<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl" type="text/xsl" media="screen"?><?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css" type="text/css" media="screen"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Gunawan Rudy dot Com</title>
	
	<link>http://gunawanrudy.com</link>
	<description>in a few words, about my random rants and whatever else</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 00:32:52 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>in a few words, about my random rants and whatever else</itunes:subtitle><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /><meta xmlns="http://pipes.yahoo.com" name="pipes" content="noprocess" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/Gunawanrudydotcom" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>1583645</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://www.feedburner.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Panglima Burung</title>
		<link>http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/430200349/</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/2008/10/24/panglima-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 01:20:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Lee</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[article]]></category>

		<category><![CDATA[thought]]></category>

		<category><![CDATA[belief]]></category>

		<category><![CDATA[borneo]]></category>

		<category><![CDATA[culture]]></category>

		<category><![CDATA[dayak]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[leader]]></category>

		<category><![CDATA[myth]]></category>

		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

Ada banyak sekali versi cerita mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify" class="dropcap-first">Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.</p>
<p align="center"><img class="imgpost" src="http://rozenesia.files.wordpress.com/2008/10/burungenggang.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.</p>
<p align="justify">Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.</p>
<p align="justify">Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.</p>
<p><span id="more-526"></span></p>
<p align="justify">Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.</p>
<p align="justify">Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.</p>
<p align="justify">Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.</p>
<p align="justify">Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.</p>
<p align="justify">Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.</p>
<p align="justify">Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual&#8211;yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah&#8211;dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau&#8211;memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.</p>
<p align="justify">Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah&#8211;agama manapun&#8211;dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.</p>
<p align="justify">Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><em>&copy; foto <a href="http://www.flickr.com/photos/beckzaidan/1102006510/" title="Enggang / HornBill / Honobululu" target="_blank">Burung Enggang</a> oleh <a href="http://www.flickr.com/photos/beckzaidan/" title="beckzaidan" target="_blank">Fendy Zaidan</a></em></p>

<p><a href="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?a=lpQqhs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?i=lpQqhs" border="0"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=orN0M"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=orN0M" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=LfsjM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=LfsjM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=kqS3m"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=kqS3m" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=XsUoM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=XsUoM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=JGeoM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=JGeoM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=QIh3m"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=QIh3m" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=OliTM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=OliTM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=h7iNm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=h7iNm" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/430200349" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/2008/10/24/panglima-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=Gunawanrudydotcom&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fgunawanrudy.com%2F2008%2F10%2F24%2Fpanglima-burung%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/2008/10/24/panglima-burung/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kesaksian</title>
		<link>http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/419983763/</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/2008/10/14/kesaksian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 23:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Lee</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[article]]></category>

		<category><![CDATA[thought]]></category>

		<category><![CDATA[history]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[law]]></category>

