Feed Online with WordPress 2.6.2 on ! 141 posts and 9,208 comments.

Seandainya saya menjadi anggota DPR… 09.01.08

By rozenesia posted in thought. Wednesday, Jan 9th, 2008 at 9:00 am

…kepentingan manakah yang akan saya dahulukan: diri sendiri, partai, atau rakyat?

socialbookmarks

entrymeta

You are reading the article, Seandainya saya menjadi anggota DPR…. This article was written on Wednesday, 9th January 2008 at 9:00 am and last update on August 27, 2008 at 3:44 pm, in Yogyakarta, Indonesia. You can find similar articles in the thought category and , , , , , , , tags, or more articles by rozenesia, if you enjoyed this article. If you have any comments about this article, you can use contact page, or leave a comment below. You can also follow comments made on this article via my RSS 2.0 feed or subscribe to full feed. If you would like to continue reading more, the previous article on my weblog is called Mereka yang mulai duluan! and the next article is called …existence?. Thank you for visiting my weblog.

Feed Want to stay up to date with my postings? Watch my blog and subscribe to full feed or comments feed.

100comments

  1. Di sini saya mengajak pembaca sedikit merenung saja, bagaimana sebuah sudut pandang berbicara. Dan ini adalah sebuah masalah, karena adanya ketimpangan antara harapan dan kenyataan.

    Lahan komentar menjadi tempat diskusi. :D

  2. diri sendiri ah…saya egois…

  3. trus?

  4. lho harusnya pilihan rakyat ga ada. Ga realistis, itu! seharusnya:

    kepentingan manakah yang akan saya dahulukan: diri sendiri, keluarga, atau partai?

    hihihi

  5. waduh…berhubung saya belum ada pengalaman sebagai wakil rakyat, maka dengan jujur dan ikhlas saya menjawab bahwasanya saya mengutamakan kepentingan rakyat. kepentingan pribadi mah belakangan… :D

    *bull$h#t*

  6. Rakyat dunk ah…

    *sok jadi orang baek

  7. Nggak minat jadi anggota DPR. Nggak perlu tabungan dosa di pundi politik, saya fokus pada pundi dosa yang lain :mrgreen:

  8. gak minat..

    jd rakyat biasa ajah dah repot :D

  9. idealis : rakyat
    karier : partai
    diri sendiri : idem sama karier
    oportunis : cari aman tanpa harus bersinggungan ama idealis
    :mrgreen:

  10. kalo saia, fertama kali saia akan mementingkan diri sendiri dulu, yaitu begimananya caranya sufaya balik modal dulu, kalo bisa sih untung dikit lah (kira-kira 20 - 30 Milyar), lalu setelah itu baru memikirkan fartai, kalo bisa sih asal saia untung juga (kira-kira 50-60 Milyar). Setelah kebutuhan dan tuntutan fartai terfenuhi. Baru saia akan memikirkan rakyat. Tafi, karena kebutuhan dan tuntutan diri sendiri saja belum bisa terfenuhi, mosok mesti mikirin kebutuhan rakyat.

  11. blogger :D

  12. idealisme saya sih: setelah kepentingan diri sendiri terpenuhi (secukupnya & ga berlebihan tentunya), pikirin deh tu rakyat yang menderita.. tapi lagi2 ini adalah idealisme belaka.. perlu pengalaman lebih lanjut utk membuktikannya..

  13. saya rakyat, mereka cuman wakil rakyat
    cuman jadi wakil kok bangga
    *berlalu*

  14. @ nieznaniez: Itu harapan Anda, lalu bagaimana kenyataannya? Sesuai? Jika begitu tidak ada masalah dengan Anda sendiri. Entah dengan pihak lain.

    @ almascatie: Silahkan berpikir. :P

    @ hariadhi: Hanya menyodorkan sebuah sudut pandang yang bervariasi, mas. :P

    @ cK: Yup, karena itu dia. Belum adanya pergolakan batin.

    @ Praditya: Semoga tidak ada ketimpangan antara harapan dan kenyataan pada diri Anda, dan pihak lain.

    @ Natt: Pilihan memang. kan?

    @ dhezsya: Katanya Wakil Rakyat itu adalah pembantu rakyat lho… :lol:

    @ Hoek Soegirang: Ahahaaa… Kok katanya wakil rakyat lho. Kalau begitu ada ‘masalah’ dengan rakyat kan? :mrgreen:

    @ aRuL: W-what…!? 8O

    @ v!n+: Pengalaman? Ya, ini dia yang juga harus ditekankan. ;)

    @ arya: Heheheee… Arogansi rakyat yang ga kepilih jadi ‘wakil rakyat’… :lol:

  15. Diri sendiri tapi sebisa mungkin pura-puranya demi rakyat atas nama partai…

  16. Kalau saya seorang yang banyak omongnya, saya akan pilih Rakyat.

    Kalau saya mau dicap harus mementingkan kelompok, saya pilih partai.

