Romantika Lodaya 06.08.08
By Gunawan Rudy posted in personal. Wednesday, Aug 6th, 2008 at 8:37 pmJam sembilan malam, Stasiun Tugu Yogyakarta. Memang tak ada yang spesial dengan itu, hanya saja sekali tiap bulannya saya pasti berada di ruang tunggu stasiun, dengan buku di tangan sembari menanti datangnya Kereta Api Lodaya dari arah timur. Perasaan saya saat itu seperti awal perjalanan-perjalanan sebelumnya, bagai berdiri di depan kimsin Dewi Kwan Im, mengangkat dan menjatuhkan shio-pwe, hingga berharap diperkenankan mengocok lidi-lidi djiam-si. Walau diperkenankan pun, toh saya tetap tidak tahu apakah tulisan di djiam-si yang saya cabut akan berisikan ramalan nasib baik, atau buruk.

Kengerian itu dikarenakan oleh lakon Sam Pek Eng Tay yang terus berputar-putar di benak saya. Saya cemas, saya berasa menjadi Sam Pek yang mengunjungi Eng Tay. Hanya saja peristiwa kesalahan perhitungan waktu oleh Sam Pek sampai akhirnya membuat ia terlambat melamar Eng Tay, membuat saya terus was-was. Tapi sudahlah, toh jika kisahnya benar mirip, nantinya juga akan menjadi sepasang kupu-kupu, bukan?
…
…
Kasihanilah hamba, sinuwun.
Perumpamaan di atas bisa jadi terlalu berlebihan, namun siapa yang tahu itu memang pas terjadi seperti aselinya. Apapun sejatinya, kisah-kisah lelakon seperti itu memang cukup sebagai pemanis belaka. Apa yang akan terjadi harus kita ciptakan sendiri, bukan dengan patokan yang serupa dulunya. Yang sudah ada boleh jadi jadi pelajaran belaka, tapi toh tetap saja kita jua yang nantinya bisa membuat sejarah baru yang lebih berkesan. Bukankah jika begitu rasa puas dan kebahagiaan yang dirasakan nanti rasanya seperti hujan yang mengguyur bumi, bagaikan pancuran mas sumawur ing jagat?
Kereta merapat di stasiun, dan saya pun terbangun dari lamunan. Berasa seperti raja yang lengser keprabon saja. Buku kisah Romeo dan Juliet ala Tiongkok itu buru-buru saya masukkan ke dalam ransel yang sudah penuh sesak, segera melangkahkan kaki masuk ke gerbong kereta. Sempat terbesit sedikit kenangan di Lodaya beberapa minggu yang lalu. Lodaya yang melaju cepat namun terasa pelan dari Solo Balapan menuju Bandung. Tapi ah sudahlah, kisah kala itu mungkin cukup dirangkai dalam buku harian merah jambu miliknya saja. Itupun jika kenangannya tidak kukuh dibawa ke liang kubur.
Mengambil tempat duduk di sisi jendela, tak banyak pemandangan yang bisa dinikmati karena pekatnya malam. Tapi saya memang selalu memilih perjalanan malam, karena pagi harinya saya berharap ada seraut wajah ceria yang menyambut kedatangan saya di kota itu. Tidak seromantis kisah Argo Sindoro si Yudis memang, cuma ocehan dan coretan anak kecil yang belum juga menginjak kepala dua. Tapi tak apalah, kang kari slamet rahayu, yang tinggal hanyalah selamat sejahtera.
Berkali-kali menempuh perjalanan bersama Lodaya, saya menjadi cukup akrab dengan suasana di dalam gerbong-gerbongnya. Goncangan kereta, suara pedagang asongan ketika kereta merapat di stasiun, kondektur yang membangunkan saya untuk mengecek tiket, dan hal-hal lain yang sudah seperti menjadi bagian dari hidup saya saja. Memperhatikan tingkah polah penumpang lain pun terasa menarik bagi saya. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari memperhatikan mereka. Misalnya pernah suatu ketika saya mengamati seorang bapak yang duduk di sebelah saya melakukan sholat shubuh dalam posisi duduk. Suatu ketika juga terus berbincang tanpa henti sepanjang perjalanan dengan penumpang di sebelah saya. Tak sekadar perjalanan, namun juga sumber pengalaman berharga. Paring obor kang kapetengan, memberi obor bagi mereka yang berada dalam kegelapan.
