...!
@ uwiuw: Heheee... Komen apapun ga masalah. Kecuali kalau ente antobilang.
@ Fikar: Habis pulang bertapa nih.
@ Anang: Tengkyu, Cak!
@ Alm. Lockon Stratos: Ngomong apa sampeyan ini? Jelas ndak mungkin lah.
@ venus: Hi, Mbok!
@ Fajar: Lha aku tiap bulan ke Bandung ga sempat ketemu terus.
nyobain pasak bumi kalimantan di bandung nih
loh kapan ke bandung? koq gak ngasih2 tau?
sibuk apa nih skrg? bukan sibuk kuliahkan?

@ IMAN: Hoalah, belum ke taraf itu, mas.
@ jimmy: Tiap bulan, biasanya awal bulan.
@ aRuL: Kerja dan
mbojojalan-jalan, kang.@ arul : jawaban gun itu boong, kerjaannya cuma ngerokok cigarillos sambil ceting di biyon plus nelpon ke bandung kalo lagi ngumpul ama anak2.
*mlayu*
bertambah lagi satu kesibukan apa, Gun? Bolak-balik jogja-bandung? dapet mojang aseli kah? |
|
Ahhh.... ternyata...
eit dah..banyak yg kangen idupnya blog ini..
blog punya sendiri ya atuuur aja..
Beneran kamu lagi pedekate sama Debe Gun?
*dirajam*
Why so serious?
@ antobilang: Opo kowe? Lha kerjaanmu apa? Pura-pura ada kerjan di Jember pas nanti Nyonya Zamroni mau datang...
@ tukangkopi: Kisah Lodaya lebih seru daripada kisah Argo Sindoro kah?
@ CY: Ternyata apa?
@ dani: Heheee... Nggak mungkin dirindukan. Tapi selama lama ga posting kok yang minta theme makin banyak ya.
@ itikkecil: Wah kesian, udah tua kok jadi makin ngelantur ya?
Goen melestarikan bahasa & filsafat Jawa *terharu*
.::he509x™::.
bahasa mu leeeee..leee...
koyok dalang ae,..
Makanya, jangan pacaran mulu,.. kuliah beresin!
eh gun.. jujur... kamu ngerti ngga ama itu yang bahasa jawa kamu kutip
*tawa orang yang lagi kena sindrom edan*
Bagus, bagus.... teruslah sibuk... karena kesibukan adalah bagian dari hidup
*ngaco* *ditendang*
@ MaNongAn: Kesambet doang nih kang.
@ leksa: Iya nih, tunggu aja entry selanjutnya.
@ funkshit: SUngguh komen ndak bermutu dari MaBa...
@ masamune11: Nggak sibuk-sibuk amat kok, lha bisa nulis tiap hari gini?
Kan akhirnya juga sibuk juga, gun
"Nggak sibuk-sibuk amat." Bukan berarti tidak sibuk lho...
*dilempar*
ohh..bingung mo berkata apa.
mo komen bbrp hal :
1. toefl bahasa jawamu bagus sekali, nak.... *terharu*
2. hati2, postinganmu ini dapat menyinggung beberapa blogger serius
*diam2 ngakak baca komen mas iman*
jadi, yg dijual di bandara ponti itu, buat konsumsi sendiri ?? masak sih ?? ato udah ada yg japri ?? :lol:
Ah, sudah ngepost lg...
Gun, jadi pindah jurusan? Kuliah dong, jangan kerja dan mlancong melulu. Kalo level kamu palingan 7 atau 8 tahun dah bisa sarjana kok...

@ masamune11: Sama kayak responku ke Infi.
@ Shintung: Kenapa?
@ meong meong: Woi, woi... Ini niatnya memang nyepet kok ah.
@ jensen99: 7-8 tahun? Wah pasti pengalaman pribadi ini..
Wahaha!
Saya gak selama itu kok, 'cuma' 6,5 tahun... 
@ jensen99: Salut... Baru tahu saya kalau ada yang TK sampai 6,5 tahun... m/
dari tadi saya ngoprek blognya mas gun nih.
seru... suka deh di sini..
salam kenal yaa..
@ islam indie: Selamat deh. :=!