    Kalau saya tukang Korupsi, saya pilih diri sendiri.

    Karena apapun yang akan saya pilih ujung - ujungnya berbuah negatif di mata pengamatnya. Sedikit - sedikit, salah. kadang begitu. Orang Indonesia masih suka protes. IMHO.

    Jadi, saya mengusahakan kalau saya tidak akan jadi anggota DPR.

  17. saya akan coba menyeimbangkan semuanya roze :lol:
    *ditimpuk penonton*

  18. Gw mungkin untuk partai…

    Dengan mementingkan kepentingan partai, siapa tau besok2 gw jadi kepilih terus dan kalo gw udah puas makan uang rakyat, baru ngurusin rakyat yang uangnya gw makanin…

    Satu pilihan untuk semua? :D

  19. Diri sendiri. :lol:

  20. bukankah ini saatnya memperkaya diri sendiri? sapa tau aja bisa naik haji berkali-kali :mrgreen:

  21. 1. Diri sendiri.
    2. Rakyat
    3. Dll

    Bukanx mo jd duta besar?

  22. Kan cuman seandainya…

  23. @ manusiasuper: Sipppp~

    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth: Lha ini kan kalo udah terpilih. :P

    @ goop: Kayak mau poligami aja… :cool:
    *lirik avatar*

    @ Bebek Jamuran…: Perhitungan yang matang… :lol:

    @ Kopral Geddoe: Sip aja deh. :mrgreen:

    @ Dekisugi: Kalo bisa nikah berkali-kali? :mrgreen:

    @ Uchiha Miyu: Saya calon diplomat abal-abal, non. :cool:

    @ mbelgedez: Iya, lalu? :?

  24. ah, susah nihh…
    tiga2nya harus balance sebenarnya…
    tapi kayanya lebih condong ke partai dan rakyat deh…
    *di gorok karna berbohong*

  25. diri sendiri tentu harus diutamakan… lalu partai agar kita tetap dapat dukungan… nggak mbantu partai kita bisa dijegal… terus baru rakyat karena rakyat adalah alat yang bisa digunakan sebagai sumber pemerkaya diri… dengan kata lain… kepentingan rakyat disini didahulukan sebagai investasi… saiyah yakin saiyah bisa meraih itu jika saiyah sudah lulus kuliah jurusan ilmu sosiatri… toh sosiatri lahir karena keadaan patologi sosial… jadi pasti banyak tender memperkaya diri usaha membantu rakyat :twisted:

  26. Kalau saya seorang yang banyak omongnya, saya akan pilih Rakyat.

    Kalau saya mau dicap harus mementingkan kelompok, saya pilih partai.

    Kalau saya tukang Korupsi, saya pilih diri sendiri.

    Karena apapun yang akan saya pilih ujung - ujungnya berbuah negatif di mata pengamatnya. Sedikit - sedikit, salah. kadang begitu. Orang Indonesia masih suka protes. IMHO.

    Jadi, saya mengusahakan kalau saya tidak akan jadi anggota DPR.

    Objection…!!! yang mulia… dia bicara diluar konteks… saudara Debe, jika seandainya anda terpilih menjadi anggota DPR mana yang anda pilih…??? jangan berbelit-belit dan mengacaukan sidang…!!! :evil:

    *bakar ban bekas diluar pengadilan*

  27. ralat… harusnya keberatan bukan objection… ROFLOL… susah jadi orang Indonesia yang suka main adaptasi bahasa :cool:

  28. postingan bambang™

    *log out*

  29. kenapa blogger? karena blogger adalah wujud representasi masyarakat.
    liat aja, blogger punya sejuta kritik buat pemerintah, juga punya sejuta solusi buat pemerintah.
    pengennya sih yang menjabat itu blogger karena blogger itu punya kemampuan analisis kuat dan mampu mengatur. liat aja postingannya berbobot, apalagi kalo di dunia nyata pasti deh lebih berbobt lagi manfaatnya…

  30. Diri sendiri, partai, atau rakyat? Rumit juga untuk menjawabnya :?
    Pada kenyataannya, mementingkan hal lain di atas diri sendiri bisa menjadi suatu hal yang konyol. Di sisi lain, dikarenakan dalam hal ini konteksnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat, maka jawabannya satu: rakyat dulu yang diutamakan.

