<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Bahasa Nasional[is] dan Kebudayaan</title>
	<atom:link href="http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html</link>
	<description>A weblog of Gunawan Rudy: freelance web-designer and writer-wannabe. He talks too much about culture, ethnography, politic, belief, adventure, philosophy, literature, and design.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 13:33:10 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: S™J</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13200</link>
		<dc:creator>S™J</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 05:57:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13200</guid>
		<description>lha dalah... ulang lagi ah... ini maksudnya adalah upaya pengayaan kosakata nasional dengan menggali definisi berbagai kata dalam bahasa lokal ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lha dalah... ulang lagi ah... ini maksudnya adalah upaya pengayaan kosakata nasional dengan menggali definisi berbagai kata dalam bahasa lokal ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: S™J</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13199</link>
		<dc:creator>S™J</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 05:55:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13199</guid>
		<description>lho kok komentar barusan ilang? masuk ndak? :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lho kok komentar barusan ilang? masuk ndak? <img src='http://gunawanrudy.com/admin/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gunawanrudy</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13186</link>
		<dc:creator>gunawanrudy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 03:05:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13186</guid>
		<description>&lt;strong&gt;@ mawi wijna:&lt;/strong&gt;

Seperti Malinowski dan metode observasi-partisipanya, mendokumentasikan bahasa nggak lantas hanya mencatat dan hal-hal formalitas lain, tapi tentu juga ikut menuturkan. Tanpa itu, proses dokumentasi nggak akan pernah berjalan dengan baik.


&lt;strong&gt;@ yud1:&lt;/strong&gt;

Kopas sajalah, hihihii...


&lt;strong&gt;@ minanube:&lt;/strong&gt;

Saat saya membalas komen saudara, eh desain blog ini sudah berubah. Hahaa...


&lt;strong&gt;@ antyo rentjoko:&lt;/strong&gt;

Paman, perihal bahasa Indonesia yang lebih fungsional karena dibuat operasional sehingga berbeda dengan bahasa pondasinya yaitu Melayu itu saya sepakat. Meskipun begitu, untuk memahami karakter penutur bahasa-bahasa lokal di Nusantara nggak cukup hanya dengan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Di sana bahasa Indonesia memang nggak &quot;super pemersatu&quot;.


&lt;strong&gt;@ AngelNdutz:&lt;/strong&gt;

Sila dipraktekkeun. :D


&lt;strong&gt;@ liyuan:&lt;/strong&gt;

Nggg.. Pertanyaan Anda kalau dijawab bakal sepanjang skripsi paling tebal di perpustakaan kampus. Bagaimana ya, nanti kalau ada waktu coba saya tuliskan secara singkat deh. Mohon maaf ya.


&lt;strong&gt;@ fertob:&lt;/strong&gt;

Memang pada bagian itu, aroma ilmu linguistik begitu kental rasanya, dan terkesan seperti hanya dipahami dalam konteks linguistik. Saya pribadi [loh ya], menginterpretasikan itu bukan dalam hal-hal yang formal dan terkait keilmuan, namun lebih ke sisi praktis yang dapat saya gunakan. Misalnya memahami tata bahasa, morfologi, semantik, dll bahasa Jawa. Dengan memahami itu saya dapat mengerti cara orang Jawa pada umumnya dalam memandang kehidupan. Dengan melihat tingkatan dengan kategori kasar dan halus (ngoko, kromo madya, inggil) dan istilah pengganti seperti &quot;mas&quot;, &quot;sinuwun&quot;, dll dalam bahasa Jawa, saya akan mengerti bahwa perihal kedudukan sosial serta menjaga jarak pergaulan adalah hal yang penting bagi orang Jawa secara umum. Melihat pembagian tenses bahasa Inggris (past, present, future) membuat saya menyadari bahwa waktu adalah hal yang sangat penting dalam keseharian orang Inggris pada umumnya. Atau seperti yang dipaparkan dalam  komentar Paman Tyo sebelumnya, mencatat kosakata percakapan lokal.

Otomatis dengan mempelajari itu, kita akan menjadi bagian dari penutur (nggg... penutur-partisipan?) meski memang bukan &quot;penutur aseli&quot;. Otomatis ketika mempelajari (nggak ada artian akademis) bahasa Jawa, saya akan bertutur Jawa. Tapi memang, &quot;kesepakatan&quot; antar penutur lah yang membuat bahasa itu nggak punah.

