Feed Online with WordPress 2.6.2 on ! 141 posts and 9,208 comments.

Gerakan Perlawanan Tibet 13.03.08

By Goenawan Lee posted in article. Thursday, Mar 13th, 2008 at 11:50 am

Sejak pendudukan RRT di Tibet pada 1951, praktis daerah yang dulunya dikenal tenang dan menyimpan banyak misteri ini terus bergejolak. Mulai dari perlawanan fisik hingga aksi protes menuntut kemerdekaan terus berlangsung hingga kini, walau sejak tahun 1970-an gaung perlawanan nyaris padam sepenuhnya. Kini Tibet adalah daerah otonomi khusus di bawah pemerintahan RRT. Sementara itu di Dharamsala, India utara, para pelarian dari Tibet yang dipimpin oleh pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, membentuk pemerintahan Tibet di pengasingan.

Free Tibet

Daerah yang kental akan unsur religius Buddhisme ini diinvasi tentara merah RRT pada tahun 1950 dan akhirnya satu tahun kemudian Dalai Lama berhasil dilengserkan dan Tibet dikuasai oleh RRT. Banyak alasan yang dikeluarkan Beijing menyoal aksi pendudukan ini, antara lain karena Dalai Lama menolak kesepakatan damai Tibet dan RRT ingin menghapus praktek penindasan feodal di Tibet. Namun kenyataannya jauh berbeda karena RRT sendiri melakukan banyak pembantaian terhadap para kepala suku dan Lama (pendeta). Para analis internasional saat itu juga berpendapat bahwa RRT hanya ingin menguasai kandungan mineral di bumi Tibet.

17 Maret 1959, hanya dengan berjalan kaki dengan resiko tertangkap selama perjalanan, Dalai Lama dan rombongannya berhasil melarikan diri ke India. Selama berminggu-minggu rakyat Tibet berkumpul di sekitar Istana Potala di ibukota Lasha guna menghalangi tentara RRT agar Dalai Lama berhasil lolos. Karena aksi itu, tentara RRT menjadi berang dan melakukan banyak penembakan di Lasha, hingga mengakibatkan tewasnya ribuan rakyat Tibet yang menjadi pagar betis untuk melindungi Dalai Lama. Peristiwa pelarian Dalai Lama ini sendiri menjadi salah satu peristiwa pelarian yang paling terkenal di dunia.

Sebelum Dalai Lama membentuk pemerintahan di pengasingan pun, gerakan perlawanan Tibet sudah tampak. Tercatat kelompok-kelompok seperti Chushi Gandrug (Empat Sungai, Enam Gunung) dan Tensung Dhanglang Magar (Kelompok Sukarelawan Pembela Buddha) yang menjadi gerilyawan Tibet. Namun sayangnya, karena kalah secara jumlah, persenjataan, dan taktik militer, aksi kelompok-kelompok ini seringkali gagal walau beberapa kali karena faktor menguasai medan, mereka berhasil menimbulkan banyak korban di pihak tentara RRT. Beberapa kali Angkatan Udara RRT melakukan serangan kepada kelompok-kelompok ini dengan menjatuhkan bom, yang juga menyebabkan tewasnya tidak hanya para gerilyawan, namun juga pihak sipil.

