Feed Online with WordPress 2.6.2 on ! 141 posts and 9,208 comments.

I Have Lost My Religion 28.12.07

By rozenesia posted in literature. Friday, Dec 28th, 2007 at 6:27 pm

I Have Lost My religion
At any rate, it seems I have lost my religion.

Kuharap kalian mengerti kawan, ini hanya sekelumit cerita dariku, yang kini menuju hari kematian sebuah buku. Kumohon, mengertilah…

Mazmur 88

88:1 Nyanyian. Mazmur bani Korah. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi. (88-2) Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.

88:2 (88-3) Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;

88:3 (88-4) sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.

88:4 (88-5) Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.

88:5 (88-6) Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.

88:6 (88-7) Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.

88:7 (88-8) Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku. Sela

88:8 (88-9) Telah Kaujauhkan kenalan-kenalanku dari padaku, telah Kaubuat aku menjadi kekejian bagi mereka. Aku tertahan dan tidak dapat keluar;

88:9 (88-10) mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu.

88:10 (88-11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu? Sela

88:11 (88-12) Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?

88:12 (88-13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?

88:13 (88-14) Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu.

88:14 (88-15) Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku?

88:15 (88-16) Aku tertindas dan menjadi inceran maut sejak kecil, aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa.

88:16 (88-17) Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku,

88:17 (88-18) mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.

88:18 (88-19) Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.

12 September 2007, aku memulai hidupku, setelah reinkarnasi yang menyebabkan bulu kudukku berdiri. “Halo dunia!” ucapku kali itu. dihiasi dengan sambutan hangat dari banyak malaikat. Aku yakin eksistensiku diliputi kasih dan berkat. Dan aku mulai berpikir ke mana aku akan melangkah.

Agama? Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat dalam jiwa dan ragaku? Sebenarnya apa agama yang aku anut? Ah, kebingungan dan kegundahanku kala itu melahirkan sebuah tulisan yang mungkin pantas kutahbiskan sebagai sajak. Apakah aku yakin dengan ini semua? Waktu belum menjawab, ujarku.

Aku pun terjebak lagi dalam derasnya arus agama. Kala itu memasuki bulan puasa, dan betapa kecewanya aku melihat pemerintah di provinsi yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa memberlakukan peraturan daerah yang serasa menyesakkan dada. Maka lahirlah sebuah surat yang menyoroti penguasa di sana. Mungkin saja beberapa pembaca menilai aku melakukan aksi pukul rata. Tapi tidak, nyatanya. Aku hanya ingin menyampaikan rasa yang berkecamuk dalam diriku mengenai daerah nun jauh di sana.

Maka sampailah ruhku pada tanggal 22 September 2007, hari di mana papa yang kucintai meregang nyawa. Maaf, aku tak sanggup berkata apa-apa kali ini… Maaf…

Bulan Oktober pun tiba. Sepuluh hari setelah papa berpulang, ruhku kembali ke buku ini. Aku hanya ingin menegaskan bahwa apa yang kutulis di sini hanyalah curahan hati. Tapi apakah aku menyimpan maksud tersembunyi? Mungkin ya.

Sekali lagi, mungkin benar jika aku dituduh mengangkat agama. Kali ini aku bercerita mengenai seorang dosen. Ah, tak pantas kuuingkit lagi rasanya cerita lama ini. Cukup banyak kenangan buruk akan sebuah toleransi di sini. Aku lelah.

Aku mulai terbangun dari buaian mimpi agama, diriku terbang ke dalam lingkaran setan akan sebuah konflik sosial di negeri ini. Dimulai dari sebuah hakikat identitas, diriku yang berada antara duniawi dan rohani, hingga menyoal politik dan sejarah kelam, beserta pengaruhnya kini.

Lalu? Apakah benar aku terjebak dalam cinta seperti yang dituturkan oleh selembar sajak rindu dan sekelumit dialog mesra? Aku tak tahu mengapa, hanya saja aku rasa aku menulis sesuka diriku melangkah di jalanan tanpa ujung.

Aku mulai gundah lagi. Gundah dan kecewa akan sebuah empati yang buta. Apakah aku tak menghargainya? Aku tak tahu. Bercelotehlah sesukamu, dan matilah aku! Walau setelahnya aku diterbangkan dalam hakikat tubuh wanita.

Aku jatuh kembali! Aku larut dalam sebuah arus yang tengah berkecamuk di dunia maya ini. maka aku pun hendak berteriak, apakah masalah ini pantas dilempar kemana-mana? Mungkin jawab yang kuterima hanya kilahan saja, tapi aku tak yakin akan tulusnya. Walau begitu, aku tetap ingin percaya.

Dan aku menggila, mengganti nama untuk sementara, menumpahkan kekesalan akibat ketidakmampuanku dalam melafalkan kata-kata. Hingga diriku yang kecewa akan ketidakseriusan pemerintah dalam mengelola penikmat media, dan aku pun menggila!

