Blog Section
Satria Jawa Paripurna
Orang-orang tua bilang ada ada lima unsur simbolik yang menandakan seorang lelaki bisa menjadi satria Jawa yang paripurna. Masing-masing punya kekhasan tersendiri, dan lelaki Jawa akan dianggap komplit jika mempunyai kesemuanya. Kelima syarat itu antara lain: Wisma, Wanita, Turangga, Kukila, dan Curiga. Kini, tidak seperti evaluasi diri Mas Yeni Setiawan, saya tidak berdarah Jawa tapi ingin mengevaluasi lima perkara ini.
Kelima syarat ini, selain memiliki arti harafiah, juga memiliki makna simbolik yang dalam. Saya memang masih rendah ilmunya, lagipula tak memiliki darah Jawa, sehingga hanya mampu menguraikan sedikit di antaranya. Tapi toh tak ada salahnya untuk sedikit menikmati uraian singkat berikut ... read more »
Tentang Titik Dan Tamat
"Tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku…"
~R.G.E., 2 September 2008
Akankah ada sesal di kemudian hari bagi Sang Paman setelah mengutip guratan pena tanpa pikir si anak muda itu? Tidakkah ia akan seperti Daud yang memohon dibenarkan oleh TUHAN, tersurat dalam Kitab Mazmur: "Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku."?
Dan cukuplah sahaya memberi tabik sembari memohon diri, meninggalkan pelataran rumah tanpa menjawab lagi. Menoleh pun tidak. read more »
Sepucuk Surat Karna
"Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku."
Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi--yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja pecahan kepala?
Meskipun secara tersurat Karna dalam wiracarita Mahabharata digambarkan sebagai tokoh antagonis, saya tetap mengagumi dan memiliki respek mendalam terhadapnya. ... read more »
Yang Eksis dan Merdeka
Saya baru menyadari saat itu adalah tanggal 17 Agustus ketika saya turun dari kereta api Lodaya di stasiun Tugu Yogyakarta. "Dasar pemuda zaman sekarang, mana rasa nasionalismu, nak," mungkin begitu tegur engkong saya jika beliau membaca kalimat pembuka tulisan ini.
Mengingat kemerdekaan dan negeri tercinta ini, mendadak saya teringat tentang seberkas tulisan saya di masa silam mengenai eksistensi. Kira-kira begini cuplikan kalimat-kalimatnya.
Jalan yang panjang dan berliku... Ketika kata-kata orang lain menyayat ganas perasaanmu, dan identitas berada di ambang-ambang, itu memang jalan yang benar-benar panjang untuk membuat orang mengerti bagaimana perasaanmu tentang hidup di suatu tempat dimana kebanyakan dari mereka menganggap bahwa ... read more »
Puspas
Kenapa gundah, nona? Toh kurasa engkau pasti bisa. Ya sanggup untuk menaklukkan gulita agar fajar merekah di ufuk timur nantinya. Engkau memang peduli pada suara sesama, namun sifatmu yang punya penilaian sendiri itulah yang pasti membuatmu bisa melewati kepuspasan itu.
Sendika dhawuh, sinuwun. Hamba akan meluruskan apa yang ingin hamba sampaikan.
"Ingatkah kalau kala itu kukatakan waktu memang tak bersahabat saat aku ada di sisimu? Tapi kurasa engkau tahu betapa keras kepalanya diriku, toh waktu akan melunak juga."
Dan selamat untuk malam itu. Selamat untuk keyakinan dan keberanianmu. Terima kasih untuk semua yang telah terjadi sebelum ini. Dan hei, jangan malu-malu seperti itu! ... read more »
Romantika Lodaya
Jam sembilan malam, Stasiun Tugu Yogyakarta. Memang tak ada yang spesial dengan itu, hanya saja sekali tiap bulannya saya pasti berada di ruang tunggu stasiun, dengan buku di tangan sembari menanti datangnya Kereta Api Lodaya dari arah timur. Perasaan saya saat itu seperti awal perjalanan-perjalanan sebelumnya, bagai berdiri di depan kimsin Dewi Kwan Im, mengangkat dan menjatuhkan shio-pwe, hingga berharap diperkenankan mengocok lidi-lidi djiam-si. Walau diperkenankan pun, toh saya tetap tidak tahu apakah tulisan di djiam-si yang saya cabut akan berisikan ramalan nasib baik, atau buruk.
Kengerian itu dikarenakan oleh lakon Sam Pek Eng Tay yang terus berputar-putar di benak saya. ... read more »
















