Hello world! I'm Gunawan Rudy.

Goen, Rudy, Koh — you name it. Ordinary Homo sapiens, indolent blogger, webdesigner-wannabe.
Broadcasting to [...] watcher live from Djogjakarta, Indonesia, 7°45'58"S and 110°23'4"E.

@gunawanrudy: pantai gading. guinea khatulistiwa. tanjung verde. indonesia memang mahir dalam hal terjemahan nama negara.

Bahasa Nasional[is] dan Kebudayaan

// Blog // Friday, February 6th, 2009 at 6:29 pm // 10 comments

Momen yang disebut sebagai “Sumpah Pemuda” memang telah lewat. Ada hal yang menarik terkait dengan momen tersebut, sebagaimana adanya dengan fenomena-fenomena mutakhir: tak lain ialah bahasa.

Momen “Sumpah Pemuda” menyinggung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, selain menyoal bangsa dan tanahair yang satu. Momen tersebut tahun ini sedikit-banyak mengangkat persoalan bahasa terkait dengan “sengketa kebudayaan” antara Indonesia dan Malaysia, fenomena “bahasa alay” di kalangan generasi internet, serta “bahasa gado-gado” yang memakai berbagai macam bahasa dalam satu kalimat (seringkali menyisipkan bahasa Inggris dalam dialog berbahasa Indonesia), juga masalah-masalah klasik seperti berkurangnya pemakaian bahasa daerah dan punahnya beberapa bahasa daerah karena tidak ada lagi penutur aselinya.

Dari fenomena-fenomena di atas, salah satu wacana yang paling menonjol adalah bahasa Indonesia versus bahasa daerah atau bahasa lokal. Satu pihak mengklaim bahwa penggunaan bahasa Indonesia —entah sesuai EYD atau tidak— menandakan rasa nasionalisme yang tinggi, pihak lain ada yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah tidak aseli Indonesia tapi hampir semuanya berupa serapan dari berbagai bahasa [asing] (lihat Alif Dasya Munsyi alias Remy Sylado, 2003: 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing), dan ada pula yang menggalakkan kampanye mengenai penggunaan bahasa daerah sebagai wujud pelestarian kebudayaan.

Mengenai perihal ini saya kurang-lebih sependapat —walau di lain pihak juga mengkritisi beberapa bagian— dengan guru saya, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam salah satu tulisannya. Izinkan saya untuk mengetik ulang petikan [bagian akhir] dari tulisan beliau tersebut, yang berjudul “Etnolinguistik: Beberapa Bentuk Kajian”, lebih tepatnya sub-bab “Etnolinguistik: Artinya Bagi Indonesia” bertarikh 1997.

***

Etnolinguistik: Artinya Bagi Indonesia

Berbagai contoh yang telah saya kemukakan di atas cukup kiranya untuk membuka mata kita akan pentingnya studi etnolinguistik bagi kita di Indonesia. Kita ingat bahwa salah sebuah slogan yang masih tetap penting hingga kini adalah slogan “melestarikan kebudayaan”. Slogan ini memang sangat menarik dan memang layak disetujui. Tetapi tampaknya hanya sedikit orang yang memikirkan betul-betul bagaimana hal ini bisa dilakukan. Di sinilah etnolinguistik dapat memainkan peranannya yang sangat penting.

Jika kita setuju bahwa bahasa adalah sistem simbol yang teramat penting dalam kehidupan dan perkembangan kebudayaan manusia; bahwa dalam bahasalah tersimpan khasanah pengetahuan suatu masyarakat atau suku bangsa; bahwa mengenai bahasalah sebenarnya orang “memandang” lingkungannya; kita tentunya akan setuju bahwa pelestarian kebudayaan dalam bentuknya yang paling konkret tidak lain adalah pelestarian bahasa-bahasa lokal di seluruh kawasan Indonesia. Pandangan ini mungkin akan segera membuat banyak orang berkata “itu suatu hal yang mustahil”. Oleh karena itu, perlu dijelaskan lebih lanjut, apa arti melestarikan bahasa lokal tersebut.

Pelestarian bahasa-bahasa lokal di sini tidaklah harus diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi bahasa-bahasa tersebut, artinya orang dipaksa untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam kehidupan sehari-hari sebab hal semacam itu tidak akan mungkin dilakukan. Misalnya, orang boleh saja tidak bersedia belajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tetapi dia akan merasakan sendiri bahwa ketidakmampuannya menggunakan bahasa-bahasa tersebut akan membuatnya tidak mampu bersaing dalam mencari pekerjaan dengan mereka yang menguasai bahasa-bahasa tersebut. Oleh karena itu, pelestarian bahasa lokal tidak harus diartikan bahwa bahasa tersebut harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelestarian dalam konteks ini dapat diartikan sebagai segala upaya untuk mendeskripsikan berbagai bahasa lokal di Indonesia dengan segala seluk-beluknya, mulai dari soal tata bahasa, morfologi, semantik, hingga fonologinya. Pendokumentasian bahasa ini kelihatannya memang tidak begitu penting, tetapi sebenarnya akan sangat banyak memberikan manfaat jika kita memang menyadari manfaatnya serta dapat memetik manfaat tersebut. Manfaat ini tidak hanya akan dipetik oleh ahli-ahli bahasa, yang akan dapat menggunakannya untuk memperkaya khasanah bahasa Indonesia, tetapi juga akan dapat dipetik oleh para ahli ilmu pengetahuan yang lain.