Jadi teringat kasus bahasa Komodo (bukan hewan, tapi yang dipakai oleh penduduk asli pulau Komodo) yang nyaris punah. Orang asli Komodo bisa dikatakan punah. Yang menempati pulau Komodo sekarang adalah pendatang dan suku-suku dari pulau lain. Namun suku-suku dari pulau lain tersebut masih ada yang menuturkan bahasa Komodo meski penutur aselinya telah punah. Sedikit memang, dan lambat laun bahasa Komodo ini makin sedikit dituturkan, hampir punah.

(jika menyoal linguistik? aseli modyar saya kalau soal yang satu itu)

jika menginterpretasikan kalimat itu dalam konteks keilmuan? rasanya maknanya sudah jelas jika melihat secara umum, menyoal penyusunan peta linguistik, menganalisa, membahas ejaan dan tatabahasa, dan lain-lain. tapi jika mengacu pada cabang etnolinguistik, mestinya nggak seperti pengertian konteks keilmuan secara umum. nanti dilanjutkan... ngejar deadline dulu. (wegh, kuliah bakal berantakan lagi)

Nggg... silaken dilanjutken, agar saya bisa belajar juga. :P</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>@ mawi wijna:</strong></p>
<p>Seperti Malinowski dan metode observasi-partisipanya, mendokumentasikan bahasa nggak lantas hanya mencatat dan hal-hal formalitas lain, tapi tentu juga ikut menuturkan. Tanpa itu, proses dokumentasi nggak akan pernah berjalan dengan baik.</p>
<p><strong>@ yud1:</strong></p>
<p>Kopas sajalah, hihihii...</p>
<p><strong>@ minanube:</strong></p>
<p>Saat saya membalas komen saudara, eh desain blog ini sudah berubah. Hahaa...</p>
<p><strong>@ antyo rentjoko:</strong></p>
<p>Paman, perihal bahasa Indonesia yang lebih fungsional karena dibuat operasional sehingga berbeda dengan bahasa pondasinya yaitu Melayu itu saya sepakat. Meskipun begitu, untuk memahami karakter penutur bahasa-bahasa lokal di Nusantara nggak cukup hanya dengan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Di sana bahasa Indonesia memang nggak "super pemersatu".</p>
<p><strong>@ AngelNdutz:</strong></p>
<p>Sila dipraktekkeun. <img src='http://gunawanrudy.com/admin/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>@ liyuan:</strong></p>
<p>Nggg.. Pertanyaan Anda kalau dijawab bakal sepanjang skripsi paling tebal di perpustakaan kampus. Bagaimana ya, nanti kalau ada waktu coba saya tuliskan secara singkat deh. Mohon maaf ya.</p>
<p><strong>@ fertob:</strong></p>
<p>Memang pada bagian itu, aroma ilmu linguistik begitu kental rasanya, dan terkesan seperti hanya dipahami dalam konteks linguistik. Saya pribadi [loh ya], menginterpretasikan itu bukan dalam hal-hal yang formal dan terkait keilmuan, namun lebih ke sisi praktis yang dapat saya gunakan. Misalnya memahami tata bahasa, morfologi, semantik, dll bahasa Jawa. Dengan memahami itu saya dapat mengerti cara orang Jawa pada umumnya dalam memandang kehidupan. Dengan melihat tingkatan dengan kategori kasar dan halus (ngoko, kromo madya, inggil) dan istilah pengganti seperti "mas", "sinuwun", dll dalam bahasa Jawa, saya akan mengerti bahwa perihal kedudukan sosial serta menjaga jarak pergaulan adalah hal yang penting bagi orang Jawa secara umum. Melihat pembagian tenses bahasa Inggris (past, present, future) membuat saya menyadari bahwa waktu adalah hal yang sangat penting dalam keseharian orang Inggris pada umumnya. Atau seperti yang dipaparkan dalam  komentar Paman Tyo sebelumnya, mencatat kosakata percakapan lokal.</p>
<p>Otomatis dengan mempelajari itu, kita akan menjadi bagian dari penutur (nggg... penutur-partisipan?) meski memang bukan "penutur aseli". Otomatis ketika mempelajari (nggak ada artian akademis) bahasa Jawa, saya akan bertutur Jawa. Tapi memang, "kesepakatan" antar penutur lah yang membuat bahasa itu nggak punah.</p>
<p>Jadi teringat kasus bahasa Komodo (bukan hewan, tapi yang dipakai oleh penduduk asli pulau Komodo) yang nyaris punah. Orang asli Komodo bisa dikatakan punah. Yang menempati pulau Komodo sekarang adalah pendatang dan suku-suku dari pulau lain. Namun suku-suku dari pulau lain tersebut masih ada yang menuturkan bahasa Komodo meski penutur aselinya telah punah. Sedikit memang, dan lambat laun bahasa Komodo ini makin sedikit dituturkan, hampir punah.</p>
<p>(jika menyoal linguistik? aseli modyar saya kalau soal yang satu itu)</p>
<p>jika menginterpretasikan kalimat itu dalam konteks keilmuan? rasanya maknanya sudah jelas jika melihat secara umum, menyoal penyusunan peta linguistik, menganalisa, membahas ejaan dan tatabahasa, dan lain-lain. tapi jika mengacu pada cabang etnolinguistik, mestinya nggak seperti pengertian konteks keilmuan secara umum. nanti dilanjutkan... ngejar deadline dulu. (wegh, kuliah bakal berantakan lagi)</p>
<p>Nggg... silaken dilanjutken, agar saya bisa belajar juga. <img src='http://gunawanrudy.com/admin/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fertob</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13179</link>
		<dc:creator>fertob</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 13:19:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13179</guid>
		<description>Saya masih kurang ngerti dengan kalimat &quot;mendeskripsikan berbagai bahasa lokal di Indonesia dengan segala seluk-beluknya, mulai dari soal tata bahasa, morfologi, semantik, hingga fonologinya&quot;. 

