Singkat dan ringan saja. ![]()
Pernah memikirkan mengenai wisatawan Korea yang pergi ke Roma dan menyaksikan lagu Japan-Rock dibawakan oleh sekelompok pemuda Meksiko dengan dandanan Harajuku di sebuah klub yang dimiliki pengusaha Kuwait? Atau mengenai orang Rusia yang tengah berlatih Thai-Boxing di sebuah dojo kendo di London dengan pelatihnya yang berasal dari Nigeria?
Mari kita bandingkan dengan ketika wisatawan Korea tersebut pergi ke live-house di Tokyo dan menyaksikan band Japan-Rock asli Jepang di sana, dan ketika orang Rusia tersebut pergi ke daerah pantai Thailand lalu berlatih dengan penduduk asli. Apakah yang dirasakan keduanya sama di tempat dan objek yang berbeda? Sama seperti menyantap quiche India, pizza Argentina, atau sushi Amerika. Yang barang tentu menjadi kontras dengan pengalaman seragam yaitu menikmati quiche di Paris, pizza di Napoli, atau sushi di Osaka. ![]()
Selamat datang di heterogenisasi dan kreolisasi, di mana bentuk-bentuk glokal memiliki kecenderungan mengantikan varian-varian lokal dan membimbing ke arah keseragaman semu yang makin meningkat di seluruh dunia, di mana glokalisasi menggiring kepada penciptaan sebuah susunan yang lebih luas dari bentuk-bentuk baru, yaitu bentuk glokal dari sesuatu. Selamat datang di glokalisasi… :mrgreen:

Ya, glokalisasi, bukan globalisasi bukan pula lokalisasi. Glokalisasi dapat didefinisikan sebagai interpenetrasi global dan lokal yang memberikan hasil yang unik pada area geografis yang berbeda, di mana penekanannya adalah pada integrasi global dan lokal. Dengan contoh-contoh di awal tulisan, glokalisasi sebenarnya sudah sangat jauh berkembang tanpa disadari oleh masyarakat. Dunia sedang tumbuh menjadi lebih pluralistik, dan glokalisasi yang sensitif terhadap perbedaan di area-area di seluruh dunia tumbuh perlahan meliputi interaksi dari banyak input kultur lokal dan global untuk menciptakan sejenis produk semu, atau lebih halus lagi sebuah campuran, menimbulkan keberagaman atau variasi campuran budaya yang dihasilkan dari interpenetrasi dari budaya yang khusus dan universal.
Sebagai salah satu bawaan globalisasi, glokalisasi terjadi hampir di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Contoh unik glokalisasi di Indonesia adalah mengenai waralaba ayam goreng dari Amerika Serikat. Kita ambil contoh yang dan mudah dan sering dijumpai saja, yaitu McDonald’s. Di Indonesia McDonald’s terglokalisasi dengan hampir sempurna. Pesta ulang tahun anak menjadi hal yang wajar, dan konsumen dapat menyantap makanan dengan pelan-pelan. Bahkan waktu makan konsumen di Indonesia dua kali lipat lebih lama ketimbang konsumen di Amerika Serikat. McDonald’s bukan lagi restoran cepat saji di mana konsumennya rata-rata dari orang yang sibuk dan mempunyai sedikit waktu untuk menikmati makanan, tetapi menjadi seolah-olah rumah makan biasa di mana konsumen dapat menyantap makanan dan bersantai berlama-lama. Bahkan McDonald’s juga berubah menjadi tempat tongkrongan anak-anak muda. McDonald’s dengan sukses terglokalisasi dan bertransformasi seolah-olah sebagai institusi lokal.
Dari contoh di atas kita dapat melihat pelaku yang berperan besar dalam glokalisasi. Siapa lagi jika bukan individu atau kelompok lokal yang memiliki kekuasaan untuk menyesuaikan diri, mempengaruhi, memperbaharui, dan melakukan gerakan dan manuver dalam dunia glokal. Selain sebagai pelaku, individu atau kelompok lokal pun bisa menjadi korban, tergantung dari bagaimana individu atau kelompok tersebut memanfaatkan glokalisasi. Misalnya penduduk lokal Indonesia sebagai konsumen McDonald’s tersebut.
