Dua puluh dua tahun sudah berlalu sejak demonstrasi massal tanpa kekerasan yang menumbangkan Ferdinand Marcos di Filipina. Peristiwa yang dikenal dengan nama People Power atau Revolusi EDSA itu terjadi di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA), sebuah jalan di Manila yang merupakan salah satu sentra terpenting di Filipina. Tahun 2001, aksi serupa terjadi kembali, ratusan ribu rakyat Filipina turun ke jalan menuntut mundurnya Joseph Estrada yang terjegal kasus korupsi.

Rezim otoriter Ferdinand Marcos berakhir tahun 1986 setelah lebih dari 200.000 rakyat Filipina yang didukung oleh beberapa tokoh politik dan disokong oleh mayoritas pihak militer turun ke jalan selama 4 hari berturut-turut menuntut turunnya Marcos. Selama 20 tahun rezim Marcos berkuasa, rakyat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintahannya. Gejolak mulai meningkat setelah peristiwa pembunuhan tokoh oposisi Benigno Aquino sepulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983. Aksi massa dimulai ketika timbul kecurigaan adanya kecurangan pada pemilihan umum yang dimenangkan oleh Marcos pada tahun 1986. People Power berhasil, dan Corazon Aquino naik menjadi presiden berikutnya.
Sekali lagi aksi massa terjadi. Tahun 2001 presiden Joseph Estrada terpaksa mundur karena People Power kedua di jalan EDSA. Estrada yang terkena kasus korupsi ratusan juta Peso dari permainan ilegal dan pajak dituntut mundur oleh sebagian anggota senat. Aksi massa selama 4 hari akhirnya mampu membuat Estrada mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan presiden kepada wakil presiden saat itu, Gloria Macapagal Arroyo.
Pemerintahan Arroyo pun tidak lepas dari kasus korupsi. Parahnya korupsi di kalangan pejabat pemerintah, terlebih lagi ketika kasus korupsi yang melibatkan suami Arroyo, Jose Miquel Arroyo, terkait suap senilai 330 juta US Dolar dengan perusahaan dari Tiongkok, ZTE Corporation, ditambah dengan dugaan kecurangan pemilu 2004 yang dilakukan Arroyo membuat rakyat semakin tidak percaya pada pemerintahan Arroyo dan banyak pihak memintanya untuk mundur.
25 Februari 2008, bertepatan dengan peringatan 22 tahun People Power pertama, sekitar 6.000 demonstran yang disokong koalisi anti-pemerintah melakukan aksi dengan menyerukan Arroyo agar segera mundur. 22 Februari sebelumnya juga 10.000 demonstran memenuhi Manila. Dan pada 29 Februari 2008, di Makati City hampir terjadi People Power ketiga ketika 80.000 rakyat turun ke jalan. Aksi ini menjadi pro-kontra di kalangan rakyat sendiri, karena menurut pihak Konferensi Uskup-Uskup Katolik Filipina (CBCP), aksi ini ditujukan sebagai doa dan aksi bersama melawan korupsi, namun akhirnya menjadi arus anti-Arroyo karena ikutnya Corazon Aquino dan Joseph Estrada sebagai pihak oposisi. Meskipun gagal, pihak oposisi menyerukan akan ada aksi 100.000 massa di jalan EDSA atau pusat kota Manila lainnya nanti untuk menurunkan Arroyo.
Ada perbedaan signifikan antara keberhasilan People Power pertama dan kedua dengan sulitnya terjadi People Power ketiga. Pertama, dukungan pihak militer yang terjadi saat 2 People Power sebelumnya tidak ada saat ini. Pihak militer memilih netral dan tidak terlibat aksi-aksi menuntut turunnya Arroyo. Dengan tidak adanya dukungan dari militer, pihak oposisi akan kesulitan untuk melakukan aksi damai karena dikhawatirkan akan terjadi bentrokan antara demonstran dengan polisi dan tentara yang bertugas menjaga keamanan. Selain itu, sumbangan dukungan dari militer juga diperlukan untuk menekan pemerintah. Kedua, tidak adanya dukungan langsung dari Konferensi Uskup-Uskup Katolik Filipina (CBCP). Di sini CBCP hanya mengeluarkan pernyataan mengecak tindakan korupsi dan mendukung perang terhadap korupsi, namun tidak secara langsung menuntut mundurnya Arroyo. Dukungan CBCP sengat diperlukan, karena suara dari CBCP mampu mengajak rakyat, terutama pihak gereja dan rohaniawan untuk turut bergabung. Belum lagi CBCP juga memiliki peran penting dalam politik Filipina. Dengan absennya militer dan CBCP, diprediksikan People Power ketiga akan sulit terjadi. Pihak oposisi juga menyatakan berkurangnya semangat People Power di kalangan rakyat, dengan menurunnya jumlah demonstran yang turun sejak People Power pertama.
People Power adalah bentuk kekuatan rakyat yang mampu menumbangkan penguasa. People Power juga merupakan salah satu simbol demokrasi. Aksi ini tidak dapat terjadi apabila semua elemen rakyat tidak bersatu padu, jelas merujuk pada People Power ketiga yang sulit terjadi karena tak ada dukungan militer dan CBCP. Selain itu, kekerasan dan kerusuhan jelas-jelas bukan bagian dari People Power.
People Power terbukti dua kali menunjukkan keperkasaannya. Dan sungguh mengagumkan memang, aksi tersebut dilakukan secara damai tanpa ada tindakan-tindakan anarkis. Sungguh berbeda ketika rakyat Indonesia turun ke jalanan menuntut mundurnya presiden Soeharto pada tahun 1998. Terlebih lagi di Indonesia, berbeda dengan di Filipina. Jika di Filipina pihak militer mendukung dan berada di belakang rakyat, sebaliknya terjadi di Indonesia. Militer yang berhadap-hadapan dengan para demonstran. Belum lagi isu-isu SARA yang merebak sehingga aksi-aksi kerusuhan, pembakaran, penjarahan tidak terelakkan lagi.
* foto oleh Bullit Marquez/AP, diambil dari Internationalist.
Labels: democracy, international, philippines, politic, president, social, struggle

