		<category><![CDATA[politic]]></category>

		<category><![CDATA[social]]></category>

		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<category><![CDATA[witnesseth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Wartawan Inggris, Richard Lloyd Parry, pernah menulis reportase tentang kunjungan-kunjungannya ke Indonesia. Tulisan yang lahir setelah perjalanannya di sebuah negeri di masa bangsa negeri itu tengah meluncur ke titik terendahnya. Kumpulan kesaksiannya melihat bangsa ini perlahan ambruk dan menuju kehancuran yang ditandai dengan serangkaian kekacauan dan kejahatan manusia di berbagai daerah di Indonesia. Peristiwa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify" class="dropcap-first">Wartawan Inggris, Richard Lloyd Parry, pernah menulis reportase tentang kunjungan-kunjungannya ke Indonesia. Tulisan yang lahir setelah perjalanannya di sebuah negeri di masa bangsa negeri itu tengah meluncur ke titik terendahnya. Kumpulan kesaksiannya melihat bangsa ini perlahan ambruk dan menuju kehancuran yang ditandai dengan serangkaian kekacauan dan kejahatan manusia di berbagai daerah di Indonesia. Peristiwa yang dilihatnya dari lensa jurnalisme sebagai pergulatan besar Indonesia antara represi dan reformasi.</p>
<p align="center"><img src="http://i33.tinypic.com/i6jlhi.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="justify">Apa yang ditulis Parry dalam bentuk kesaksiannya berupa prosa sensitif tersebut dapat menambah warna dalam bibliografi Indonesia kontemporer yang masih saja sebagian besar bersifat akademis pekat, yang kaku, yang rawan ditulis subjektif oleh para pemenang sejarah dan pihak kuat yang memiliki kepentingan.</p>
<p align="justify">&#8220;Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian&#8230;&#8221;</p>
<p align="justify">Begitu penggalan lirik yang dinyanyikan Iwan Fals sepuluh tahun yang lalu, dalam Lagu Buat Penyaksi. Dan jika berbicara tentang kesaksian dan &#8216;matinya&#8217; seorang penyaksi, saya teringat akan sebuah peristiwa pada masa kecil saya yang masih masih agak membekas hingga sekarang.</p>
<p><span id="more-473"></span></p>
<p align="justify">Palangkaraya, pertengahan tahun 1999. Saya masih ingat kejadian hari itu walau agak lupa kapan tanggal persisnya. Saat itu percikan bara api kerusuhan berdarah antar etnis di Kalimantan Tengah mulai menyala lagi. Ayah saya bergegas berangkat ke Pengadilan Negeri. Ketika saya bertanya apakah saya boleh ikut, dengan tegas ayah menolaknya. Saya masih terlalu kecil saat itu, kurang lebih berusia sembilan tahun. Ketika ayah pulang, betapa terkejutnya saya melihat mukanya merah padam. Tanpa basa-basi ayah langsung masuk dan membanting pintu depan, lantas masuk ke ruang baca dan melempar beberapa buku tebal ke lantai. Lantas apa yang ayah teriakkan ketika ibu datang untuk menenangkannya?</p>
<p align="justify">&#8220;Apa hakim, jaksa, dan polisi-polisi itu sudah buta, tuli hah? Atau mulut mereka bisu karena disumpal berbagai kepentingan? Ada orang yang sudi bersaksi malah dihukum dan pelaku kabur entah ke mana!&#8221;</p>