Karena menyadari bahwa mereka sudah kalah dari persenjataan, teknologi, dan taktik, akhirnya pihak gerilyawan Tibet mengontak konsulat Amerika Serikat di India. Pihak AS yang dari dulu ingin turut campur tentu saja langsung menerima permohonan bantuan dari Tibet. Mulai 1957, CIA melatih para gerilyawan Tibet di luar negeri untuk siap diterjunkan ke medan tempur. Bertahun-tahun praktek pelatihan dan pengiriman bantuan dari AS terus dijalankan hingga awal tahun 1970-an di mana Presiden AS saat itu, Richard Nixon menbuka hubungan diplomatik dengan RRT. Hal itu kontak menyebabkan putusnya bantuan CIA kepada Tibet. Sorotan media internasional juga perlahan-lahan menghilang. Faktor lain yang menyebabkan matinya perlawanan fisik adalah pemerintah Nepal dan India yang menolak daerah mereka dijadikan basis gerilyawan Tibet. Lama-kelamaan juga nama gerakan perlawanan Tibet menjadi tercemar karena para gerilyawan tak segan-segan untuk mencuri dan merampok guna memenuhi persediaan selama gerilya. Sejak saat itu pula gerakan perlawanan Tibet bisa dikatakan nyaris padam karena perlawanan fisik telah berakhir walau aksi-aksi protes terus berjalan.

Secara resmi bisa dikatakan permintaan Dalai Lama yang meminta para gerilyawan untuk menyerah secara sukarela lah yang mengakhiri perlawanan fisik. Dalai Lama ingin menyelesaikan masalah dengan jalan damai dan tidak tega terjadi pertumpahan darah terus-mnerus di bumi Tibet. Terlihat jelas hampir seluruh gerilyawan mengikuti kata Dalai Lama, walau kemudian sebagian besar memilih untuk bunuh diri. Sebagian kecil gerilyawan memutuskan melarikan diri ke India, namun dalam perjalanan teradi bentrokan dengan tentara Nepal yang menyebabkan semua gerilyawan Tibet tewas.

Selama bertahun-tahun masalah Tibet nyaris terlupakan dan kehilangan sorotan internasional. Dalai Lama dan para pelarian di pemerintahan pengasingan terus menyerukan agar RRT memberikan kemerdekaan kepada Tibet. RRT sendiri yang tidak ingin terus terjadi perlawanan di Tibet pun memberikan hak otonomi khusus. Alasan lain pemberian otonomi khusus adalah karena mayoritas penduduk Tibet, seperti halnya juga daerah Mongolia Dalam, bukan berasal dari suku Han. 93% merupakan suku Tibet dan hanya 6% dari suku Han, itu pun berasal dari luar Tibet. Pada dekade 1980, RRT mengadakan reformasi Pintu Terbuka dan mulai melakukan pembangunan di Tibet. Masalah Tibet nyaris dianggap selesai ketika Panchen Lama, pemimpin tertinggi kedua Tibet, menyatakan bergabung dengan RRT pada awal dekade 2000-an.

Walau mendapat hak otonomi khusus, namun pelanggaran HAM seperti represi, penolakan kebebasan beragama, perusakan tempat ibadah, dan politisasi agama terus terjadi di Tibet hingga sekarang. Hal ini kurang tersorot media karena ditutup-tutupi oleh pembangunan dan proyek modernisasi Tibet, seperti pembangunan jalur kereta api yang dilakukan oleh RRT. Seperti daerah-daerah lainnya di RRT, media di Tibet jelas dikontrol oleh pemerintah dan mendapat proses sensor yang ketat. Meskipun begitu, Dalai Lama menolah perlawanan fisik dan terus menyerukan aksi dan diplomasi secara damai. Karena konsistensi penolakannya terhadap perang dan terus menyerukan penghapusan pelanggaran HAM dengan perdamaian, Dalai Lama memperoleh Nobel Perdamaian pada tahun 1989. Bahkan ia dianggap disejajarkan dengan tokoh-tokoh protagonis perdamaian terbesar seperti Mahatma Gandhi.

Beberapa hari belakangan, ratusan rakyat Tibet di pengasingan melakukan long march dari Dharamsala hingga perbatasan Tibet. Perjalanan panjang sebagai aksi protes dan menuntut kebebasan dari RRT ini dilakukan selama enam bulan hingga tiba di perbatasan Tibet bertepatan dengan pembukaan Olimpiade Beijing pada Agustus mendatang. Aksi ini ditujukan bertepatan dengan Olimpiade Beijing karena para demonstran ingin olimpiade mendatang tidak sekadar simbol belaka, namun pemerintah RRT dituntut bersikap terbuka, karena olimpiade menjunjung tinggi kebebasan berbicara dan persamaan. Dalai Lama mengatakan bahwa dunia internasional juga diharapkan tidak mengirimkan atlet semata tapi juga membuka mata akan masalah-masalah yang terjadi di Tibet hingga sekarang ini.

