Hello world! I'm Gunawan Rudy.

Goen, Rudy, Koh — you name it. Ordinary Homo sapiens, indolent blogger, webdesigner-wannabe.
Broadcasting to [...] watcher live from Djogjakarta, Indonesia, 7°45'58"S and 110°23'4"E.


Bragaweg

// Blog // Thursday, March 5th, 2009 at 8:03 pm // 53 comments

Bukan. Bukan pusat jeans itu, bukan Cihampelas. Bukan pula dataran tingi yang sejuk itu, bukan Lembang. Bukan pula Jalan Dago, juga bukan Riau. Apalagi mall, pusat perbelanjaan, factory outlet, kafe serta tempat kongkow terkenal lainnya di Kota Bandung yang kini semakin menjamur dan membikin semarak kota pegunungan itu. Satu tempat yang dapat membuat saya jatuh cinta pada kunjungan pertama itu adalah Bragaweg, sebuah kawasan kota tua di tengah-tengah Kota Bandung, yang kini dikenal sebagai Jalan Braga.

Parijs van Java, julukan itulah yang melekat di benak orang-orang jika membicarakan soal Kota Bandung. Percakapan mulai dari kelas warung kopi hingga kafe terkait dengan julukan tersebut pasti tak lepas dari soal mode dan fashion hingga para mojangnya yang geulis. Memang mode dan fashion identik dengan Kota Paris di Eropa sana. Namun julukan ini sebenarnya tak baru lagi, karena sudah melekat sejak awal abad ke-20, hampir berbarengan dengan lahirnya julukan lawas lainnya seperti Bloemen Stad (Kota Kembang), de Bloem van Bergsteden (Bunganya Kota Pegunungan), serta Europa in de Tropen (Eropa di Wilayah Tropis). Catatan-catatan awal mengenai julukan ini misalnya ada pada Boekoe Penoendjoek Djalan boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja, terbit tahun 1906. Di sana dituliskan Bandung sebagai “Parisnja Tanah Djawa”.

Namun julukan itu baru hidup dan terdengar gaungnya pada periode 1910 hingga 1940. Saat itu Bandung sebagai pemukiman warga Eropa terbesar di Hindia Belanda dikenal dengan kesemarakan dan kegemerlapannya, laiknya Kota Paris. Istilah “jaman ngalantrah van reup tot bray”, zaman kehidupan malam Bandung yang begitu gemerlap dengan hiburan di mana-mana, begitu melekat dengan kota tersebut.

Julukan Parijs van Java yang terkenal hingga Eropa sana tak selalu direspon positif. Dalam buku Guide to Java, Peter Hutton mengkritik bahwa Bandung tidak bisa disamakan dengan Paris. Bandung tidak punya sungai seperti Sungai Seine, alih-alih hanya punya Cikapundung yang sekarang tidak jernih lagi. Bandung juga ujarnya tak memiliki bangunan selevel Museum Louvre atau Notre Dame. Dan sebaliknya, Paris tidak berada di dataran tinggi dan beriklim tropis, dua hal yang dipunyai Bandung. Namun di luar semua itu Bandung dan Paris sama-sama identik dalam Rue de la Paix, jejeran pertokoan elit yang berbaris rapi di kedua sisi jalan sepanjang jalurnya dengan kegemerlapan yang menghiasinya.

Adalah Bragaweg, Rue de la Paix-nya Bandung, kawasan senta kemeriahan dan kegemerlapan Bandung saat itu. Bragaweg sebelumnya adalah jalan kecil yang menghubungkan gudang kopi milik seorang preangerplanter (tuan tanah atau kebun di Priangan) kaya, Andries de Wilde, dengan Grotepostweg (Jalan Raya Pos), jalan raya Daendels, yang menjadi jalan raya utama di Pulau Jawa. Jalan kecil ini kemudian ramai dilalui orang, alat transportasi yang paling sering melewatinya adalah pedati. Maka akhirnya jalan ini dikenal sebagai Pedatiweg atau Karrenweg dalam Bahasa Belanda. Saat itu Pedatiweg hanya memiliki sedikit bangunan.

Lambat laun Pedatiweg mulai ramai dengan gedung pertokoan, perkantoran, restoran, hingga tempat hiburan lainnya seperti bioskop dan kafe teras. Terlebih lagi karena dibangunnya Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, dan juga Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka, atau Gedung Asia-Afrika) di persimpangan Pedatiweg dan Grotepostweg yang menjadi sebuah schouwburg sebagai pusat kesenian dan tempat berkumpulkan kalangan elit Eropa di Kota Bandung dan daerah sekitarnya. Pedatiweg yang mulai ramai sebagai koloni pemukiman Eropa dan pertokoan elit akhirnya dikenal sebagai Bragaweg.