<p align="justify">Ayah memang seorang bertemperamen tinggi, tapi jarang saya melihat beliau begitu murka seperti hari itu. Bertahun-tahun kemudian barulah saya mendengar cerita dari ibu bahwa kemarahan ayah saat itu adalah karena salah seorang kenalannya, yang menjadi saksi dalam kasus pertikaian dan pembunuhan di luar dugaan menjadi dituduh membuat kesaksian palsu dan akhirnya dihukum penjara. Pertikaian antar etnis itu dipicu masalah sengketa tanah, dan ujung-ujungnya adalah seorang penduduk asli dikroyok oleh warga pendatang hingga tewas. Para pelaku melarikan diri, dan seorang saksi dalam peristiwa itu mendadak dituduh memberikan kesaksian palsu. Hari itu ternyata adalah hari yang naas bagi seorang penyaksi.</p>
<p align="justify">Akan ada banyak yang meringis sedih bercampur marah jika menghadapi peristiwa-peristiwa terbungkamnya kesaksian seperti itu. Tragedi penyaksi berani yang mati karena kuatnya kepentingan beberapa pihak. Bisa jadi hal itu seakan-akan ketika umat merasakan sakit akan pengkhianatan Yudas terhadap Kristus, yang akhirnya menggiring Kristus ke tiang salib.</p>
<p align="justify">Kesaksian, juga seakan berada dalam jalur yang sama dengan kambing hitam. Artinya ada pihak-pihak yang dikorbankan dalam sebuah kesaksian, entah sejati atau palsu. Masih ingat penggalan lirik lagu Iwan Fals di awal-awal tulisan? Ya, lagu dalam album Kantata Samsara itu bercerita dan dipersembahkan kepada Udin&#8211;atau Fuad Muhammad Syafruddin&#8211;yaitu seorang wartawan harian Bernas yang pada tahun 1996 dianiaya orang tak dikenal, lalu akhirnya meningal dunia. Udin kerap kali menulis artikel kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru semasa itu dan juga tulisan tajam tentang militer Indonesia. Beberapa orang sempat ditekan untuk memberikan kesaksian dan pengakuan palsu dalam kasus itu, menjadi kambing hitam. Sebut saja Tri Sumaryani, yang ditekan dan disuap untuk memberikan kesaksian palsu tentang dirinya yang berselingkuh dengan Udin, yang kemudian dibunuh oleh suaminya. Atau juga Dwi Sumaji, yang dikorbankan untuk membuat pengakuan bahwa ia adalah pembunuh Udin, dengan iming-iming uang dan pekerjaan. Namun selanjutnya dengan lantang Sumaji bersaksi di pengadilan bahwa dirinya hanyalah kambing hitam yang diciptakan oleh beberapa oknum.</p>
<p align="justify">&#8220;Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik!&#8221;</p>
<p align="justify">Sungguh kesaksian, terutama di negeri ini, punya banyak warna yang berbeda satu sama lain. Meskipun begitu, sebagian cenderung memiliki rupa yang sama: kesaksian sejati yang tak berani muncul ke permukaan, jika muncul hanya berujung pembungkaman; atau kesaksian palsu yang dilahirkan dari berbagai macam kepentingan.</p>
<p align="justify">Sejarah memang masih ditulis oleh para pemenang. Dan kita hanya bisa berharap bahwa para pemenang itu adalah mereka yang masih mempunyai sisi objektivitas yang berimbang atau bahkan melebihi sisi subjektivitas yang tersimpan rapi dalam pencitraan dirinya. Toh para pemenang tak mungkin sepenuhnya menempatkan diri pada posisi tengah, dan meneliti saja&#8211;karena tugasnya adalah meriwayatkan kesaksian masa lalu dan juga mengukir sejarah baru.</p>
<p align="justify">Kesaksian para pemenang adalah kebenaran yang mau tak mau harus diterima mereka yang kalah, namun hanya hingga saat di mana pemenang itu tumbang nantinya. Dan adakah usaha para pemenang saat ini untuk bersikap adil terhadap kesaksian yang takut untuk muncul ke permukaan karena tak terlindunginya mereka dari ancaman-ancaman?</p>

