Feed Online with WordPress 2.6.2 on ! 43 posts and 9,363 comments.

Sepucuk Surat Karna 22.08.08

By Goenawan Lee posted in article, literature, quote. Friday, Aug 22nd, 2008 at 3:54 am

“Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Penggalan terakhir dari surat yang ditulis Adipati Karna kepada istrinya tercinta, Surtikanti, di malam yang senyap namun menggetirkan di padang Kurusetra. Malam-malam terakhir pertumpahan darah yang selamanya tetap membekas, di hati dan di jiwa. Sepucuk surat yang menggambarkan perasaan terdalam Karna, rangkaian kata yang abadi–yang mengukir perasaan yang abadi pula. Entah dari mana saya mendapatkan kutipan itu, mungkin saja pecahan kepala?

Meskipun secara tersurat Karna dalam wiracarita Mahabharata digambarkan sebagai tokoh antagonis, saya tetap mengagumi dan memiliki respek mendalam terhadapnya. Konon tokoh ini mempunyai sifat yang lengkap dan kompleks. Karna angkuh dan sombong, namun juga pemberani dan sangat percaya diri. Karna kejam dan kadang menghalalkan segala cara, namun juga sangat setia kepada teman dan murah hati kepada kaum tak punya. Karna yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi dihambat oleh status sosialnya–yang disebabkan jati diri sesungguhnya dibuang. Karna iku salah sijining tokoh wayang sing kalebu antagonis ning bisa diarani simpatik. Entah benar atau tidak, kadang secara misterius saya mengakui ada banyak kesamaan antara saya dan Karna.

Menyelami Karna, terlalu panjang jika kita mencoba menelan semua tentangnya. Alurnya begitu lena, dan begitu sukar untuk memamahnya. Ini tentang sepucuk surat saja. Cukup itu.

Karna membuka tulisannya malam itu dengan persoalan kematian. Tentang ramalan akan dirinya, tentang keteguhan dan kegetiran dirinya memilih turun berpacu dalam pertempuran. Karna yang teguh dan keras kepala. Keras kepala memang bisa menjadi sifat yang baik atau buruk, tergantung dalam persoalan apa sifat yang satu ini akan bermain. Bisa jadi karena keras kepala seorang yang idealis akan tetap kukuh mempertahankan idealisme yang dianutnya hingga penghabisan kalimat dengan tanda titik. Satu lagi biarpun begitu, bisa juga menjadi sifat yang tidak luhur karena biasa menutup mata dan telinga terhadap suara-suara lain yang mencoba memberi aura positif, yang toh bisa berupa sentilan, sindiran, atau kritikan halus maupun tajam. Perbuatan, Karna menyelaraskan perihal kematian dengan perbuatan yang harus dilakukannya. “Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku,” ujarnya ketika menyangsikan kodrat.

Lalu dimulailah sedikit kilas balik dan penceritaan riwayat hidup Karna yang malang. Yang haus mengetahui bahwa dirinya adalah anak pungut. Yang tertolak menjadi murid para mahaguru karena status sosialnya. Hingga semuanya berbelok tajam ketika Duryudana menerimanya dengan tangan terbuka. Karna tahu mengapa Duryudana mengangkatnya, dan hatinya terkoyak dan terbakar atas penghinaan para Pandawa terhadap dirinya yang papa. Kata-kata yang seperti keberanian bisa datang dari mana saja, akan menjadi panutannya dan membuat semangatnya bergelora. Pelajaran hidup yang berharga, sekali lagi bisa disadur dari kisah Karna yang malang namun tanpa kenal kata menyerah. Keberanian dan kesunguhan hati, namun sayangnya sedikit terpicu oleh api dendam yang perlahan, bahkan tanpa disadari membakar hati umat manusia.

Tapi di tengah-tengah tadi Karna menyadari satu hal mengenai ilmu. Katanya ilmu memang akan mengukuhkan kedudukannya, semakin tinggi, tidak lagi dianggap anak yang hina. Karna ingin bebas, begitu ujarnya di mulut. Tapi dia sendiri berdusta. Mengakui dusta karena akhirnya ia menganggap bahwa ilmu juga tidak membuatnya bebas, malah menjadi perlambang mana yang lebih tinggi, dan mana yang lebih rendah. Toh jika berilmu tinggi, kadang kita akan bersemangat berbagi ilmu kepada yang lain. Meski kadang terbesit sedikit rasa tinggi hati. Itulah permasalahannya, ketika itu sedikit demi sedikit ilmu akan menimbulkan keangkuhan.