Bagaimana akhirnya nama jalan ini berubah menjadi Bragaweg mempunyai banyak versi. Ada yang bilang nama tersebut berasal dari nama minuman khas Rumania yang disajikan di Societeit Concordia. Versi sejarawan dan sastrawan Sunda sendiri seperti menurut Soewarno Darsoprajitno dan M. A. Salmun, nama Braga berasal dari Bahasa Sunda “baraga” atau “ngabaraga”, yang berarti “berjalan berangin-angin menyusuri sungai”. Kebetulan Sungai Cikapundung bersebelahan dengan Pedatiweg ini. Namun versi yang cukup kuat hingga sekarang adalah nama Braga berasal dari kelompok orkes terkenal masa itu yang bernama Toneelvereeniging Braga. Orkes ini kerap manggung di Societeit Concordia hingga akhirnya menempati bangunan di ujung selatan Bragaweg, yang sekarang dikenal sebagai Museum Konferensi Asia-Afrika. Dan pertanyaan selanjutnya dari mana asal nama Braga pada kelompok musik ini. Bisa jadi diambil dari nama dewa kesusastraan Eropa Utara, Bragi. Atau nama kota kuno di Portugal yang masih berdiri megah hingga kini.

Gedung Societeit Concordia yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Eropa, itupun yang kelas elit dan terpandang, uniknya pernah mengundang Ismail Marzuki (yang tentu seorang bumiputera, inlander) sebagai pemain musim paruh waktu di sana. Kala itu Ismail Marzuki dan grup musiknya Lief Java sangat populer terutama di kalangan Eropa, dengan lagu Als de Orchideen Bloien bahkan yang populer sampai Nederland. Namun demikian, Ismail Marzuki menolak tawaran Julius Foorman yang saat itu menjadi pimpinan orkes di Societeit Concordia.

Bangunan yang menyokong julukan Parijs van Java antara lain adalah rumah-rumah mode elit seperti Au Bon Marche dan Onderling Belang yang kini dikenal sebagai Toko Sarinah, hingga bangunan besar seperti DENIS Bank (sekarang Bank JaBar Banten) dan Gedung Gas. Tak ketinggalan pula kafe-restoran Maison Bogerijen yang sangat terkenal pada masanya, bahkan Kerajaan Belanda dan Gubernur Jenderal berlangganan di sini. Sekarang bangunan lama Maison Bogerijen sudah tak ada lagi, betrganti dengan Braga Permai. Meskipun serba Eropa yang bergaya art deco, di Bragaweg juga ditemukan gaya arsitektur Indo-Europeeschen architectuur stijl. Yaitu bangunan Eropa dengan corak Nusantara, misalnya Majestic Theater dan toko buku van Dorp yang memiliki ornamen kepala kala (biasa terdapat di gerbang candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur) ukuran besar di bagian depan gedung.

Karena saking Eropa-nya kawasan Bragaweg ini, maka yang terlihat wira-wiri hanyalah mereka dari golongan Eropa, dan juga sedikit dari saudagar Tionghoa. Itupun tidak semua bisa karena beberapa bangunan hanya diperuntukan bagi warga Eropa kelas atas. Bagi pribumi paling-paling hanya kalangan priyayi saja. Beberapa bangunan malah memasang papan peringatan “verboden voor honden en inlander”, dilarang masuk bagi anjing dan pribumi.

Hein Buitenweg memberikan pujian atas kebangkitan Bandung lewat Bragaweg ini, “werd er ergens ter wereld meer en beter gedanst dan in he oude indie”, bagian dunia mana yang sanggup mengalahkan kemeriahan Hindia Belanda di masa lalu.

Kini masa-masa kejayaan Hindia Belanda di masa lalu itu masih tersisa di Jalan Braga, seperti juga di Jalan Kayutangan Malang, Jalan Malioboro Yogyakarta. Walau sedikit ironi terasa ketika melihat bangunan tua yang tak terawat bersanding dengan bangunan modern yang telah mengganti wajah beberapa bangunan yang kini hanya tinggal nama saja.

Setelah kedatangan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan, banyak warga Eropa dan Indo yang hengkang keluar Indonesia. Jalan Braga mulai sepi dan mati suri. Sebagian bangunan berganti kepemilikan dan beberapa telah direnovasi penuh hingga hampir tak menyisakan bentuk bangunan lamanya. Sebagiannya lagi dibiarkan kosong dan bangunan tuanya menjadi terlantar. Ironisnya lagi, walaupun sudah mengalami renovasi kawasan Braga tetap sepi konsumen walau lalu lintas kendaraan bermotor tetap cukup padat. Pembangunan mall Braga City Walk tetap belum terlihat hasilnya. Beberapa kali penyelenggaraan Festival Braga hanya menghidupkan Braga saat acara tersebut dan kembali mati suri setelahnya. Beberapa bulan terakhir terlihat upaya penggantian aspal jalan dengan batu andesit hitam, namun karena padatnya lalu lintas, banyak bagian jalan yang pecah-pecah.