Seperti halnya globalisasi, apakah glokalisasi ini menyebabkan makin meningkatnya kesegaraman, atau makin meningkatnya keberagaman, atau malah kombinasi di antara keduanya? Entah. Jawabannya akan sangat panjang sekali jika dijabarkan. Kini semuanya tergantung bagaimana manusia memanfaatkan glokalisasi tanpa terlena dengan perubahan global yang semakin tidak pasti ini.
Oh ya, pintu diskusi terbuka dengan lebar di kolom komentar. ![]()
Labels: culture, economy, foreign, globalization, glocalization, history, indonesia, international, politic, social, sociology

















Yap, seperti biasanya, PERTAMAX habis. Silahkan mengantri di
SPBUblog lain.Sekadar iseng. Masa aku cuhat melulu... Sekali-kali membahas teori Hubungan Internasional. :mrgreen:
Bagi annots dan funkshit yang kemungkinan besar akan menyinggung soal kuliah, ini ngak ada hubungannya dengan kuliahku tauk! Aku belum mengambil mata kuliah Globalisasi. Awas kalian nyinggung kuliahku. :evil:
emang ada kecenderungan segalanya (produk) nyoba berubah menjadi rasa lokal
mungkin supaya lebih bisa menyerap di dalam konsumennya
jadi produk global menjadi rasa lokal
sepertinya akan jadi kombinasi homogenitas yg heterogen
siyall ga dapet pertamax...
glokalosasi? halah lidahku kesrimpet....
Pertama baca blom ngerti apa maksudnya... :mrgreen:
Tapi pas baca lagi dan nyantol di kalimat...
Baru ngerti...
Glokalisasi, he? Saya baru tahu ada istilah itu... :?
Kalo
glukosaglokalisasi bisa berperan dalam pengikisan jati diri suatu bangsa ngga, Mas? Bingung saya.... :?Kelihatannya, arahnya bagaimana Roze?? maksud saya... apakah akan kecenderungan dampaknya akan ke arah positif atau negatif, walau tentu ada efek negatif dan positifnya...
btw.. buat next posting aja roze :lol: biar lengkap
lhah kamu kok ikut2an sensi kalo saia nyinggung soal kuliah, hmmm kamu kok jadi kaya seseorang yang rada sensi dengan kata skripsi dan wisuda *kabur sebelum kepergok sama seseorang*.
*balik lagi*
Btw, ini tulisan yang hasil belajar semalam buat ujian hari ini ya? *kabur lagi*
shen me shi fu zuo yong, chang qi glokalisasi???
@ caplang[dot]net: APakah pertamax akan berubah menjadi rasa lokal? :roll:
Ya, menyerap ke dalam konsumen. Tapi kebanyakan perubahan ini secara tidak langsung diakibatkan oleh konsumenlokal itu sendiri, bukan produsen globalnya. :?
@ venus: Lha kenapa mbok?
@ Praditya: Oh baguslah. Jadi...?
@ Cynanthia: Pengikisan jati diri bangsa. Hahaaa... Glokalisasi ini ya bisa dikatakan sedikit mengikis juga sih, di mana budaya lokal yang sudah ada lambat laun tersingkir karena budaya global yang dilokalkan. Tapi dengan ini malah memperkaya khasanah lokal lho.
@ goop: Sebagian besar ke positif sih, menurutku. Secara glokalisasi bisa meredam efek imperialisme budaya...eh, bahasa halusnya grobalisasi. Di entri selanjutnya ya.
@ annots: GRAAA!! GRAAAAA!!! :evil:
Hari ini ndak ada ujian, sisa ujian cuma Ilmu Hukum dan Metode Penelitian, ndak ada hubungannya sama ini... :evil:
@ aprikot: Komen mandarin mulu ntar yang laen ga ngerti lho. :lol:
Kujelasin pake Indonesia aja, secara aku ga mahir mandarin kalo panjang-panjang.
Apa efek samping, jangka panjang glokalisasi?
Pertama, menurutku glokalisasi ini menahan efek dari grobalisasi. Groballisasi ini akan kubahas di entri selanjutnya, mungkin.
Terus lainnya adalah akulturasi budaya. Ya, budaya global yang di-lokal-kan juga bisa menyebabkan budaya lokal yang sudah ada lambat laun tersingkir,
Wah, bisa panjang,nanti kujadikan entri deh.
lhah! ini salah satu strategi branding paling ampuh!