apa akan terjadi hal sama di indonesia mas Efendi?
eh saya pertamax ndak tuh
walah di moderasi...
soal people power di indonesia takutnya kejadian kayak mei lagi, dah melenceng jauh dari tujuan awal
(padahal dak tahu jga tujuan awalnya apa
).
dan kebebalan pemerintah yg selalu berpihak pada orang2 yg merugikan rakyat, dan yg paling menyakitkan adalah masalah lumpur lapindo...
Wah, koq tiba2 jadi teringat Jakarta Riot. itu sepertinya lebih sadis deh...
Aslkm.........mas
ya benar sekali People power, bisa meruntuhkan kekausaan.
salam kenal mas.
Yg gw heran, kan atas jasa Arroyo akhirnya Estrada bisa bebas. Skrg kok Estrada ikut2an menggalang kekuatan untuk menggulingkan Arroyo ? Politik itu kejam yah...
Arroyo ini nampaknya lebih sakti dari Cory Aquino. Dia mampu memperdayai Nur Misuari yang Cory Aquino dan Fidel Ramos tidak mampu.
people power sekali lagi menunjukkan sejarah yang ber-ulang...
sepertinya seperti menunggu bom waktu...
bedanya lagi,..kalau Pemerintah Filipina sudah berhasil mengembalikan harta yang dijarah Marcos dari bank bank Swiss..
Sementara di sini bingung, gimana cara ngambil harta korupsi itu
sebenarnya mudah kok.. rakyat makmur.. yang korup dibantai.. dah selesai masalah..
Bisa saja ini adalah siasat dan trik terselubung Arroyo sendiri yang membuat militer dan Uskup-Uskup Katolik Filipina kurang mendukung People Power III. Soalnya kan dia bisa belajar dari People Power I dan II yang telah terjadi sebelumnya.
Tindakan protes semacam ini di negara kita caranya memang berbeda. Sebagian rakyat di Indonesia memang agak cenderung menggunakan emosi dalam bertindak sehingga yang sering timbul justru tindakan anarkis dan semacamnya. Ini kemungkinan disebabkan kesejahteraan rakyat kurang terjamin. Buktinya banyak TKI bekerja di luar negeri sebagai pembantu.
Seandainya People Power dapat terlaksana secara efektif di Indonesia, pasti jumlah para koruptor bisa terminimalisir dengan lebih cepat.
lha piye ?? apa butuh reformasi kedua ??
kalo di indonesia bukan people power kali ya.. tapi provokator power, makanya terjadi kerusuhan
duuh jadi kangen sama manila deh.. ridu inget banget EDSA itu dibacanya Eca sama orang sana.. btw pernah disana juga yah??
@ dobelden [1]: Melihat kasus yang sudah-sudah dan kondisi di Indonesia yang mudah tersulut isu-isu SARA, rasanya sulit ya. Adanya juga kerusuhan.
@ dobelden [2]: Jelas, komen yang ada P*RTAMAX-nya kena moderasi.
Ya itu dia, provokaor bisa bekerja dengan leluasa. Hembuskan isu sedikit, rakyat terpancing emosinya.
@ DensS cessario: Jelas beda lah keduanya.
@ olangbiaca: Salam kenal juga.