Ternyata memang satu bidang usaha yang tetap tidak ada matinya sejak zaman nabi-nabi hingga sekarang ini, hiburan malam, dan tentu saja akan merujuk kepada pelacuran. Lengkap dengan diskotik, karaoke, bar, bilyard, plus neng geulis yang siap melayani. Tempat-tempat ini terutama bisa ditemukan di sekitar simpang Bragaweg dengan Jalan Suniaraja dan Oude-Hospitalweg (sekarang Jalan Lembong).

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dalam Mereka Yang Dilumpuhkan, bahwa perempuan Sunda harganya paling tinggi. Menurut Pram itu karena perkebunan-perkebunan di Jawa Barat banyak dikuasai orang Eropa sehingga anak-anaknya banyak yang menjadi Indo. Ini masih terkait dengan kawasan Gang Coorde (sekarang Jalan Kejaksaan) atau bordeelsteeg (jalanan bordil). Gang Coorde yang simpangnya terletak di tengah Bragaweg ini adalah kompleks red light kelas atas yang menawarkan perempuan-perempuan Indo yang datang dari penjuru Priangan. Mereka adalah turunan tidak resmi dari para preangerplanters warga Eropa.

Sisi gelap Parijs van Java ini pernah dituliskan oleh seorang jurnalis Melayu-Tionghoa, Kim Lang, “soeda beroelang-oelang orang sohorken bahoewa Bandoeng itoelah apa Parisnja tanah Djawa. Tapi, sepandjang pengetahoean saja jang di seboet Paris itoe boekannja tentang hal kabaekan peratoeran politie, roema-roema dan toko-toko dan laen-laen sebaginja, hanjalah dari banjaknja koepoe-koepoe malem sadja, itoelah jang kenamaan Paris tanah Djawa…” Remy Sylado pun menggambarkan dunia malam Bandung era 1920-an ini lewat novel Parijs van Java.

Itulah mengapa jangan heran seabad yang lalu perkumpulan Bandoeng Vooruit mempromosikan Kota Bandung dengan disertai ungkapan “don’t come to Bandoeng if you left wife at home!” Para tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah. Dan bisnis ini terus tetap hidup di dalam mati surinya Bragaweg.

Beginilah dunia yang sedang berubah dengan cepat, mengutip jargon–juga dijadikan guyon–Orde Baru, “lepas landas”. Tak hanya bangunan-bangunan tua yang ditumbuhi lumut, cat terkelupas, dan kadang hanya menyisakan puing dan pondasi bekas kejayaan masa lalunya, namun juga ideologi yang rontok, manipulasi yang terkuak, hingga agama yang kurang berhasil mencerahkan umatnya. Kehidupan berubah.

Dan seperti Resi Bisma dalam perwayangan, sesuatu yang “tua” tak harus selalu digantikan oleh yang “muda”, karena mereka punya porsi dan perannya masing-masing. Resi Bisma menjadi Senapati Agung Astina pertama di medan Kurusetra di usia yang sangat tua, itu porsinya, dan akhirnya nanti dia digantikan juga oleh Begawan Dorna, Prabu Salya, hingga Adipati Karna. Bangunan tua Bragaweg yang antara lain buah karya arsitek Wolff Schoemaker dan Richard Schoemaker tersebut menjadi saksi bisu penggalan-penggalan kisah masa lalu dan sebagai pengingat bahwa sebuah kota terus mengalami perjalanan sejarah yang panjang, itulah sedikit dari porsi mereka sekarang.

Bisa saja nasib Bragaweg akan masuk ke dalam bahasa Rendra dalam Kisah Perjuangan Suku Naga.

Kemarin dan esok
adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan
sama saja

Jammer dat je, Bragaweg!

Labels: , , , ,


Facebook // Delicious // Digg // Technorati // Stumble // LintasBerita // Plurk // Twitter


53 Responses

  1. #1 Enade Thursday, March 5th, 2009 at 20:15 From NETHERLANDS via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    Akhirnya update juga.

    Bragaweg diterjemahkan menjadi Jalan Braga. Kerkweg di Jogja tidak diterjemahkan menjadi Jalan Gereja tetapi menjadi Kewek.

