Feed
 
Online with WordPress 2.8.1 on !

Kesaksian 14.10.08

By Gunawan Rudy posted in article. Tuesday, Oct 14th, 2008 at 6:39 am

Wartawan Inggris, Richard Lloyd Parry, pernah menulis reportase tentang kunjungan-kunjungannya ke Indonesia. Tulisan yang lahir setelah perjalanannya di sebuah negeri di masa bangsa negeri itu tengah meluncur ke titik terendahnya. Kumpulan kesaksiannya melihat bangsa ini perlahan ambruk dan menuju kehancuran yang ditandai dengan serangkaian kekacauan dan kejahatan manusia di berbagai daerah di Indonesia. Peristiwa yang dilihatnya dari lensa jurnalisme sebagai pergulatan besar Indonesia antara represi dan reformasi.

i6jlhi Kesaksian

Apa yang ditulis Parry dalam bentuk kesaksiannya berupa prosa sensitif tersebut dapat menambah warna dalam bibliografi Indonesia kontemporer yang masih saja sebagian besar bersifat akademis pekat, yang kaku, yang rawan ditulis subjektif oleh para pemenang sejarah dan pihak kuat yang memiliki kepentingan.

“Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian…”

Begitu penggalan lirik yang dinyanyikan Iwan Fals sepuluh tahun yang lalu, dalam Lagu Buat Penyaksi. Dan jika berbicara tentang kesaksian dan ‘matinya’ seorang penyaksi, saya teringat akan sebuah peristiwa pada masa kecil saya yang masih masih agak membekas hingga sekarang.

Palangkaraya, pertengahan tahun 1999. Saya masih ingat kejadian hari itu walau agak lupa kapan tanggal persisnya. Saat itu percikan bara api kerusuhan berdarah antar etnis di Kalimantan Tengah mulai menyala lagi. Ayah saya bergegas berangkat ke Pengadilan Negeri. Ketika saya bertanya apakah saya boleh ikut, dengan tegas ayah menolaknya. Saya masih terlalu kecil saat itu, kurang lebih berusia sembilan tahun. Ketika ayah pulang, betapa terkejutnya saya melihat mukanya merah padam. Tanpa basa-basi ayah langsung masuk dan membanting pintu depan, lantas masuk ke ruang baca dan melempar beberapa buku tebal ke lantai. Lantas apa yang ayah teriakkan ketika ibu datang untuk menenangkannya?

“Apa hakim, jaksa, dan polisi-polisi itu sudah buta, tuli hah? Atau mulut mereka bisu karena disumpal berbagai kepentingan? Ada orang yang sudi bersaksi malah dihukum dan pelaku kabur entah ke mana!”

Ayah memang seorang bertemperamen tinggi, tapi jarang saya melihat beliau begitu murka seperti hari itu. Bertahun-tahun kemudian barulah saya mendengar cerita dari ibu bahwa kemarahan ayah saat itu adalah karena salah seorang kenalannya, yang menjadi saksi dalam kasus pertikaian dan pembunuhan di luar dugaan menjadi dituduh membuat kesaksian palsu dan akhirnya dihukum penjara. Pertikaian antar etnis itu dipicu masalah sengketa tanah, dan ujung-ujungnya adalah seorang penduduk asli dikroyok oleh warga pendatang hingga tewas. Para pelaku melarikan diri, dan seorang saksi dalam peristiwa itu mendadak dituduh memberikan kesaksian palsu. Hari itu ternyata adalah hari yang naas bagi seorang penyaksi.

Akan ada banyak yang meringis sedih bercampur marah jika menghadapi peristiwa-peristiwa terbungkamnya kesaksian seperti itu. Tragedi penyaksi berani yang mati karena kuatnya kepentingan beberapa pihak. Bisa jadi hal itu seakan-akan ketika umat merasakan sakit akan pengkhianatan Yudas terhadap Kristus, yang akhirnya menggiring Kristus ke tiang salib.