Aksi damai yang bisa menggulingkan kekuasaan. Menarik bukan?
@ Jiewa: Lha dulu yang semangat People Power menggulingkan Estrada juga si Arroyo.

Politik...
@ Arif Sukombor: Belajar dari kesalahan 2 pendahulunya, tapi kayaknya nggak dari Marcos dan Estrada deh.
@ Goop: Kita lihat saja apa mliter akan membelot.
@ iman brotoseno: Nah ini, yang terlibat dulu sudah di alam sana.

Dan dengan alasan itu, jadi bebelit-belitlah semua....
@ gempur: Masalahnya, bagaimana membantainya...
APa mesti contoh Tiongkok? :-]
@ StreetPunk: Bagaimana triknya?

Arroyo sendiri sebenarnya nggak punya kekuasaan buat mempengaruhin para Uskup.
Persatuan rakyat....wuih, apa itu hanya mimpi?
@ niez-nya adit: Ngapaen lagi?
@ jimmy: TEPATTTT!!! Rakyat kurang bersatu... Mudah kena hasut provokator.
@ ridu: Aha!

Ndak, cuma pengen ke GuangZhu tahun ini.
Kalo begitu untuk mencairkan dana yg sudah di gondol koruptor indonesia, bagaimana kalo kita sewa rakyat pilipina saja?
shit! kebagian kikod yang panjang

kenapa di rencana people power 3 ini militer gak ngedukung? apa pengaruh Aroyo terlalu kuat?
duh... people power...
memangnya nggak ada indikasi gereja ama militer terlibat permainan uang dengan presiden ya...???
and hey...??? my cellphone is ZTE...
Negara berkembang seperti Indonesia dan Philippina tidak lepas dari permainan kepentingan Pemain Besar Dunia......, rakyat yang mudah marah akan mudah ditunggangi. Akhirnya setelah idolanya terpilih....banyak yang berakhir dengan kekecewaan......jadi jangan pernah berharap bahwa yang anda pilih malaikat mereka manusia juga sama seperti anda dan saya jadi awasi terus pemerintahan....sehingga mereka bisa berhati-hati bekerja gak sembrono
Politisi
OI emang Loe Siapa Daeng.
Daeng Limpo : Guwe Cuman Orang Gila Yang ingin agar orang waras kayak Loe bisa ikut gila kayak guwe....
people power itu sebenarnya muncul karena rakyat negara itu masih banyak yang miskin. yah, alasannya bisa jadi klasik : karena pemerintah dinilai belum bisa menyejahterakan rakyatnya..

itu kalo kita lihat dari perspektif bahwa tidak ada "pemain belakang" yang mengendalikan situasi..
tapi yah.. siapa yang tahu?
katanya sakit... koq masih bisa ngeblog.
Komentar singkat saja dulu... sedang tak sanggup panjang-panjang...
Kira-kira perlukah sistem pemerintahan yang bernuansa anarkisme kalau melihat dari sini?
gejolak di filipina makin membuktikan kebenaran adagium: "vox populi vox day" tak ada sebuah kekuatan yang sanggup menaklukkan kekuatan rakyat!
Moga2 deh indonesia nggak sampe kayak gini.