  31. kenapa blogger? karena blogger adalah wujud representasi masyarakat.
    liat aja, blogger punya sejuta kritik buat pemerintah, juga punya sejuta solusi buat pemerintah.
    pengennya sih yang menjabat itu blogger karena blogger itu punya kemampuan analisis kuat dan mampu mengatur. liat aja postingannya berbobot, apalagi kalo di dunia nyata pasti deh lebih berbobt lagi manfaatnya…

    blogger jadi anggota dpr…??? jangan ahh mas… nanti kalo mepet dedlen dan kejar setoran, Maria Eva tambah banyak :roll:

  32. Maaf….seandainya anda menjadi anggota DPR, kira-kira ayam sama telur duluan mana?
    *wusssss……trus jongkok ben gak bingung*

  33. yang harus dikau lakukan adalah…
    berdoa kepada bapak supaya jadi kenyataan…
    sekalian jadi menteri ajah…

  34. Maaf….seandainya anda menjadi anggota DPR, kira-kira ayam sama telur duluan mana?
    *wusssss……trus jongkok ben gak bingung*

    Seandainya saiyah menjadi anggota DPR… akan saiyah buat penelitian besar dengan dana melimpah ruah masuk kantong saiyah mengenai pertanyaan saudara… dan bila negara mengalami kerugian atas penelitian ini… saudara selaku orang yang memotivasi penelitian ini akan dipenggal lebih dahulu…!!!!

    *bakar ban bekas*

  35. @Andrew Wijaya : *namanya bo……*

    blogger jadi anggota dpr…? jangan ahh mas… nanti kalo mepet dedlen dan kejar setoran, Maria Eva tambah banyak

    wekz? kenapa? wah blogger dan maria eva hubungannya apa? blogger sering selingkuh?
    yah kalo ditunjuk jadi anggota DPR atau pejabat jangan mengelak dong, gunakan semua idealisme saat menulis blognya. kan mantap tuh… :)
    okeh2…

  36. blogger kalo kepepet dikejer trepik hidayat pasti posting video bugil 3gp Ya Tuhan… semoga orang-orang busuk itu tersesat ke tempat sesat ini atas panduan keywords laknat itu ya Tuhan… bayangkan kalo orang yang seperti itu jadi anggota dpr…??? begitu waktu mepet buat nyelesein rapat… pasti bakal banyak Maria Eva :roll:

  37. @ Andrew Wijaya : tipe bloggerkan banyak, yah jangan blogger yang gitu dong tempatnya itu dia di tempat gituan2 wekekekek :D , mana sempat dia mikir negara. Blogger yang menulis2 tentang pemerintahan, masyarakatn rakyat dong :)

  38. Tergantung keadaan..
    Kalo pas jadi anggota DPR saya sudah kaya, ya saya utamakan kepentingan rakyat..
    Tapi kalo pas jadi anggota DPR saya masih miskin,
    ya utamakan kepentingan pribadi dulu dunks..
    *berusaha realistis*

  39. RAKYAT~

    Tapi itu hanya sekedar omong kosong doang… kan susah.

    Memikirkan diri sendiri, ya iya dong. Diri kaga bener mau gimana??

    Partai, partai suka kesulitan, noh, unjuk gigi kan? (hehe, sombongkah?)

    Ya, sebenarnya itu tergantung diri sendiri :D

  40. amankan dulu gaji, tunjangan, dan kehidupan pribadi. kalo perlu naek haji. setelah tabungan cukup, barulah memikirkan rakyat yang diwakili. cukup melalui imajinasi. setelah tidak di DPR lagi, pemerintah dicaci dan dimaki. menaikkan citra diri, supaya terpilih kembali… hi hi hi… ngerii… :mrgreen:

  41. kalo saya,pilih rakyat..
    jelas..
    apalah arti hidup ini jika mencuri harta rakyat.
    jauh lebih baik menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak :)
    .
    .
    .
    .
    *ditimpuk*

    tapi iya loh. opini gw beneran pilih rakyat x(

    @arul
    yup. blogger jadi anggota DPR tidak akan ada skandal “maria eva”. yang ada adalah skandal “bayut2″ hehe..
    Salut buat anda yang masih memiliki jiwa idealis *lagi serius*

  42. @ grace: Balance. Caranya? :P

    @ Andrew Wijaya [1]: Benar itu. DIkeluarkan dari partai, di DPR pun kita kehilangan posisi. Karena di Indonesia saat ini, partai adalah satu-satunya kendaraan politik untuk memperoleh kekuasaan.
    Saya juga, begitu lulus ilmu HI ini, saya akan mengutamakan duit rakyat dengan jalan diplomasi.

    @ Andrew Wijaya [2]: Saya jadi ingat entry Kopral Geddoe yang: “Saran-saran yang menyebalkan.” :P

    @ Andrew Wijaya [3]: Makanya, benerin itu nama dulu… :mrgreen:

    @ cK: *tendang*

    @ aRuL [1]: Masalahnya muncul, ketika ada ketimpangan antara harapan dan fakta. Harapan saat menjadi blogger memang begitu, namun fakta nantinya masih misterius.