  2. #2 bintang Thursday, March 5th, 2009 at 20:15 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows XP

    wah, pertama nih??
    pea itah nanjungan akan bandung le???
    menikmati kota bakas bandung!

  3. #3 funkshit Thursday, March 5th, 2009 at 20:16 From INDONESIA via Opera Opera 9.51 on Windows Windows XP

    komen lagi setelah 2 bulan 2 minggu...
    cih.. pamer mojang. . .

    *blum baca

  4. #4 bayuhebat Thursday, March 5th, 2009 at 20:24 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows Vista

    hohoho emang enak sekarang buat jalan - jalan apalagi dengan ehmmm

  5. #5 SeNaFaL Thursday, March 5th, 2009 at 20:57 From INDONESIA via Opera Opera 9.63 on Windows Windows XP

    ah, kota itu, salah satu dari 3 kota yang memberi kenangan indah..

    semoga sejarah yang pernah tertulis diatasnya,menjadi cerita yang dapat membuat bangga masyarakatnya, Indonesia pada umumnya..

  6. #6 ekowanz Thursday, March 5th, 2009 at 21:14 From INDONESIA via Opera Opera 10.00 on Windows Windows 7

    sujud sukur....

  7. #7 jensen yermi Thursday, March 5th, 2009 at 21:40 From INDONESIA via Opera Opera 9.63 on Windows Windows XP

    Perempuan Indo memang harganya paling tinggi! Sepakat! 8-b

  8. #8 lindaleenk Thursday, March 5th, 2009 at 22:50 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows Vista

    :-w:-w:-w

    misi2...itu kenapa panjang bangettttt...^^;

    rada pusing baca nya :d

  9. #9 suprie Thursday, March 5th, 2009 at 23:10 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

    wah ini mah pamer poto :-D ...

    nama sungai nya aneh yah ... chika pundung ...
    :-))

  10. #10 Gage Batubara Thursday, March 5th, 2009 at 23:23 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Mac OS X Mac OS X 10

    mojang kok mukanya kusem?
    salah fotografernya nih!

  11. #11 Gunawan Rudy Thursday, March 5th, 2009 at 23:31 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Enade: Hahahaaa... Pengaruh Jawanya mungkin lebih kuat dari Eropa atau Indo-nya, kang. :P

    @ bintang: Aku umba ikau ih, Le.

    @ funkshit: Cerewet kowe, Pras. Mana ikut-ikutan apdet di hari yang sama pulak! Cih...

    @ bayuhebat: ehmmm itu apa ya? Motor baru keluaran Honda bukan?

    @ SeNaFaL: Wah, ayo curhat dong, Zak... :D

    @ ekowanz: Puji Tuhan! *membuat tanda salib*

    @ jensen yermi: Koweorang biasanya pake di mana, boss?

    @ lindaleenk: Anuuu... Aku juga gak tau, pas publish kok tau-tau aja panjang gini. Menyesal aku...

    @ suprie: Wakakakaa... *summon chika*

    @ Gage Batubara: Wah, ada Lae Gage! Menjuraaa...

  12. #12 Dony Alfan Friday, March 6th, 2009 at 3:45 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows XP

    Pengen ke Bandung lagi! Terakhir ke sono tahun 2007.
    Btw, ciblek Braga berapaan sih, Goen? :o)

  13. #13 mantan kyai Friday, March 6th, 2009 at 5:36 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows XP

    lama kau tak apdet sob !!! eh lagi ngomongin apa jalan braga yah. doh aku lom pernah mampir bandung. ngikut aja deh ... x)px)px)p

  14. #14 Aling Friday, March 6th, 2009 at 8:19 From TAIWAN via Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP

    ya...bencana dan keberuntungan...

    .untuk mengubahnya baik kebencana ... semudah membalik telapak tangan :)...

    tapi untuk mengubah bencana menjadi keberuntungan....butuh waktu yang lama

  15. #15 edy Friday, March 6th, 2009 at 8:38 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.4 on Windows Windows XP

    jadi skarang konsennya ke bandung? ;))

  16. #16 agunk agriza Friday, March 6th, 2009 at 8:41 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    braga enak buat foto2..
    waktu itu aku kesana buat foto2, eh ada yang foto prewedding ciuman gitu ;))

  17. #17 aprikot Friday, March 6th, 2009 at 8:56 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    ah sayang sekali aku hrus segera meninggalkan kota parisj van java itu 13 Maret nanti...btw goen kamu kekna perlu aku laporkan ke KPA krena mengeksploitasi anak dibawah umur *kabur*

  18. #18 frozen Friday, March 6th, 2009 at 9:02 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    Wah, sudah ada postingan baru, tentang Bandung lagi. Ntar balik lagi deh, yang penting komen dulu ;;)

  19. #19 dobelden Friday, March 6th, 2009 at 9:26 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows Windows XP

    kejebak angkot ga gun di bandung...

    saya sering bulak balik bandung, tp sebatas statiun dan terminal, ntah dimana bragawek berada.. x)p

  20. #20 Chic Friday, March 6th, 2009 at 9:29 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Mac OS X Mac OS X 10

    woogh.. tempat makan es krim favorite saya ada di Jalan Braga tuh... biasa dikunjungi sebelum dan setelah hunting photo di sana !@!