@ qzink666: Keluar dana lagi.
@ tukangkopi: Menurut Kepala Staf Angkatan Bersenjata, militer memilih netral. Karena sudah belajar dari sejarah dan militer ngak ikut campur dalam politik.
@ celo: Gereja dari kelompok Jesus is Lord Movement, kelompok gereja terbesar di Filipina ikut dalam demonstrasi. Hanya saja GBCP yang ndak. Mereka cuma meminta penegakan hukum korupsi, tapi ndak menuntut mundur Arroyo.
@ daeng limpo: Negera berkembang seperti Kuba untungnya aman.
@ morishige: People Power 1 sih karena rakyat ndak tahan pemerintahan otoriter Marcos yang penuh korupsi. Sedangkan yang 2 karena kasus korupsi Estrada. Hampir ndak ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Mereka ndak menuntut harga turun, tapi presiden yang turun.
@ hanna: Cuma flu aja.
@ Xaliber von Reginhild: Jawabannya bisa ditemukan jika melihat hubungan antara entry ni dan entry Medvedev sebelumnya.
@ sawali tuhusetya: Jika rakyat bersatu, apalah arti penguasa.
@ pink: Moga demo di Indonesia berjalan damai.
IMO, lebih baik indonesia pake sistem people power ini daripada reformasi anarkis....
*baca putri cina*
@ Andrew Anandhika Wijaya: Indeed.
Kekuasaan memang membuat silau.....namun penggantian kekuasaan yang aman adalah keinginan banyak pihak, karena dalam hal ini rakyatlah yang paling terkena.
Yup, kita masih bingung, gimana caranya ya ngembaliin harta yg dijarah karena korupsi..
nyah! ngomongin politik begini. pusing...

semoga aja di indo ga ada ginian deh
Nak ependi, sekarang dah mulai suka ngompol* ya :-]
*ngompol = ngomong politik
kalok akuh nanti gerakan people power-nyah para blogger nuntun pengangkatran jadi PNS...
hiakakaka hiakakak hiakakak
*pingsan*
Koreksi =
nuntut pengangkatan
*nglanjutin pingsan*
ada hal yang menarik, bahwa sebenarnya dalam pergantian kekuasaan secara darurat (baca: kudeta atau sejenisnya) di beberapa negara Asia Tenggara sering diwarnai oleh peran pihak yang tidak selalu terekspos ke awam: dalam kasus ini, militer.
kalau mau blak-blakan, sebenarnya people power di Filipina mungkin bisa berjalan tanpa peran militer (di sini ada peran gereja), tapi militer jelas memegang kunci di sini. di tetangga dekatnya Thailand, peran militer bisa dibilang krusial dalam kudeta tidak berdarah Thaksin Sinawatra kemarin dulu. (selain faktor dukungan Raja Bhumibol, tentu saja)
...di Indonesia? jelas, mahasiswa tidak bisa asal bangga dengan menepuk dada sebagai satu-satunya 'biang reformasi'; adanya slack dan kasak-kusuk militer jelas punya peran dalam kejatuhan Orde Baru.
membuat saya bertanya-tanya, benarkah people power itu memang punya kekuatan tanpa dukungan militer? mungkin juga sebenarnya rakyat cuma terlalu terlena dengan istilah 'people power', padahal peran militer di sini tidak bisa dibilang kecil.
saya bukannya mendukung militerisme, sih. tapi kalau begitu, seberapa besarnya peran 'rakyat' (Filipina) atau 'mahasiswa' (Indonesia) sebagai elemen yang digadang-gadang soal people power ini? mungkin juga sebenarnya tidak besar-besar amat, sebagaimana mungkin dikira oleh sebagian (besar?) masyarakat awam.
Gak ngerti mo komeng apa....
tinggal nunggu hasil, lagi pula philipin itu pengaruhnya besar atau kecil sih ke politik Indonesia ???
chieeee....makin lama makin sering nih, posting yg berhubungan ama education-backgroundmu :-]
ga mo komeng ttg negeri orang. mo komeng negeri sendiri ajah. knp ?? krn situasi ekonomi skrg, harga2 sembako naik gila2an, kok mirikp dg jaman krismon thn 98 dolo ya ?? hanya aja, situasi politik relatif adem dibanding waktu itu.
bs munculin people power lg ga ya??? secara gw tuh kasian bgt dg nasib petani, yg dari jaman pra kemerdekaan smp skrg (yg skrg apalagi) nasibnya ga pernah bener. ga usah jd petani kl pgn kaya....
*lah, ga nyambung ma postingnya. biarin, pengen kok*
saya hanya bisa
dan tak banyak kata habis...