    @ Cynanthia: Darimana anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu dipilih? Dari Partai. Siapa yang nyoblos Partai? Rakyat. Terus? :lol:

    @ Andrew Wijaya [4]: Enta mau nambahin keyword laknat yah?

    @ serdadulangit: Ohohohooo… Berfilsafat kah hingga melupakan kewajiban memperkaya diri sendiri? :mrgreen:

    @ Moerz: Menteri? Menteri itu masuk Eksekutif, sedangkan DPR itu Legislatif. Legislatif dicalonkan Partai dan dipilih rakyat. Eksekutif macam menteri diangkat oleh Presiden. :D

    @ Andrew Wijaya [5]: Saking ndak ada gunanya yah? :lol:

    @ aRuL [2]: Jadi anggota DPR ga ditunjuk, tapi mencalonkan diri di Partai, terus namanya dijejerkan berdasarkan nomor urut, siapa yang upetinya ke Partai paling banyak dan dia loyal pada partai, nah ditaroh nomor 1 dan kemungkinan terpilihnya gede. :mrgreen:

    @ Andrew Wijaya [6]: Asyem… Nambahin keyword laknat terus!

    @ aRuL [3]: Yang menjadi masalah adalah ketika idealisme ketika menjadi blogger harus digadaikan demi mengejar kekuasaan. Mau gimana lagi, toh modalnya nggak kecil… :roll:

    @ qzink666: Zaman sekarang yang miskin hampir ga bisa nyalonin diri di Partai buat jadi anggota dewan lho.

    @ Ataner: Meninggalkan partai? Jabatan ente dicabut. :lol:

    @ sitijenang: Masalahnya bisa tahan nggak dengan silaunya kekuasaan dan jadi nggak lupa diri? :mrgreen:

  43. @ dimasu: Semoga pas kepilih, masih ingat janjinya dan ga ada niat balik modal yah. ;)

  44. Ups, saya sebenarnya kurang suka berkhayal lagipula saya kurang memahami konteks-konteks DPR itu seperti apa. Kalau mau berpikir sederhana, sebenarnya itu bukan pilihan dan kurang tepat untuk ditanyakan mau mementingkan yang mana karena DPR itu harus mementingkan rakyat. Panjangkan saja, DePe’eR=Dewan Perwakilan Rakyat. Siapapun akan langsung tau bahwa DPR harus mementingkan rakyat.

    Sebenarnya ketiga pilihan tersebut masing-masing rentan terhadap kritik yang bisa timbul dari masing-masing pihak baik partai maupun rakyat. Maka kalau jadi anggota DPR, saya akan memindahkan jabatan beresiko tersebut ke orang lain yang lebih pantas untuk mengelolanya..

    * egh, jadi melenceng pula *

    * balik ke pertanyaan awal *

    Kalau bicara kecenderungan untuk mementingkan yang mana, maka saya akan melihat kondisinya dulu. Seandainya rakyat dalam kondisi kritis dan dua yang lainnya dalam keadaan baik-baik saja, tentu saya akan mementingkan rakyat. Kalau keadaannya berbeda, maka tindakan saya pun berbeda. Lihat juga kondisi negaranya, kalau rakyat dan partai fine-fine aja (dalam hal ekonomi, kesejahteraan, dll), ngapain juga dipedulikan, tinggal diarahkan saja sesuai untuk kemajuan negara [dan diri sendiri].

    Kalau sudah menjadi anggota DPR, tentu kehidupan kita akan lebih baik (mengingat gaji anggota dpr saat ini), untuk apa pula kita masih serakah juga mementingkan diri sendiri?
    Jadi singkatnya, untuk sekarang ini, saya masih mempertimbangkan untuk mementingkan rakyat.

    Bagaimana dengan Anda?

  45. niru2 para wakil rakyat yang bertengger di senayan. kalo rapat ngantuk, bagi amplop membelalak, habis itu mintak jalan2 keluar negeri. neikmat bener jadi anggota DPR. Halah.

  46. kalo gak sekadar umpama… kalo yang di DPR itu saya… baru nanti nengok blog ini lagi. gini roze… enak lho kerja begini… 8)

  47. StreetPunk:

    Ups, saya sebenarnya kurang suka berkhayal lagipula saya kurang memahami konteks-konteks DPR itu seperti apa.

    Jika membaca lahan komentar di sini, sudah akan sedikit terbayang konsep DPR dan perjalanan menuju kursi dewan itu.

