quotecategoryarchives
Seperti Sugali 04.10.08
By Goenawan Lee posted on Saturday, Oct 4th, 2008
Dalam salah satu wawancara terakhir sebelum ajalnya, Pramoedya Ananta Toer pernah berujar tentang ketidakpercayaannya kepada penguasa, "Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenangnya."
Rasa pesimis Pram mungkin beralasan karena ia berkali-kali harus dikerangkeng penguasa dengan tuduhan yang sangat samar-samar, bahkan tidak jelas. Buku-buku dibakar, naskah diberangus. Kekuasaan cenderung disalahgunakan, dan kekuasaan absolut pasti disalahgunakan. Paling tidak begitu kutipan surat Lord Acton kepada ...Langkah 21.09.08
By Goenawan Lee posted on Sunday, Sep 21st, 2008
Engkau pernah bilang kita harus tetap melangkah.
Sudah genap setahun sejak engkau berpulang.
Kuharap engkau bisa melihat langkahku di sini.
Sembari engkau melangkah juga di alam sana.
Papa. Tentang Titik Dan Tamat 05.09.08
By Goenawan Lee posted on Friday, Sep 5th, 2008
"Tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku…"
~R.G.E., 2 September 2008
Akankah ada sesal di kemudian hari bagi Sang Paman setelah mengutip guratan pena tanpa pikir si anak muda itu? Tidakkah ia akan seperti Daud yang memohon dibenarkan oleh TUHAN, tersurat dalam Kitab Mazmur: "Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku."?
Dan cukuplah sahaya memberi tabik sembari memohon diri, meninggalkan pelataran rumah tanpa menjawab lagi. Menoleh pun tidak. Sepucuk Surat Karna 22.08.08
By Goenawan Lee posted on Friday, Aug 22nd, 2008
"Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku."
Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi--yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja ...Hidup 05.08.08
By Goenawan Lee posted on Tuesday, Aug 5th, 2008
Orang bilang, ruming wicara kang mranani, meski amat sederhana namun kata-katanya bagai wewangian yang harum, dapat menarik hati. Paling tidak itulah yang saya harapkan dari sebuah blog tempat saya mengeluarkan semua kotoran pikiran ini.
"Kotoran, ya walau kotoran mengapa tidak juga mengeluarkan kotoran baru secara rutin? Sembelit kah?"
Sebenarnya tidak perlu uraian yang panjang jika saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengapa sedari lama blog ini tidak kunjung update. Apa yang tertulis pada peristiwa pembajakan blog tetangga ini, misalnya, bisa menjadi cara saya berkelit. ...






