dan
:-]
*kalau di Indonesia militernya pro rakyat siapa yang bakalan rugi yah?*
makin jelas kemana engkau bertaubat nak ...
ndak percuma kmu kuliah di HI nak...
Mmmmm, setahu saya proses reformasi menjadi berdarah-darah justru karena militer turun tangan. Dan kalau ndak salah, di bukunya habibie, di detik terakhir militer masih secara resmi mendukung pak harto.
@nne... baca 4 komen diatas anda...
@yud1... imo, cmiiw, kekuatan poeple power tetep ada di tangan rakyat yang turun ke jalan... meskipun militer tetap mendukung dari belakang dan nggak sedikit juga usahanya menggulingkan pemerintahan saat itu.... kekuasaan tetap ada di tangan rakyat... selama rakyat nggak turun ke jalan dan menggunakan kekuasaannya... mau militer jungkir balik juga pemerintahan saat itu masih akan tetap kuat... that's why (imo) disebut people power...
@memeth... kenapa nggak membahas dalam negri...??? ya karena topic starternya bukan spesialis hubungan nasional tapi hubungan internasional... tentu saja yang dibahas luar negri
"
*yang komen ini tetep males bahas masalah sosial meskipun spesialisasinya disana*
Tetapi walaupun militer tidak di belakang rakyat waktu itu (1998), untungnya rakyat "dibantu" krisis moneter yang juga ikut menumbangkan
|
diktatorPresiden Soeharto. Jadi kesimpulannya krisis moneter lebih kuat dari militerIndonesiaya? |:: Herman Saksono | :: celo
kalau lihat dari sudut pandang itu sih, IMO sebenarnya bukan mendukung juga. mungkin lebih tepatnya 'menjamin keselamatan' dari mantan presiden. walaupun ada juga yang bilang militer memang dalam masalah kalau sampai panglima tertinggi (waktu itu Soeharto) dan rakyat sampai harus bertentangan secara frontal. AFAIK, jadinya akhirnya seperti itu.
benar, tapi tidak selalu. kalau militer sampai jungkir balik (baca: insubordinasi terhadap panglima tertinggi), yang mungkin ada adalah kudeta dari militer sendiri. tentu saja, jalan yang sederhana adalah represi atau junta militer untuk rakyat yang 'macam-macam'. contoh bagus soal ini ada di Myanmar.
anyway, hal ini tetap tidak mengubah keadaan bahwa people power ala mahasiswa saja tidak cukup untuk menjatuhkan Orde Baru... kalau mengingat NKK/BKK jaman dulu. IMO, di Filipina kasusnya analog soal upaya penggulingan terhadap Arroyo... walaupun di Filipina ada juga variabel 'Gereja' sebagai counterpart-nya militer, sih. entah seberapa signifikannya ini di peta politik Filipina, saya kurang paham juga.
people power memang lebih perkasa dibandingkan kudeta militer. eh, tau gak napa kalo revolusi dari unsur militer kebanyakan dari elit menengah...
mungkin indonesia butuh people power baru biar bisa bener2 berubah?
@ celo :
eh saya ga meminta penulisnya bahas masalah politik dlm negeri kok. saya cuma komeng, kl saya (lg) males komeng mslh luar negeri (spt yg ditulis penulis postingan ini).
begichuuuuu mbak^^
jd kapan kita sarapan sego tumpang??^^
Hm.... people power.. kedengarannya sebagai senjata ampuh untuk menggulingkan bentuk kekuasaan yang mengatas namakan demokrasi!
Sebagai rakyat kecil dan jelata, saya ndak pentingin kekuasaan di tangan siapa, asalkan tempat saya tinggal bebas dari mati listrik berkali-kali.