    Kalau mau berpikir sederhana, sebenarnya itu bukan pilihan dan kurang tepat untuk ditanyakan mau mementingkan yang mana karena DPR itu harus mementingkan rakyat. Panjangkan saja, DePe’eR=Dewan Perwakilan Rakyat. Siapapun akan langsung tau bahwa DPR harus mementingkan rakyat.

    Begini…dalam teori Metode Penelitian sederhananya (halah, halah), pilihan itu bersinkrininasi dengan masalah. Ada masalah, ada pilihan. Jadi, seperti yang sudah-sudah saya jelaskan, masalah timbul karena ada itu…ketimpangan antara harapan dan kenyataan. Mengapa ada ketimpangan itu? Saya hanya melihat perspektif sebagai pihak ketiga antara anggota dewan dan rakyat, di mana muncul banyak ketidakpuasan rakyat terhadap anggota dewan. Rakyat berharap begini, kenyataannya tidak sesuai. Sama dengan namanya, Dewan Perwakilan Rakyat dengan harapan mewakili rakyat, tapi pada kenyataannya ini sukar sekali ditemukan. Dan bagaimana mewakili rakyat? Seluruh rakyatkah? Mayoritas rakyatkah? Anggota dewan bergerak dengan visi dan misi Partai politik, bagaimanapun, jika mereka sudah melanggar dari apa yang Partai Politik mereka gariskan, walaupun mengatasnamakan rakyat, itu akan sulit dilakukan jika sudah bertentangan dengan Partai Politik mereka. Partai Politik bisa saja memecat mereka, lalu mereka akan kehilangan jabatan di DPR. Jadi, apa yang sebenarnya diwakilkan oleh anggota DPR? Dalam hal ini rakyat yang bagaimana. Rakyat mayoritas, rakyat pendukung partai? Karena tiap Partai mempunya kepentingan politik yang berbeda-beda.

    Maka kalau jadi anggota DPR, saya akan memindahkan jabatan beresiko tersebut ke orang lain yang lebih pantas untuk mengelolanya..

    Ndak bisa. Ndak ada serah terima jabatan. Yang ada serah terima jabatan hanyalah parlemen bikameral semacam upper house di Inggris di mana jabatan di upper house diwariskan secara turun-temurun atau diserah-terimakan. Namun ironisnya posisi upper house di Inggris ini lebih rendah ketimbang lowe house-nya. :P

    Kalau bicara kecenderungan untuk mementingkan yang mana, maka saya akan melihat kondisinya dulu. Seandainya rakyat dalam kondisi kritis dan dua yang lainnya dalam keadaan baik-baik saja, tentu saya akan mementingkan rakyat. Kalau keadaannya berbeda, maka tindakan saya pun berbeda. Lihat juga kondisi negaranya, kalau rakyat dan partai fine-fine aja (dalam hal ekonomi, kesejahteraan, dll), ngapain juga dipedulikan, tinggal diarahkan saja sesuai untuk kemajuan negara [dan diri sendiri].

    Kalau sudah menjadi anggota DPR, tentu kehidupan kita akan lebih baik (mengingat gaji anggota dpr saat ini), untuk apa pula kita masih serakah juga mementingkan diri sendiri?
    Jadi singkatnya, untuk sekarang ini, saya masih mempertimbangkan untuk mementingkan rakyat.

    Yang jadi masalah adalah rakyat yang mana. Hampir nggak mungkin bisa mengutamakan seluruh rakyat karena adanya faktor heterogenitas, terutama di Indonesia ini. Hampir 50% kebijakan anggota DPR adalah kebijakan Partai Politik, di mana Partai Politik adalah satu-satunya kendaraan Politik untuk berkancah di medang perpolitikan dan kekuasaan, untuk menentukan kebijakan. Kembali lagi ke poin yang saya sebutkan sebelumnya.

    Ini memang dilema.

    …oh ya, ini salah satu faktor penghambat demokrasi. Masih ada 6-7 faktor lainnya sih, tapi saya ngkat ini dulu. Yang paling luas bahasannya.

    Bagaimana dengan Anda?

    Saya sendiri, SEANDAINYA menjadi anggota DPR, saya akan bergerak dengan kebijakan Partai Politik yang saya ikuti. Karena dalam menentukan Partai, itu nggak gampang. Visi dan misi berbeda dengan visi dan misi kita, sudah barang tentu kita akan digerakkan oleh Partai karena alasan jabatan belaka. Mengatur kebijakan umum pun, tentu saja melihat dari Partai itu sendiri, karena ada sinkroninasi antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan partai jika memang ada kesamaan visi dan misi.

    Baidewei, saya kayak ngasih kuliah politik aja. :?

    @ Sawali Tuhusetya: Ahahahaaa… Sip deh pak! :lol:

    @ sitijenang: Atu ajarin anggota DPR ngeblog? :P

  48. Partai

    Entah kenapa, kalo diri sendiri…

    Kayaknya sangat mengancam.