Sebagai contoh, dengan menganalisis berbagai bidang pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat lewat bahasa mereka, kita akan dapat mengetahui berbagai pandangan hidup mereka yang secara implisit ada di balik bahasa, yang tidak dapat diungkapkan oleh pemilik bahasa itu sendiri. Dengan mengetahui pandangan hidup yang implisit ini, paling tidak kita akan dapat memahami cara pandang mereka serta berbagai perilaku mereka yang berdasarkan pandangan hidup tersebut. Dengan begitu pula, kita akan dapat menghargai dan memberikan toleransi pada mereka.

Lebih lanjut dengan mengetahui budaya suatu masyarakat dari bahasa yang mereka miliki, serta penguasaan atas bahasa mereka, kita akan dapat melakukan dialog dengan para pendukung kebudayaan tersebut. Dari dialog ini akan tercipta suatu kerangka berpikir bersama, yang akan menjadi kerangka acuan bersama dalam kehidupan sehari-hari, dan ini akan mengurangi kemungkinan timbulnya salah pengertian, yang akan dapat membawa kita pada konflik yang membahayakan kehidupan kita sendiri.

Sayang sekali, bahwa hal semacam ini masih belum sepenuhnya disadari oleh banyak warga masyarakat kita. Banyak orang masih menganggap bahwa persoalan bahasa akan dapat terselesaikan dengan sendirinya asalkan sudah ada bahasa nasional; konflik dan kericuhan akan berkurang bilamana masalah ekonomi dapat terpecahkan; salah pengertian dan konflik yang diakibatkannya dapat dicegah bilamana orang semakin sadar akan agamanya, semakin tinggi pendidikannya, dan sebagainya. Mereka yang mengikuti pandangan semacam ini lupa bahwa semua itu akhirnya bermuara pada soal komunikasi antarkelompok dan antarindividu. Bagaimana komunikasi bisa berjalan dan salah pengertian bisa dijamin tidak terjadi jika kita tidak mengetahui bahasa masing-masing dengan baik?

***

Salah satu yang saya kritisi adalah paragraf terakhir dalam sub-bab ini, yang kurang menjelaskan kalimat “bagaimana komunikasi bisa berjalan dan salah pengertian bisa dijamin tidak terjadi jika kita tidak mengetahui bahasa masing-masing dengan baik?” sehingga maksudnya ambigu, dan bisa saja orang akan menjawab: “karena itu, agar lebih mudah, berkomunikasilah dengan satu bahasa, bahasa pemersatu”.

Kalimat tersebut tentu tidak dapat langsung dimaknai sesederhana itu, karena menurut saya di situ Prof. Ahimsa-Putra bermaksud merujuk pada konteks bahasa dan cara [pemikiran] penuturnya memandang hidup, kenyataan, dan lingkungan. Kita ambil contoh yang cukup dekat, dalam bahasa Indonesia dikenal berbagai macam istilah padi, gabah, nasi yang dalam bahasa Inggris hanya dikenal sebagai rice. Dalam bahasa Jawa, istilah ini lebih kaya lagi dengan tambahan sega, upa, dan intip. Barulah istilah paddy kemudian lahir untuk menyesuaikan (mohon koreksinya). Di sini terlihat perbedaan pada masyarakat Indonesia dan Inggris dalam memandang padi, gabah, nasi, atau rice tersebut —yang dalam hal ini terkait pada Indonesia sebagai negara agraris yang mengenal bercocok tanam dengan sistem bersawah, yang mana hal ini tidak ditemukan di Inggris. Karena perbedaan kebudayaan (sistem mata pencaharian adalah salah satu unsur kebudayaan, menurut beberapa pandangan) tersebut, maka sangat tidak mungkin untuk dapat memahami satu sama lain sepenuhnya hanya dengan satu bahasa.

Semoga sedikit penjelasan ini dapat membantu atas pengertian terhadap tulisan di atas.

 

Tulisan ini juga diterbitkan di Betang.COM.