Apa aku sadar rasa sayangku telah melahirkan sebuah tulisan akan motivasi? Atau justru persuasi? Sugesti? Entah, aku tak tahu. Aku terdiam dalam kesunyian.

Nopember berlalu dan Desember menyambut. Bulan di mana aku menulis dan menulis dengan gilanya. Apa yang harus ditanyakan dengan studiku? Puaskah dirimu jika mengetahuinya? Aku terdiam hingga aku melahirkan mahakarya terbesar pada buku ini, pikirku. Ini bukan sekadar analogi sederhana. Bukan cuma analogi antara wanita dan penulis belaka. Aku menyoal budaya dan juga agama, harap kamu tahu semuanya. Tapi apa yang kudapat? Tak semua dari kamu bisa mengungkap semua yang ingin aku sampaikan. Tapi tak apalah, aku tak kecewa.

Mungkin pembaca mengira aku mulai terjebak pada agama lagi saat aku mulai menyoroti kabar burung akan sebuah misi agama. Tapi itu tak sepenuhnya benar, karena tulisan sebelum ini nyata-nyata secara tersirat menyinggung agama, walau kulihat belum ada yang melihatnya.

Sekadar penghibur belaka, aku kembali berkata, “Halo dunia!“. Aku tertawa.

Dan nyatanya setelah itu aku terjebak dalam agama. Lagi-lagi agama dan aku muak. Aku mulai dari apa yang kurasa, lalu sekadar selingan tewas untuk menjebak para pembaca cepat, di mana esok harinya aku meluruskan kesalahpahaman akan kitab suci. Dan puncaknya ketika aku muak akan perang di dunia maya. Aku berdialog dengan diriku yang satu lagi. Yang terpendam dalam diriku. Palsu, asli, atau bagaimana? Aku belum tahu akan kenyataan itu.

Aku kembali tenang saat menyampaikan pesan akan indahnya kebersamaan dalam damai. Kuharap ada banyak pembaca yang bisa meresapi dan menilai pesanku. Semoga.

Lalu ketika aku menyoroti fenomena sosial akan benci dan dendam, sebuah lingkaran setan saling menyalahkan yang tiada ujungnya, aku dinilai kembali gila agama! Ah, aku kecewa. Contoh yang kuangkat memang agama, tapi yang kumaksudkan adalah fenomena tiada yang mengalah. Sungguh aku kecewa.

Dari situlah aku berpikir untuk membumihanguskan buku ini. Menghapus sekelumit ceritaku di sini. Dan aku mulai bertanya. Bagaimana hasilnya? Tidak terjadi. Tidak akan terjadi, ujarku kala itu. Sebelum semua ini terjadi…

Mungkin pertemuan itu hanya selingan belaka. Delapan itu juga demikian. Sampai akhirnya aku kembali hancur. Aku hancur lagi.

Aku, yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena sulutan api dari sebatang korek api kecil, yang malangnya menyala saat genangan minyak sisa kebakaran yang hampir tak terlihat terdahulu belum kering benar.

Adakah air yang sanggup memadamkannya? Menghitung detik demi detik menuju penghujung tahun, di mana lenyaplah eksistensi buku pikirku.

…dan aku masih menunggu datangnya Sang Juruselamat.

.
.
.

May God be with you, He’s no longer with me. Amen.

socialbookmarks

entrymeta

You are reading the article, I Have Lost My Religion. This article was written on Friday, 28th December 2007 at 6:27 pm and last update on August 27, 2008 at 3:43 pm, in Yogyakarta, Indonesia. You can find similar articles in the literature category and , , , , , , , , , , , , , , , tags, or more articles by rozenesia, if you enjoyed this article. If you have any comments about this article, you can use contact page, or leave a comment below. You can also follow comments made on this article via my RSS 2.0 feed or subscribe to full feed. If you would like to continue reading more, the previous article on my weblog is called Monolog atau Dialog? and the next article is called wo he zong jiao. Thank you for visiting my weblog.

Feed Want to stay up to date with my postings? Watch my blog and subscribe to full feed or comments feed.

156comments

  1. ooo ini kaleidoskop yah?

  2. eh…eh…eh… mau kemana ini?

  3. duuuuh… serius ini…

    Aku, yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena sulutan api dari sebatang korek api kecil, yang malangnya menyala saat minyak sisa kebakaran yang hampir tak terlihat terdahulu belum kering benar.

    duuuh…
    apa/siapa api?apa/siapa korek api kecil?

    Nak?Nak?Nak?

    jangan bilang kau akan mati lagi…

    :cry:

  4. Beuh, kaleidoskop 2007 yang keren :shock:

  5. Semoga 2008nya semakin banyak tulisan2 mencerahkan :)
    *eh saya tadi pertamax yah? ugh… beruntung banget bisa pertamax di sini*

  6. leh mo mati?
    koq sama dengan temanmu itu jugak?