  49. basbangtututpret. dah pernah nongol, dicabut, trus nongol lagi? fyuh
    *buru2 sainot*

  50. Bergerak dengan kebijakan partai politik pun kalau tidak sesuai dengan kepentingan rakyat mayoritas, akan tetap sulit juga.

  51. @ Dream Maker: Hohohooo.. Kenapa mengancam? :P

    @ arya: *siul-siul*

    @ StreetPunk: Karena itu, harus memilih parpol dengan menyesuaikan visi dan misi. Urusan pelaksanaan, ini biasanya sulit. Soalnya anggota DPR ga bisa bergerak sendiri.

  52. Sepertinya jika saya, maka saya akan kompromikan semua kebutuhan. :lol:

    Tapi nggak di jamin juga hasil kompromi bakal optimal bagi kepentingan saya.

  53. @ Li Xiang-ying :

    Harapan saat menjadi blogger memang begitu, namun fakta nantinya masih misterius.

    kenapa harus beda fakta dengan harapan menjadi blogger? bukannya semua yang ditulis merupakan buah pemikiran yang luar biasa?
    percuma dong jadi blogger hanya ngomong doang, tidak bisa memberikan andil nyata?
    jadi teringat postingan bang aip tentang wawancara blogger dan malaikat.

    Jadi anggota DPR ga ditunjuk, tapi mencalonkan diri di Partai, terus namanya dijejerkan berdasarkan nomor urut, siapa yang upetinya ke Partai paling banyak dan dia loyal pada partai, nah ditaroh nomor 1 dan kemungkinan terpilihnya gede. :mrgreen:

    yah bikin Partai Blogger Indonesia (kesummon pak Ram Ram Muhammad) :D :lol:
    wah itu paradigma emang, tapi apa politik itu harus lewat parpol? apa parpol sudah sebusuk itu?
    yah dirikan partai yang bersih dong. kalo kita berfikir2 gitu terus, kapan kita bisa membersihkan negara ini? kapan mau bergerak?

    * btw kenapa lari ke blogger yah? ah saya ini merubah alur saja… :D sori loh rozenesia :)*

  54. @ roze : perbaiki dong quotenya… hehehe
    salah… mestinya quote yg ketiga ngak ada… :D
    thanki

  55. Di Republik ini serba salah. Mikirin rakyat, rakyat nggak mikirin saya karena rakyat harus saya bayar untuk milih saya baik uang, nipu dengan akan diberikan Allah jatah di surga. Mikirin diri sendiri, dikiraian egois tapi kalau tidak mikirin diri siapa yang mikirain saya. Mikirin partai, itu harus kalau partai tidak dipikirin partai tidak akan mikirin saya walaupun rakyat akan protes kalau saya kalau saya leebih memikirkan partai. Di Republik ini antara telor dan ayam mana yang duluan. Contoh paling konkrit kelakuan PKS di kampus-kampus, pada hal PKS lahir dengan jargon moralitas. yang mana moral yang mana political game yang mana sekolah tidak bisa lagi dibedakan. Welcome to Banana Republic!!!

  56. Hahahahaha, pintar sekali, Gun.
    Bangga deh saya, he he he…..

    Hmmm… apa dulu yach?
    tergantung pokok permasalahannya apa dulu, nih?

    tapi, mungkin saya akan memilih kepentingan rakyat. karena seorang pemimpin negara yang baik ialah yang mampu mengabdikan dirinya kepada rakyat bukan rakyat yang mengabdikan diri.

  57. wo he zong jiao
    dang wo shi hai zi, wo zou le ru cheng shi.
    wo dao da le zai er lu.
    wu gu de, wo xiang you zhuan.
    ran hou, wo zai dao da le zai er lu.
    wo jue ding le dui xiang zuo zhuan, bing qie wo bao chi le zai dao da zai er lu, bu ting.
    wo shi mi mang de.
    wo shi qu le.
    zui hou, wo zhan qu le suo you wo de yong qi he zhuan guo lai.
    shen qi de, lu zhi jie dao zhi le wo de jia.
    wo bu zhi dao wei shen me, wo mei you xiang ren wei we shen me.
    wo kua bu.
    wo hui jia le

    shi ni xie de ma? rang wo hen gan dong… hiks, hiks
    saya tak menyangka Gun bisa menulis puisi sehebat ini, saluttt.

  58. “Ahahaaa… Kok katanya wakil rakyat lho. Kalau begitu ada ‘masalah’ dengan rakyat kan?”
    *mikir sejenak*
    .
    .
    *mikir dua jenak*
    .
    .
    .
    ohh…yayaya!!! saia ngerti maksudna!!!!!!!