  21. #21 bintang Friday, March 6th, 2009 at 9:49 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows XP

    kelihatannya gara2 kedatangan jepang yang akhirnya meruntuhkan kejayaan baraga, ya????:|>

  22. #22 emina Friday, March 6th, 2009 at 10:29 From INDONESIA via Opera Opera 9.63 on Windows Windows XP

    hmhmhm....;))
    sudah kuduga, klo tiba-tiba ada komen Lee di blogku itu besar kemungkinan ada postingan baru.. ;))

    ternyata benar ! d^b
    waduuh..itu modelnyaaaahhh...benar -benar udah jadi mojang priangan ya, neng? hehe, tapi apa bicaranya manda masih kaku klo pakai bahasa indonesia? huhuhu...
    *komen ga penting*;))

  23. #23 almascatie Friday, March 6th, 2009 at 11:45 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.11 on Windows Windows XP

    kommentku ilang yah :-?

  24. #24 Gunawan Rudy Friday, March 6th, 2009 at 11:45 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ Dony Alfan: Cisss, aku tiap bulan ke sana.
    Eh, sorry... aku yang kelasnya lebih tinggi ya.. Hohoo.. *nyungsep*

    @ mantan kyai: Akhirnya apde dan langsung Panjang ya? Haha...

    @ Aling: Yup. Untuk membongkar bangunan lama itu mudah, eh tapi mengembalikannya ke bangunan tua ya nggak mungkin. :D

    @ edy: Nggak yeee... Kebetulan lagi mau nulis soal ini aja. :P

    @ agunk agriza: CUma buat ladang fotografer, jihhh...
    Tapi apa itu para fotografer ndak ikut mempertahankan agar Braga ndak mati suri yah...

    @ aprikot: Lhaaaaa... Kok anak di bawah umur tho?
    Jangan mentang budhe udah tua yaaaa...

    @ frozen: Asem... Balik woy, baliiiikk...

    @ dobelden: Bragaweg bisa dicapai jalan kaki dari stasiun kok. :P

    @ Chic: Nyah, di mana? Aku sih di Sumber Hidangan. Sayang tutup pas siesta, jadinya biasa ke sana pas sore.
    Duh lupa es krim yang pake rum itu nmanya apa...

    @ bintang: Kedatangan Jepun mengusir sebagian besar warga Eropa. :P

    @ emina: Sila ngobrol sendiri, hahaa...

    @ almascatie: Heee? Masak?

  25. #25 Rindu Friday, March 6th, 2009 at 12:01 From INDONESIA via Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows Vista

    Bandung memang selalu indah, meski berubah ubah nama Braga tetap indah :)

  26. #26 hedi Friday, March 6th, 2009 at 12:44 From INDONESIA via Google Chrome Google Chrome 1.0.154.48 on Windows Windows XP

    paham bener kalo soal mojang rujukannya bandung :D

  27. #27 zam Friday, March 6th, 2009 at 13:56 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Ubuntu Linux Ubuntu Linux

    goed verhaal, mijn vriend!

  28. #28 moerz Friday, March 6th, 2009 at 14:36 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.1 on Windows Windows XP

    fotonya keren... (objeknya maksudnya)
    hehehe...

  29. #29 frozen Friday, March 6th, 2009 at 17:45 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    *kembahali lahagi dari pertapaan*
    .
    Ahem...
    Saoedara Goen, sebetoelnja apa jang sitoe toelisken, adalah sangat berharga dan bermanfaat boeat itoe namanja referensi. Soenggoeh menggoegah dan bikin saja terperandjat, ternjata banjak hal jang beloem saja ketahoei tentang kota di mana saja tinggal sekarang ini, padahal loemajan poela saja sering wira-wiri ke itoe tempat bernama Braga, boeat sekedar tjoetji mata (liatin loekisan-loekisan maksoednja). Tapi Boeng, kalaoe boleh saja tahaoe, ini referensi didapat dahari mahana sahadja, ataoe tjoema sebatas boekoe-boekoe jang Boeng seboet itoe di atas? Dan itoe, doea potret di atas, adakah itoe nona meneer jang tersisa dari abad, ataoekah modjang priangan? (ini ndak usah dijawap, tau kok saya, kekekeke...)