  7. hmm…kaleidoskop yah ??

  8. Kenapa lagi ini Gun?

  9. hebat, gun kaleidoskopmu dibikin semenarik ini….kalok punyaku cuman list ajah :-(

  10. ::runtut Mazmur yg apik, runtut dari bentuk pengalaman bangkit dari kubur atas nama rozenesia, “hakikat wanita” pemendam rasa yang huaalus buuanget, untung rozenesia merintih keras ya :lol:
    hmmm librarynya juga ok, kamu udah sepatutnya menjadi “pengembala” Gun.., (eh, apa perlu empaty itu…) he..he terjebak dalam pengenalan “agama” lagi…, lha mau disebut apalagi namanya… :lol:

  11. Untuk kaleidoskopnya sendiri, formatnya cukup menarik… bagus. :)
    Sementara untuk yang lainnya, entahlah. Karena keputusan terbesar berada pada diri sendiri.

  12. @ aRuL [1]: Kelihatannya apa? :P

    @ Mrs.Neo Fortynine [1]: Nyanyian Ratapan Mazmur (Zabur)… Ke mana ya? :roll:

    @ Mrs.Neo Fortynine [2]: Mati kok. coretangunawan dan viaonlinemeditation sudah DELETE, sisa rozenesia yang menunggu saatnya. Kecuali ada Juruselamat.

    @ Payjo: Makasih. :)

    @ aRuL [2]: Ya, jika ada Juruselamat yang menyelamatkan nyawa blog ini.
    PERTAMAX? Selamat!!

    @ aRuL [3]: :?

    @ niez: Mungkin. :)

    @ Praditya: Tanya kenapa? :P

    @ abee: Iseng kok, dikerjain jam 11 tanggal 28 Des 2007, jadi masih mentah banget.

    @ zal: Kebetulan saya paling suka Mazmur dari semua kitab-kitab Perjanjian Lama. :D
    Penggembala? 8O
    Yang benar? :eek:
    …yah, emang masih kejebak nih. :(

    @ Xaliber von Reginhild: Ohohooo… Makasih. Masih mentah ini, buatnya cuma 20 menit totalnya…
    BTW, saya masih nunggu Juruselamat.

  13. nunggu juruselamat? siapa yang jadi juru selamatnya?

  14. @ aRuL: Kalo saya tau mah, nggak bakal ngerencanain delete… :lol:

  15. I feel you didn’t loss it at all My Bro. Even it will be more bigger than you thought, if you believe it and keep it as your place to write something for this rubbish world.

    I do believe that you’ll make it as you wish ;)

  16. Ini kaleidoskop, toh? Nggak nyadar… :?

  17. @ extremusmilitis: Thanks, bro. Now…. I’m waiting for the Messiah. :D

    @ Cynanthia: Surat kematian. :|

  18. Kok kayak kaleidoskup blog Mas Roze, hehehehe :lol: Jangan tewas lagi dong, ntar yang komen di blogku siapa :mrgreen:

  19. Review?

  20. @ Sawali Tuhusetya: Mari kita tunggu sang Juruselamat, pak.
    Kalo nggak ada sampai tanggal 1 Jan, ya…delete blog deh. :mrgreen:

    @ Amed: Keliatannya gimana? :P

  21. wah ini kaleidoskopnya gun

  22. Siiip deh, apapun itu saya tetap mendukung kebebasan mengemukakan pendapat asal tidak mencela (mengkritik atau menyindir tentu boleh) orang lain, semua orang bebas memilih pendapatnya atau apa yang dipercayanya, mempertahankan, dan mengekspresikan atau mengemukakan pendapatnya. Ok? :D

  23. you cant do this to yourself. satu lagi kematian? gak lucu, gun. ayo, nulis lagi *peluk gun*

  24. Weleh..weleh..gw bingung. Ada apa ini bro? Kalo ini surat kematian, surat wasiatnya mana? :mrgreen: Sang juruselamat itu kira2 ciri2nya kek gimana gun? Biasanya kan ada tanda2nya dulu…

  25. Hahaha… tipikal orang Jepang ya?? Misi ga sukses lantas harakiri..? Ente orang Indonesia bung…, misi ga sukses tebelin muka hidup lanjut terusss wakakakaka…

  26. Eh.., kok jadi terkesan nyindir ya?? gw ralat dikit deh…

    Ente orang Indonesia bung…, misi ga sukses, analisa kembali cara penyampaianmu, kalo ga pandai pake sindiran langsung aja to the point. Ga usah takut dianggap ga keren…

  27. a…
    *speachless*

    T_______________T

    *terdiam lama, dan terus diam*

  28. Jadi saya komen hanya untuk di delete nih gun?

    Btw,perenungan yang hebat.