* petikan tulisan “Etnolinguistik” oleh H. S. Ahimsa-Putra, foto oleh antobilang

Labels: , , , , , , ,


Facebook // Delicious // Digg // Technorati // Stumble // LintasBerita // Plurk // Twitter


10 Responses

  1. #1 mawi wijna Friday, November 6th, 2009 at 22:15 From INDONESIA via Opera Opera 9.80 on Windows Windows XP

    Menurut saya bahasa adalah kebudayaan yang "hidup". Dalam arti akan selalu diperpanjang nafasnya tatkala ada yang menggunakannya sebagai alat komunikasi. Mendeskripsikan bahasa lokal itu memang ide yang menarik, mengingat minimnya khazanah perbahasaan yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Namun jika hanya sekedar mendeskripsikan tanpa ada yang pernah mengucapkan lagi, bukankah itu sama saja dengan membingkai kenangan bahwa "dahulu kala bahasa ini pernah ada".

    Menurut saya, memang sudah kewajiban kita sebagai bagian dari sekian suku yang ada di bumi pertiwi ini untuk memahami bahasa daerah kita masing-masing agar tidak punah ditelan jaman.

  2. #2 yud1 Friday, November 6th, 2009 at 22:28 From INDONESIA via Google Chrome Google Chrome 4.0.223.11 on Windows Windows Vista

    damn, gw malah udah komen yang di notes Facebook... tau gitu tadi gw komen di sini aja. (LOL)

    ~ah sudahlah

  3. #3 minanube Saturday, November 7th, 2009 at 10:50 From INDONESIA via Safari Safari 530.19 on Mac OS X Mac OS X 10.5.8

    Wiue mantap banget bro desain blognya !@!

    Kontennya jugah mantap djaya

  4. #4 antyo rentjoko Sunday, November 8th, 2009 at 5:06 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Windows XP

    Bahasa apa pun akan bertahan sepajang dia/mereka itu fungsional. Begitu pula halnya dengan bahasa daerah. Ngapain dipaksakan tetap "lestari" padahal penuturnya tak merasa diperkaya? Kalau hanya kosakata, tapi tak terpahami secara semantik oleh penuturnya, maka kata-kata itu adalah mantera. Lihatlah resepsi pernikahan Jawa. Dari sepuluh hadirin yang berdarah Jawa, berapakah yang paham kata-jata yang diucapkan oleh narator alias "pranatacara"? Hadirin sibuk ber-SMS atau ngobrol sendiri sambil kipas-kipas. Mantera pun telah gagal.

    Adapun tentang pendokumentasian, saya sangat setuju. Itulah sebabnya saya mengusulkan kepada bloggerbekasi.com agar mencatat kosakata dalam percakapan lokal.

    Tentang bahasa Indonesia, dia hanya menjadi alat komunikasi dan bahasa ilmiah jika terbuka terhadap pengayaan, dan lebih penting lagi bahasa Indonesia memang dibuat lebih operasional -- di dalamnya ada soal penalaran.

  5. #5 AngelNdutz Thursday, November 12th, 2009 at 12:21 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Windows XP

    sekarang lagi tren bahasa alay !@!

  6. #6 liyuan Monday, November 23rd, 2009 at 7:50 From SINGAPORE via Google Chrome Google Chrome 3.0.195.27 on Windows Windows XP

    jadi, bahasa yang mempengaruhi kebudayaan atau kebudayaan yang mempengaruhi bahasa?

  7. #7 fertob Monday, November 23rd, 2009 at 20:19 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Windows XP

    Saya masih kurang ngerti dengan kalimat "mendeskripsikan berbagai bahasa lokal di Indonesia dengan segala seluk-beluknya, mulai dari soal tata bahasa, morfologi, semantik, hingga fonologinya".

    Dalam konteks itu, berarti suatu bahasa hanya dipahami dalam konteks keilmuan [ilmu tentang bahasa]. Apakah suatu bahasa dalam konteks diatas dapat dikatakan lestari jika tidak ada penuturnya? Suatu bahasa bisa dikatakan "punah" jika tidak ada lagi yang menjadi penutur bahasa itu, meskipun dalam ilmu kebahasaan bahasa itu sudah terdeskripsikan dengan lengkap, baik itu semantik sampai fonologinya. Mempertahankan eksistensi suatu bahasa bukanlah hanya mengkaji keilmuan bahasa tersebut tetapi bagaimana penerapannya, dimana bahasa tanpa penutur, menurut saya, adalah bahasa yang punah dan hanya bisa ditemui di museum-museum. Terkecuali kita ingin melestarikan bahasa dengan cara mengunjungi museum. :-)

    Saya memperbandingkannya dengan konteks lain yaitu "ilmu dan penerapan ilmu"

    Nanti lagi dilanjutin...