Alunan romantisme terasa di penghujung surat, tatkala Karna menyanyikan rasa cintanya kepada Surtikanti. Sebuah balutan pengharapan dan pesan kasih. Yang sebelumnya dikukuhkan dengan kata-kata tentang keberanian dan perbuatan, tentang usaha yang tak kenal lelah dan takut. Karna menutupnya dengan indah. Sebuah surat yang lembut namun memancarkan aura keteguhan.

Dan keesokan hari setelah Karna menuliskan surat penuh kasihnya, ia gugur di tangan Arjuna. Hari itu hari ke-17 perang saudara berdarah di padang Kurusetra. Memang sebuah kematian yang terjadi sesuai dengan ramalan, namun Karna tahu ia adalah seseorang yang ada, seseorang yang menjadi, karena pilihannya, dan karena perbuatannya. Karna telah berbuat.

Saya tahu kalian para pengembara gurun dalam lingkaran itu pasti membaca ini, toh ini bukan seperti Bimasena yang menghadapi Duryudana. Karna tetap menjadi perlambang pribadi yang kompleks, dan saya tak tahu perasaan saya sendiri ketika harus melakoni hidup yang seperti dirinya.

Berakhirlah curahan hati berbalut ketidakjelasan ini. Dan selamat pagi, sinuwun.

socialbookmarks

entrymeta

You are reading the article, Sepucuk Surat Karna. This article was written on Friday, 22nd August 2008 at 3:54 am and last update on November 20, 2008 at 7:25 am. You can find similar articles in the article, literature, quote category and , , , , , tags, or more articles by Goenawan Lee, if you enjoyed this article. If you have any comments about this article, you can use contact page, or leave a comment below. You can also follow comments made on this article via my RSS 2.0 feed or subscribe to full feed. Thank you for visiting my weblog.

Feed Want to stay up to date with my postings? Watch my blog and subscribe to full feed or comments feed.

60comments

  1. Reserve komen pertama…

    Huuuu… masih belum mengerti T_T

    Apa ini perihal yang sama mengenai yang ada di Plurk? *lirik paragraf terakhir*

  2. karna PLURK kah ?
    *demam PLURK*

  3. @ Infinite Inficio: Maybe, dear… :>

    @ aGoonG: Karena karma Plurk? :P

  4. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku

    Ndak kuwat saya baca QUOTE itu… :((

  5. Karna itu sekompleks apa sih?

  6. saya suka dng senjata andalan Karna
    tapi ndak suka dng senjatamu, Gun… :P

  7. saya harus sepakat bahwa ilmu linuwihmu tentang hidup hampir mencapai tingkat kesempurnaan dalam usia semuda itu..he he he
    Btw Tidak mudah memahami philosophy Adipati Karna. Disatu sisi dia dipandang pengkhianat dan disisi lain dia adakah pahlawan kurawa..

  8. Karakter karna macam itulah yang membuat Mahabharata jauh lebih menarik sebagai metafora dari manusia dan kehidupan. Pada Mahabharata, pribadi-pribadi hadir dengan kompleksitas karakter, kewajiban, hak dan sederet persoalan eksistensial yang sukar dibaca hitam-putih. Mereka dipaksa mengambil keputusan di tengah belitan takdir para Dewa yang tak bisa ditolak. Pendawa dan Kurawa berikut semua pribadi di dalamnya menjadi tamsil: Bahwa manusia –memang– tak sesederhana dalam kisah-kisah Cinderella. Itulah sebabnya Ramayana kurang bergema di hadapan Mahabharata.

    Di situ, Karna menjadi ilustrasi yang paling terkenal, mungkin juga paling kuat.

  9. Setuju, setuju.

    *pura-pura mengerti*

  10. memang bener2 kompleks sifatnya……

    ampe saya ja jd kompleks pusingnya mbaca suratnya ntu…. :D

  11. sepintas memang karna bisa dibilang tokoh antagonis karena berada di kubu pendawa, mas gun, tapi jiwa dan kepribadiannya sungguh layak dikagumi. putri dewi kunti yang “berselingkuh”dg bathara surya *mohon dikoreksi kalau salah* ini menang sosok yang konsisten. berpihak kepada penawa merupakan jalan dan dharma baginya untuk menegakkan nilai2 kebenaran.

  12. wah kowe paham wayang to? aku blas
    sepakat, kita bisa “mengubah” kodrat, kalau mau.