<p><a href="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?a=5M2lGz"><img src="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?i=5M2lGz" border="0"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=Dt3TM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=Dt3TM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=bachM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=bachM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=dSA0m"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=dSA0m" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=zZRDM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=zZRDM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=qTl9M"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=qTl9M" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=BQ0lm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=BQ0lm" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=V5fRM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=V5fRM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=O6IMm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=O6IMm" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/419983763" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/2008/10/14/kesaksian/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=Gunawanrudydotcom&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fgunawanrudy.com%2F2008%2F10%2F14%2Fkesaksian%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/2008/10/14/kesaksian/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Seperti Sugali</title>
		<link>http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/411024798/</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/2008/10/04/seperti-sugali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 10:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Lee</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<category><![CDATA[thought]]></category>

		<category><![CDATA[law]]></category>

		<category><![CDATA[politic]]></category>

		<category><![CDATA[power]]></category>

		<category><![CDATA[rules]]></category>

		<category><![CDATA[social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Dalam salah satu wawancara terakhir sebelum ajalnya, Pramoedya Ananta Toer pernah berujar tentang ketidakpercayaannya kepada penguasa, &#8220;Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenangnya.&#8221;

Rasa pesimis Pram mungkin beralasan karena ia berkali-kali harus dikerangkeng penguasa dengan tuduhan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify" class="dropcap-first">Dalam salah satu wawancara terakhir sebelum ajalnya, Pramoedya Ananta Toer pernah berujar tentang ketidakpercayaannya kepada penguasa, &#8220;Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenangnya.&#8221;</p>
<p align="center"><img src="http://rozenesia.files.wordpress.com/2008/10/sugalileksa.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="justify">Rasa pesimis Pram mungkin beralasan karena ia berkali-kali harus dikerangkeng penguasa dengan tuduhan yang sangat samar-samar, bahkan tidak jelas. Buku-buku dibakar, naskah diberangus. Kekuasaan cenderung disalahgunakan, dan kekuasaan absolut pasti disalahgunakan. Paling tidak begitu kutipan surat Lord Acton kepada Uskup Creighton, ketika membicarakan kekuasaan para Paus dan Raja.</p>
<p align="justify">Di Indonesia dekade 80-an, sosok Petrus&#8211;singkatan dari penembak misterius&#8211;menjadi momok yang menakutkan di masyarakat. Di pasar, sawah, gang sempit, bahkan di trotoar saat itu saban hari ditemukan mayat-mayat bertato dengan luka tembak. Semasa hidup mayat-mayat itu bisa dibilang sebagai para preman, garong, atau kaum kecu. Para Petrus merajalela, penjahat tunggang langgang bersembunyi. Begitu serius dan kerasnya tekanan penguasa terhadap kaum kriminal saat itu, walau secara taktis juga mereka sering menjadi objek pemanfaatan.</p>
<p><span id="more-459"></span></p>
<blockquote><p style="font-size:11px;line-height:18px;">Dar der dor suara senapan<br />
Sugali anggap petasan<br />
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan<br />
Semakin lupa daratan</p>
</blockquote>