wew... kalo sampek terjadi pipel pawer lagi... ini negara udah kayak bloger yang demen nyampah kayak eke jaman dulu ya?
pipel pawer aja sampek hetrik gitu...
@memeth....
wah soir... saiyah salah tangkep... sego tumpeng...??? gimana ya...??? saiyah sering ada kuliah pagi je... sabtu minggu bisanya...
tapi pipel pawer tuh cenderung anarkis bro, ente bisa liat kajadian di jakarta, kejadiannya jadi parah mudah disusupi dan malah dengan mudah dimanfaatin segelintir penguasa oposisi buat naekin kredit poin mereka. contoh.. sekonyong2 Amin Rais ngaku2 jadi pahlawan reformasi. People power emang hebat, tapi tetep harus under control, jangan kebablasan..
tes dulu.. soalnya beberapa kali ke sini ngak bisa masuk2 koment2ku...
tumben mau ngoment... saya sudah beberapa berkunjung ke sini, trus ngoment tapi ngak masuk2, tapiakhirnya masuk juga...
Tentang people power di philipina yang saya liat, dan diceritakan teman saya di sana
bukan bayutbahwa memang orang2 di kota Manila aja yang protes keras, sedang daerah2 lain katanya ngak seberapa heboh koq.trus kekuatan Arroyo itu betul2 berkuasa, sehingga mudah menjatuhkan lawannya.
Trus katanya orang2 aman2 aja tuh dipimpin sama Arroyo, jadi saya ndak yakin PP III bisa menjatuhkan Arroyo.
@ edratna: Peralihan kekuasaan itu yang menjadi saat-saat kritis tiap negara.
@ rumahkayubekas: Prosesnya itu, berbelit-belit. :-]
@ nne: Haiyah, saya cuma bisa share ginian.
@ annots: Penerapan ilmu.
@ abeeayang™ [1]: Apa hubungannya? o.O
@ abeeayang™ [2]:
@ yud1 [1]: Akhirnya ada juga komen yang jungking-balikkan ini.
IMO, secara khusus jika membicarakan gejolak di Filipina, peran militer lebih ke terjadinya aksi damai gerakan rakyat. Dalam 2 People Power (minus beberapa pemberontakan) terakhir, jelas hampir tidak ada bentrokan antara militer dan rakyat. Itulah mengapa dinamakan "People Power".
Peran militer jelas ndak cuma dijabarkan ke 'menentang' presiden, tapi 'membiarkan' rakyat bergerak juga merupakan peran militer bukan?
@ suprie: Pertanyaanmu belum sapai ke otakku.
*lagi malas bahas hubungan bilateral*
*kabur*
@ memeth [1]: Saya ngerasa tahun 1998 itu nggak bisa disebut People Power, rakyat jelas terpecah ke mana-mana. Ada yang menjarah, ada yang demo.
@ quelopi: Sejarah bilang, ingin tetap berkuasa maka gandenglah militer. :-]
@ leksa:
@ vcrack:
@ Herman Saksono: Ya itu Mon. Bedanya 'gerakan menumbangkan kekuasaan' di Indonesia dan Filipina. Militer jelas berperan di keduanya, tapi hanya saja berbeda kubu.
@ celo: Yea, People Power adalah kekuatan rakyat, namun istilah ini disematkan ketika gerakan itu berjalan teratur tanpa ada bentrokan fisik dan kekacauan.
@ Yari NK: Plus dibantu isu-isul rasial.
@ yud1 [2]:
Kalau melihat kasus tumbangnya Marcos, di sini militer sendiri terpecah dengan mayoritas berada di bawah pimpinan Fidel Ramos (yang waktu itu wakil Komandan Angkatan Bersenjata) dan sebagian lagi tentara loyal Marcos, di bawah pimpinan Fabian-whatever *lupa namanya* (Komandan Angkatan Bersenjata). Jadi bisa dibilang pada People Power pertama ini ada kudeta intern pihak militer sendiri, walau nggak sampai menimbulkan bentrokan besar.
Beberapa demo besar anti-Arroyo juga terbukti gagal. Sayang di Indonesia pengaruh 'agama' nggak cukup kuat untuk menyatukan massa.