  13. Quote-nya berat… :(

    Semua orang punya keunikannya masing-masing… :d *entah komen ini nyambung ato nggak*

  14. hayah gun gun….. trus kapan kita2 bs ketemu ama…… ahmmm you know laahh :)>-

  15. Dewa Indra ikut bertanggung jawab atas kematian Karna. Demi agar Pandawa menang, Dewa Indra meminta karna menanggalkan rompi perangnya dan menyerahkan pusaka pamungkas kepadanya.

  16. dalang toh mas? pake dikomentari juga rupanya ceritanya ya. itu kisah nyata atau fiksi sih wayang. keknya fiksi deh ya.

  17. weh, calon budayawan tenan ki :d

  18. pelajaran hidup yang tersirat dari wayang memang filosofis dan sangat mendalam maknanya. bagaimana kalau bikin wayang blogger. tokohnya 3maskenthir yang itu tuh…

    sayangnya kita sekarang hidup pada dunia modern dan dicekoki tivi, vcd, dvd dan segala macam..sehingga filsuf bijak jaman dulu tidak bisa kita dapat. salut buat artikelnya.

  19. episode karna cukup jelas maknanya buat saya.. sih
    cuma mahabarata itu kebanyakan cerita yang lainnya rada absurd

    kaya drupadi yang difilmkan itu, huhuhu

    oh ya, slm kenal ya.. saya blogger baru

  20. wah quote nya ngeri….

  21. dan karena Karna pulalah Gatotkaca hrs mengakhiri hidupnya

  22. sejauh mana kamu paham Karna?
    sekedar baca wikipedia dan eksplorasi bahasa budaya untuk persembahan kepada kekasih tercinta?

    ah,.. jadi Gunawan sajalahh kau itu,..
    itu lebih udah cukup ….

  23. Jadi pingin baca komik wayang lagi. *ga nyambung*

  24. @ Jauhari: Ndak kuat gimana, bang? :))

    @ danalingga: Heheee… Menurut njenengan? :D

    @ edy: Senjataku itu khusus cewek…

    @ IMAN: Pengkhianat karena putra Kunti tapi memihak Kurawa? :D
    Sayang sekali, mas… saat putra Kunti yang lain (Arjuna, Bimasena) mencaci dan mengejek Karna, Duryudana lah (tanpa mempedulikan alasan) yang menerima Karna. :(

    @ zen: Ya, Karna mengalami pergu;atan yang sangat berat. Kebanyakan karakter juga, nggak bisa dinilai hitam-putih jahat-baik begitu saja. Sangat bias.

    @ Kroco Geddoe: Terima kasih ya akhi.

    @ afwan auliyar: Dibawa santai aja, masbro. :D

    @ sawali tuhusetya: Kunti kan ndak sengaja men-summon Dewa Surya saat masih ABG. Lalu Surya memberinya putra yaitu Karna. Sayangnya Kunti akhirnya ‘membuang’ putranya karena saat itu masih muda dan belum siap jadi ibu.

    @ kw: Aku blas juga, kang. Yap, asal ada niat dan berusaha.

    @ Bebek Jamuran…: Nyambung ah, masbro. :P

    @ yusdi: Hush, lagi telponan nih.

    @ Yeni Setiawan: …tapi karena senjata dari Dewa Indra sebagai barter itu Gatotkaca mampus kan? :D

    @ Darojatun: Sesukanya, mas. :D

    @ antobilang: Nyindir ki! :))

    @ bakulsapi: Rasanya dari barang zaman modern pun kita bisa mendapatkan filosofi deh. :P

    @ banyu: Salam kenal. Justru Mahabharata itu saya kira sangat kompleks.

    @ Fikar: Terus?

    @ didut: Hwakakaa… Lalu secara nggak langsung membuat Karna terbunuh di tengah Arjuna.

    @ leksa: Wiki opo tho? Dah lama aku ndak baca Wiki e. :|

    @ Xaliber von Reginhild: Bacalah! :D

  25. karna cinta tentunya :mrgreen:

  26. manstabs, seorang budayawan adalah seseorang yang nyambung jika berbicara dengan budayawan lainnya (lirik Zen). Goen, anda sudah ingin naik tingkat ke taraf Begawan kah?
    Thx, udah uri-uri budaya, meski hanya budaya kakawin. Kapan nih nulis ttg budaya asli?

    .::he509x::.