    O, ijaa... saja baroe ingat, sebetoelnja dikaoe ini sematjam spetjies "backpacker"-kah, sebab kadang toelisanmoe ibarat tjatatan perdjalanan keliling kota. Dan lagi, adakah Boeng masih di ini kota Bandoeng? Djika ija, kiranja Toehan berkenan mempertemoekan kita boeat tjakap-tjakap sedjenak sembari ditemani setjangkir kopi di daerah C'Mar Braga, ataoe setangkoep ez krim di Braga Permai, itoeng-itoeng kita "ngabaraga" (hehe... arti popoelernja sih "bergaja" alias "nampang"), djoega sambil menikmati arsitektoer Oud Holland jang---seperti sitoe paparken--soeda lapoek.

    Jah... begitoelah komen tiada djelas dari saja. Sebenere ada lahagi jang hendak saja oetaraken, tjoema berhoeboeng baroe mengindjakkan kaki di Bandoeng, jemari masih loenglai boeat ngetik komen, dan isi kepala masih moemet berat gara-gara boesnja asoe! (kok malah coerhat?). Jjjah... ntar saja balik lahagi dah.

    Salam sedjahtera, Toean Rudolf
    Pieter Frozen Sijthoff

  30. #30 Gunawan Rudy Friday, March 6th, 2009 at 18:15 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows XP

    @ Rindu: Bandung semakin.... panas, haha.

    @ hedi: Ah, kayaknya cewek Tasik lebih....ahsudahlah.

    @ zam: Koweorang di Hindia Olanda mestinja pakaij itoe bahasa Melaijoe poenja! Inlanderkoopen! *kaboer*

    @ moerz: Oh yaaaaa?

    @ frozen:

    padahal loemajan poela saja sering wira-wiri ke itoe tempat bernama Braga, boeat sekedar tjoetji mata (liatin loekisan-loekisan maksoednja)

    Itoe mereka poenja loekisan didepan het Snoephuis (namanja sekarang itoe, Sumber Hidangan) bagoes poenja! Sajang sekalij saja tida ada berani boeat mendjepret itoe loekisan.

    Tapi Boeng, kalaoe boleh saja tahaoe, ini referensi didapat dahari mahana sahadja, ataoe tjoema sebatas boekoe-boekoe jang Boeng seboet itoe di atas? Dan itoe, doea potret di atas, adakah itoe nona meneer jang tersisa dari abad, ataoekah modjang priangan?

    Pasal menjoal boekoe-boekoe jang mendjadi roedjoeken saja poenja, bisa dikataken ada: "Perubahan Sosial di Bandung: 1810-1906" dan "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe" jang oetamanja, djoega ada Pramoedya Ananta Toer dan Remy Sylado poenja novelet. Sisanja bisa dikataken saja ada poenja tanja djawab dengan orang-orang jang poenja pengetaoean itoe sedjarah. Djoega mendengarken tjeritera-tjeritera.

    O ja, menjoal itoe koepoe-koepoe malam djelas saja ada koendjoengan ke tempatnja soeatoe tempo jang laloe. :))

    O, ijaa… saja baroe ingat, sebetoelnja dikaoe ini sematjam spetjies “backpacker”-kah, sebab kadang toelisanmoe ibarat tjatatan perdjalanan keliling kota. Dan lagi, adakah Boeng masih di ini kota Bandoeng?

    Saja hanja soeka plesir ke banjak tempat jang beloem pernah saja koendjongi adanja sahadja. Pasal ke Bandoeng, saja dipastiken ada seboelan satoe kali disana. Saja tentoe bisa ditjari di Stasioon Spoor Bandoeng, Stasioon Spoor Kiaratjondong, Tjihampelasweg, Tjipagantiweg, Tjisitoe, dan Bragaweg.

    Tempo ini saja tentoe soedah ada lagi di Djogja, poenja studie jang soesah dan roemit. Djadi bertanja-tanja kapan tempo kiranja saja bisa landjoet ke Leiden sana! O Nederland!

    Pieter Frozen Sijthoff

    Dan terachir, Meneer poenja hoeboengan matjam apa dengan Toean Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff jang tersohor itoe?

  31. #31 SJ Friday, March 6th, 2009 at 19:21 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    jarene gawe blog anyar maning. ana ngengi dununge? !@!