Long march yang juga peringatan 49 tahun pengasingan pemerintahan Tibet ini diklaim akan menjadi aksi protes terbesar semenjak pengasingan pada 1959, dan merupakan gerakan damai rakyat yang bisa disejajarkan dengan People Power di Filipina. Aksi yang dimulai oleh ratusan aktivis ini akan terus bertambah jumlahnya seiring perjalanan. Meskipun hampir tidak mungkin Beijing akan langsung memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada Tibet, namun diharapkan aksi ini dapat membuka mata dunia terhadap masalah Tibet dan memompa semangat rakyat Tibet untuk terus berjuang memperoleh kebebasan.

Mencermati gerakan rakyat yang dipimpin Dalai Lama dengan jalan perdamaian sendiri, mengindikasikan bahwa penyelesaian masalah-masalah tidak selalu dengan jalan fisik atau perang. Perang, dalam hal ini diletakkan pada pilihan terakhir di mana ketika semua jalan telah tertutup. Sebagai seorang pemimpin, Dalai Lama tentu saja berkeinginan melindungi rakyatnya dari pertumpahan darah, namun ia juga pasti menginginkan kebebasan dan penghapusan pelanggaran HAM untuk Tibet. Tapi nampaknya Dalai Lama sendiri mencoret pilihan perang dalam gerakan perlawanannya, entah pilihannya ini akan menimbulkan dampak positif pada masa depan Tibet atau malah tetap membuat status Tibet seperti sekarang ini.

Dalam skala nasional sendiri, aksi damai bisa membawa perubahan, ambil contoh saja People Power di Filipina yang berjalan damai dan mampu melengserkan Marcos dan Estrada. Namun dalam skala internasional tidak semudah itu. Permainan kepentingan telah menjadi milik banyak pihak, tidak hanya RRT dan Tibet sendiri. Secara tidak langsung tentu saja akan mempengaruhi banyak hal, dan ada pendapat bahwa aksi damai sulit memimbulkan perubahan besar seperti kemerdekaan, karena banyaknya pihak yang terlibat di dalamnya. Meskipun begitu, aksi-aksi damai yang menjadi sorotan dunia internasional juga bisa menjadi senjata ampuh, di mana dunia internasional dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah RRT–meskipun tidak secara langsung, seperti ketika RRT terpaksa melakukan reformasi Pintu Terbuka–terhadap penyelesaian masalah Tibet. Siapa yang tahu?

 

* foto dari The Associated Press.

socialbookmarks

entrymeta

You are reading the article, Gerakan Perlawanan Tibet. This article was written on Thursday, 13th March 2008 at 11:50 am and last update on August 27, 2008 at 5:04 pm, in Yogyakarta, Indonesia. You can find similar articles in the article category and , , , , , , , tags, or more articles by Goenawan Lee, if you enjoyed this article. If you have any comments about this article, you can use contact page, or leave a comment below. You can also follow comments made on this article via my RSS 2.0 feed or subscribe to full feed. If you would like to continue reading more, the previous article on my weblog is called Ancaman People Power Ketiga di Filipina and the next article is called Pemilu Taiwan Sebagai Referendum. Thank you for visiting my weblog.

Feed Want to stay up to date with my postings? Watch my blog and subscribe to full feed or comments feed.

67comments

  1. Wah, panjang juga ya…. :-w

    Panjang karena rilisnya telat. Aslinya pendek kok.