  27. I know this…
    Intinya adalah “Hidup Adalah Perbuatan”

    Sejak kapan kamu jadi agen-nya Sutrisno Bachir, hah?

  28. saingannya paman yang budayawan itu tuh … :d

  29. @ rudy hilkya: Ah, masa sih, pak?

    @ MaNongAn: Akch, saya bukan budayawan kayak di paman, kang. :D

    @ Nazieb: Saya bakal ngaku jadi agen kalau ybs bayar saya 3 milyar. :-]

    @ ndoro kakung: Ah saya masih kalah sama Ndoro… ^:)^

  30. hahaha…. saya orang jawa yang gak tahu menahu masalah beginian.

    Sifat karna yang baik2 yang sepatutnya di jadika tauladan

  31. saya ndak tahu mengenai tokoh2 pewayangan Jowo…agak sedikit sok tahu tokoh pewayangan gorek dari jawa barat hehe

  32. endingnya sedih sih,,,

  33. ngomong2 si karna kok puitis gitu yah :-?:-?

  34. bukan pesan kematian khan gun? :d

  35. eh iya, mbok sekali-sekali mlipir ke jakarta… :-]

  36. @ alabahy: Sifat buruk juga bisa jadi refleksi. ;)

    @ Bumi-Langit: Hahahaaa.. Saya sok ngertinya yang dari Jawa e. :D

    @ hanggadamai: Ah masa? :))

    @ ario saja: Lah tiap orang bisa puitis kok. :P

    @ dobelden: Bukan. :D

    @ edy: Ngapain tho? :|

  37. saya suka blognya, bersih…

    salam kenal

  38. hayah emoticonnya skype |(

  39. Jangan2 kamu titisan-nya Karna…

  40. apapun ceritanya, karna telah menemukan alasannya hidup dan alasannya mati: duryudana yang membuatnya merasa jadi manusia berharga.

    on the other side, aku sendiri kadang ga pasti untuk apa aku hidup, apalagi karena apa aku pantas pati.

    belum lagi kalo kita bicarakan, betapa keberanian dan kemampuan membentuk takdir sendiri itu adalah puncak pencapaian seorang manusia, yang bahkan membuat terganggu para dewa.

    karna seperti sisifus, berani mencuri api milik para dewa, meski karena itu harus beroleh hukuman yang lebih perih dari sekadar kematian.

    Entah benar atau tidak, kadang secara misterius saya mengakui ada banyak kesamaan antara saya dan Karna.

    Karena saya mengagumi Karna, izinkahlah juga saya mengagumi anda
    !@!

  41. saat putra Kunti yang lain (Arjuna, Bimasena) mencaci dan mengejek Karna, Duryudana lah (tanpa mempedulikan alasan) yang menerima Karna

    duryudana kan menerima karna karena dia butuh bantuan untuk menghadapi pandawa . .. kok bisa bilang tanpa mempedulikan alasan ???

  42. Suatu tulisan yang amat sangat bagus!
    Saya senang sejarah kebetulan, tp ada beberapa tulisan yang belum saya mengerti.

  43. wooogh deja vu! :o

    weh iya kemaren baca di Plurk… :-?
    *berlalu*

    :y

  44. trus klo gaya surat cintamu ke mojang priangan itu ga diposting sekalian gun?

  45. wahhh plurk bisa mendatangkan surat cinta yah :D
    mau222222

  46. Tes komen pertama dengan Google Chrome. Kedeteksi jadi apa ya.

  47. @ antown: Wah blognya doangm tulisannya nggak. Ya salam kenal juga. :D

    @ ekowanz: Ada yang mirip kowe tho? :))

    @ CY: Nggak mungkin~

    @ Toga: Yap, Karna tidak mau cuma menerima begitu saja dan berpasrah. Ia berusaha, ia berbuat.
    Kesamaan yang jelek-jeleknya aja tuh Lae. :P

    @ funkshit: Tanda kurung itu maksudnya nggak mempedulikan alasan sebenarnya Duryudana. Bukan Duryudana yang nggak mempedulikan alasan.

    @ Adriano Minami: Eh ini sejarah ya?

    @ Chic: He? Mau saya plurk soal wayang lagi? :D

    @ aprikot: Lha itu privat, budhe… :|

    @ Gelandangan: Kok plurk?

    @ estbug_goen.EXE: Kebacanya Safari di MAc OS X, Gun. Kan rendering Google Chrome mirip Safari.