  32. #32 bachtair Friday, March 6th, 2009 at 19:49 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows Windows XP

    kamoe ini ngomong apauaa

  33. #33 Infinite Inficio Friday, March 6th, 2009 at 20:57 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    @ Mina: Ah, ya... sedikit, tetapi sudah nggak terlalu gimana... sepertinya... *halah* Ehh, saya cuma pakai baju macam itu karena sudah kehabisan ide, akhirnya entah rok entah baju saya pakai saja... *kok ngelantur ya*

    -------------------------

    Sebel dari tadi sudah menulis komentar panjang lebar via HP tetapi terperangkap captcha-nya itu melulu ~x( Grr, gambar jadi kusam karena memang wajah mojangnya kusut sih, bukan salah fotografernya.

    Hmm, ya sebenarnya aku juga cukup suka dengan suasana jalan Braga dengan paving batu andesitnya; jadi memiliki suasana klasik macam Rundle Mall dan suatu jalan lain (lupa apa) yang ada di Australia dulu. Ya, tetapi nggak penting juga... Oh, selain itu, ide bagus bagi bangunan-bangunan yang ada disana untuk memakai kanopi, Alfamart-nya sekalipun... ;)) Dan juga, ada Sumber Hidangan~! *digetok*

    Agak memprihatinkan soal bangunan-bangunan yang terlantar (masih lebih mending dialihfungsikan, hwaka... Bagaimana dengan yang direnovasi macam Grand Preanger?) Tetapi gedung Societeit Concordia masih baik-baik saja kok, rasanya, kapan kita mau mengunjungi Museum Konferensi Asia-Afrika? Lantai marmernya bagus~ :x

    O ja, menjoal itoe koepoe-koepoe malam djelas saja ada koendjoengan ke tempatnja soeatoe tempo jang laloe.

    Ck, ck, ngunjungin neng geulis kok nggak ngajak-ngajak... Pasti cewek Tasik ini :=!

  34. #34 -=«GoenRock®»=- Friday, March 6th, 2009 at 22:11 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Mac OS X Mac OS X 10

    Sekalinya apdet panjang amat yak tulisannya !@! Bragaweg = Braga banyak ceWegnya? *dikeplak*

  35. #35 sawali tuhusetya Saturday, March 7th, 2009 at 3:12 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    jadi inget kawasan kota lama di semarang, mas gun. di sana masih banyak kita temukan bangunan2 asli warisan landa. sayangnya, rob terus menggerus keberadaan kota lama. kalau yang di bandung, saya hanya tahu jalan dago saja, kekeke .....

  36. #36 Gunawan Rudy Saturday, March 7th, 2009 at 5:54 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    @ SJ: Eman-eman e, mbah, gunawanrudydotcom ki...

    @ bachtair: He, mudah kok. Sila baca saja. :P

    @ Infinite Inficio:

    Agak memprihatinkan soal bangunan-bangunan yang terlantar (masih lebih mending dialihfungsikan, hwaka… Bagaimana dengan yang direnovasi macam Grand Preanger?) Tetapi gedung Societeit Concordia masih baik-baik saja kok

    Hotel Grand Preanger dan Savoy Homann memang masih bertahan mengingat itu hotel kelas atas dari zaman dulu. E tapi ada beberapa hotel di ruas jalan Braga macam Hotel Braga dan Hotel Wilhelmina yang sekarang sudah nggak ada lho...

    Ck, ck, ngunjungin neng geulis kok nggak ngajak-ngajak… Pasti cewek Tasik ini

    *latihan pencak silat*

    @ -=«GoenRock®»=-: Hohooo... Nanti tulisan mendatang ta kurangi 1 paragraf dari ini ah...

    @ sawali tuhusetya: Kota Lama Semarang memang memikat sekali, pak! Saya baru satu kali ke sana. Sayang belum sempat mempelajarinya lebih jauh jadi belum bisa saya tuliskan... :((

  37. #37 okta Saturday, March 7th, 2009 at 7:27 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0b2 on Windows Windows Vista

    jadi pengen ke bandung lagi neh !@!

  38. #38 Kerfirou Saturday, March 7th, 2009 at 9:02 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    hlooo, Gun, ternyata dikau sampai mencicipi Geulis bandung tokh?

    bagi2 dong:d

  39. #39 Rian Xavier Saturday, March 7th, 2009 at 10:42 From GERMANY via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows Windows Vista

    bangunannya bagus. Btw, kok ganti nama ken arok di blogwalking?

  40. #40 edratna Saturday, March 7th, 2009 at 10:43 From INDONESIA via Mozilla SeaMonkey Mozilla SeaMonkey 1.1.8 on Windows Windows XP

    Sayangnya jalan Braga sekarang merana. Pada tahun 70 an, jalan Braga masih nyaman untuk jalan-jalan, saat pergi berlibur ke kota Bandung.