Dalam konteks itu, berarti suatu bahasa hanya dipahami dalam konteks keilmuan [ilmu tentang bahasa]. Apakah suatu bahasa dalam konteks diatas dapat dikatakan lestari jika tidak ada penuturnya? Suatu bahasa bisa dikatakan &quot;punah&quot; jika tidak ada lagi yang menjadi penutur bahasa itu, meskipun dalam ilmu kebahasaan bahasa itu sudah terdeskripsikan dengan lengkap, baik itu semantik sampai fonologinya. Mempertahankan eksistensi suatu bahasa bukanlah hanya mengkaji keilmuan bahasa tersebut tetapi bagaimana penerapannya, dimana bahasa tanpa penutur, menurut saya, adalah bahasa yang punah dan hanya bisa ditemui di museum-museum. Terkecuali kita ingin melestarikan bahasa dengan cara mengunjungi museum. :-)

Saya memperbandingkannya dengan konteks lain yaitu &quot;ilmu dan penerapan ilmu&quot;

Nanti lagi dilanjutin...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya masih kurang ngerti dengan kalimat "mendeskripsikan berbagai bahasa lokal di Indonesia dengan segala seluk-beluknya, mulai dari soal tata bahasa, morfologi, semantik, hingga fonologinya". </p>
<p>Dalam konteks itu, berarti suatu bahasa hanya dipahami dalam konteks keilmuan [ilmu tentang bahasa]. Apakah suatu bahasa dalam konteks diatas dapat dikatakan lestari jika tidak ada penuturnya? Suatu bahasa bisa dikatakan "punah" jika tidak ada lagi yang menjadi penutur bahasa itu, meskipun dalam ilmu kebahasaan bahasa itu sudah terdeskripsikan dengan lengkap, baik itu semantik sampai fonologinya. Mempertahankan eksistensi suatu bahasa bukanlah hanya mengkaji keilmuan bahasa tersebut tetapi bagaimana penerapannya, dimana bahasa tanpa penutur, menurut saya, adalah bahasa yang punah dan hanya bisa ditemui di museum-museum. Terkecuali kita ingin melestarikan bahasa dengan cara mengunjungi museum. <img src='http://gunawanrudy.com/admin/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#41;' /></p>
<p>Saya memperbandingkannya dengan konteks lain yaitu "ilmu dan penerapan ilmu"</p>
<p>Nanti lagi dilanjutin...</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: liyuan</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13176</link>
		<dc:creator>liyuan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:50:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13176</guid>
		<description>jadi, bahasa yang mempengaruhi kebudayaan atau kebudayaan yang mempengaruhi bahasa?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi, bahasa yang mempengaruhi kebudayaan atau kebudayaan yang mempengaruhi bahasa?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AngelNdutz</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13067</link>
		<dc:creator>AngelNdutz</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 05:21:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13067</guid>
		<description>sekarang lagi tren bahasa alay !@!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sekarang lagi tren bahasa alay !@!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: antyo rentjoko</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13038</link>
		<dc:creator>antyo rentjoko</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 22:06:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13038</guid>
		<description>Bahasa apa pun akan bertahan sepajang dia/mereka itu fungsional. Begitu pula halnya dengan bahasa daerah. Ngapain dipaksakan tetap &quot;lestari&quot; padahal penuturnya tak merasa diperkaya? Kalau hanya kosakata, tapi tak terpahami secara semantik oleh penuturnya, maka kata-kata itu adalah mantera. Lihatlah resepsi pernikahan Jawa. Dari sepuluh hadirin yang berdarah Jawa, berapakah yang paham kata-jata yang diucapkan oleh narator alias &quot;pranatacara&quot;? Hadirin sibuk ber-SMS atau ngobrol sendiri sambil kipas-kipas. Mantera pun telah gagal.