  59. mending gajinya di pake buat beli makeUP. he….he…

  60. Diri sendiri, partai, atau rakyat? Wah pilihan yg sulit.. Ga bisa memilih opsi 50-50 yah? Kalau begitu saya pilih opsi Call a Friend! *who wants to be a wakil rakyat yang millionaire*

  61. kalo gw mah kepentingan golongan aja dah
    :lol:

  62. kalo kepentingan gw merasa kepentingan diri sendiri sudah terpenuhi baru memikirkan partai. lah gw dan partai kan rakyat juga.. :twisted:

  63. *munafik mode : on*

    RAKYAT dong.. kan saya dipilih rakyat, “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” :cool:

  64. Oh… Politk yang malang, di sini kau cuma wacana… wacana dan wacana. :(

  65. Tergantung .. saya menjadi anggota DPR karena apa. Jika karena partai yang mewadahi saya .. kita harus fair lah. Masalah kemudian apakah akan membela rakyat atau tidak. Tergantung kebijakan partai. Jika ternyata partai tidak membela rakyat dan itu bertentangan dengan hati nurani, ya kan ada 2 pilihan. Keluar dari partai atau tetap di partai.

    Kalo saya dipilih langsung oleh rakyat. Emang bisa ya dari individu jadi anggota DPR?? .. nah, kalo yang pilih rakyat. Ya mesti membela yang milih dong. Kita dipilihkan untuk mewakili mereka. Gitu deh.

    Kalo untuk diri sendiri .. saya pikir, kaya’nya ga tepat deh jadi anggota DPR. Tapi lebih pas kalo saya jadi President Direktur Perusahaan. Itu lebih pas. Dan yang dibela adalah pemegang saham dan stakeholder.

  66. kepentingan investornya dong,..

    hari gini,..

  67. Anggota Dewan?? kelakuannya mah aya2 wae. Berkelahi saat rapat, melancong ke luar negeri. Banyak duit pula. Kalo saya jadi anggota DPR, ya pikirin perut dulu dong.. lagian rakyat juga udah pintar ngurus diri sendiri, ngapain diurusin?…
    Saya ingat kata2 Macchiavelli :”seorang pemimpin (termasuk legislatif) tak perlu punya sifat2 baik, tapi sangat perlu bila tampak seakan2 memilikinya??? munafik toh??
    Salam

  68. Saya memilih tidak jadi wakil rakyat di DPR… istri saya ndak ngijinin… malu katanya!

    Jadi saya ndak bisa berandai-andai kalau jadi wakil rakyat mau bagaimana…

    Ndak kebayang akan seperti apa muka saya dan keluarga, ketika saya terus dibanjiri berbagai macam fasilitas, gaji… di saat rakyat hdupnya menderita dan serba kesulitan.

    *sok moralis MODE ON*

  69. kalo jadi anggota dewan di indonesia sih sepertinya yang didahulukan kepentingan partai..
    lihat aja kenyataan sekarang..
    :-)
    kecuali anda adalah seorang yang benar-benar idealis dan anti-mainstream..
    :mrgreen:

  70. bukankah partai didirikan untuk mewakili suara rakyat…
    saat ini, beberapa partai ada yang idealis seperti itu. beberapa partai lainnya mementingkan kelompoknya dengan mengatasnamakan rakyat. lainnya, partai yang mementingkan kelompoknya sendiri dan memang mengatasnamakan kelompoknya sendiri itu.
    Partai jenis kedua itu yang berbahaya..
    *jadi melenceng ke topik partai*

  71. saya milih ga jadi anggota DPR dan mikirin rakyat :D

  72. Kepentingan pribadi dulu penuhi agar tidak korupsi, kalau sudah kepentingan pribadi sudah terpenuhi baru jadi anggota DPR. :D

  73. @ danalingga: contoh komprominya? :lol:

    @ aRuL [1]: Masalah utamanya ya itu, manusia ndak bisa ditebak.
    Di Indonesia, jalan satu-satunya bagi warga sipil untuk berkiprah di politik hanyalah parpol. Belum ada UU mengenai calon independen.

    @ aRuL [2]: Yap, sudah diedit.

    @ SALNGAM: Hahahaaa… Komentar dengan alur yang bagus. Carut-marut dunia politik lah yang sangat saya singgung di sini. Yah, mau bagaimana lagi, semuanya punya kelemahan, termasuk demokrasi itu.

    @ Hanna lagi di Singkawang [1]: Howee… Aku nulis ini berkaitan dengan kegundahanku mengenai perpolitikan sih.
    Memang sih, di atas kertas emang mengabdi pada rakyat, tapi di sini timbul masalah. Karena banyak yang terekspos itu tidak sesuai dengan di atas kertas.