  29. walah.. kirain apa
    setelah liat2 linknya, ternyata kaleidoskop

    hohoho

  30. Cari juru selamat itu, coba baca kitab sucinya baik2, ada petunjuk di situ, moga2 di dapatkan di situ yah.. :)

  31. ini gara2 postingan di blog sebelah (yang sekarang lagi diproteksi) ya? :?
    ummm, mendingan tenangin diri aja dulu deh.. :roll:

  32. wahai umatku. keputusan yang engkau ambil ada di tanganmu sendiri. namun apakah keputusan itu telah kau pikirkan secara matang-matang? sudahkan engkau melihat efek kedepan jika kau membumihanguskan tempat ini?

    pecahkan saja monitor itu biar ramai. biar gaduh rampai rusuh dan membuat hatimu lega. jangan kau lepaskan kegusaranmu pada tempat ini dimana banyak manusia-manusia yang tersesat, namun mereka pulang dengan tersenyum setelah terhibur oleh goresan-goresanmu. tidakkah kau melihat efek dari tempat ini?

    sayang sekali kedua rumah terdahulumu sudah kau babat habis. padahal banyak ilmu yang dapat ditemukan disana. janganlah kau habiskan rumah terakhirmu ini. karena masih banyak yang membutuhkan tempat ini.

    coba tanyakan mereka, mana yang lebih besar dari keinginan mereka. melihat tempat ini penuh pro dan kontra seperti biasa, atau hilang tak berbekas seperti tragedi-tragedi yang telah terjadi di Indonesia. tolong dipikirkan kembali sudah berapa banyak orang yang tersenyum melihat tempat ini. tolong dipikirkan lagi gun…

    -juru selamat gadungan-

  33. *ngakak liat si juru selamat gadungan*

  34. hmm…setelah baca beberapa komengs baru ngeh…
    jadi begini,
    klo mo tewas ya silakan saja.
    kerugian buat saya ya “cuma” kehilangan 1 sumber ilmu lagi.
    nah klo mo hidup lagi, nanti bikin yang baru kan gampang, gretongan pulak.
    ya to ??
    ihihhiiiii…
    *ditimpukin juru selamat gadungan

  35. May God be with you, He’s no longer with me. Amen.

    Makanya, jadilah orang yang baik. Walaupun ente nggak menemukan Tuhan, seenggaknya ente masih bisa bermanfaat buat banyak orang sebelum meninggal. That, itself, is also a meaning of life. ;)

  36. @ juru selamat : setelah roze saya anjurkan membaca kitabnya, datang beneran si juru selamat :D
    *tumben panjang koment chika…..*
    iyah, sayang roze kamu kalo menghapus blog ini.
    btw ada apa sih sebenarnya?

  37. Entah ini kaleidoskop ato keluhan, yang pasti:

    Just do what you have to do Gun..

    Membenci sesuatu justru membunuh dirimu sendiri dan bukannya hal tersebut.

  38. mesias dari florence? itu sih roberto baggio. nunggu saya aja. besok setelah saya memimpin indonesia di pentas dunia, saya bakal dijuluki “mesias dari soropadan” :mrgreen:

  39. Tulisannya mantaps. Sampe merinding saya membacanya.

  40. Mau mati lagi?

    Hidup dan mati di dunia maya memang sangat mudah untuk ditentukan ya… :lol:

  41. lha lha lha

    panjang amiirr….. :(

    *komen dulu aja… bacanya keri :D :Peace:

  42. Hmmm…. yang salah tanggap bisa bisa langsung mengkafirkan atau membid’ahkan nich

  43. *ndak paham*

  44. haduuh banyak linknya….

  45. @ orang lewat: Mungkin yaa… :D

    @ Yari NK: Tentu saja, dan kali ini aku tergantung di pingging jurang. Bergantung pada pohon kecil yang tumbuh di sana… Apakah ada yang akan mengulurkan tangannya?
    Pendapatku boleh runtuh, tapi suatu saat itu akan bangkit lagi, atau tidak ya… :roll:

    @ venus: Aku belum mengalami ‘kematian’ itu… Masih fase menujunya. Heheheee… Tetap setia menunggu Juruselamat, nampaknya.

    @ tukangkopi: Oh, ga ada wasiat kayaknya…
    Ciri-cirinya? Saya belum tahu…

    @ CY [1]: Bukan masalah misi, kawan… :P
    Karena aku tak kecewa.

    @ CY [2]: Nah itu dia, aku ga bisa memaksakan sebuah ‘gaya’ langsung…

    @ Sweet Water: …?

    @ danalingga gi fakir bandwith: Mungkin ya mungkin ga… :P

    @ Zazi [1]: Oh ya…?