Kesaksian, juga seakan berada dalam jalur yang sama dengan kambing hitam. Artinya ada pihak-pihak yang dikorbankan dalam sebuah kesaksian, entah sejati atau palsu. Masih ingat penggalan lirik lagu Iwan Fals di awal-awal tulisan? Ya, lagu dalam album Kantata Samsara itu bercerita dan dipersembahkan kepada Udin–atau Fuad Muhammad Syafruddin–yaitu seorang wartawan harian Bernas yang pada tahun 1996 dianiaya orang tak dikenal, lalu akhirnya meningal dunia. Udin kerap kali menulis artikel kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru semasa itu dan juga tulisan tajam tentang militer Indonesia. Beberapa orang sempat ditekan untuk memberikan kesaksian dan pengakuan palsu dalam kasus itu, menjadi kambing hitam. Sebut saja Tri Sumaryani, yang ditekan dan disuap untuk memberikan kesaksian palsu tentang dirinya yang berselingkuh dengan Udin, yang kemudian dibunuh oleh suaminya. Atau juga Dwi Sumaji, yang dikorbankan untuk membuat pengakuan bahwa ia adalah pembunuh Udin, dengan iming-iming uang dan pekerjaan. Namun selanjutnya dengan lantang Sumaji bersaksi di pengadilan bahwa dirinya hanyalah kambing hitam yang diciptakan oleh beberapa oknum.

“Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik!”

Sungguh kesaksian, terutama di negeri ini, punya banyak warna yang berbeda satu sama lain. Meskipun begitu, sebagian cenderung memiliki rupa yang sama: kesaksian sejati yang tak berani muncul ke permukaan, jika muncul hanya berujung pembungkaman; atau kesaksian palsu yang dilahirkan dari berbagai macam kepentingan.

Sejarah memang masih ditulis oleh para pemenang. Dan kita hanya bisa berharap bahwa para pemenang itu adalah mereka yang masih mempunyai sisi objektivitas yang berimbang atau bahkan melebihi sisi subjektivitas yang tersimpan rapi dalam pencitraan dirinya. Toh para pemenang tak mungkin sepenuhnya menempatkan diri pada posisi tengah, dan meneliti saja–karena tugasnya adalah meriwayatkan kesaksian masa lalu dan juga mengukir sejarah baru.

Kesaksian para pemenang adalah kebenaran yang mau tak mau harus diterima mereka yang kalah, namun hanya hingga saat di mana pemenang itu tumbang nantinya. Dan adakah usaha para pemenang saat ini untuk bersikap adil terhadap kesaksian yang takut untuk muncul ke permukaan karena tak terlindunginya mereka dari ancaman-ancaman?

socialbookmarks

Feed Want to stay up to date with my postings? Watch my blog and subscribe to full feed or comments feed.

42comments

  1. Penyaksi. Di jaman sekarang ini, semua kesaksian terkesan samar. Tak jelas, apakah itu sebuah kebenaran atau kepalsuan.

    Sebuah kesaksian mengenai sebuah kebenaran, pengungkapkan akan fakta, ternyata hanya menghasilkan sebuah keadaan yang sama saja. Tindakan yang diharapkan kadang tak kunjung datang, semuanya statis, tetap dan diam tak bergeming. Sebenarnya apa yang membunuh para penyaksi?

  2. Saya selalu berpikir bahwa hakikanya, seorang penyaksi akan menyerahkan nyawanya begitu kesaksian itu diberikan.

    Ah, saya pun menyukai lagu Iwan Fals yang penyaksi itu, tapi samalah itu dengan lagu yang juga dinyanyikan Iwan Fals tapi bersama Kantata Takwa ?

    Salam kenal, maaf kunjungan dan komen balasan baru saya laksanakan sekarang, Mas Rudy.

    Tuhan memberkati…

  3. @ mas donny: walah.. kalo seseorang udah diancam mati sih, susah untuk melakukan hal yang dianggapnya benar sekalipun…

    saksi berbohong memang salah..
    tetapi kalau saja pihak polisi dapat menjamin keamanan saksi…

  4. belon ada perlindungan terhadap saksi yak?0$!
    duit mengalahkan segalanyah, mangsih menjadi dewa

  5. Gun,
    tulisan ini mean something,..bagus gun,
    sesuatu yang langka di negeri ini, tentang keadilan yang selalu susah ditemui dipojokan negeri ini