Lodaya, tiba di Stasiun Bandung pada pagi hari. Saat itulah saya tidak sabar untuk segera keluar, tidak sabar untuk melihat lagi senyuman manis darinya yang cukup jarang saya nikmati karena terbentangnya jarak kurang lebih empat ratus kilometer jauhnya. Tak ada yang bisa saya berikan kecuali niatan tulus akan kehadiran dan sedikit buah tangan spesial sekiranya ada.
“Tapi mengapa waktu selalu tidak bersahabat ketika aku berusaha ada di sisimu…”
Ah sudahlah… Kita bahas yang lain saja.
Bang Ijal, biaya ke Boston memang teramat mahal. Tapi mungkin tabungan naik haji sampeyan bisa dialihkan untuk perjalanan ke sana? 
Kredit foto dariTrainWeb.























1
From infinite.inficio.info
PEEEEEEEEEEEEERTAMAX! |
|
*huaha*
2
From gunawanrudy.com
@ Infinite Inficio: *sapu-sapu* Nah, tanggapan?
3
From
itu photo pemandangannya minda dong yg versi largenya
4
From infinite.inficio.info
Hwahaahaaaa! Geuleuh, ah…
*ditendang*
Ini… karma. *lho*
5
From gunawanrudy.com
@ densscessario: Sini IM saya.
@ Infinite Inficio: Heeeh, Karma apaan? Karma = Balasan
Semoga aku dapat karma baik, amin,
6
From wijayax31.blogspot.com
ujung2nya itu lo. Ga kesian
7
From
perjalanan yang sesungguhnya, kata orang2 bijak, bukan untuk melihat pemandangan dan tempat2 baru, tapi untuk menggapai mata baru.
*traveling is everything, brotha*
8
From asruldinazis.wordpress.com
eh kemaren ke sby yakz? sayang sy ke pacitan waktu itu
9
From nazieb.com
Hal yang paling membosankan dari sebuah perjalanan, adalah perjalanan itu sendiri.
Apalagi pake kerete.. beuh…
10
From nazieb.com
Halah, typo..

11
From the.sandalian.com
Whoa, travelin’ for the one you love. Sounds cool
12
From aruta.wordpress.com
Ciee, sayang ya kemarin di Bandung tidak bisa bertemu. Padahal kawinan-kawinan yang gw hadiri itu ada di seputaran Dago semua.
13
From jimmysun.net
oh ternyata si dia ada di bandung toh? |
|
14
From unclegoop.com
[...]kang kari slamet rahayu[...]

kari atau keri, ya?
_________________________
dan perjalanan, menjadi cerita…
15
From tukangkopi.com
situ keknya udah khatam buku “Pepak Boso Jawa” ya ?
16
From thefachia.com
weh sayang kalo tabungan naik haji dialihkan buat perjalanan ke Boston mas..
17
From jengjeng.matriphe.com
cie ciew..
ayo, pada nyari jodoh masing-masing!!
musim kawin.. musim kawiinn!!
pada ngikut sultannya!!
18
From kecoakuning11.wordpress.com
Nyem…
Setuju..
bedanya saya lebih sering melakukan ini ketika duduk di kursi bus TransJakarta setiap pulang sekolah.….Masa’ cuma perjalanan di kereta doang…
Tambahan dong, tambahan =_= *digetok*
19
From itikkecil.wordpress.com
sekarang banyak yang LDR ya…
20
From zulfikars.org
lg di Bandung ya…..
21
From restlessangel.wordpress.com
omigotttt….
bener nih kata sultan…
musim kawin…..
22
From chikastuff.wordpress.com
buset. pada kasmaran semua nih…
23
From
punten…
perjlnan cinta yg rutin nih?