    @ aRuL [1]: Aku baca Mazmur (Zabur) dari awal sampai akhir…dan terhenti pada ratapan-ratapan… :roll:

    @ vend: Hmn? Cuma sekadar sulutan api pada genangan minyak yang belum kering benar…

    @ juru selamat:

    wahai umatku. keputusan yang engkau ambil ada di tanganmu sendiri. namun apakah keputusan itu telah kau pikirkan secara matang-matang? sudahkan engkau melihat efek kedepan jika kau membumihanguskan tempat ini?

    Kurasa seperti blog-blog terdahulu, direlakan begitu saja setelah kematian mereka…

    pecahkan saja monitor itu biar ramai. biar gaduh rampai rusuh dan membuat hatimu lega. jangan kau lepaskan kegusaranmu pada tempat ini dimana banyak manusia-manusia yang tersesat, namun mereka pulang dengan tersenyum setelah terhibur oleh goresan-goresanmu. tidakkah kau melihat efek dari tempat ini?

    Tempat inilah biang semuanya! Andai tak ada tempat ini…bayangkanlah.
    Aku sudah hendak bangkit lagi, namun api kecil itu membakarku kembali!

    sayang sekali kedua rumah terdahulumu sudah kau babat habis. padahal banyak ilmu yang dapat ditemukan disana. janganlah kau habiskan rumah terakhirmu ini. karena masih banyak yang membutuhkan tempat ini.

    Apa yang dibutuhkan? Provokasi? Kegaduhan? Candu?
    Mungkin ini rumah terakhir… tapi “Oh My God!”, ruhku masih melayang di sana!

    coba tanyakan mereka, mana yang lebih besar dari keinginan mereka. melihat tempat ini penuh pro dan kontra seperti biasa, atau hilang tak berbekas seperti tragedi-tragedi yang telah terjadi di Indonesia. tolong dipikirkan kembali sudah berapa banyak orang yang tersenyum melihat tempat ini. tolong dipikirkan lagi gun…

    Aku memikirkan orang-orang bermuka datar, bermika masam, cemberut, hingga penuh amarah…
    Apa artinya senyum jika masih banyak seperti yang kusebutkan di atas…?

    @ Zazi [2]:

    @ nieznaniez: Seandainya bangkit dari kubur lagi, mungkin aku akan membeli sebuah rumah mungil…

    @ sora9n: Kuharap begitu… Kurasa, bagaimana semua ini? Ahhh… Resah rasanya.

    @ aRuL [3]: Tersirat di paragraf-paragraf akhirrrr…

    @ calonorangtenarsedunia: Aku tak ingin membenci, aku merasa gundah dan api itu kini membakar habis diriku, menyisakan sedikit harapan bagi Sang Juruselamat…

    @ Dekisugi: Sayangnya Messiah yang satu itu cuma bisa membuatku tertawa… :lol:

    @ imcw: Aih, terimakasih…

    @ Bebek Jamuran…: Ya, seperti diriku mati di komunitas tigabelas, tanpa sisa kali ini…

    @ dobelden: Oh, silahkan…

    @ Neo Fortynine: Biarlah mereka berseru, aku gundah tanpa peduli!

    @ arya:

    @ ekowanz: Jadi…?

  46. @ orang lewat: Mungkin yaa… :D

    @ Yari NK: Tentu saja, dan kali ini aku tergantung di pingging jurang. Bergantung pada pohon kecil yang tumbuh di sana… Apakah ada yang akan mengulurkan tangannya?
    Pendapatku boleh runtuh, tapi suatu saat itu akan bangkit lagi, atau tidak ya… :roll:

    @ venus: Aku belum mengalami ‘kematian’ itu… Masih fase menujunya. Heheheee… Tetap setia menunggu Juruselamat, nampaknya.

    @ tukangkopi: Oh, ga ada wasiat kayaknya…
    Ciri-cirinya? Saya belum tahu…

    @ CY [1]: Bukan masalah misi, kawan… :P
    Karena aku tak kecewa.

    @ CY [2]: Nah itu dia, aku ga bisa memaksakan sebuah ‘gaya’ langsung…

    @ Sweet Water: …?

    @ danalingga gi fakir bandwith: Mungkin ya mungkin ga… :P

    @ Zazi [1]: Oh ya…?

    @ aRuL [1]: Aku baca Mazmur (Zabur) dari awal sampai akhir…dan terhenti pada ratapan-ratapan… :roll:

    @ vend: Hmn? Cuma sekadar sulutan api pada genangan minyak yang belum kering benar…

    @ juru selamat:

    wahai umatku. keputusan yang engkau ambil ada di tanganmu sendiri. namun apakah keputusan itu telah kau pikirkan secara matang-matang? sudahkan engkau melihat efek kedepan jika kau membumihanguskan tempat ini?

    Kurasa seperti blog-blog terdahulu, direlakan begitu saja setelah kematian mereka…

    pecahkan saja monitor itu biar ramai. biar gaduh rampai rusuh dan membuat hatimu lega. jangan kau lepaskan kegusaranmu pada tempat ini dimana banyak manusia-manusia yang tersesat, namun mereka pulang dengan tersenyum setelah terhibur oleh goresan-goresanmu. tidakkah kau melihat efek dari tempat ini?