*penggemar Hermawan K*
lha kan contohnya udah disampein sendiri, misalnya mekdi
trus coba liat iklan hsbc, berusaha menjadi lokal tp tetep global
jadi emang produsen global yg berusaha adaptasi dng 'budaya' lokal
supaya lebih mengena dan produknya laku
di pihak konsumen tentu aja makin tertarik
karena ngerasa ga asing dengan produk tsb
makan ayam goreng pake nasi... hmm...
btw, pertamax emang rasa lokal
demikian juga petronas, shell, gulf(?)
saya dah sering nenggak kok :lol:oh iya, saya ga punya bekgron apa2 ttg teori pemasaran ato hubungan apapun
smua berdasarkan nalar saya yg dangkal sangadh *hoek style*
tapi saya juga pengen tau kesimpulan diskusi ini
jadi maap kalo teorinya salah :mrgreen:
@ tukangkopi: Saya ga punya bekgron marketing.
@ caplang[dot]net [1]: Aduh, mulai ke marketing dah... *puyeng soal ini*
Benar! Global yang di-lokal-kan oleh produsen nggak akan sukses tanpa ada konsumen yang mempengaruhi produsen.
@ caplang[dot]net [2]: Sama. :lol:
Kebetulanaja ini nyambungnya ke McD, padahal banyak contoh lain, lho. DI masa lalu aja misalnya bentuk kubah masjid yang kayak Joglo, dll. :mrgreen:
tambahan contoh aja wordpress ini
mereka sedia id.wordpress.com, id.wordpress.org, id.forums.wordpress.org, id.wordpress.net... udah ada pula enjin wordpress rasa lokal
supaya pengguna lebih familiar; mengurangi kendala bahasa
awalnya mungkin karena banyak pengguna dari indonesia yg ndaptar di wordpress, trus ditindaklanjuti sama matt dkk untuk bikin versi lokal. kalopun ada kebutuhan tapi produsennya ga mau, mo kirim berjuta email ke support pun ga bakal ditanggepin. pun demikian dng paman gugel...
rasanya juga tersirat nasionalisme di situ
ato apalah namanya, yg tetep nampilin ciri khasnya
pengen punya sesuatu yg global tanpa ngilangin ciri lokal
hetrikkah?
tidak salah lagi ayam sangat berperan dalam glokalisasi! (yang dijadikan contoh selalu waralaba ayam goreng mulu... sungguh pengorbanan besar dari para ayam untuk mengubah dan mempersatukan dunia, hey tunggu... apakah ini konspirasi spesies ayam untuk memusnahkan umat manusia dengan junk food???)
@ caplang[dot]net: Nasionalisme? Maksudnya Nasionalisasi? :?
Kayaknya nggak sepenuhnya nasionalisasi mengingat cabang WP di Indonesia belum ada secara konkrit (yang keliatan kayak gedung, misalnya).
Glokalisasi WP baru ke tahap kreolisasi bahasa sih, belum sepenuhnya Glokalisasi karena budaya ngeblog di Indonesia ya rada mirip sama di luar, ngeblog masih global. Indonesia belum meng-attach ciri khasnya ke dalam ngeblog itu sendiri, kecuali bahasa. :?
@ Diki: Heheheee... Ayam contoh paling mudah dan paling mengena sih. :mrgreen:
Selamat, anda terpilih menjadi tumbal! :twisted:
Hush... Teori konspirasi melulu. :lol:
mangsutnya nasionalisme...
dlm wujud ingin tetep punya ciri itu tadi
sementara isi blog juga beragam sesuai minat dan kemampuan
ada yg isinya pake bhs linggis, bhs indonesia ato bhs laen
bhs indonesia aja msh bs dibagi lagi
yg bener2 EDY eh EYD ato campur2 kaya bhs saya ini
gmn kalo server wp ada di indonesia?
secara tehnologi apa itu udah termasuk lokalisasi? lokalisasi... :lol:
btw, kalo ada cabang wp di sini saya mo nglamar ah
jadi sopirnya matt dng bayaran unlimited space n bandwidth
@ caplang[dot]net: Lokalisasi, mikir apa kau... :lol:
ops:
Baidewei, dialog ini saya jadiin entry mengenai "kehampaan glokalisasi" nanti. :lol:
*niru-niru Globalisasi Kehampaan-nya Ritzer* :mrgreen:
Hohohoo... Saya juga mau, jadi
simpananbodyguard...Glokalisasi sebenernya bisa mengikis jati diri bangsa, tapi di satu sisi juga memperkaya. Yanga tersisa adalah tugas masyarakat lokal untuk menyerap hal2 global sehingga tidak menghilangkan yang lokal.