  2. hebat…!!! ulasan menarik, sayah kagum dengan perjuangan orang2 tibet yang coba merdeka.. kenapa amerika tidak membantu mereka yah

    *tulisan panjang.. kayaknya gun lagi gilak ni*
    :d:d

  3. :( teringat sebuah novel “mata ketiga” bila tidak salah judulnya, tentang perjalanan menjadi lama. Apakah karena orang pilihan, menjadi pembenaran derita selalu dialami?
    Oya, ada kesamaan tidak gerakan itu dengan apa yang dilakukan Mahatma sang Jiwa Agung di India?
    dan yang benar RRT atau RRC bro? di awal ada RRC

  4. @ almascatie: Haiyah, AS ndak bisa macam-macam secara akan merusak hubungan diplomatik dengan RRT yang udah dirintis sejak tahun 70an itu. :|
    Tapi ada beberapa mantan CIA yang masih menjadi aktivis buat Tibet kok, karena merasa dikhianati ketika Nixon menghentikan bantuan dulu. :|

    @ Goop: Kalau kita liat ke konteks ‘penjajahan’ sih bisa ada kesamaan. :|
    Wah, teliti. Thanks, aku belum terbiasa pake RRT. ^:)^

  5. emang momen olimpiade ini bisa jadi satu kesempatan untuk perjuangan Tibet
    mudah-mudahan bisa mendapatkan hasil positif sekecil apapun
    biar ga ada pengorbanan nyawa lg

  6. perjuangan kaum minoritas memang kadang-kadang berat.
    seperti di Myanmar…..

  7. eh,tapi gw ga kebayang lo tibet itu keadaannya kek gimana? udah kota ato masih alam banget ya?

  8. kalau bisa aksi damai kenapa harus perang? lha wong dengan perang belum tentu masalah terselesaikan juga kok. malah buang2 nyawa..
    ——
    buset! kikodnya munkar!! :o

  9. ajaran budha melekat kuat di dalam diri Dalai Lama, dari Sang Guru dia belajar mendahulukan hati dibanding nafsu. Toh yang namanya batu kalo terus-menerus ditetesin air bakal rapuh juga.. walaupun bosen nunggunye

    semoga indonesia juga bisa mendahulukan hati daripada nafsu [-o<
    hehehe.. ngemeng ape gua barusan ye @-)

  10. knp amerika lagi2 turut campur? |:d||:d|

  11. @ edy: Tepat. Momentum di mana sekali lagi perhatian dunia tertuju ke RRT. ;)

    @ itikkecil: Saya belum berani nulis Myanmar. :D

    @ nne: Kota lah, di Lasha udah rada modern… *liat-liat foto doang* :))

    @ tukangkopi: Perang emang alternatif terakhir dalam penyelesaian sengketa kok. :|
    Kan nama malaikat kikodnya. :|

    @ brainstorm: Amin… [-(

    @ detnot: Dulu karena AS ndak punya hubungan diplomatik sama RRT dan juga memusuhi blok timur, jelas dia mendukung Tibet. Sekarang rada susah ya, banyak kepentingan sih. :-]

  12. aku tak mau baca. terlalu menyakitkan dan menusuk sanubari. aku benci peperangan. aku mau kedamaian. tapi, akhirnya aku baca juga meski panjang. ulasannya ngalir. koran2 juga bermunculan berita tentang gerakan Tibet ini. Sayang, ya, negeri yang terkenal Dalai2 yang penuh kasih, harus memilih jalan melawan daripada mencari solusi perdamaian.

  13. Wah… Aku bisa belajar sejarah nih di sini. Top banget.

  14. maok jadi sejarawan goen? :d

  15. @ Hanna Fransisca: Perlawanan dengan perdamaian, ini solusi yang dinginkan setelah Tibet ‘direbut’ secara paksa oleh invasi RRT 68 tahun silam. :|
    Perlawanan fisik sudah dihentikan dan Dalai Lama memang tidak menginginkan itu.