    Tempat inilah biang semuanya! Andai tak ada tempat ini…bayangkanlah.
    Aku sudah hendak bangkit lagi, namun api kecil itu membakarku kembali!

    sayang sekali kedua rumah terdahulumu sudah kau babat habis. padahal banyak ilmu yang dapat ditemukan disana. janganlah kau habiskan rumah terakhirmu ini. karena masih banyak yang membutuhkan tempat ini.

    Apa yang dibutuhkan? Provokasi? Kegaduhan? Candu?
    Mungkin ini rumah terakhir… tapi “Oh My God!”, ruhku masih melayang di sana!

    coba tanyakan mereka, mana yang lebih besar dari keinginan mereka. melihat tempat ini penuh pro dan kontra seperti biasa, atau hilang tak berbekas seperti tragedi-tragedi yang telah terjadi di Indonesia. tolong dipikirkan kembali sudah berapa banyak orang yang tersenyum melihat tempat ini. tolong dipikirkan lagi gun…

    Aku memikirkan orang-orang bermuka datar, bermika masam, cemberut, hingga penuh amarah…
    Apa artinya senyum jika masih banyak seperti yang kusebutkan di atas…?

    @ Zazi [2]:

    @ nieznaniez: Seandainya bangkit dari kubur lagi, mungkin aku akan membeli sebuah rumah mungil…

    @ sora9n: Kuharap begitu… Kurasa, bagaimana semua ini? Ahhh… Resah rasanya.

    @ aRuL [3]: Tersirat di paragraf-paragraf akhirrrr…

    @ calonorangtenarsedunia: Aku tak ingin membenci, aku merasa gundah dan api itu kini membakar habis diriku, menyisakan sedikit harapan bagi Sang Juruselamat…

    @ Dekisugi: Sayangnya Messiah yang satu itu cuma bisa membuatku tertawa… :lol:

    @ imcw: Aih, terimakasih…

    @ Bebek Jamuran…: Ya, seperti diriku mati di komunitas tigabelas, tanpa sisa kali ini…

    @ dobelden: Oh, silahkan…

    @ Neo Fortynine: Biarlah mereka berseru, aku gundah tanpa peduli!

    @ arya:

    @ ekowanz: Jadi…?

  47. @ roze : saya juga blum paham2 amat maksudnya,
    Tapi kalau maksudnya kamu tidak mau blogmu ini menjadi sasaran amukan orang2, karena membahas agama walaupun itu tidak menyinggung langsung. Kalo dari saya gini, membahas agama, membahas keraguan tentang agama, atau membahas tentang perilaku menyimpang pengikutnya memang wajar kita mempertanyakan atau membahasnya, tapi ada beberapa titik penting, bahwa membahas hal itu harus dengan niatan untuk memberikan pengertian yang lebih baik dan untuk lebih menjadi orang yang lebih mengerti tentang agamanya termasuk toleransi, tidak dengan sindiran2 itu, karena adanya sindiran2 itu maka akan menimbulkan ketersinggungan. Anda jugakan tersinggung ketika ada permasalahan kartun dikafirkan. itu akan terus berlanjut emosi2 yang muncul saling melempar pendapat2 masing2.Dan itu menjadi perputaran yang terus akan terjadi. Di tuding, Menuding, dituding lagi, menuding lagi. Wah memang kerja berat.
    Coba memberikan pengertian ke mereka dengan pengandaian yang lebih ngena atau dengan memberikan kesejukan dalam berkata2. Tentunya semua golongan akan merasa sejuk juga membacanya.
    Saya terinspirasi oleh koment indigo di http://retorika.wordpress.com/2007/12/28/saya-berorientasi-liberal-so-what/
    yang menyejukkan semua pihak.
    *upz, panjang banget, panjang mana sama koment chika? kayak mosting aja di sini :D*
    *maaf juga kalo saya salah tanggap maksudnya, dikoreksi kalo memang salah yah*

  48. 2x scroll masih cnut-cnut.. pokoknya bukunya jangan dibakar, masukin laci ajah, orang lain masih mau baca :D

  49. @ aRuL:

    saya juga blum paham2 amat maksudnya,
    Tapi kalau maksudnya kamu tidak mau blogmu ini menjadi sasaran amukan orang2, karena membahas agama walaupun itu tidak menyinggung langsung. Kalo dari saya gini, membahas agama, membahas keraguan tentang agama, atau membahas tentang perilaku menyimpang pengikutnya memang wajar kita mempertanyakan atau membahasnya, tapi ada beberapa titik penting, bahwa membahas hal itu harus dengan niatan untuk memberikan pengertian yang lebih baik dan untuk lebih menjadi orang yang lebih mengerti tentang agamanya termasuk toleransi, tidak dengan sindiran2 itu, karena adanya sindiran2 itu maka akan menimbulkan ketersinggungan.