    @ Hanna lagi di Singkawang [2]: Puisinya udah dijadiin entry baru~

    @ Hoek Soegirang: Jadi apa hayooo? :mrgreen:

    @ Hair: Manjain istri (bagi lelaki), atau manjain diri (bagi perempuan)? :lol:

    @ Diki: Entry ini Ask the Audience lho. :mrgreen:

    @ Fajar: Lebih ke partai dong? :lol:

    @ tukangkopi: Masalahnya, bisa puas ndak? :lol:

    @ brainstorm: Hush… Hush… :mrgreen:

    @ Herianto: Malang… Mungkin, tapi inilah hidup kan… :(

  74. @ erander:

    Tergantung .. saya menjadi anggota DPR karena apa. Jika karena partai yang mewadahi saya .. kita harus fair lah. Masalah kemudian apakah akan membela rakyat atau tidak. Tergantung kebijakan partai. Jika ternyata partai tidak membela rakyat dan itu bertentangan dengan hati nurani, ya kan ada 2 pilihan. Keluar dari partai atau tetap di partai.

    Saya setuju di poin ini. Pilihan ada pada kita. Jika memang Partai tidak membela rakyat dan kita sudah jadi anggota DPR, kita bisa keluar dari partai, tapi ya resikonya jabatan anggota dpr hangus deh.

    Kalo saya dipilih langsung oleh rakyat. Emang bisa ya dari individu jadi anggota DPR?? .. nah, kalo yang pilih rakyat. Ya mesti membela yang milih dong. Kita dipilihkan untuk mewakili mereka. Gitu deh.

    Ndak bisa pak. Kudu dari Partai kalau di Indonesia ini.

    Kalo untuk diri sendiri .. saya pikir, kaya’nya ga tepat deh jadi anggota DPR. Tapi lebih pas kalo saya jadi President Direktur Perusahaan. Itu lebih pas. Dan yang dibela adalah pemegang saham dan stakeholder.

    Heheheee… Kalau bisa sih maunya juga gitu. Tapi ini kalau seandainya sudah jadi. Tapi tauk ah gelap. :lol:

    @ bayu: Lha investor partai kan kita ini yang dicalonkan. :mrgreen:

    @ Arsyad Salam: Masalahnya gini pak. Anggota DPr itu masuk legislatif, dan legislatif taunya cuma bikin UU, yang jalannin ya eksekutif. Jadi otomatis legislatif kurang tau keadaan di lapangan. :?

    @ Ram-Ram Muhammad: Lha ini kalau udah jadi to pak. :mrgreen:
    Hohohooo… Jadi intinya tanggung jawabnya berat kan. :lol:

    @ morishige_turun_gunung: Anti-mainstream partai, dipecat partai lah kau. :mrgreen:

    @ dimasu: Hohohooo… Emang bicarain partai juga kok. :lol:

    @ leksa: Ndak bisa, ndak sesuai pertanyaan ’seandainya’ ini. :lol:

    @ awan sundiawan: Jadi anggota DPR pasti keluar modal. Jadi ndak mau balik modal nih? :mrgreen:

  75. Sumpah… saya nggak pernah ngebayangin bakal jadi anggota dewan. Dulu waktu saya dikasih tugas buat ngeliput anggota DPRD, saya pikir bakal enjoy karena di ruang ber-AC. Tapi setelah dua tahun berjalan, saya muak melihat anggota dewan.
    Mereka cuma jual ludah…. hiks… hiks…
    sampe-sampe saya kudu ngeblicklist anggota dewan buat narasumber saya….!!

    http://qizinklaziva.wordpress.com/2007/08/11/uh-dewanku/

  76. @ qizinklaziva: Namanya juga legislatif, mana tau keadaan di lapangan. :lol:

  77. kepentingan kota saya tercinta!! :cool:

    *sambil mengepalkan tangan kanan di udara dan mengunyah sirih*

  78. @ saRe’: DPRD aja sana. :lol:

  79. kalo gw jadi anggota DPR, gw bakal bikin UU yang ngelegalin Ganja … Biar orang Indonesia ngga pada sutress …

  80. Contohnya entar kalo saya dah jadi anggota dpr, soale harus praktek langsung. :lol:

  81. Namanya juga anggota, yang pertama tentunya kepentingan partai karena tanpa kendaraan itu kita nggak akan dipilih oleh rakyat (yang tentu simpatisan partai kita) setelah itu kalau kepentingan partai sudah rasa-rasanya sudah diikuti baru kepentingan rakyat, kepentingan pribadi itu nggak ada nomornya.
    sebab……
    untuk mengikuti aturan partai dan untuk memperhatikan rakyat saya pasti nggak bisa mikir kalau diri saya nggak makmur, keluarga saya nggak subur, kalau kro