Satu lagi, entah apa, yang jelas kekacauan pada 1998 terjadi salah satunya karena militer yang 'baku-hantam' dengan rakyat, dan tidak terkendalinya massa. Dan in sangat berbeda dengan tahun 1986 dan 2001 di FIlipina.
@ sluman slumun slamet: Elit menengah?
*mendalami*
@ Junarto: Sebuah gerakan rakyat yang bersatu (dan ndak rusuh), cukup itu kok sebagai awalnya.
@ memeth [2]: Mbak...?
@ pudakonline: Hanya saja elaksanaannya sulit.
@ Black_Claw: Ohohoooo... Dompu.
@ Bundamu: Sebenarnya di antara People Power banyak terjadi pemberontakan kecil sih.
@ Andrew Anandhika Wijaya:
@ brainstorm: Baca lagi. Nama People Power disematkan karena aksi damai yang bersatu. Kalau rusuh bukan People Power itu namanya.
@ aRuL [1]: Masa?
@ aRuL [2]: Ini dia, rakyat terpecah sekarang ini. CBCP juga netral.
Setali dua uang. Eufemisme.
nah! itu maksud saya. :mrgreen:
not necessarily. 'menjamin keselamatan' tidak dengan mendukung kepemimpinan beliau yang saat itu digugat dari berbagai sisi. kalau nggak salah, hal ini sempat juga dibahas di salah satu media nasional dalam tulisan soal periode sekitar 1998 itu. CMIIW.
Sebentar, saya jadi agak bingung dengan 'menjamin keselamatan' dalam tanda kutip. Itu maksudnya apakah sama dengan menjamin keselamatan tanpa tanda kutip?
Tapi kok saya melihatnya begini ya, jika militer cuma 'mendukung keselamatan presiden' dan ‘membiarkan rakyat’, apa tidak cenderung terlihat bahwa militer sekadar menjalankan tugasnya, bahkan justru sedikit oportunis. Tidak ada sikap bold dari mereka, sehingga terkesan kucing-kucingan. Ya memang kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di markas besar militer, tapi setidaknya cukup jelas perbedaan antara people power filipina dan reformasi Indonesia.
lho? iya ya... sekarang saya malah bingung sendiri kenapa saya pakai tanda 'kutip' itu.
tapi memang, saya sepakat soal perbedaan besar antara Indonesia dan Filipina soal People Power ini. keadaan sosial-politiknya sendiri berbeda, demikian juga soal sikap Militer/Rakyat/Gereja (ini di Filipina aja, sih).
katanya sih, ada setidaknya dua hal yang tidak bisa diketahui rakyat soal pemerintahannya; pertama pengelolaan pajak, dan kedua rahasia militer. jokingly(?) true...
indoneisa itu walaupun udah ada people power tp klau pemerintahnya kaya' gini percuma. jd kita musti mencari pemimpin yang tepat
@ noki: Lha? Kapan ada People Power di Indon?