<p align="justify">Maka lahirlah sebuah lagu bertema kritik sosial dari Iwan Fals pada tahun 1984, Sugali. Sugali, gambaran penjahat yang nekat dan pemberani, menjadi buronan polisi namun tak takut dengan letusan senapan. Congkak karena ilmu kebal senapan yang dimilikinya. Kerap kali diburu Petrus dan menjadikan lokalisasi pelacuran sebagai tempat pelarian. Nama Sugali berasal dari kata Gali, berarti orang yang melawan hukum dan hidup liar di jalanan.</p>
<p align="justify">Lagu Sugali hadir pada masa di mana kejahatan&#8211;yang menurut penguasa saat itu&#8211;serius dan menjijikkan diberantas tanpa ampun di jalanan, tanpa pengadilan, basa-basi maupun peringatan. Bertato bisa jadi dor&#8211;mati! Kesimpulan mudahnya saat itu berarti: kekerasan dilawan dengan kekerasan. Tapi tetap saja masih banyak peristiwa salah sasaran yang terjadi. Salah seorang paman saya pernah bercerita kalau dulu beliau pernah mati-matian menghapus tatonya karena takut menjadi korban salah sasaran Petrus.</p>
<p align="justify">Melihat apa yang terjadi terhadap mereka yang terpinggirkan itu, bisa dikatakan betapa seriusnya penguasa masa itu dalam menjalankan upaya <em>shock therapy</em> terhadap gerombolan Kapak Merah dan kawan-kawan sejenisnya. Sayangnya para tikus lihai dalam bangunan pemerintah yang diam-diam menggerogoti pondasi keuangan negara dibiarkan berpesta pora. Toh para tikus sudi membagi hasil curiannya dengan kucing-kucing yang seharusnya memburu mereka.</p>
<blockquote><p style="font-size:11px;line-height:18px;"><strong>Iwan Fals ~ Sugali (Album Sugali, 1984)</strong></p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Sua sua sua suara berita<br />
Tertulis dalam koran<br />
Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui<br />
Jadi buronan polisi</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Dar der dor suara senapan<br />
Sugali anggap petasan<br />
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan<br />
Semakin lupa daratan</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Lihat sugali menari<br />
Di lokasi WTS kelas teri<br />
Asik lembur sampai pagi<br />
Usai garong hambur uang peduli setan</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Di di du Di du da di du<br />
Di di du di du du<br />
Di di du Di du da di du<br />
Di du da di du di da di du di da du</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Ramai gunjing tentang dirimu<br />
Yang tak juga hinggap rasa jemu<br />
Suram hari depanmu</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Rasa was was mata beringas<br />
Menunggu datang peluru yang panas<br />
Di waktu hari naas</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Oh bisik jangkrik ditengah malam<br />
Tenggelam dalam suara letusan<br />
Kata berita di mana mana<br />
Tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyi</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Tar ter tor suara senapan<br />
Sugali anggap petasan<br />
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan<br />
Sugali makin keranjingan</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Lihat sugali menari<br />
Di lokasi WTS kelas teri<br />
Asik joget sampai lecet<br />
Genit gelitik cewek binal paling busyet</p>
<p style="font-size:11px;line-height:18px;">
Di di du Di du da di du<br />
Di di du di du du<br />
Di di du Di du da di du<br />
Di du da di du di da di du di da du</p>
</blockquote>
<p align="justify">Apakah kita hanya bisa menunggu ketika para aparat bawahan penguasa kita mengejar para tikus pencuri uang rakyat seperti bagaimana dulu gencarnya Sugali-Sugali lainnya dibrondong senapan Petrus? Contohlah keseriusan dan terapi goncangannya, tapi bukan tanpa pengadilan, tentunya. Seperti Sugali, keseriusan seperti dulu ketika memburu Sugali.</p>
<p align="justify">&#8220;Yah, menuju 2009 ini kita lihat saja siapa lagi yang bakal diberi modal oleh orang seperti Ical. Rasa-rasanya para penyidik dari Rasuna Said itu bakal tetap kesulitan,&#8221; celetuk lelaki paruh baya di samping saya sembari menyeruput kopi pahitnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size:11px;"><em>* foto <a href="http://kapucino.org" title="Leksa" target="_blank">Leksa</a> hasil jepretan <a href="http://antobilang.wordpress.com" title="Antobilang" target="_blank">Antobilang</a>, <a href="http://kapucino.org" title="Leksa" target="_blank">Leksa</a> walau seram tapi bukan preman lho.</em></p>