  6. kamu 1999 masih kecil ya gun. aku dah kuliah semester satu tuh…

  7. tahun 99 dirimu baru 9 tahun Gun? ;)) ah abegeh! *lospokus*

  8. Butuh saksi buat kawin? :P

    Seandainya saja di sini ada program perlindungan saksi se keren di pilem-pilem itu…

  9. mayoritas masyarakat pun turut mencetak para pemenang. mudah-mudahan pemenang berikutnya seperti yg Anda harapkan. ^^;

  10. @ AroE: Tak hanya di zaman sekarang. Kalau mau bilang seperti itu, maka zaman dulu pun begitu. Kalau semuanya dikatakan samar, maka selamanya kita akan menjadi pihak yang ragu dan tak tahu menahu. Jadi kapan diri sendiri memulai untuk berubah? :|

    @ Donny Verdian: Karena saksi adalah martir, dan pada perkembangannya martir diartikan sebagai tumbal atau korban, yang merupakan saksi yang mati karena mengutarakan kebenaran.
    Ah, itu kan dari album Kantaka, mas. :P

    @ archontas: Tak jarang kesaksian itu tak hanya diutarakan tak benar, tapi juga tak ada penyaksi sejati yang berani turun ke medan.

    @ abee: Jika ada, ada, dan melihat keadaan sekarang kok saya pesimis yah. ;D

    @ iman brotoseno: Ahahaa, mas. Saya kebetulan ingat aja peristiwa-peristiwa dulu. Dan bagaimana saya dihakimi secara nggak adil di sebuah peristiwa hanya karena nggak ada yang berani bersaksi, tapi ah sudahlah… :D

    @ ngodod: Main umur ini!

    @ Chic: Tante-tante ra sah riwil tho…

    @ Nazieb: Ndak, saya kawin ndak mau diliat orang. Kan malu. Nikahnya aja deh.

    @ fisidea: Hahahaa, saya masih agak pesimis sih. Tapi ya lihatlah nanti… :P

  11. betapa mahalnya harga sebuah kesaksian di sebuah negeri yang telanjur memberhalakan justifikasi sepihak dari orang2 yang berpengaruh dan punya lobi kekuasaan. duh, mas gun, kenapa setiap saksi yang ingin menyajikan sebuah kebenaran mesti menjadi korban dan tumbal negara yang salah urus?

  12. x)p Pemberi kesaksian selalu berada pada pihak paling rapuh dalam sistem pengadilan. Celakanya di negara ini, sistem pengadilan juga tidak dapat diandalkan…

  13. bukan ditulis oleh para pemenang kali…oleh mereka yang masih hidup…dead men tell no tales…

    hayo, sudah ikut Blog Action Day 2008 belum?

  14. 1999… Wah saya inget jadi tanggal 9-9-1999 yang heboh bakal kiamat. Ternyata gak>>>

  15. @ sawali tuhusetya: Yah, karena itu pak… Kita sudah terbiasa dengan ancaman dan tangan besi. :P

    @ Manusiasuper: Setali tiga uang, huh? ;o

    @ koko: Nggak semua yang hidup bisa dan boleh menulis sejarah. ;)

    @ qizink: Saya denger Hoax anak SD malah tahun 2000 kiamat. :))

  16. “Furthermore, I have seen under the sun that in the place of justice there is wickedness and in the place of righteousness there is wickedness.” (Ecclesiastes 3:16) :=!

    BTW, kenalan ayahmu itu dah bebas?

  17. @ jensen99: “Speak out for those who cannot speak, for the rights of all the destitute.” (Proverbs 31:8) :=!

    Saya nggak tau, kayaknya sih udah. Lha wong waktu itu masih kecil.

  18. Apakah ini bisa menjadi tanda kematian keadilan di negara ini?

    Anyway, saya jadi seneng ama bahasan anda, secara saya itu ngefans ama Iwan Fals :D

  19. Kok kesannya jadi seperti mau ada saksi atau tidak, hasilnya akan sama… :-?

    *lagi brain-dead jadi belum bisa komen panjang*

  20. Dead men tell no tales, indeed…

    Btw,

    Nggak semua yang hidup bisa dan boleh menulis sejarah.