    @ Arif Sukombor: Haiyah, sejarah cenderung subjektif, kan. :-]

    @ abeeayang: Opo ki…

  16. Ngompol** lagi Gun?

    **Ngomyong polichiik (in Cincha Lawrah Mode)

  17. Ada filmnya, “Seven Years in Tibet,” kalau nggak salah.
    Saya lupa siapa aktor utamanya.
    Kemarin baru ada berita demo rakyat TIbet di India dan Amerika menentang Olimpiade 2008.

  18. @ annots: :|

    @ Junarto: Brad Pitt!!! Ya, ya, ya… Film sial yang bikin mantan saya jadi tergila-gila sama itu aktor. :-w
    Tapi di luar itu, film ini bagus. :D
    Ini menentang pelaksanaannya atau apa? *entri ini ditulis tanggal 12, jadi ndak gitu update, dan hari ini nggak ngecek situs berita* :-]

  19. Wah…wah…keren dan lengkap bro. Aku juga ter-masuk orang yang pro dengan per-juang-an Tibet sebagai sebuah negara ber-daulat

  20. Warna warni kepentingan dalam urusan beginian. Sebuah pemberontakan ada sangkut paut dengan kepentingan regional - international.
    ambil contoh : GAM di Indonesia..
    Tapi Tuhan pun punya kepentingan di Aceh, diberikanlah Tsunami…

    Politik itu rumit,..
    seperti juga Agama..

  21. alangkah damainya dunia ini kalau setiap permasalahan dan konflik yang terjadi tidak diselesaikan dengan jalan kekerasan, tapi dngan cara diplomasi yang mengedepankan akal budi. dalai lama telah memberikan teladan yang baik untuk itu. semoga aksi mereka bisa terwujud.

  22. wuih, berasa baca artikel di koran. aku gak bisa nulis yg serius gini :(

  23. @ extremusmilitis: Ndak lengkap amat, cuma ringkasan kok. :|
    Buh, seharusnya Tibet udah jadi negara. Sayang nggak bisa menahan invasi RRT karena minimna infrastruktur dulunya.

    @ leksa: Ada apa ini. Ada apa ini… :D
    Kepentingan selalu ada di mana-mana. Jika dulu AS yang memainkan kepentingan di Tibet, sekaang apa ya… :D

    @ sawali: Amin. [-o< Setengah abad berjuang, dan mereka akan terus menunggu dan berjuang. :|

    @ venus: Ini telat rilisnya, mbok. Lagi sibuk ga sempat OL… :((
    Ndak kayak Medvedev yang langsung rilis begitu ia kepilih… T__T

  24. duuh.. salah baca judul.. dikirain TEBET hehehe..
    btw tibet itu sistem pemerintahannya apa yah??

  25. @ ridu: Negara Tibet sendiri belum resmi ada karena wilayahnya merupakan wilayah RRC. Tapi pemerintahan Tibet di pengasingan sepertinya berbentu Monarki konstitusional dengan Dalai Lama sebagai kepala negara dan pemimpin spiritual, kepala pemerintahannya sendiri ada perdana menteri, lupa siapa namanya…. yang terpilih pada pemilihan tahun 2001. :|

  26. saya pernah baca buku tentang reinkarnasi seorang biksu tibet yang “terlahir kembali” menjadi seorang anak bule, tapi di buku itu rasanya gak disebut2 tentang penindasan RRC dan perjuangan rakyat tibet meraih kemerdekaan (udah agak lupa).. eh gak nyambung ya?

  27. baca 2 x…
    maklum, bacaan berat ni
    hehehehe :d

    btw, Indonesia mengakui Tibet sebagai negara sendiri gak sih? ato bahasa lainnya, apa Indonesia mengakui Dalai Lama sebagai pemimpin sebuah negara?
    keren juga yak kalo semua pemimpin dunia mencoret perang dari to-do-list nya… :)>-

  28. gile..
    itu masalah tibet-RRC itu udah dari zaman baheule…
    sedari dari dalai lama kecil tu masalah gak selesai-selesai……

  29. ngayal jeng jeng kesana….