  8. #8 gunawanrudy Tuesday, November 24th, 2009 at 10:05 From CANADA via Blackberry Blackberry 8703

    @ mawi wijna:

    Seperti Malinowski dan metode observasi-partisipanya, mendokumentasikan bahasa nggak lantas hanya mencatat dan hal-hal formalitas lain, tapi tentu juga ikut menuturkan. Tanpa itu, proses dokumentasi nggak akan pernah berjalan dengan baik.

    @ yud1:

    Kopas sajalah, hihihii...

    @ minanube:

    Saat saya membalas komen saudara, eh desain blog ini sudah berubah. Hahaa...

    @ antyo rentjoko:

    Paman, perihal bahasa Indonesia yang lebih fungsional karena dibuat operasional sehingga berbeda dengan bahasa pondasinya yaitu Melayu itu saya sepakat. Meskipun begitu, untuk memahami karakter penutur bahasa-bahasa lokal di Nusantara nggak cukup hanya dengan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Di sana bahasa Indonesia memang nggak "super pemersatu".

    @ AngelNdutz:

    Sila dipraktekkeun. :D

    @ liyuan:

    Nggg.. Pertanyaan Anda kalau dijawab bakal sepanjang skripsi paling tebal di perpustakaan kampus. Bagaimana ya, nanti kalau ada waktu coba saya tuliskan secara singkat deh. Mohon maaf ya.

    @ fertob:

    Memang pada bagian itu, aroma ilmu linguistik begitu kental rasanya, dan terkesan seperti hanya dipahami dalam konteks linguistik. Saya pribadi [loh ya], menginterpretasikan itu bukan dalam hal-hal yang formal dan terkait keilmuan, namun lebih ke sisi praktis yang dapat saya gunakan. Misalnya memahami tata bahasa, morfologi, semantik, dll bahasa Jawa. Dengan memahami itu saya dapat mengerti cara orang Jawa pada umumnya dalam memandang kehidupan. Dengan melihat tingkatan dengan kategori kasar dan halus (ngoko, kromo madya, inggil) dan istilah pengganti seperti "mas", "sinuwun", dll dalam bahasa Jawa, saya akan mengerti bahwa perihal kedudukan sosial serta menjaga jarak pergaulan adalah hal yang penting bagi orang Jawa secara umum. Melihat pembagian tenses bahasa Inggris (past, present, future) membuat saya menyadari bahwa waktu adalah hal yang sangat penting dalam keseharian orang Inggris pada umumnya. Atau seperti yang dipaparkan dalam komentar Paman Tyo sebelumnya, mencatat kosakata percakapan lokal.

    Otomatis dengan mempelajari itu, kita akan menjadi bagian dari penutur (nggg... penutur-partisipan?) meski memang bukan "penutur aseli". Otomatis ketika mempelajari (nggak ada artian akademis) bahasa Jawa, saya akan bertutur Jawa. Tapi memang, "kesepakatan" antar penutur lah yang membuat bahasa itu nggak punah.

    Jadi teringat kasus bahasa Komodo (bukan hewan, tapi yang dipakai oleh penduduk asli pulau Komodo) yang nyaris punah. Orang asli Komodo bisa dikatakan punah. Yang menempati pulau Komodo sekarang adalah pendatang dan suku-suku dari pulau lain. Namun suku-suku dari pulau lain tersebut masih ada yang menuturkan bahasa Komodo meski penutur aselinya telah punah. Sedikit memang, dan lambat laun bahasa Komodo ini makin sedikit dituturkan, hampir punah.

    (jika menyoal linguistik? aseli modyar saya kalau soal yang satu itu)

    jika menginterpretasikan kalimat itu dalam konteks keilmuan? rasanya maknanya sudah jelas jika melihat secara umum, menyoal penyusunan peta linguistik, menganalisa, membahas ejaan dan tatabahasa, dan lain-lain. tapi jika mengacu pada cabang etnolinguistik, mestinya nggak seperti pengertian konteks keilmuan secara umum. nanti dilanjutkan... ngejar deadline dulu. (wegh, kuliah bakal berantakan lagi)

    Nggg... silaken dilanjutken, agar saya bisa belajar juga. :P

  9. #9 S™J Wednesday, November 25th, 2009 at 12:55 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Windows XP

    lho kok komentar barusan ilang? masuk ndak? :D

  10. #10 S™J Wednesday, November 25th, 2009 at 12:57 From INDONESIA via Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Windows XP

    lha dalah... ulang lagi ah... ini maksudnya adalah upaya pengayaan kosakata nasional dengan menggali definisi berbagai kata dalam bahasa lokal ya?

Leave Your Response

Your email is never published nor shared. Make sure you enter the * required information where indicated.
Comments are not moderated, but note that "pertamax" word and its variants will be held in moderation queue.
This is a Gravatar-enabled weblog. And you can add Yahoo! Messenger emoticons to your comment.