    Saat “Pesan-Nya” hadir, aku sudah tidak lagi menyinggung apa-apa. Saat “Mereka yang mulai duluan!” hadir, tujuanku hanya ini mengeluarkan curahan hati mengenai sebuah budaya ‘menyalahkan pihak yang sebagai yang memulai duluan’ dan ‘membenarkan’ tindakan sendiri dengan alasan itu. Di sini konteks yang kubawa global, bukan religi…. Dan lanjut ke posting berikutnya…
    ..aku sudah coba meredam api itu, tapi sayangnya itu menyala lagi saat api kecil itu terlempar ke genangan minyak yang belum kering… :(

    Anda jugakan tersinggung ketika ada permasalahan kartun dikafirkan. itu akan terus berlanjut emosi2 yang muncul saling melempar pendapat2 masing2.Dan itu menjadi perputaran yang terus akan terjadi. Di tuding, Menuding, dituding lagi, menuding lagi. Wah memang kerja berat.

    Aku nggak tersinggung waktu itu, aku cuma prihatin dan tidak memilih untuk membahasnya. Karena aku rasa percuma jika aku membahasnya…. akan tambah misuh, aku rasa ada orang yang lebih tepat dan pantas membahasnya.

    Kalau kurasa percuma aku membahasnya, aku diam aja.

    Coba memberikan pengertian ke mereka dengan pengandaian yang lebih ngena atau dengan memberikan kesejukan dalam berkata2. Tentunya semua golongan akan merasa sejuk juga membacanya.
    Saya terinspirasi oleh koment indigo di http://retorika.wordpress.com/2007/12/28/saya-berorientasi-liberal-so-what/
    yang menyejukkan semua pihak.

    Ini dia, aku nggak bisa memaksakan sebuah gaya… Jika aku sudah mengalir dengan gaya menulis yang begini, aku mungkin bisa berubah ke gaya menulis lain. Tapi itu nggak bisa dipaksakan, biarlah mengalir sendiri perubahannya. Dan itu belum terjadi… :D
    ..kuharap akan, dan aku berusaha, setidaknya.

    *maaf juga kalo saya salah tanggap maksudnya, dikoreksi kalo memang salah yah*

    68%™ sudah tepat kok. :D

  50. O..kaleidoskop, kirain apa.

    Masa sulit ya, setiap orang termasuk aku sendiri pernah mengalaminya.
    Blogmu kan diciptakan, diisi postingan, tentunya ada respon dari masyarakat. Respon tersebut berupa komen-komen yang menyertai tiap postingan. Ada yang positif, ada yang negatif, ada yang membangun, ada yang menghancurkan semangat. Itu kan resiko masing-masing blogger. Selama alamat blognya diketahui dan ada yang membaca tulisannya, tentu ada respon masing-masing pembaca. Tergantung kita, mau menanggapinya seperti apa.

    Jangan memulai tahun dengan hati yang gundah, di saat yang lain sedang bersemangat menyambut awal yang baru. Tapi terserah juga ya..
    .
    .

  51. Ini dia, aku nggak bisa memaksakan sebuah gaya… Jika aku sudah mengalir dengan gaya menulis yang begini, aku mungkin bisa berubah ke gaya menulis lain. Tapi itu nggak bisa dipaksakan, biarlah mengalir sendiri perubahannya. Dan itu belum terjadi… :D
    ..kuharap akan, dan aku berusaha, setidaknya.

    iyah emang ngak bisa maksain gaya penulisan,ini hanya bahan pertimbangan aja koq kenapa hal tersebut terjadi.
    Saya juga orangnya ngak gitu2 amat jadi orang, Mungkin lebih banyak belajar lagi kali yah kita jadi lebih mengerti bagaimana pengertian tanpa menimbulkan permasalahan tapi memberikan kesejukan buat semua.

  52. @ StreetPunk: Kaleidoskop, mungkin… :roll:
    …masalah komentar-komentar, aku tak kecewa dan aku tidak mati karena itu waktu itu…
    …hanya saja… aku yang tadinya tidak jadi mati, kini malah menghadap kematian lagi karena sulutan api kecil…

    God knows…

  53. @ Niwatori: Eh, masuk akismet lagi…maa… :(
    Bukunya…rusak, hancur… ahhhhh…

  54. Bagus, ’sulutan api kecil’, berarti masih belum terlambat untuk menyiramnya..
    .
    .

  55. @ StreetPunk: Sampai 1 Januari…menunggu Sang Juruselamat. Jika Sang Juruselamat itu tak datang…sampai 1 Januari…musnahlah semua eksistensi di sini.