A+B=AB
@ calonorangtenarsedunia: Sebenarnya jti diri bangsa itu bagaimana, nah ini dia yang aku bingung. Apa jati diri yang sekarang terbentuk karena glokalisasi juga? Mungkin ya. Secara banyaknya akulturasi Hindu, Buddha, Islam dalam ranah Nusantara ini. Yup, sekarang tinggal pintar-pintarnya masyarakat aja.
Haduh nggak mudeng..
Jadi kamsudnya ituh kayak semacam asimilasi kebudayaan gitu yah??
Apa kayak asosiasi? fertilisasi? kontrasepsi? korupsi? :mrgreen:
bagus, nak.

sesekali ngomong politik jgn soal demokrasi melulu..
bosen euy!
*curehat*
@ nazieb :
Kira-kira....Glokalisasi itu sama dengan Njiplakisasi (njiplak/meniru). Jadi yg namanya meniru biasanya gak 100% sama dgn aslinya (termodifikasi). Kalo yg seratus persen sama persis itu namanya Copy-pastenisasi. (* benar gitu kan Bos?)
istilahnya keren!!!!! *keplok-keplok suit-suit* kalo gak salah itu bisa disebut juga dengan akulturasi ya? atau sinkretisme?
Glokalisasi >> Globalisasi---hubungan sebab akibat kah? (' . ')
dibaca berulang pun, tetap sulit mencerna *_*
@ Nazieb: Nggak asimilasi biasa. Tapi proses campuran antara yang global dan lokal sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.
@ grace: Hoalah, ini cuma ngasih warna ke blog ini aja. :?
@ serdadulangit: Weh, nggak kayak itu. Bukan tiruan, tapi semu. Hasil antara varian khusus dan varian universal, kecunya bercampur. Semu sih... :?
@ chrisibiastika: Istilahnya aneh.
Ndak akulturasi sih, soalnya akulturasi kan percampuran kebudayaan. Sedangkan ini lebih khusus lagi ke fenomena itu.....varian global dan lokal bercampur sehingga muncullah varian semu, yang di tiap area geografis tentu berbeda-beda.
Sinkretisme? :lol: *lirik danalingga* :cool:
@ phiy: Ndak juga sih, keduanya saling mempengaruhi.
@ M: Ahhh... Tuh kan, ntar curhat lagi ahhh...
semacam akkulturasi?
itu lebih familier kayaknya bagi saya. tapi intinya "menyatu" atau "berbaur" kan?
jadi ingat sebuah slogan, BERBAURLAH, TAPI JANGAN LEBUR.
>_>
<_<
tulisan tentang tionghoa nya jdi ga ada lagi...
o iya, klo coretan gunawan dimatikan, boleh saya minta mentahnya banner itu?
Tumben tulisannya berbobot :mrgreen:
"Bagi annots dan funkshit yang kemungkinan besar akan menyinggung soal kuliah,"
eh.. GR nich. . siapa yang ngurusin situ wek
. .
jadi males mikirin koment nich...*berlalu
@ M: Nnnggg... AGak beda lah, baca aja komen-komenku.
Bannernya....hilang. :mrgreen:
@ Fadli: Asyem... Udah 2-3 kali lagi...aku nulis berbobot, walau sisanya curhat doang. :evil:
Kritik dari dosen nih, masa ndak nulis tentang kuliahku?
@ Funkshit: Asyem, tuh oom annots seneng banget nyinggung kuliahku. :evil:
*ikut-ikut aprikot*
wo ai ni glocalization......
Bener juga ya. Kok endak terpikirkan oleh ku ya :?
eh bang, Waroeng Steak tu termasuk Glokalisasi ndak ?
@ Hoek Soegirang: Asyem... :lol:
@ Zazi: Nanti kujawab pas kamu traktir steak. :mrgreen:
yg ini agak serius....
"Seperti halnya globalisasi, apakah glokalisasi ini menyebabkan makin meningkatnya kesegaraman, atau makin meningkatnya keberagaman, atau malah kombinasi di antara keduanya? Entah."