    Kok saya agak kurang setuju sama yang ini ya. :-s Rasanya siapa pun boleh saja mendokumentasikan riwayat sejarah menurut perspektifnya masing-masing… perspektif dari warga yang merasa dirugikan dan merasa diuntungkan berbeda kan? :\ Kayaknya kembali ke sang pembaca juga, apakah mau menelan bulat-bulat perspektif itu atau mau cari sumber kedua.

  21. @ Adriano Minami: Belum bangun doang kok. Tidur terus…

    @ Infinite Inficio: Kepentingan bermain. :D

    @ Xaliber von Reginhild: Soal yang nggak bisa dan boleh itu nyindir dalam ruang lingkup Indonesia kontemporer. Bukan bahasan global. :P

  22. kesaksian yg gelap mata :(

  23. wah keren artikelnya.. ^^

    ya itulah pemerintah.. tujuan awal cari pelaku.. tapi karena ingin kasus cepet selesai dilempar deh pada kesalahan kedua yang seharusnya ngga perlu di bahas.. dodol kan.. |( |(

  24. jadi teringat pembahasan ttg temuan bukti baru tentang peristiwa pki di masa silam.di sebuah tv swasta.
    apa itu berita kadaluarsa ya?
    dan jadi ingat juga jargon the x files ‘the truth is out there’ nya chris carter..
    tapi kayaknya ga sejauh itu

  25. @Goenawan Lee:

    @ Xaliber von Reginhild: Soal yang nggak bisa dan boleh itu nyindir dalam ruang lingkup Indonesia kontemporer. Bukan bahasan global. :P

    …oh I see. :P

    Btw, apa tidurnya keadilan begini cuma dihadapi oleh Indonesia saja apa negara berkembang lain saat ini juga sedang mengalaminya?

  26. @ hanggadamai: Rasanya lampunya hidup, mas?

    @ Andri: Pemerintah ya? Rasa-rasanya juga banyak pihak yang memang suka mencari tumbal deh.

    @ emina: Hmn, saya lebih tertarik pada pengungkapan sejarah Tan Malaka dan kesaksian mereka yang pernah terlibat dengannya.

    @ Xaliber von Reginhild: Hihihii… Kan memang tag-nya entry ini “indonesia”.
    Well… Secara saya lahir dan tumbuh kemban di Indonesia jadi secara langsung saya mengikuti proses kehidupan, mencoba melihat secara global semua aspek kehidupan dari atas sampai kalangan bawah. Nah, jadi negara lain saya HANYA mengikuti dari referensi buku, berita, video, dll. Dari yang saya tangkap sih, banyak. Terlebih lagi pada negara di mana ada semacam organisasi kediktatoran, misalnya beberapa negara di benua Afrika. *ah mendadak malas serius*

    …dan Indonesia masih negara berkembang? Failed nation, hoho.

  27. nama udin sekarang jadi nama sebuah jalan di bantul :-w

  28. mending menyaksikan siaran langsung konsernya mbak mariah carey… wekekeke…

    *kabuuur….* :o)

  29. @ ndebakulsempak: Whuah? Tenanan ki nDab?
    Letak jalannya di mana? Apa hubungan jalan itu dengan Udin?

    @ ndop: Kalau nonton mbak Takako Kitahara gimana?

  30. hmmm… kasian kambing hitam. lebih baik jadi kambing belang kayaknya. bisa masuk kelompok hitam bisa masuk kelompok putih. >:)>:)>:)

  31. Sejarah memang masih ditulis oleh para pemenang.

    Saya tidak sependapat. Walaupun pada kenyataan lapangan di RI, pendapat saya ini sering terbentur dengan realita. Bahwa, sejarah memang ditulis para pemenang.

    Blog sering dikecam oleh segelintir para teman-teman jurnalis. karena anonimitasnya. Jangankan para jurnalis, banyak pula bloger yang mengecam blog anononim.

    Tapi kadang-kadang, banyak dari blog anonim itu yang mempunyai pendapat dan memberitakan, bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh para pemenang saja.

    Sejak ada blog atau media mainstream alternatif lainnya yang mampu membuat penulisnya ‘invisible’, pendapat saya, sejarah itu bisa ditulis oleh siapa saja.., asalkan mampu (*Ahh kok yaa mirip naik haji saja, hehe*).