24
From tokyorevelations.wordpress.com
Lodaya…kirain lodaya yang di Bandung
Liat sebaris kata di dalam kotak di atas
*hmp~* tuh Infi, makanya kalo si sensei kunjungan ke istri temenin dong~
Kalau sama saya kan jadinya perjalanan mencari es krim *didepak XD*
But thanks buat Beginning of Fantasynya XD kereeen~
25
From gunawanrudy.com
@ nico: Yang kasihan itu kalau dari Kaliurang atas sana bela-belain turun kalau ada Sarah kopdar…
@ zen: Indeed, suhu!
@ aRuL: Cuma 3 jam tuh kang.
Taxi ke Juanda mahal euy…
@ Nazieb [1]: Nggak ah, justru asyik.
@ Nazieb [2]:
@ The Sandalian: Nggak lebih bagus kalau ketemu jodoh di pendakian, kang? Heheheee…
@ Nenda Fadhilah: Iya deh, nanti kuhadiri kawinanmu. Kapan?
@ jimmy: Si aku di Yogya, mas.
@ goop: Saya ndak bisa Bahasa Jawa dengan baik je. Les Bahasa Jawa yang sertifikat internasional di mana ya?
@ tukangkopi: Kalau situ panduan melamar gadis di emperan jalan?
@ Fachia: Ah, masa? Yaudah deh, tabungan beli laptop aja yang dialihkan.
@ zam: Sultan yang satu ini diikuti cari jodoh aja, poligaminya jangan…
@ masamune11: Semua ada masanya™, nak. :-]
@ itikkecil: Siapa yang LDR, mbak?
@ Fikar: Itu minggu lalu.
@ meong: Kapan kawin sama Pepeng, budhe? Kok nggak ngabarin sih?
@ cK: Perawan tua bisa kasmaran juga toh, tante?
@ ridho: Rutinitas yang ngak pasti, kayaknya?
@ soelarg: Lhaaa… Santai aja, kalau waktu memang nggak bersabahat, biar saya yang menggandeng tangan sang waktu itu.
26
From pandinurdiansyah.com
salam kenal om |
|
27
From gunawanrudy.com
@ pandi merdeka: [..]
28
From serdadu95.wordpress.com
Kosik… kowe ki numpak sepur seko solo po nyogja Dab..??
29
From gunawanrudy.com
@ serdadu95: Hoalah, dari Solo cuma sekali, itu yang sebelumnya, bulan Juli.
30
From nieznaniez.wordpress.com
emang mesti agak sabar klo dibentangkan oleh jarak itu…
31
From bluestockin.wordpress.com
cieee…. pacaran nih!!!
so sweeet!!!!
32
From monkeywong.com
hehehehe… melongok sultan
33
From blog.imanbrotoseno.com
pameo kecilkecilsudah kawin..nggak berlaku lagi ya ??
34
From
[...........Kereta merapat di stasiun, dan saya pun terbangun dari lamunan......]
aku gak percaya kamu CUMA melamun. pasti TURU.
35
From gunawanrudy.com
@ niez-nya adit: Ini pengalaman yow?
@ senny: Apa? Mau sama saya?
@ pudakonline: Lha apa iya?
@ IMAN: Kawin atau menikah, mas?
@ antobilang: Urusan wedho aku ra turu, Ntok…
36
From chikastuff.wordpress.com
gun kalo lagi polinlop nggilani…
37
From frisna.cn
Oh jadi ceritanya lagi lope lope an ya mas
>-
38
From myresource.wordpress.com
*nungguin undangan* |
|
39
From
*gak penting mode : on*
Itu yg di photo, kalo belok kanan menuju rumah temanku lhooo..
*pssstt.. numpang pamer OS*
40
From venus-to-mars.com
aaaah, another sentimental journey :-]
41
From mbelgedez.com
@ CHIKA
Kapan nyusul….???
Kan banyak Blogger jalang…. :lol:
42
From gunawanrudy.com
@ cK: Polipon? Ah masa sih?
@ tanahsirah: Nggak tau ya…
@ moerz: Undangan syukuran istri ketigamu manaaaaaa? Aku ga dikasih! Huh!
@ Densscessario: Kamu tinggal di hutan?
@ venus: Saya nunggu punya simbok juga nih.
@ mbelGedez™: Mupeng om?