<p><a href="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?a=DsHPOE"><img src="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?i=DsHPOE" border="0"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=sSynM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=sSynM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=m5JoM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=m5JoM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=xa5Tm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=xa5Tm" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=6tYKM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=6tYKM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=1mtpM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=1mtpM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=oUxNm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=oUxNm" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=ovC6M"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=ovC6M" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=DWXNm"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=DWXNm" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/411024798" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/2008/10/04/seperti-sugali/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=Gunawanrudydotcom&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fgunawanrudy.com%2F2008%2F10%2F04%2Fseperti-sugali%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/2008/10/04/seperti-sugali/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Membicarakan Ingatan</title>
		<link>http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/402734226/</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/2008/09/25/membicarakan-ingatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 11:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Lee</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[personal]]></category>

		<category><![CDATA[memory]]></category>

		<category><![CDATA[philosophy]]></category>

		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[

&#8220;Pengetahuan menjadi pengetahuan sejati hanya bila diperoleh dengan usaha pemikiran bukan ingatan.&#8221;
~ Lev Nikolayevitch Tolstoy

Aku memulai dengan mengingat sedikit, maka aku akan berusaha keras untuk mengingat lebih banyak. Itu sia-sia. Karena dengan mengingat lebih banyak, aku akan makin berusaha untuk mengingat lebih banyak lagi. Tak pelak lagi, ingatan adalah godaan. Berbahaya atau tidak, tak begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify" class="dropcap-first">
<blockquote>
<p align="right">&#8220;Pengetahuan menjadi pengetahuan sejati hanya bila diperoleh dengan usaha pemikiran bukan ingatan.&#8221;<br />
<em>~ Lev Nikolayevitch Tolstoy</em></p>
</blockquote>
<p align="justify">Aku memulai dengan mengingat sedikit, maka aku akan berusaha keras untuk mengingat lebih banyak. Itu sia-sia. Karena dengan mengingat lebih banyak, aku akan makin berusaha untuk mengingat lebih banyak lagi. Tak pelak lagi, ingatan adalah godaan. Berbahaya atau tidak, tak begitu buruk juga jika mengikuti godaan sebuah ingatan.</p>
<p align="center"><img src="http://rozenesia.files.wordpress.com/2008/09/gambaringatan.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="justify">Tak hanya godaan. Ingatanku juga memaksa untuk mengenang hal-hal yang memuaskanku, semua yang penuh suka cita dalam perjalananku terdahulu, namun mengabaikan yang tidak. Sebuah kewajaran jika aku menginginkan ingatan yang tidak mengecewakanku. Tapi bukankah itu hampir mustahil rasanya?</p>
<p><span id="more-434"></span></p>
<p align="justify">Dan jika aku mengingat segalanya? Termasuk semua yang memuaskan dan mengecewakan, hasrat, tamparan, lika-liku, khilaf, pergumulan, emosi, jejak langkah, dan tragedi.</p>
<p align="justify">Dan dengan itu, apakah semua akan semudah melupakan ingatan yang tak memuaskan, dengan perhatian tak terkira kepada setiap kenangan indah? Sama egoisnya.</p>

<p><a href="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?a=HgAsqJ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?i=HgAsqJ" border="0"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=5MwWL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=5MwWL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=KNwhL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=KNwhL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=ceiol"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=ceiol" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=mG3JL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=mG3JL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=yIP1L"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=yIP1L" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=PIUSl"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=PIUSl" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=JafcL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=JafcL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=dQzrl"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=dQzrl" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/402734226" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/2008/09/25/membicarakan-ingatan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=Gunawanrudydotcom&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fgunawanrudy.com%2F2008%2F09%2F25%2Fmembicarakan-ingatan%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/2008/09/25/membicarakan-ingatan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Langkah</title>
		<link>http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/398434401/</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/2008/09/21/langkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 22:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Lee</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[junky]]></category>

		<category><![CDATA[personal]]></category>

		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<category><![CDATA[death]]></category>

		<category><![CDATA[father]]></category>

		<category><![CDATA[love]]></category>

		<category><![CDATA[memory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[

Engkau pernah bilang kita harus tetap melangkah.
Sudah genap setahun sejak engkau berpulang.
Kuharap engkau bisa melihat langkahku di sini.
Sembari engkau melangkah juga di alam sana.
Papa.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify" class="dropcap-first">
<p align="center"><img src="http://rozenesia.files.wordpress.com/2008/09/jejaklangkah.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="center" style="font-size:15px;">Engkau pernah bilang kita harus tetap melangkah.</p>
<p align="center" style="font-size:15px;">Sudah genap setahun sejak engkau berpulang.</p>
<p align="center" style="font-size:15px;">Kuharap engkau bisa melihat langkahku di sini.</p>
<p align="center" style="font-size:15px;">Sembari engkau melangkah juga di alam sana.</p>
<p align="center" style="font-size:15px;">Papa.</p>

<p><a href="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?a=0Dw3iS"><img src="http://feeds.feedburner.com/~a/Gunawanrudydotcom?i=0Dw3iS" border="0"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=9FfmL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=9FfmL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=nwTSL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=nwTSL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=dv2Ll"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=dv2Ll" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=3sGPL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=3sGPL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=ZHlUL"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=ZHlUL" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=PG9kl"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=PG9kl" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=P9Z2L"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=P9Z2L" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?a=IxY7l"><img src="http://feeds.feedburner.com/~f/Gunawanrudydotcom?i=IxY7l" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/398434401" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/2008/09/21/langkah/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=Gunawanrudydotcom&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fgunawanrudy.com%2F2008%2F09%2F21%2Flangkah%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/2008/09/21/langkah/</feedburner:origLink></item>
	<media:rating>nonadult</media:rating><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetFeedData?uri=Gunawanrudydotcom</feedburner:awareness></channel>
</rss>