    Tapi soal gadis Sunda tetap menarik,kata anakku laki-laki
    "Sembilan dari sepuluh cewek yang kutemui di Bandung adalah cantik, dan satunya sangat cantik."
    Dan dia pernah berkata, "wah saya lupa, kita lagi di Bandung ya, makanya dari tadi ketemu cewek cantik semua." Walau cewek cantik tsb telah tercampur dengan cewek cantik diseluruh penjuru Indonesia yang sedang kuliah atau bekerja di Bandung.

  41. #41 azaxs Saturday, March 7th, 2009 at 16:13 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    Jadi ingat bandung mas :)

    Banyaj kesan tertinggal disana.. begitu juga braga :)

  42. #42 denologis Saturday, March 7th, 2009 at 18:49 From INDONESIA via Opera Opera 9.63 on Windows Windows XP

    kalo sekarang,
    don’t come to Bandoeng if your wife with you!
    :|>

  43. #43 aad Saturday, March 7th, 2009 at 22:16 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Mac OS X Mac OS X 10

    Jalan Braga memang khas, apalagi kalo dah jam 9 malam >:)

  44. #44 CY Sunday, March 8th, 2009 at 4:04 From INDONESIA via Internet Explorer Internet Explorer 6.0 on Windows Windows XP

    Coba kalo foto diatas itu dibikin black n white, pasti rasanya lebih eksklusip Gun...

  45. #45 Iman Brotoseno Sunday, March 8th, 2009 at 16:23 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.6 on Mac OS X Mac OS X 10

    Bandung sudah tidak senikmat sewaktu dulu, ketika saya bisa meluncur dengan skate board , balap bakapan dari atas dago turun kebawah di jalanan juanda - dago tersebut, ( pada siang hari bolong ). Ketika Factory oulet hanya di Cihampelas saja..
    Dan pada siang haripun, kita masih harus memakai jaket karena udara dingin.
    Bandung yang telah berubah..

  46. #46 nie Tuesday, March 10th, 2009 at 15:11 From INDONESIA via Opera Opera 9.62 on Windows Windows XP

    ooh..begitu toh. baru aku tau. omong2..potonya bagus sekali. artistik.

  47. #47 frozen Wednesday, March 11th, 2009 at 9:34 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0 on Windows Windows XP

    Sik... sik... sebenere arti "meneer" iku opo tho?:-/

  48. #48 itikkecil Wednesday, March 11th, 2009 at 9:45 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    ini pacar yang baru atau yang lama Goen?

  49. #49 cK Wednesday, March 11th, 2009 at 14:44 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows Vista

    *pundung*

    sekarang bandung panas. gak seadem dulu :-?

  50. #50 -tikabanget- Thursday, March 12th, 2009 at 12:27 From INDONESIA via Safari Safari 525.20.1 on Mac OS X Mac OS X 10.5.5

    goen jang terhormat..

    dengan ini disampaiken, bahwa saja baroe sekali ke bandoeng..
    soedikah kiranja abang goen membawa saja toeroet serta?

  51. #51 ichanx Thursday, March 12th, 2009 at 20:52 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.7 on Windows Windows XP

    goen jang terhormat,

    dengan ini saja mengadjak sodara sebangsa setanah air oentoek mentjulik tikabanget ke bandoeng biar jang bersangkoetan taoe akan keindahan kota bandoeng

  52. #52 Asop Friday, March 20th, 2009 at 4:37 From INDONESIA via Safari Safari 525.27.1 on Mac OS X Mac OS X 10.5.6

    Hmm... gitu rupanya? Wanita Sunda nilainya paling tinggi? *PLAK!*
    *Yang diinget kok kalimat itu?* :d

    Salam kenal! ^^

    Kamu beneran kelahiran 1990? Sama dong... ^^
    Kuliah di Yogya, di mana?

  53. #53 CT Tuesday, October 6th, 2009 at 4:46 From UNITED STATES via Internet Explorer Internet Explorer 8.0 on Windows Windows Vista

    Bandung sudah tidak senikmat sewaktu dulu, ketika saya bisa meluncur dengan skate board , balap bakapan dari atas dago turun kebawah di jalanan juanda - dago tersebut, ( pada siang hari bolong ). Ketika Factory oulet hanya di Cihampelas saja..
    Dan pada siang haripun, kita masih harus memakai jaket karena udara dingin.
    Bandung yang telah berubah..

Leave Your Response

Your email is never published nor shared. Make sure you enter the * required information where indicated.
Comments are not moderated, but note that "pertamax" word and its variants will be held in moderation queue.
This is a Gravatar-enabled weblog. And you can add Yahoo! Messenger emoticons to your comment.