  32. @ mantan kyai: Masa sih? ^0)

    @ bangaip: Ruang lingkup bahasan saya di sini seperti yang saya tulis di tag, yaitu “indonesia”, bang. Jadi saya melihat realita yang terjadi di negara ini dan mencoba sedikit menyindirnya.
    Tapi bagi saya pribadi, mereka yang “mampu” menuliskan sejarah itu, saya anggap sebagai pemenang juga. Karena berhasil bertahan itulah. Ah, saya masih setengah anonim. :P

  33. wah…klo masalah saksi bersaksi aku no comment lah….
    apalagi ada kata “saksi” x)p

  34. Makanya yang jujur itu kaga kepake. Nggak bisa orang biasa jadi saksi terus dianggap di pengadilan, kudu seniman baru diterima. Itu karna seniman itu orang yang menggunakan kebohongan untuk mengungkap kebenaran. Jadi, putar balik itu masalah cetek seujung kuku. :P

  35. ^^; paling berat menjadi saksi.
    kita disumpah untuk tidak berbohong dan harus mengungkap fakta

  36. jadi teringat lagunya iwan fals: Matinya Seorang penyaksi yang berkisah matinya wartawan bernas yogya karena mengungkap bobroknya bupati bantul.

  37. siapapun bisa kok menulis sejarah….

    itu kan salah satu pengertian dari sejarah sebagai kisah. bisa dilihat di buku paket sejarah SMA kelas X bab 1 . hho

  38. Numfang lewat, kali aja yang butuh saksi bayaran… :mrgreen:
    Sehat aja bang Gun??

  39. @ okta sihotang: Kalao no comment kenapa bisa ada comment mas di sini? :))

    @ Black_Claw: Hahahaa, ya pemain sandiwara. Makanya ada saksi ahli..

    @ easy: Mau? Sanggup? :=!

    @ Gempur: Lha kan sudah ada penggalan liriknya di postingan ini, pak. :P

    @ agunk agriza: Di atas kertas itu sangat benar, mas. Nah mas, bisa terapkan itu?

    @ Cabe Rawit: Amen. >:)

  40. penyaksi itu, sebagian masih tetap hidup,
    menunggu diberi tempat dan waktu untuk memberikan kesaksian mereka.
    memang ada yang sudah lelah, dan mencabut dirinya dari daftar penyaksi sejarah,
    tetapi, ada yang masih tetap berjuang tanpa kenal lelah untuk membuktikan diri kepada sidang sejarah.
    mungkin, belum terlambat untuk menambah kursi antrian buat saksi untuk peristiwa esok hari,
    selagi ruang kata-kata masih setengah kosong dan hakim masih setengah ndomblong.

    buat Goen Lee, siapkan dirimu, karena kamu sewaktu – waktu bisa menjadi penyaksi.
    bisa saja peristiwa sekecil apapun buat diceritain ke sahabat kamu, :|> :x
    bisa juga peristiwa sebesar apapun buat diceritain ke anak – anak kamu ;)) :=!

    kalau kuat untuk bersaksi, angkat tangan lima jari dan ucapkan sumpah setia.
    kalau tidak kuat untuk bersaksi, turunkan tangan menyilang di punggung dan ucapkan sumpah serapah >:)

  41. hehehe, Udin itu kan yang ketahuan……
    wah sepertinya ada yang berbakat nulis sejarah nih :P , gak berminat meneruskan pendidikan ke jurusan sejarah di UI Gun :D ?

  42. @ iaksz: Hahaaa… Setiap hari selalu saya menyaksikan kejadian-kejadian yangb tentu tidak selalu sama, dan saya mencoba mengingatnya. ;)

    @ Mardun: Ndak. :P

adsspace

Betang.COM

LeaveComment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
Please note that pertamax word and its variants will be held in moderation queue. Be wise.
This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

[XHTML] You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

"I offer themes that showcase your content, not my design skills." —Scott Allan Wallick, plaintxt.ORG

del.icio.usbookmarks

Flickr.comphotos

Suroloyo #9Suroloyo #8Suroloyo #7Suroloyo #6Suroloyo #5Suroloyo #4Suroloyo #3Suroloyo #2Suroloyo #1
close
New project at lie.siang.in and Betang.COM! I am currently writing cathartic rants on my another blog, Gun.Web.Id.