  30. Nice post. Membaca tentang Tibet, membayangkan negeri yang sangat indah…….bermimpi bisa sampai kesana??? Mudah2an negeri indah ini tak rusak oleh peperangan….

  31. I always admire Dalai Lama, kayaknya ga ada orang yang sedamai dia gitu hidupnya. Bahkan dalam keadaan yang bagi sebagian negara berarti declare a war, dia masih memilih untuk berdamai. Kapan bisa ketemu dia yah?such an inspirational leader..

  32. Eh, konon cerita di Tibet ituh jadi inspirasi buat film animasi Avatar the Last Airbender lohhh…

    *ndak penting banget

  33. seperti membaca buku sejarah kontemporer

    klo saya ga salah baca ya (maklum rada cepet bacanya), jadi Tibet itu belum merdeka sepenuhnya ya?
    mudah mudahan saja, kalau kemerdekaan itu sudah raih, pemerintahannya nanti bukan “boneka”

  34. njrit! nambah keren artikelmu Gun!

    piye kalo header blogmu diganti foto2 che guevara, soekarno, gandhi, lenin dll :D

    mosok anime sih

  35. @ jimmy: I need the title… :((
    Btw, sekitar tahun kapan settingnya?

    @ wennyaulia: *ngecek*
    Sepertinya belum. :|

    @ morishige: Mbuh aku. Banyak kepentingan bermain di sini. :-??

    @ iman brotoseno: Ide bagus! :))
    Saya juga mau… :((

    @ edratna: Deskripsinya memang indah, bu. :X
    Saya juga mau… :((

    @ stey: Bayangkan 50 tahun masih mempetahankan jalan damai, apa ada pemimpin lain yang tahan kayak itu ya…

    @ Nazieb: Saya ndak tau, ndak suka Avatar ituh. :|

    @ Mina: Belum lah. Awalnya emang daerah merdeka, tapi sejak diinvasi RRT ya jadi wilayah RRT yang berstatus otonomi khusus. :|
    Kayaknya susah deh mengendalikan Dalai Lama. :))

    @ antobilang: Males. Saya tetep cinta anime. :|

  36. kok saya jadi inget film rambo ya? eh itu burma, bukan tibet.. :d

  37. *mbayangin tibetnya diganti bekasi*
    walah ndak ada yang mau berjuang…. :((

  38. @ cK: Ndak nonton Seven Years in Tibet-nya si Brad Pitt? :|

    @ moerz: Heee… :|

  39. serasa mbaca buku sejarah :|

    ini kupipes darimana Gun? *digampar*

  40. @ chiw: Ya..ya.yaaa… SIlahkan googling kalau ketemu. Silahkan cari.

    *join ID-MUTUNG*

  41. makasih udah ke blogku ya ooooommm :)>-

  42. @ kemalkeren: Saya bukan “oom” nduk, saya masih ABG gini. :-]

  43. sori baru sempet mampir, komputer di rumah lagi kagok. hiks… jadi semua kegiatan internet banyak yang belon terlaksana.

    wah, lengkap banget nih ulasannya.
    btw sejarahnya rumit juga yah? :-?

  44. Emang Tibet kaya mineral apa sih?? Apakah begitu signifikannya kekayaan mineral di Tibet sehingga China tertarik untuk menyerang Tibet?? Atau ada karena alasan politis lain dari hanya sekedar masalah mineral atau feodalisme?????

  45. bos yang pake baju merah ,namanya om sapa?:d

  46. Saya dukung perdamaian global,
    buat Tibet, buat semua..
    tapi kalo amrik dah ikyud2, prasaan jadi tambah ribed aja..