Klo yg dijadikan contoh adalah kejadin glokalisasi yg terjadi di endonesah...., maka apapun produk (hasil) gobalisasi yg masuk ke endonesah dgn sendirinya akan terasimilasi dan termodifikasi menjadi sesuatu yg baru ato paling tidak berubah dari bentuk aslinya. Karena orang endonesah itu jago padu-padanisasi atau mechingisasi dan gak begitu peduli dgn hasilnya. Apakah itu bagus ato gak bagus, itu urusan dari sisi mana orang melihatnya. Selama masih meng-enjoy-kan maka jiwa ngakalisasi-nya orang endonesa akan terus tumbuh. Jadi rasanya...kecil kemungkinan glokalisasi makin meningkatkan keseragaman, tapi meningkatnya keberagaman dan kombinasi diantara keduanyalah yg akan terjadi. Keseragaman hanya akan terjadi apabila salah satunya super dominan daripada (terhadap) yg lainnya. Misalnya warna hitam dengan kadar yg super pekat akan tetap berwarna hitam apabila dicampurkan dgn warna lainnya yg kadar kepekatnya jauh dibawah kepekatan warna hitam yg tadi. Tapi apabila sama-sama kuat kepekatannya maka warna hitam yg super pekat tersebut akan terjadi perubahan. Jadi apakah (efek) Glokalisasi itu jelek ato bagus itu sangat tergantung dgn output yg dihasilkan dan dari sisi mana melihatnya.
*ilustrasi*
Ada seorang simbah yg sudo rungon (agak tuli/budeg) ditanya cucunya yg masih kecil.
--: Glokalisasi itu apa sehh Mbah..?
#: Kamu itu masih kecil kok nanya-nanya soal politik.
--: Politik Mbah...?? Glokalisasi itu istilah di dunia politik to Mbah?
#: Lha iya lah....(*simbah gaul*), tapi aku gak suka dengan Glokalisasi....masak simbah itu simpatisannya Pak Karno kok disuruh pake baju kuning....moh aku..jijae deh (*simbah bergaya bencong*).
Anda lupa menambahkan sesuatu : Glokalisasi a'la Circle K. Circle K telah membuat tempat tongkrongan anak muda yang baru. Sehingga Glokalisasi tumbuh dengan sempurna.
lagi males diskusi. maap ya gun... m(_ _)m
mbahas apa lg nh . gw stress
::setelah, selama ini buang-buang duit untuk benwit...setelah jadi seleb, kinilah saatnya untuk cari duit... :mrgreen:
Dulu, waktu Dili masih di jajah JKT, saya sempat mampir ke restoran padang. Letaknya di pusat kota. Tidak jauh dari markas marinir.
Nama restorannya keren banget 'Bundo Kanduang'.
Nah, temen saya, si Rustam Buyung, yang asli padang, langsung ngajak uda pedagangnya ngomong bahasa Padang. Si Buyung ngomong begini pada saya, "Rip, pokoknya lo jangan takut dah. Kalo gua pake bahasa Padang, kagak bakalan bayar mahal. Dijamin, pren" (*waktu itu, harga makanan memang amat mahal di Dili. Sembako sulit didapat. Situasi mulai memanas*)
Dengan sok aksi, si Buyung mulai meluncurkan trik-trik SKSD (Sok Kenal Sok Deket).
Nah udah 10 menit si Buyung bebusa-busa mulutnya mengenalkan diri dengan gombalnya. Lah, si Uda pedagangnya kok diem aja.
Pas saya tanya pada si Uda pedagang, "Pak, bapak asal mana?"
Si Bapak menjawab polos, "Saya orang Brebes dek. Ini temennya adek ngomong apa yaa?"
Saya cengar-cengir sambil ngeliat si Buyung yang lemes.
(*intinya: glokalisasi itu beda ama gombalisasi, hehehe*)
*keycode nya bohong banget, bikin mual :evil: *
Glokalisasi? ah, yang paling saya tau sih...glokalisasi dan lokalisasi sama sama mendatangkan banyak untung buat pemilik/pewaralabanya... :lol:
dan, untuk saat ini, sepertinya masih lokalisasi yang bisa menjadi penyumbang dana terbesar untuk pemerintah setempat... :lol:
so, galakkan lokalisasi dari empat penjuru kota!!!
*dirajam warga blogsphere*