Adapun tentang pendokumentasian, saya sangat setuju. Itulah sebabnya saya mengusulkan kepada bloggerbekasi.com agar mencatat kosakata dalam percakapan lokal.

Tentang bahasa Indonesia, dia hanya menjadi alat komunikasi dan bahasa ilmiah jika terbuka terhadap pengayaan, dan lebih penting lagi bahasa Indonesia memang dibuat lebih operasional -- di dalamnya ada soal penalaran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasa apa pun akan bertahan sepajang dia/mereka itu fungsional. Begitu pula halnya dengan bahasa daerah. Ngapain dipaksakan tetap "lestari" padahal penuturnya tak merasa diperkaya? Kalau hanya kosakata, tapi tak terpahami secara semantik oleh penuturnya, maka kata-kata itu adalah mantera. Lihatlah resepsi pernikahan Jawa. Dari sepuluh hadirin yang berdarah Jawa, berapakah yang paham kata-jata yang diucapkan oleh narator alias "pranatacara"? Hadirin sibuk ber-SMS atau ngobrol sendiri sambil kipas-kipas. Mantera pun telah gagal.</p>
<p>Adapun tentang pendokumentasian, saya sangat setuju. Itulah sebabnya saya mengusulkan kepada bloggerbekasi.com agar mencatat kosakata dalam percakapan lokal.</p>
<p>Tentang bahasa Indonesia, dia hanya menjadi alat komunikasi dan bahasa ilmiah jika terbuka terhadap pengayaan, dan lebih penting lagi bahasa Indonesia memang dibuat lebih operasional -- di dalamnya ada soal penalaran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: minanube</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13034</link>
		<dc:creator>minanube</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 03:50:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13034</guid>
		<description>Wiue mantap banget bro desain blognya !@!

Kontennya jugah mantap djaya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wiue mantap banget bro desain blognya !@!</p>
<p>Kontennya jugah mantap djaya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yud1</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13031</link>
		<dc:creator>yud1</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 15:28:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13031</guid>
		<description>damn, gw malah udah komen yang di notes Facebook... tau gitu tadi gw komen di sini aja. (LOL)

~ah sudahlah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>damn, gw malah udah komen yang di notes Facebook... tau gitu tadi gw komen di sini aja. (LOL)</p>
<p>~ah sudahlah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mawi wijna</title>
		<link>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comment-13030</link>
		<dc:creator>mawi wijna</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 15:15:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340#comment-13030</guid>
		<description>Menurut saya bahasa adalah kebudayaan yang &quot;hidup&quot;. Dalam arti akan selalu diperpanjang nafasnya tatkala ada yang menggunakannya sebagai alat komunikasi. Mendeskripsikan bahasa lokal itu memang ide yang menarik, mengingat minimnya khazanah perbahasaan yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Namun jika hanya sekedar mendeskripsikan tanpa ada yang pernah mengucapkan lagi, bukankah itu sama saja dengan membingkai kenangan bahwa &quot;dahulu kala bahasa ini pernah ada&quot;.

Menurut saya, memang sudah kewajiban kita sebagai bagian dari sekian suku yang ada di bumi pertiwi ini untuk memahami bahasa daerah kita masing-masing agar tidak punah ditelan jaman.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya bahasa adalah kebudayaan yang "hidup". Dalam arti akan selalu diperpanjang nafasnya tatkala ada yang menggunakannya sebagai alat komunikasi. Mendeskripsikan bahasa lokal itu memang ide yang menarik, mengingat minimnya khazanah perbahasaan yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Namun jika hanya sekedar mendeskripsikan tanpa ada yang pernah mengucapkan lagi, bukankah itu sama saja dengan membingkai kenangan bahwa "dahulu kala bahasa ini pernah ada".</p>
<p>Menurut saya, memang sudah kewajiban kita sebagai bagian dari sekian suku yang ada di bumi pertiwi ini untuk memahami bahasa daerah kita masing-masing agar tidak punah ditelan jaman.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