  47. Jaman sekarang klo perlawanan dilakukan lewat perang kykna bakal ada “polisi dunia” yg turun tangan…
    Mendingan diplomasi damai aja. Huhuhu…

  48. dan merupakan gerakan damai rakyat yang bisa disejajarkan dengan People Power di Filipina.

    beda kalli…
    soalnya rrt sendiri jelas lebih memiliki power internasional dan diplomatik, klpun menggalang dukungan dengan negara2 lain juga pasti susah sekali…
    terlalu banyak kepentingan yg bermain…take and givenya jelas ga sebanding gun…

    Paling jauh ya otonomi gt aj…

  49. Sepakat dgn ekowanz. paling jauh yang diberikan oleh China terhadap Tibet hanya berupa otonomi atau SAR seperti Hongkong (Macau masuk nggak ?). Tapi alasan di Hongkong lebih realistis karena menyangkut perkembangan hongkong di bidang ekonomi yang lumayan hebat. Sementara di Tibet, apa pertimbangannya ? Kekhususan Tibet yang saya tahu hanyalah nuansa agama Buddha yang kental. Sementara China sedikit alergi sama nuansa agama. :)

  50. O_O
    jadi belajar sejarah gw disini. Nice post btw!
    eh yg gw bingung RRT itu apaan ya? RRC bukan?

  51. @ pink: Ndak lengkap, flashback dikit aja.

    @ Yari NK: Kalau alasan politis lain, nampaknya hanya sekadar perluasan paham Komunis-Sosialis. :|
    *buka buku geologi*

    @ getmobilegame: Yang mana ya? :-]

    @ phiy: Nampaknya saiya juga loh… :-]

    @ adit-nya niez: Siapa itu polisi? :-?

    @ ekowanz: Huff… Memang kepentingan ini yang bakal bikin itu hampir ga mungkin. Kalaupun tekanan terus dilakukan, status otonomi khusus ini juga nggak bakal dilepas. :|
    *tapi masih mungkin walau pelunangnya tipis sekal*
    Btw, Tibet kalau dilihat dari segi historis adalah daerah merdeka yang diinvasi lalu masuk ke wilayah RRT. Bisa diberi penjelasan mengenai masa depan status ini, tuan sarjana? :D

    @ fertob: Pertimbangan untuk sedikit meredam gerakan separatis, sih. Status otonomi nggak bakal lepas kayaknya.

    @ Faivon: Ya, yap, yap.

  52. sek..liat historynya invasi tersebut…history tibet…history rrc…cr hubungannya…ato cb tanya ama dosenmu aj gun..
    IPku aj ga bisa buat masuk ndaftar jd dosen :)) hekhekhek..
    *gugling..gugling*

  53. @ ekowanz: Hmnn… Hmn… Setelah sedikit (SEDIKIT) penelusuran, dinasti-dinasti yang ada di RRT sejak dulu sepertinya ndak punya kekuasaan di Tibet karena di Tibet sendiri sudah ada kerajaan merdeka. :|
    Tapi explore dulu ah…

  54. nganu..ini udh gugling plus buka2 buku plus koran..
    jd tibet itu diproklamasikan 1911 trus RRC diproklamasikan ama si mao zedong 1949….dan 1951 itulah dimulainya invasi ke tibet oleh beijing..
    kl dipikir2 mirip ama cerita timor timurnya kita..itu menjadi rebutan porto dan indonesia hingga kita menginvasi mereka. Selalu saja ada pembrontakan di tim2 hingga akhrnya mereka merdeka..rakyat tim2 jg bisa dibilang lebih merasa menjadi negara sendiri dibanding menjadi bagian dr Indonesia..

    Otonomi yg diberikan beijing jelas hanya sebagai alat pengulur waktu..karena warga Han cina menjadi semakin banyak memasuki tibet, dan bisa saja berusaha menghilangkan kebudayaan2 lama tibet. Dan bahkan Dalai Lama sendiri secara tdk langsung mengatakan akan mengakhiri tradisi penunjukan pemimpin tibet yg telah berlangsung berabad2 ini.