  48. Kamu mirip karna? Tapi kamu bukan anak pungut kan Gun? :piss:

  49. Weks, ketahuan tadi pake PC ^^;

  50. ikut ngetest pake krum :d

  51. yay! Kebacanya kok Safari ;)) ups, sorry malah hetrik :d

  52. Karna emang romantis kok :*

    *Paman Goop tampaknya benar ;))

  53. karna bagi saya orang baik seperti halnya bisma.. mereka berdua orang yang berada di waktu dan tempat yang salah.. hehehe..

  54. @ -=«GoenRock®»=- [1]: Enak sahaja. >:)

    @ -=«GoenRock®»=- [2]: MANAAA MEKSBUKNYAAAA~

    @ -=«GoenRock®»=- [3]: Jadi?

    @ -=«GoenRock®»=- [4]: Karena sesama webkit, makanya Safari.

    @ AngelNdutz: Apanya yang benar?

    @ Gempur: Saya rasa benar saja, Pak. Toh membela Kurawa adalah kebenaran bagi mereka.

  55. hmm tambah satu scene…waktu dewi kunti nyoba bujuk karna sebelum duel dengan arjuna…karn bilang sama kunti ibunya…

    “Ibu, saya atau arjuna yang nantinya mati…pandawa akan tetap lima…”

    waktu kunti memunguti tubuh karna yang hancur terkena pasupati…
    arjuna: apa yang bunda lakukan? karna adalah musuh pandawa…!?
    kunti hanya menjawab lirih menahan tangis…”dia abangmu nak….”

    well, kesusasteraan indonesia memang dipengaruhi sastra india(ramayana-mahabaratha-barathayuda) dan indonesia bisa bikin mahabharata versi mereka sendiri (jawa) degn menambahkan falsafah orisinil…agak mirip dikomparasikan dengan jepang yang banyak pengaruh chinanya (see yuu,fengshenyanyi,san guo zi, suihuochuan)…dan akhirnya mereka bikin versi lain dengan manga dan game…

    kamu makin lama makin bijak ya…berusaha naruh kepala di langit dan kaki di bumi bersamaan…

    suka karna ya…?well in my case i like bhisma…

    bikin reviewnya dunks…

  56. @ william_clive: Bukannya Pandawa merujuk pada anak-anak Pandu (baik dengan Kunti maupun Madri)? Jadi kalau Arjuna mati, Karna yang bukan anak Pandu (meski anak Kunti) nggak bisa disebut Pandawa dong?
    Bijak? Ndak, makin ngaco malah. :=!

    Bhisma nanti lah, setelah…Prabu Salya~

  57. well, ngga tau yah…agak rancu juga sih latar dari ceritanya itu patriarki atau matriarki ….?

    soale kalau di budaya hindu india, kalau kawin…keluarga cewe yang bayar mas kawin…hmm orang jawa juga bilang kalau nikahan itu hajatanya keluarga cewe…

    tokh semuanya bukan benih dari pandu…bukannya hampir semua pandawa hasil pembuahan kunti dan madri dari beberapa dewa?
    indra=arjuna, vayu=bimasena,nakula-sadewa=aswin…yudhistira aku lupa…

    yah, tapi karnanya emang pernah bilang gitoe sih…

  58. @ william_clive: …karena Pandu kena kutuk. :P
    Tapi arti literal dari “Pandawa” adalah “anak Pandu” kan?

  59. Karna adalah cerminan tokoh yang tidak mudah untuk dipahami. Mungkin orang yang pernah mengalami kompleksitas dan dilema hiduplahlah yang sekiranya mampu meraba hebatnya pergulatan batin yang ia tanggung. Hidup adalah pilihan. Tidak ada keputusan lain kecuali harus memilih.

    Karna telah lebih dahulu menentukan pilihannya sebelum Ibunya Kunti, Bhisma bahkan Arjuna mampu mempengaruhi keputusannya. Sebuah keputusan yang tegas, teguh dan sangat beralasan tentunya.

    Kalau menurut saya Karna adalah sedikit dari tokoh yang berada di pihak yang salah tapi ia berada di jalur yang benar.

  60. @ C4ndra: Ya, jalur yang benar. Jalur yang ia anggap kebenaran bagi dirinya. Itulah pilihannya, ia ak mampu tergoyahkan. Salut atas komentar njenengan. d^b

LeaveComment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
Please note that pertamax word and its variants will be held in moderation queue. Be wise.
This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

khusiel

[XHTML] You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

"I offer themes that showcase your content, not my design skills." —Scott Allan Wallick, plaintxt.ORG