  56. ::Aneh ya gun… :( , Mazmurmu menggembirakan, mengapa ratapan yang dirasa…, dimana missnya… :roll:
    jika tulisanmu membuatmu menderita, itu hanya perasaan dek gugun saja… :lol:
    gun, menurut perasaan saya, Kebenaran, apapun yg terumbar, hasilnya bukan meyakinkan yang lain, namun lebih banyak membuktikan keyakinan pengumbarnya, jalannya… ya seperti konferhensip kali ya.., tidak hanya satu dosen/ guru besar…,
    Kegalauan, itu seumpama orang hamil, yang mengandungi sesuatu, segalanya tak menyenangkan, badan dirasa pegal, pening yang datang, penng dirasa, mual yang terumbar bukankah itu pertanda akan lahir seorang bayi…
    Mungkin kita merasa, tangan kita bergerak atas daya kita, kalau kukatakan bukan gun, dianya hanya tunduk pada otak, dan otak itu bukan seperti gambar anatomy tubuh itu, seperti “otak pelaku pembunuhan” biasanya bukan yang bertindak membunuh itu…tapi dialah yg memerintah…
    Tidak selalu fikiran ini, adalah fikiran kita, tidak selalu…meskipun berasa keluar dari rangsang kepala itu…
    Gun, kamu adalah rozenesia…, buahmu tidak selalu bagai anggur dipetik langsung bisa dimakan, buahmu sudah beragam, ada yang harus, di kupas, ada yang harus dibelah, jangan risau roze…, kalaupun risau.. kamu harus percaya itu lantaran janinmu yg maha cerdas…., jangan risau roze, takkan datang laron yang mengganggu kalau bukan pada cahaya dan air…

  57. lagunya Mazmur ya … cmiiw :P
    knapa akhir-akhir ini kamu melankolik ? Any bothering u kah?
    jadi sentimentil jauh …. padahal tulisan yang dulu antik-antik
    eh saya usul jadikan buku betulan aja dech copy pas dengan yang kasi comment lumayan laku sekedar pajangan …
    atawa bisa jadi karya sastra untuk jurusan bahasa di sekolahmu yang ada di utara negeri jawa ini :P

  58. kapan nikahnya ? hehehe :lol:

  59. @ zal: Mazmur 88 ini ratapan orang sakit… :(
    …dan aku sedang sakit.

    Ah, makasih…aku jadi sedikit tercerahkan.

    Gun, kamu adalah rozenesia…, buahmu tidak selalu bagai anggur dipetik langsung bisa dimakan, buahmu sudah beragam, ada yang harus, di kupas, ada yang harus dibelah, jangan risau roze…, kalaupun risau.. kamu harus percaya itu lantaran janinmu yg maha cerdas…., jangan risau roze, takkan datang laron yang mengganggu kalau bukan pada cahaya dan air…

    Bagian inilah yang sedikit membuka pencerahan bagiku…tapi masih belum sepenuhnya aku lepas… :(

    @ rudyhilkya [1]: Yap, pak. Mazmur.
    Yah, beginilah pak…orang lagi kacau. :(

    Eh, buat jurusan bahasa di sana? Ini kacau ah… :lol:

    @ rudyhilkya [2]: Waduh, pertanyaan yang belum saatnya mengingat masih muda. :mrgreen:

  60. ::roze, selidiki sekali lagi aja…apa benar Mazmur88 itu ratapan orang sakit…, selidiki sekali lagi aja…, endak mungkin siapapun dapat membahagiakanmu…mazmur88 itu jawaban untukmu….jangan cari dari yang lain… *maksa* :lol:

  61. *baca ulang*
    oh.

    apa yang dicari sang jiwa?
    apa yang diinginkan sang jiwa?
    apa yang dirindukannya?

    jiwa pencari, jiwa yang hampa, jiwa yang selalu terbang ingin terbebaskan
    semoga jiwa itu menemukan apa yang carinya -

  62. @ zal: Sebentar, lagi masuk ke “Raja-Raja” nih… :eek:

    @ sweet water: … :?

  63. May Haruhi be with you…

    That Haruhi so loved the world that She gave Her only-begotten Anime so that whoever watches It might not perish but have everlasting life.

    John 3:16

    Amen.

  64. @ Kopral Geddoe: *bongkar-bongkar Injil Yohanes*

    :lol:

    Amen. :mrgreen:

  65. Menikmati perjalanan mencari Nya juga mengasyikkan koq. Tapiii….sekarang bukan agama kan yang menjadi pusat perhatian? Mungkin ada baiknya rehat sebentar dari yang namanya religi, pusatkan perhatian untuk yang lain. Cari uang mungkin ?

  66. Jadi Juru Selamat yang dimaksud Yesuskah?
    .
    .

  67. Ini kaleidoskop ?? Kok kayaknya bukan dech… Tapi sepertinya iya. Hmm…. ya semoga bisa menemukan apa yang dicari ;)

  68. G