    Jadi…apakah dengan genocida yg dilakukan Beijing ini akan bisa membungkam dan menundukkan Tibet??saya juga ga tau…

  55. Iya, saya beberapa kali gugling cari sejarah China dan Tibet, tapi nggak pernah menemukan alasan China menginvasi Tibet dulu di jaman Mao. Batas negara China di barat daya itu yang saya dapat hanya sebatas Chengdu (Shicuan) dan Kunming (Yunnan). Kalau ke barat dan barat laut, memang meluas sejak Dinasti Jin dan penerusnya berkuasa. Tapi Tibet (juga Nepal dan Bhutan) nggak pernah berada dalam kekuasaan China dulu. Kalau mengakui kekuasaan Kekaisaran, mungkin saja.

    Yang saya lihat juga sekarang di Tibet seperti ada invasi budaya. Orang-orang Tibet dipinggirkan dan digantikan perannya oleh warga Han.

  56. @ ekowanz: Dasar Eko, kok Opera Mini. Pas ke Djambur kemaren ndak langsung dibicarain aja soal ini, eh malah bahas yang lain. :))
    Bendera Tibet yang sekarang (diperkenalkan oleh Dalai Lama ke-13) juga kalo ndak salah dipakai sejak 1912.
    Well…warga Han memang belum mencapai 10% penduduk Tibet, tapi dari tahun ke tahun migrasinya semakin banyak, terutama pada pedagang dan investor. :|
    Kesimpulannya, Tibet adalah korban Feodalisme RRT, ya kakak kelas? :-]
    Waktu yang berbicara pada akhirnya. :P

    @ fertob: Mungkin sedikit membantu referensi http://money.cnn.com/2007/02/20/magazines/fortune/lustgarten_china.fortune/index.htm

  57. Sejak tempo doeloe tibet sudah menjadi bagian dari China, kalau nga salah ingat, sejak dinasti yuan (setelah dinasti Tang runtuh, berdirilah dinasti yuan yang dikuasai suku mongol). :d

  58. @ AK-47: Tibet sebenarnya kalau dilihat dari sejarah, memang pernah direbut oleh Dinasti Qing (kalau Yuan, dari yang saya tahu kaisar terakhir Yuan tewas dalam perjalanan ke Tibet). Namun Qing dan Yuan adalah dinasti asing karena dikuasai bangsa Manchu dan Mongol.
    Penguasaan Qing dan Yuan ini lebih merujuk pada ‘penjajahan’, karena sebelumnya di Tibet sudah ada kerajaan tersendiri. Tibet sendiri akhirnya lepas dari penguasaan dinasti Qing.

  59. http://www.index-china.com/index-english/Tibet-s.html

  60. heheh.. coba lihat video berikut..

    http://youtube.com/watch?v=Qvm6Uv8Du_I

  61. wahhh,, terima kasih atas ulasan tentang sejarah tibet-RRC-nya yaaah….

    lagi mau bikin tugas essay mengenai konflik tibet-RRC dan butuh artikel mengenai sejarah hubungan tibet-RRC dan keadaan sekarangnya… minta ijin pake artikelnya sebagai referensi, boleh gaaak? hehe…

    regards,
    anchiella

  62. @ AK-47: Interesting. :D
    Setelah googling, ini satu-satunya artikel yang ada. Tanya kenapa? Entah.
    Bahkan di site-site Tibet sendiri tidak tertuliskan seperti ini. Kenapa? Rakyat Tibet menerima RRT? :-]
    Kalau merupakan “bagian”, mengapa rakyat Tibet harus menolak? :)

    @ ardianzzz: Haiyah, di sini diblokir YouTube… Nanti kalau OL di warnet. :P
    *hampir ga pernah ke warnet*

    @ anchiella: Silahkeun. Free materials from GunawanRudy[dot]Com kok. :)

  63. Woooy Mana Bannernya…

    “FREE TIBET!!!”