Blog Section
Sepucuk Surat Karna
"Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku."
Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi--yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja pecahan kepala?
Meskipun secara tersurat Karna dalam wiracarita Mahabharata digambarkan sebagai tokoh antagonis, saya tetap mengagumi dan memiliki respek mendalam terhadapnya. ... read more »
Yang Eksis dan Merdeka
Saya baru menyadari saat itu adalah tanggal 17 Agustus ketika saya turun dari kereta api Lodaya di stasiun Tugu Yogyakarta. "Dasar pemuda zaman sekarang, mana rasa nasionalismu, nak," mungkin begitu tegur engkong saya jika beliau membaca kalimat pembuka tulisan ini.
Mengingat kemerdekaan dan negeri tercinta ini, mendadak saya teringat tentang seberkas tulisan saya di masa silam mengenai eksistensi. Kira-kira begini cuplikan kalimat-kalimatnya.
Jalan yang panjang dan berliku... Ketika kata-kata orang lain menyayat ganas perasaanmu, dan identitas berada di ambang-ambang, itu memang jalan yang benar-benar panjang untuk membuat orang mengerti bagaimana perasaanmu tentang hidup di suatu tempat dimana kebanyakan dari mereka menganggap bahwa ... read more »
Puspas
Kenapa gundah, nona? Toh kurasa engkau pasti bisa. Ya sanggup untuk menaklukkan gulita agar fajar merekah di ufuk timur nantinya. Engkau memang peduli pada suara sesama, namun sifatmu yang punya penilaian sendiri itulah yang pasti membuatmu bisa melewati kepuspasan itu.
Sendika dhawuh, sinuwun. Hamba akan meluruskan apa yang ingin hamba sampaikan.
"Ingatkah kalau kala itu kukatakan waktu memang tak bersahabat saat aku ada di sisimu? Tapi kurasa engkau tahu betapa keras kepalanya diriku, toh waktu akan melunak juga."
Dan selamat untuk malam itu. Selamat untuk keyakinan dan keberanianmu. Terima kasih untuk semua yang telah terjadi sebelum ini. Dan hei, jangan malu-malu seperti itu! ... read more »
Romantika Lodaya
Jam sembilan malam, Stasiun Tugu Yogyakarta. Memang tak ada yang spesial dengan itu, hanya saja sekali tiap bulannya saya pasti berada di ruang tunggu stasiun, dengan buku di tangan sembari menanti datangnya Kereta Api Lodaya dari arah timur. Perasaan saya saat itu seperti awal perjalanan-perjalanan sebelumnya, bagai berdiri di depan kimsin Dewi Kwan Im, mengangkat dan menjatuhkan shio-pwe, hingga berharap diperkenankan mengocok lidi-lidi djiam-si. Walau diperkenankan pun, toh saya tetap tidak tahu apakah tulisan di djiam-si yang saya cabut akan berisikan ramalan nasib baik, atau buruk.
Kengerian itu dikarenakan oleh lakon Sam Pek Eng Tay yang terus berputar-putar di benak saya. ... read more »
Hidup
Orang bilang, ruming wicara kang mranani, meski amat sederhana namun kata-katanya bagai wewangian yang harum, dapat menarik hati. Paling tidak itulah yang saya harapkan dari sebuah blog tempat saya mengeluarkan semua kotoran pikiran ini.
"Kotoran, ya walau kotoran mengapa tidak juga mengeluarkan kotoran baru secara rutin? Sembelit kah?"
Sebenarnya tidak perlu uraian yang panjang jika saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengapa sedari lama blog ini tidak kunjung update. Apa yang tertulis pada peristiwa pembajakan blog tetangga ini, misalnya, bisa menjadi cara saya berkelit. Tidak perlu susah payah, pinjam saja kutipan orang terkenal, maka lawan bicara bisa panik dalam mengeluarkan argumentasinya. Bukan begitu, tuan? ... read more »
Ni no Hime no Monogatari
Story of the Second Princess
Sinopsis
Berlatar sebuah negeri fiksional di Cina, Kou, Ni no Hime no Monogatari mengisahkan tidak hanya hubungan cinta antara Putri Kedua (Ni no Hime) dan abdinya, Sei Sui, tetapi juga transformasi sang putri dari gadis yang penakut dan lemah menjadi seseorang yang dapat memimpin pasukan perang menuju kemenangan.
Prestasi Putri Kedua yang telah menyelamatkan negerinya mengubah pikiran raja, yang kemudian menawarkan tahtanya padanya. Dengan satu syarat: menikahi pangeran dari negeri sebelah untuk menjalin tali persekutuan. Tahta yang dahulu diinginkan Sei Sui untuk digapai Putri Kedua justru akan memisahkannya dengan gadis yang ia cintai. Bagaimana nasib dari kisah cinta ... read more »
















