literaturecategoryarchives
Sepucuk Surat Karna 22.08.08
By Goenawan Lee posted on Friday, Aug 22nd, 2008
"Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku."
Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi--yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja ...Roda Pembenaran 12.02.08
By Goenawan Lee posted on Tuesday, Feb 12th, 2008
Yi Fei termenung menatap bulatnya bulan purnama di langit yang cerah tak berawan. Tidak seperti malam-malam purnama lainnya di mana ia biasa menghabiskan malam dengan tawa canda bersama pejabat istana lainnya, diiringi tarian penari wanita dan tuak bermutu tinggi, kali ini ia bermuram durja. Raut mukanya kaku menahan udara dingin, dan dua bola mata yang sayu itu tak berkedip menatap ke langit yang berhias bintang.
Tak hanya itu, Yi Fei yang dulunya mengabdi di istana sebagai juru tulis kini harus meringkuk ...Tujuan? 05.02.08
By Goenawan Lee posted on Tuesday, Feb 5th, 2008
Khrisna membungkuk dengan hormat, lalu bertanya, "Tuanku Naradatta, benarkah Tuhan sengaja membiarkan banyaknya agama di antara manusia semua?"
"Tidak ada artinya." jawab Naradatta yang berdiri di depan jendela sembari menatap langit.
Khrisna berkata lagi, "Jika Tuhan sengaja membiarkan banyaknya agama di antara manusia, namun hanya agama yang kita anut yang direstui oleh Tuhan, alangkah tidak beruntungnya mereka para penganut agama lain jika memang agama kita yang paling benar."
Naradatta masih terdiam menatap langit.






























